NovelToon NovelToon
Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: YeJian

Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.

Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.

Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.

Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 – Mata yang Tidak Berkedip

Hari kedua misi pemetaan dimulai tanpa aba-aba.

Tidak ada lonceng. Tidak ada pengumuman ulang. Semua unit bergerak seolah sudah tahu hari ini adalah penentuan. Jika kemarin sekadar pengamatan, hari ini adalah penyaringan.

Ren Tao berdiri di titik awal zona timur bersama Unit Ketujuh. Udara pagi terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena qi, tapi karena konsentrasi niat yang saling bertabrakan di wilayah yang sama.

“Mereka akan mulai agresif,” kata Li Shen pelan.

Ren Tao mengangguk. “Karena waktu mereka tinggal sedikit.”

Benar saja.

Unit Keenam bergerak lebih dulu, memasuki area yang belum dipetakan siapa pun. Mereka tidak menunggu, tidak berkoordinasi. Strateginya jelas: klaim cepat, lapor cepat, unggul di mata tetua.

Zhou Min mengepalkan tangan. “Kalau kita diam, kita tertinggal.”

Ren Tao tetap tenang. “Kalau kita ikut, kita terseret.”

Ia melangkah maju satu langkah, lalu berhenti. Tangannya terangkat, membentuk simbol sederhana di udara. Qi mengalir tipis, hampir tak terlihat, menyentuh lapisan bawah tanah.

Formasi tua.

Masih aktif.

“Zona itu tidak aman,” katanya datar. “Dan bukan jebakan kasar. Tapi formasi pengunci aliran.”

Li Shen menimbang cepat. “Kalau mereka terus masuk—”

“Mereka tidak akan mati,” potong Ren Tao. “Tapi Qi mereka akan kacau. Cukup untuk dicatat sebagai kesalahan teknis.”

Seolah mendengar prediksi itu, salah satu murid Unit Keenam terhenti. Langkahnya goyah, napasnya tidak stabil. Ia tidak jatuh tapi jelas terganggu.

Beberapa unit lain mulai melambat.

Mata mulai tertuju ke arah Ren Tao.

Tidak ada yang berbicara. Tapi kehadirannya mulai diperhitungkan sebagai variabel.

Unit Ketujuh bergerak memutar, mengambil jalur yang lebih sempit dan tampak tidak penting. Di sana, Ren Tao menemukan sesuatu yang menarik alur qi yang terlalu rapi untuk ukuran wilayah liar.

“Ini jalur yang sering dilewati,” katanya. “Dan sengaja dibiarkan.”

“Untuk apa?” tanya Han Yue.

“Untuk mengarahkan orang,” jawab Ren Tao. “Dan menciptakan ilusi bahwa wilayah lain lebih berbahaya.”

Mereka mencatat semuanya.

Tidak ada aksi heroik. Tidak ada konflik. Hanya pengumpulan data yang konsisten dan tenang.

Menjelang sore, suasana semakin tegang. Beberapa unit mulai bertabrakan kepentingan. Klaim wilayah tumpang tindih. Laporan sementara saling bertentangan.

Di kejauhan, suara perdebatan terdengar. Tidak keras. Tapi cukup jelas.

Ren Tao tidak mendekat.

Ia duduk di batu datar, membuka gulungan giok, dan mulai menyusun laporan akhir bukan hanya tentang wilayah, tapi tentang perilaku unit.

Li Shen memperhatikannya. “Itu berbahaya.”

Ren Tao mengangguk. “Tapi diminta.”

“Tidak secara tertulis.”

“Justru itu,” jawab Ren Tao. “Kalau sistem ingin melihat, kita tidak boleh berpura-pura buta.”

Saat matahari tenggelam, semua unit kembali ke Aula Tengah. Aura kelelahan terasa di mana-mana. Beberapa murid terlihat puas. Beberapa gelisah.

Tetua Lu membaca laporan satu per satu.

Beberapa laporan terlalu penuh asumsi.

Beberapa terlalu kosong.

Beberapa… saling bertentangan.

Saat giliran Unit Ketujuh, aula menjadi lebih hening.

Tetua Lu berhenti membaca lebih lama dari biasanya.

“Laporan ini,” katanya akhirnya, “tidak hanya memetakan wilayah.”

Ren Tao menunduk sedikit. “Kami hanya mencatat apa yang terlihat.”

Ren Tao menunduk sedikit. “Kami hanya mencatat apa yang terlihat.”

Tatapan Tetua Lu akhirnya terbuka, menatap langsung ke arah Ren Tao.

“Termasuk manusia.”

Ren Tao tidak menjawab.

Beberapa tetua lain saling pandang. Wei Kang berdiri diam, wajahnya netral, tapi matanya tidak lepas dari Ren Tao sedetik pun.

“Baik,” kata Tetua Lu. “Misi pemetaan selesai.”

Beberapa murid menghela napas lega.

“Tapi evaluasi belum.”

Suasana kembali menegang.

“Kalian telah menunjukkan satu hal hari ini,” lanjutnya. “Bukan siapa yang paling kuat. Tapi siapa yang paling sadar.”

Tatapan itu kembali jatuh pada Unit Ketujuh.

Bukan pujian.

Bukan peringatan.

Pengakuan.

Di kamarnya malam itu, Ren Tao duduk bersila. Tidak ada rasa lega. Justru tekanan terasa lebih jelas.

Ia sudah terlalu terlihat sekarang.

Dan di dunia sekte—

sorotan bukan hadiah.

Ia adalah undangan.

Undangan untuk ujian yang lebih kejam,

lebih rapi,

dan jauh lebih sunyi.

Ren Tao membuka mata.

Dan untuk pertama kalinya sejak masuk sekte—

ia tahu,

ia tidak lagi sekadar bidak.

1
Zan Apexion
salam sesama penulis novel Kultivasi.☺️👍

semangat terus ya...
YeJian: siap terimakasih bro atas dukungan nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!