NovelToon NovelToon
TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi Timur / Fantasi Isekai
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: Karma Danum

Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.

Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Pelatihan Khusus – Guru Choi

Dojo Timur terletak di sayap paling sepi Akademi Hunter. Berbeda dengan dojo utama yang penuh dengan peralatan modern dan lantai berkilau, Dojo Timur terasa kuno, bahkan sedikit terabaikan. Aroma kayu tua dan dupa menggantung di udara. Saat Ji-hoon mendorong pintu geser kayu yang berat, suara engselnya berderit memecah kesunyian.

Di tengah ruangan luas dengan lantai tatami yang sudah pudar, seorang pria tua sedang duduk bersila, matanya tertutup. Dia mungkin berusia enam puluhan, rambutnya memutih seperti salju, diikat ke belakang dalam sanggul sederhana. Wajahnya berkerut seperti peta pengalaman, tapi posturnya tegak, tidak bengkok oleh usia. Dia memakai kimono abu-abu sederhana, tanpa tanda pangkat atau lencana guild.

“Guru Choi?” tanya Ji-hoon, suaranya terdengar keras di keheningan ruangan.

Pria tua itu membuka mata. Dan dalam sekejap, Ji-hoon merasakannya—sebuah tekanan halus namun tak terbantahkan, seperti udara di ruangan tiba-tiba menjadi lebih padat. Itu bukan ancaman, hanya… kehadiran. Kehadiran sesuatu yang sangat besar, yang kini diredam menjadi bentuk yang tenang.

“Kang Ji-hoon,” suara Guru Choi dalam, bergema pelan. “Masuk. Duduk.”

Ji-hoon patuh, duduk bersila di hadapan sang guru, menjaga jarak yang sopan. Dia mencoba untuk tidak menganalisis—insting editornya langsung memberi peringatan bahwa ini adalah orang yang tidak boleh dinilai dengan gegabah. Tapi tetap saja, informasi dasar mengalir.

**Guru Choi – Observasi Dasar:**

- Posisi duduk: Sempurna, pusat gravitasi rendah dan stabil, tanpa ketegangan yang terbuang.

- Pernapasan: Sangat pelan, hampir tak terdengar. Interval 15 detik antar tarikan napas.

- Lingkaran energi: Tenang, tapi dalam, seperti samudra yang permukaannya tenang.

“Guru Park mengatakan Anda ingin bertemu saya,” ucap Ji-hoon, mencoba memecah keheningan.

“Guru Park mengatakan *kamu* yang perlu bertemu *saya*,” balas Guru Choi, sedikit mengoreksi. Matanya—warnanya abu-abu seperti abu—melihat langsung ke Ji-hoon, seakan-akan bisa melihat lebih dari sekadar penampilan luarnya. “Dia mengatakan kamu punya ‘mata yang tidak biasa’. Bahwa kamu melihat pertarungan bukan sebagai peserta, tapi sebagai… pengamat.”

Ji-hoon menelan ludah. “Saya… hanya mencoba memahami.”

“Memahami adalah langkah pertama,” kata Guru Choi, mengangguk pelan. “Tapi pemahaman tanpa eksekusi adalah ilusi. Kamu melihat kesalahan lawanmu, 47 buah menurut hitunganmu, tapi tidak bisa memanfaatkan satu pun. Benar?”

Ji-hoon terdiam, kaget. *Bagaimana dia tahu jumlah pastinya?*

Guru Choi tersenyum tipis, seperti membaca pikirannya. “Aku juga punya mata, Nak. Bedanya, mataku sudah melihat pertempuran selama empat puluh tahun lebih. Aku bisa melihat bekas analisismu di wajahmu—kerutan di dahi, gerakan mata yang cepat, napas yang tertahan saat kamu ‘membaca’. Kamu seperti editor yang mendapat naskah buruk, tapi tidak punya pena merah untuk mengoreksinya.”

Analoginya begitu tepat hingga Ji-hoon hampir tersedak. *Editor. Pena merah.* Apakah Guru Choi tahu? Tidak mungkin.

“Saya… kemampuan telekinesis saya masih lemah,” akui Ji-hoon, memilih untuk jujur. “Saya tidak punya ‘pena merah’ yang cukup kuat.”

“Telekinesis,” gumam Guru Choi, mengulangi kata itu seperti mencicipinya. “Kekuatan langka. Di tangan yang tepat, bisa menjadi salah satu yang terhebat. Di tangan yang salah… hanya jadi trik pesta.” Dia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Mengapa kamu pikir kamu termasuk yang mana?”

Ji-hoon berpikir sejenak. “Saat ini, saya yang kedua. Tapi saya ingin menjadi yang pertama.”

Jawaban jujur itu membuat Guru Choi mengangguk, kali ini dengan sedikit persetujuan. “Baik. Kerendahan hati adalah awal yang bagus. Tapi keinginan saja tidak cukup. Aku melihat rekaman pertarunganmu. Kamu menggunakan telekinesismu dengan kaku—seperti orang yang mencoba mengangkat barbel dengan satu jari. Kamu fokus pada ‘mengangkat’, bukan ‘memahami’.”

“Memahami?”

“Segala sesuatu di alam semesta ini bergerak,” jelas Guru Choi, suaranya seperti guru tua yang mendongeng. “Angin, air, batu, bahkan pikiran. Telekinesis sejati bukan tentang memaksa sesuatu untuk bergerak melawan keinginannya. Itu tentang… memahami keinginan geraknya, lalu memberinya sedikit dorongan di saat yang tepat.”

Dia mengangkat tangan kanannya, telapak menghadap ke atas. Di atas telapaknya, sebutir debu yang melayang di sinar matahari sore tiba-tiba berhenti, lalu mulai berputar perlahan, membentuk pola spiral yang sempurna.

Ji-hoon memandang takjub. Tidak ada ketegangan di wajah Guru Choi, tidak ada keringat. Butiran debu itu berputar seolah-olah itu adalah hal yang paling alami di dunia.

“Lihat? Aku tidak ‘mengangkat’ debu ini. Aku hanya… *berbisik* padanya tentang kemungkinan berputar. Dan dia setuju.”

Guru Choi menutup tangannya, dan butiran debu itu lenyap, kembali menjadi tidak terlihat. “Kekuatanmu, Ji-hoon, bukan E-rank. Potensimu mungkin diukur rendah oleh mesin, tapi itu karena mesin hanya mengukur ‘berapa banyak’ kamu bisa mengangkat, bukan ‘seberapa dalam’ kamu bisa memahami.”

Ji-hoon merasa dadanya berdebar. Ini… pengakuan. Pengakuan dari mantan S-rank bahwa kekuatannya mungkin lebih dari sekadar angka di kertas.

“Anda bilang saya perlu ‘pena merah’,” kata Ji-hoon, berani. “Apakah Anda bisa mengajarkannya pada saya?”

Guru Choi memandangnya lama sekali. Suasana dojo menjadi sangat hening, hanya terdengar suara angin sore yang menyelinap melalui celah-celah jendela kayu.

“Aku sudah pensiun dari pertempuran,” ucap Guru Choi perlahan. “Aku tidak lagi melatih siswa untuk menjadi hunter. Aku melatih mereka untuk… memahami. Dan pemahaman itu seringkali lebih berbahaya daripada kekuatan buta.”

“Saya tidak takut bahaya,” kata Ji-hoon, tegas. “Saya lebih takut tidak berguna. Saya sudah mati sekali. Sekarang saya di sini, dengan kesempatan kedua. Saya tidak mau menyia-nyiakannya dengan menjadi ‘trik pesta’.”

Kata-kata itu keluar tanpa disengaja. *Saya sudah mati sekali.* Ji-hoon menahan napas, menunggu reaksi.

Guru Choi tidak terkejut. Malah, matanya menyipit, seperti seseorang yang akhirnya menemukan potongan teka-teki yang hilang. “Ah,” katanya, dengan nada yang sangat pelan. “Begitu rupanya.”

Dia berdiri, tubuhnya bergerak dengan keluwesan yang tidak wajar untuk usianya. “Berdiri.”

Ji-hoon berdiri, sedikit goyah.

“Pertahankan posisimu,” perintah Guru Choi. Kemudian, tanpa peringatan, dia *hilang*.

Bukan menghilang secara harfiah, tapi bergerak begitu cepat hingga Ji-hoon hanya melihat bayangan samar. Dia tiba-tiba sudah berada di samping Ji-hoon, jari telunjuknya mengarah tepat ke tenggorokan Ji-hoon, berhenti satu sentimeter sebelum menyentuh kulit.

Ji-hoon membeku, jantungnya berdegup kencang. Dia bahkan tidak sempat berkedip.

“Apa yang kamu lihat?” tanya Guru Choi, masih dengan posisi yang sama.

“Saya… tidak melihat apa-apa. Anda terlalu cepat.”

“Salah.” Guru Choi menurunkan tangannya. “Kamu melihat *hasil* gerakanku. Kamu tidak melihat *prosesnya*. Kamu tidak melihat bagaimana berat badanku berpindah, bagaimana napasku berubah, bagaimana energi terkumpul di bola kakiku sebelum meledak. Kamu hanya melihat ‘orang tua itu tiba-tiba ada di sampingku’. Itu adalah pembacaan yang dangkal.”

Dia kembali ke depannya. “Editor yang baik tidak hanya membaca kata-kata yang tertulis. Dia membaca *ruang di antara kata-kata*. Dia memahami niat penulis, emosi yang tersembunyi, ritme yang terputus. Pertempuran sama. Setiap gerakan memiliki ‘kata-kata’—postur, kecepatan, arah. Dan ‘ruang di antaranya’—niat, emosi, kelelahan, ketakutan.”

Ji-hoon mencerna kata-kata itu. *Ruang di antara kata-kata.* Itu adalah konsep yang sangat akrab baginya. Berapa kali dia mengedit naskah di mana masalah sebenarnya bukan pada dialog yang diucapkan, tapi pada yang *tidak* diucapkan?

“Anda ingin saya membaca ‘ruang’ dalam pertempuran,” simpul Ji-hoon.

“Lebih dari itu,” kata Guru Choi. “Aku ingin kamu belajar *menulis ulang* ruang itu. Dengan telekinesismu, kamu punya kuasa untuk mengubah ‘kalimat’ yang ditulis oleh lawanmu. Sedikit dorongan di sini, hambatan kecil di sana… kamu bisa mengubah arti seluruh ‘paragraf’ pertempuran.”

Ji-hoon bisa merasakannya—potensi yang belum digali. Selama ini, dia mencoba menggunakan telekinesis seperti palu: mengangkat, mendorong, menahan. Tapi Guru Choi menawarkan sesuatu yang lebih halus: pena editor.

“Apakah Anda akan melatih saya?” tanya Ji-hoon, penuh harap.

Guru Choi kembali duduk, mengambil secangkir teh yang sudah dingin di sampingnya. “Latihanku tidak mudah. Bukan latihan fisik keras seperti yang dilakukan guru lain. Latihanku adalah latihan pikiran, persepsi, kesabaran. Kebanyakan siswa muda tidak tahan. Mereka ingin kekuatan instan, ledakan besar, kemenangan cepat.”

“Saya bukan ‘kebanyakan siswa muda’,” bantah Ji-hoon. Di dalam dirinya, jiwa Lee Min-jae yang berusia tiga puluh tahun bergolak. Dia sudah melalui kesabaran menunggu naskah, revisi berulang, proses edit yang bisa memakan bulanan. “Saya bisa sabar. Saya bisa belajar.”

Guru Choi menyesap tehnya, matanya tidak pernah meninggalkan Ji-hoon. “Aku akan memberimu satu pelajaran percobaan. Jika kamu bisa memahami esensinya, kita akan lanjut. Jika tidak… kita berpisah jalan.”

“Apa pelajarannya?”

Guru Choi meletakkan cangkir. “Besok subuh, sebelum matahari terbit, temui aku di Taman Batu belakang dojo. Bawa hanya pikiranmu yang paling jernih. Dan Ji-hoon…”

“Ya, Guru?”

“Jangan coba-coba menganalisisku dengan ‘mata editor’-mu saat itu nanti. Kamu hanya akan menemukan apa yang ingin aku tunjukkan. Dan itu akan membuatmu lebih bingung.”

Peringatan itu jelas. Ji-hoon mengangguk. “Saya mengerti.”

“Pergilah sekarang. Istirahat. Besok adalah awal yang sebenarnya.”

Ji-hoon membungkuk hormat, lalu berbalik meninggalkan dojo. Saat pintu kayu tertutup di belakangnya, dia berdiri di koridor yang sepi, menghirup udara segar.

Dadanya dipenuhi perasaan baru: harapan.

Guru Choi melihat sesuatu dalam dirinya. Sesuatu yang bahkan dia sendiri belum sepenuhnya pahami. Dan besok, dia akan mulai menggali potensi itu.

Saat berjalan menyusuri koridor menuju asrama, telekinesisnya bereaksi lembut, seperti anak kucing yang mengeong lembut karena diberi perhatian. Ji-hoon tersenyum kecil.

Mungkin, untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, dia berada di jalan yang tepat.

Dan pelajaran pertama dimulai besok subuh.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!