Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Tagihan Pagi
Sinar matahari pagi menyusup melalui celah tirai, jatuh tepat di atas wajah Esme yang masih terlelap. Ini adalah tidur ternyenyak yang ia rasakan setelah berbulan-bulan penuh ketegangan. Namun, rasa nyaman itu perlahan terusik oleh sesuatu yang hangat dan basah yang terus-menerus menyentuh pipi, hidung, dan keningnya.
"Mmm... Ocan, hentikan..." gumam Esme sambil mencoba menyingkirkan apa pun itu dengan tangannya.
"Aku bukan Ocan, Moa."
Suara bariton yang berat dan serak khas bangun tidur itu membuat mata Esme seketika terbuka lebar. Ia mendapati wajah AL hanya berjarak beberapa milimeter dari wajahnya. Mata kuning AL berbinar cerah, penuh dengan energi yang meluap-luap.
"Aleksander! Apa yang kau lakukan?" Esme terkesiap, menyadari posisi mereka yang masih sangat intim di bawah selimut.
"Menagih janji," jawab AL dengan senyum lebar yang sangat tampan namun terasa berbahaya bagi kesehatan jantung Esme. "Kau bilang semalam, kalau matahari sudah terbit, aku boleh mendapatkan ciuman yang lebih lama. Matahari sudah bangun sejak tadi, Moa. Aku sudah menghitung detak jantungku sampai seribu kali menunggumu bangun."
Esme melirik jam di dinding. Baru jam enam pagi. "Ini masih terlalu pagi untuk... untuk itu, Aleksander."
"Tidak ada kata terlalu pagi untuk hal yang membuatku merasa hidup," ucap AL dengan keras kepala. Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, ia kembali mencondongkan tubuhnya.
Kali ini, AL tidak ragu-ragu. Ia mencium Esme dengan teknik yang nampaknya sudah ia latih di dalam mimpinya semalam. Sentuhannya lebih percaya diri, gerakannya lebih menuntut, dan tangannya mulai melingkar di leher Esme dengan posesif. Esme yang awalnya ingin protes, perlahan-lahan kembali luluh. Kecanduan AL ternyata menular, dan Esme mendapati dirinya membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama.
Namun, di tengah momen yang sangat "panas" itu, tiba-tiba terdengar suara gedoran keras di pintu depan pondok.
"AL! ALEKSANDER! KAU SUDAH BANGUN BELUM?"
Itu suara Bang Togar. Dan suaranya terdengar sangat dekat, seolah dia sedang menempelkan mulutnya di lubang kunci.
"BANGUN, PAHLAWAN! AKU MEMBAWAKANMU SUP KAMBING JANTAN UNTUK PEMULIHAN STAMINA!"
Esme seketika mendorong bahu AL hingga pria itu terjungkal sedikit ke belakang. Wajah Esme memucat, lalu berubah menjadi merah padam. "Bang Togar! Kenapa dia datang sepagi ini?!"
AL tampak sangat kesal. Pupil matanya menyempit karena terganggu di tengah "ritual" pentingnya. "Bang Togar mengganggu bensin pernikahan kita, Moa. Haruskah aku mengusirnya?"
"Jangan! Jangan lakukan itu!" Esme segera melompat turun dari ranjang, merapikan rambutnya yang acak-acakan dan dasternya yang sedikit berantakan. "Tunggu di sini! Jangan keluar kamar sampai aku menyuruhmu!"
Esme berlari menuju pintu depan dan membukanya sedikit. Bang Togar berdiri di sana dengan rantang besar di tangan dan cengiran khasnya.
"Eh, Nak Esme. Mana si Aleks? Aku dengar dari warga dia sangat lemas semalam. Ini, sup khusus. Sekali minum, dia bisa lari sampai ke desa seberang tanpa napas!" Bang Togar mencoba melongok ke dalam rumah.
"Dia... dia sedang istirahat, Bang. Jangan diganggu dulu," ucap Esme dengan nada gugup yang sangat kentara.
Tiba-tiba, dari arah belakang Esme, AL muncul hanya dengan mengenakan celana panjang, tanpa kemeja, memamerkan otot-otot dadanya yang bidang.
"Bang Togar," panggil AL dengan nada suara yang sangat dingin.
Bang Togar melongo melihat penampakan AL yang terlihat sangat "liar" di pagi hari. Matanya beralih ke Esme yang wajahnya merah, lalu ke AL yang tidak memakai baju, lalu ke arah kamar yang pintunya terbuka.
"Oalah..." Bang Togar menutup mulutnya dengan tangan, lalu tertawa kecil yang sangat menyebalkan. "Jadi beruangnya sudah benar-benar jinak, ya? Maaf, maaf! Aku tidak tahu kalau kalian sedang... yah, melanjutkan 'diskusi' soal kehidupan baru yang merangkak itu."
"Bang! Bukan begitu!" Esme mencoba membela diri, namun suaranya justru terdengar seperti pengakuan.
AL berjalan mendekat, mengambil rantang dari tangan Bang Togar dengan wajah datar. "Terima kasih supnya, Bang. Tapi besok-besok, jangan datang sebelum matahari di atas kepala. Moa sedang sibuk memantau detak jantungku secara langsung."
Bang Togar mengedipkan mata ke arah AL. "Siap, Pahlawan! Aku mengerti! Lanjutkan pantaunya! Aku pergi dulu!"
Bang Togar lari sambil tertawa terbahak-bahak, meninggalkan Esme yang ingin rasanya menenggelamkan diri ke dasar sumur.
Setelah pintu tertutup, Esme berbalik dan menatap AL dengan tatapan tajam. "Aleksander! Kenapa kau keluar tanpa baju?! Sekarang Bang Togar akan menyebarkan berita aneh-aneh ke seluruh desa!"
AL menatap Esme dengan tatapan polosnya kembali. "Tapi kau bilang aku tidak boleh bicara dengannya lebih dari lima menit. Jadi aku segera mengambil supnya agar dia pergi. Dan soal baju... bukankah di dalam kamar tadi kau bilang kau suka kulitku yang hangat?"
Esme speechless. Argumen AL selalu saja benar dengan cara yang paling memalukan. "Sudahlah... makan supmu. Aku harus mencuci muka."
Saat Esme berjalan menuju dapur, AL mengikuti dari belakang, memeluk pinggang Esme dengan tangan besarnya. "Moa, supnya bisa menunggu. Tapi bibirku masih terasa kering. Apakah pemantauan detak jantungnya bisa kita lanjutkan sebentar lagi? Hanya lima menit?"
Esme menghela napas, namun ia tidak melepaskan pelukan AL. "Hanya lima menit, Aleksander. Setelah itu kau harus makan."
"Sepuluh menit?" tawar AL dengan wajah merayu hasil didikan Bang Togar.
"Tujuh menit!"
"Deal," jawab AL sambil kembali memutar tubuh Esme agar menghadapnya.
Di bawah sinar matahari pagi yang mulai cerah, pondok itu kembali dipenuhi oleh kehangatan yang manis. Namun, di balik bukit, helikopter hitam yang sempat terlihat kemarin mulai mendarat di sebuah area tersembunyi. Beberapa pria berseragam taktis dengan senjata lengkap mulai menurunkan peralatan sensor canggih.
"Sinyal Enigma terdeteksi kuat di lereng bukit ini," ucap salah satu pria melalui radio. "Target Subjek 01 dan Dokter Esme terkonfirmasi berada di satu lokasi. Siapkan penangkapan saat malam tiba."
Ketenangan di pondok kecil itu berada di ambang kehancuran. Akankah AL mampu melindungi rumah tangga kecilnya saat musuh yang sesungguhnya datang dengan senjata yang lebih mematikan daripada cakaran beruang?