NovelToon NovelToon
Queen VS King

Queen VS King

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: lee_jmjnfxjk

Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.

Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.

Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Jarak yang Dipilih

Varrendra tidak tidur malam itu.

Ia berbaring menatap langit-langit asrama, menghitung retakan kecil yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya. Setiap kali ia memejamkan mata, potongan suara itu kembali—bukan sebagai kalimat utuh, melainkan serpihan.

Mengandung.

Tak ingin kau kehilangan fokus.

Aku takut.

Ia tidak tahu apa yang paling menyakitkan: fakta itu sendiri, atau kenyataan bahwa ibunya memilih menyembunyikannya darinya.

Tanpa konfirmasi. Tanpa penjelasan.

Hanya kebenaran setengah terbuka yang kini bersarang di dadanya seperti duri.

Pagi datang dengan kepala berat. Di depan cermin, wajahnya tampak sama—dingin, rapi, terkendali. Tapi ada sesuatu di matanya yang berubah. Bukan marah. Bukan kecewa.

Takut kehilangan.

Di kelas, ia tidak benar-benar hadir. Kata-kata guru lewat begitu saja. Yang ia dengar hanya detak jam dan napasnya sendiri. Ketika bel berbunyi, ia berdiri terlalu cepat, kursinya berdecit keras.

Selvina menangkap gerakannya.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya di lorong.

Varrendra mengangguk refleks. “Aku hanya… capek.”

Selvina menatapnya lama. Ia tidak percaya sepenuhnya, tapi ia juga tidak memaksa. Ia tahu rasanya membawa sesuatu yang belum siap diucapkan.

“Kalau kau butuh waktu,” katanya pelan, “aku di sini.”

Kalimat itu sederhana. Tapi justru itu yang membuat dada Varrendra menghangat—dan semakin perih.

🐺🐺🐺

Di rumah sakit, Rivena duduk sendirian di ruang tunggu kecil, tangan terlipat di atas perutnya. Ia belum memberi tahu siapa pun selain Gevano dan ibu Selvina. Ia belum siap menghadapi dunia.

Dan dunia, seperti biasa, tidak menunggu kesiapan.

Udara di sekitarnya terasa berbeda hari itu—lebih berat, lebih pekat. Ia tidak melihat apa pun, tapi ia merasakan kehadiran itu lagi. Entitas yang sama. Tidak berwujud. Tidak bersuara.

Namun kali ini, ia tidak hanya meminta perhatian.

Ia meminta sesuatu yang konkret.

Jaga keseimbangan, rasanya berbisik.

Anak itu akan jadi titik balik. Tapi sebelum itu—satu keputusan harus diambil.

Rivena menelan ludah. “Apa?” gumamnya tanpa suara.

Pisahkan yang terlalu dekat.

Atau semuanya akan runtuh bersamaan.

Ia tahu maksudnya. Ia selalu tahu.

Bukan hanya tentang dirinya. Tapi tentang Varrendra. Tentang Selvina. Tentang dua generasi yang kini saling bersinggungan terlalu dekat.

Untuk pertama kalinya, Rivena merasa strateginya sendiri tidak cukup. Ada hal-hal yang tidak bisa dihitung.

🐺🐺🐺

Sore itu, Varrendra berdiri di ruang makan rumah keluarganya, tas di kakinya.

“Aku akan pindah ke rumah,” katanya.

Sendok Gevano berhenti di udara. “Apa?”

“Dari asrama,” lanjut Varrendra. “Aku akan pulang-pergi.”

Rivena menoleh cepat. “Jaraknya jauh.”

“Aku tahu.”

“Kau akan kelelahan,” katanya lagi, nada profesional mencoba menutup kegelisahan.

Varrendra menatap ibunya. “Aku lebih lelah saat tidak tahu apa-apa.”

Hening jatuh.

Gevano menyandarkan punggung, menghela napas berat. “Ini tidak masuk akal. Asrama dibuat agar kau fokus. Waktumu akan habis di jalan.”

“Aku tetap bisa mengatur,” jawab Varrendra keras kepala. “Aku ingin ada di rumah.”

“Untuk apa?” tanya Gevano, nada suaranya mengeras.

Varrendra tidak langsung menjawab. Ia menatap Rivena—lama. Ada ribuan pertanyaan di sana, tapi tidak satu pun ia ucapkan.

“Untuk memastikan ibu baik-baik saja,” katanya akhirnya.

Rivena terdiam.

Ada sesuatu yang bergerak di dadanya—campuran lega dan takut. Ia ingin menolak. Ingin melindungi jarak. Tapi bagian lain dari dirinya—yang bukan strateg, yang bukan pemimpin—ingin anaknya dekat.

“Aku tidak membutuhkan pengawasan,” ucapnya dingin, terlalu cepat.

“Aku tahu,” jawab Varrendra. “Aku hanya… ingin pulang.”

Gevano berdiri. Langkahnya gelisah. Ia menatap Rivena, lalu kembali ke Varrendra.

“Ini akan mengganggu ritme,” katanya. Dan ada satu kalimat yang tidak ia ucapkan: ritme kami.

“Aku tetap akan pindah,” balas Varrendra.

Keputusan itu tidak dramatis. Tidak ada teriakan. Hanya keras kepala yang lahir dari kepedulian.

Gevano mengusap wajahnya. Lama. Akhirnya, ia mengangguk.

“Baik,” katanya. “Tapi jangan harap semuanya akan mudah.”

Varrendra mengangguk. “Aku tidak mencari mudah.”

Saat ia membawa tasnya ke kamar, Gevano berdiri kaku. Ia tahu apa yang ia korbankan: waktu-waktu sunyi bersama Rivena, percakapan larut malam yang tak sempat selesai.

Dan ia membencinya—bukan pada Varrendra, tapi pada situasi yang memaksanya berbagi ruang dengan masa depan yang tidak ia rencanakan.

Selvina mengetahui kepindahan itu dari bisikan—seperti biasa.

“Kau pindah?” tanyanya saat mereka bertemu di taman.

“Iya.”

“Karena ibumu,” simpulnya pelan.

Varrendra tidak menyangkal.

Selvina menatap tanah. “Aku merasa… berada di tengah sesuatu yang bukan milikku.”

“Kau tidak harus memilih,” kata Varrendra.

“Tapi aku sudah,” balas Selvina lirih. “Dengan berdiri di sampingmu.”

Dan itu yang membuatnya takut.

Ia mulai menyadari—kedekatannya dengan Varrendra bukan lagi soal strategi atau aliansi. Ia terseret di antara dua generasi: masa lalu yang penuh rahasia, dan masa depan yang belum sempat diberi nama.

Ia tidak tahu siapa yang akan terluka lebih dulu.

Malam itu, Rivena berdiri di depan jendela kamarnya. Di belakangnya, suara langkah Varrendra di rumah terasa nyata—terlalu nyata.

Entitas itu hadir lagi, lebih tenang sekarang.

Keputusan pertama telah diambil.

Rivena memejamkan mata.

Ia tahu ini baru permulaan.

Rahasia tidak lagi diam.

Jarak telah dipilih.

Dan cinta—dalam bentuk yang paling rumit—mulai menuntut harga.

-bersambung-

1
Mercy ley
makasih raisa
Mercy ley
kapal ku karam kah..
Mercy ley
fakta yg menyakitkan yahh ikut tersindir
Mercy ley
aaa sedihh
Mercy ley
agak nyess baca nya.. apalagi tiap ngeliat si king ini bareng nadira
Mercy ley
akan badai yg baru permulaan ini
Mercy ley
aku pun siap
Mercy ley
semangat Selvina..
Mercy ley
welcome to the world babyy..
Mercy ley
aku akan tunggu apapun yg akan terjadi..
Mercy ley
cerita nya fresh bgtt.. chemistry character nya berasa terhubung semua guys..asikk dan menyenangkan banget di jamin kalian suka..nyess nya dapet jg, pokoknya harus di baca.. soalnya aku udh kecintaan sama novel novel karyanya si authorr A inii..jgn lupa baca karya karya dia yg lainn karena gacorr semua lohh..
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
Mercy ley
huftt betull..
Mercy ley
rasanya aku kayak lagi chatan sama seseorang..
Mercy ley
aww..setujuu bgtt si authorr 🤗
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍
Mercy ley
kata kata mereka bikin nyess
Mercy ley
jujur kita sama..kita udh tau kemungkinannya akan terjadi tapi masih ngerasa kayak denial🥲
Mercy ley
namanya jg ibu hamil, udh turutin aja sebelum terjadi perang dunia kedua..
Mercy ley
siapakah kira kira entitas ini?
Mercy ley
Selvina di sayang bgt nih sama Bu rivenna
Mercy ley
aku ga suka kakak ini🥲
Mercy ley: itu cuma jokes kok my author 🤗
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!