NovelToon NovelToon
Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Status: tamat
Genre:Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.

Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dendam Sang Perdana Menteri dan Rahasia Masa Remaja

Di ruang kerja yang dipenuhi buku-buku hukum kuno, Grand Chancellor Silas duduk dengan wajah yang kaku. Pria ini adalah simbol tradisi. Baginya, wanita bangsawan hanya punya dua tugas: tampil cantik di pesta dansa dan melahirkan pewaris.

Silas tidak pernah memaafkan penolakan terang-terangan Geneviève lima tahun lalu. Saat itu, ia mengajukan putranya, Caspian—yang sudah berusia 35 tahun dan berwatak kaku—untuk meminang Geneviève.

"Ilmu kedokteran dan forensik bukan tempat bagi seorang wanita, apalagi seorang Putri," ujar Silas saat itu di depan Raja Henri.

Namun, Raja Henri hanya tertawa sambil merangkul putrinya. "Jika Geneviève ingin membedah dunia untuk memahaminya, maka aku akan memberinya pisau bedah terbaik, Silas. Putriku bukan pajangan ruang tamu."

Sejak hari itu, Silas merasa martabatnya diinjak-injak. Baginya, kepintaran Geneviève adalah bibit pemberontakan yang harus dimusnahkan.

Kembali ke Masa Kini - Di Kediaman Valois

Di dalam paviliun, Geneviève sedang memandangi sebuah vas bunga. Kepalanya berdenyut setiap kali ia mencoba mengingat sesuatu. Ada satu bayangan yang selalu muncul: seorang pemuda dengan seragam militer yang berdiri tegak di aula istana, sangat tampan hingga terasa "tidak masuk akal."

Siapa dia? Kenapa wajahnya terasa begitu akrab?

Geneviève remaja dulu memang sering mencuri pandang pada Eisérre. Siapa yang tidak tertarik pada Jenderal muda yang kecerdasannya diakui dunia? Tapi Geneviève muda yang ambisius selalu menepis perasaan itu.

"Ini cuma cinta monyet, Ève. Fokus pada studimu. Kalau kau jatuh cinta pada Jenderal itu, kau hanya akan jadi wanita yang menunggunya pulang dari perang. Kau harus jadi orang yang menyelamatkannya di medan perang!" begitu bisik hatinya dulu.

Itulah alasan kenapa sebulan lalu, sebelum keberangkatannya ke perbatasan, Geneviève memohon pada Raja Alaric:

"Kak, jangan beri tahu Jenderal Eisérre kalau aku ikut tim medis. Nanti dia pasti mengejekku, bilang aku hanya akan merepotkan atau semacamnya!"

Padahal, alasan sebenarnya adalah karena Geneviève tidak yakin bisa fokus jika harus melihat wajah Eisérre setiap hari. Ia takut hatinya yang "tidak konsisten" itu akan runtuh.

Di Sisi Lain Paviliun. Eisérre masuk ke kamar Geneviève dan menemukannya sedang termenung. Ia mendekat, memperhatikan jemari Geneviève yang lentik. Ia tidak tahu bahwa tangan lembut itu sebenarnya sangat mahir memegang senjata api dan melempar pisau.

"Kau memikirkan sesuatu, Ève?" Tanya Eisérre lembut.

Geneviève menoleh, menatap wajah Eisérre yang begitu dekat. Degupan jantungnya kembali tidak beraturan—perasaan yang sama yang ia rasakan saat berusia 18 tahun di aula istana.

"Aku... aku hanya merasa seperti pernah melihatmu di sebuah tempat yang sangat luas dan megah," gumam Geneviève, matanya mencari jawaban di mata biru Eisérre. "Apakah kita pernah bertemu di sebelumnya Eisérre?"

Eisérre tertegun. Jantungnya berdesir. Ia segera menenangkan diri agar tidak terlihat gugup. "Mungkin dalam mimpimu, Ève. Karena bagiku, kau adalah mimpiku yang menjadi nyata."

Eisérre kemudian duduk di sampingnya, mengambil sebuah apel dan mulai mengupasnya dengan pisau kecil. Gerakan tangan Eisérre sangat mahir, namun Geneviève memperhatikannya dengan cara yang berbeda. Insting medis dan beladiri Geneviève—meski ingatannya hilang—secara tidak sadar menilai cara Eisérre memegang pisau.

Kenapa aku tahu bahwa pisau itu harusnya diarahkan sedikit lebih miring agar potongannya sempurna? Dan kenapa aku merasa bisa merebut pisau itu darinya dalam satu gerakan? Geneviève segera menggelengkan kepalanya. Tidak, Ève. Kau hanya gadis lemah yang diselamatkan oleh Jenderal ini. Jangan berpikiran aneh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!