Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.
Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”
Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.
PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman
CHAPTER 23
Di ruang latihan.
Shun yang sedang berlatih sendiri, karena disuruh oleh Riot dan Kai, disamperin oleh Yuzuriha yang sudah sembuh total dan kebetulan baru datang ke ruang latihan.
Kemudian Shun istirahat sebentar untuk berbincang dengan Yuzuriha. Saat sedang berbincang, Yuzuriha menyadari bahwa Shun sedang memikirkan sesuatu.
"Shuchan, ada apa?" Yuzuriha bertanya.
"A-ah... Tidak apa-apa."
Shun merasa bahwa dia tidak usah mencemaskan Desa Hoshigawa lebih dalam, karena Kai akan memberitahu jika desa itu diserang.
Yuzuriha juga tidak ingin bertanya lebih jauh. Tidak lama kemudian, Yuzuriha mengusulkan sesuatu:
"Shuchan, ayo latihan bertarung bersamaku."
Dia tersenyum menghadap Shun.
Shun terkejut mendengarnya, karena pertama kalinya dia ditantang bertarung oleh seorang wanita. Shun mencoba menolak, karena prinsip hidupnya adalah tidak ingin melawan wanita.
Yuzuriha sudah mengira bahwa Shun akan menolak ajakannya, namun dia tidak kehilangan ide.
"Oh, begitu ya... Tidak ingin melawan wanita atau..... Takut kalah?" Yuzuriha tersenyum.
Benar saja, mendengar perkataan itu, wajah Shun menunjukkan bahwa dia tidak terima, wajahnya memerah karena malu dan secara spontan menyetujui ajakan Yuzuriha.
Mereka berdua berjalan ke tengah lapangan latihan dan berdiri berhadapan dengan jarak yang cukup jauh. Yuzuriha dan Shun mulai menyiapkan diri.
Shun mengambil dua belati yang ada di pinggangnya, sedangkan Yuzuriha mencabut jarum yang mengikat rambutnya. Rambut hitam Shun dan rambut merah Yuzuriha sama-sama berkibar karena angin.
Secara bersamaan, mereka berdua mengaktifkan Ten—energi hitam-merah milik Shun dan energi merah milik Yuzuriha. Kedua energi tersebut mengalir dan menyelimuti tubuh masing-masing, perlahan merambat ke senjata yang mereka pegang.
Kedua jarum yang dipegang Yuzuriha berubah menjadi lebih besar dan panjang. Sementara itu, bilah kedua belati Shun berubah menjadi hitam dengan ujung yang tajam dan gagang berwarna merah.
Mereka berdua menyiapkan kuda-kuda, dan—
Keduanya melesat, bertemu di tengah dengan suara dentuman keras dari benturan kedua senjata. Yuzuriha dan Shun bersama-sama melompat mundur.
Kemudian mereka berlari ke samping, mencari celah untuk menyerang. Shun langsung mendekat dan melancarkan serangan vertikal ke arah Yuzuriha.
Dengan mudah, Yuzuriha menghindari serangan Shun dengan memundurkan badan ke belakang. Melihat Shun yang sudah berada dalam jangkauan kakinya, Yuzuriha langsung memberikan tendangan horizontal ke arah Shun.
Dengan menggunakan bagian punggung lengan, Shun bisa menahan tendangan Yuzuriha. Dengan cepat, Shun memanfaatkan kaki Yuzuriha yang masih menempel di lengannya—dia memegang kaki tersebut menggunakan lengan kirinya dan menerapkan Fix pada lengan kirinya.
Ia melempar Yuzuriha dengan kuat. Yuzuriha yang terlempar mencoba mengatur posisinya agar bisa mendarat dengan baik sebelum menabrak dinding yang sudah tidak jauh lagi.
Yuzuriha mengubah posisinya menjadi jongkok dan menerapkan Fix pada kedua kakinya. Meski masih terbang deras akibat lemparan Shun, ia menghantam dinding di belakangnya.
Shun mencoba mendekat, namun terkejut saat mendengar suara Yuzuriha.
"Huft..." Ia menghela napas. "Lumayan juga ya, Shuchan!" Yuzuriha melesat keluar dari dalam asap yang timbul akibat benturan saat dia menabrak dinding tadi.
Yuzuriha melesat cepat ke arah Shun. Dalam hitungan detik, dia sudah berada di depan Shun dan langsung menyerang secara horizontal. Meskipun sempat terkejut, Shun dengan cepat menunduk dan menghindari serangannya.
"Kamu masih perlu belajar, Yuz—" Sebelum Shun menyelesaikan kata-katanya, Yuzuriha yang baru saja mendarat langsung menendang wajah Shun menggunakan tumitnya.
"Kamu lengah, wlee!" Ia menutup satu mata dan mengeluarkan ujung lidahnya seolah-olah mengejek Shun.
Shun langsung menginjakkan kaki ke tanah dengan keras agar tubuhnya tidak terjatuh. Dengan menggunakan belati di tangan kirinya, Shun langsung menyerang Yuzuriha secara horizontal.
Selanjutnya, Shun juga menyerang secara horizontal menggunakan belati di tangan kanannya. Semua serangan Shun diulanginya terus-menerus, membuat Yuzuriha kesulitan menghadapinya.
Akhirnya, Yuzuriha menangkis serangan Shun dengan kuat, dan mereka berdua kembali melompat mundur.
Shun dan Yuzuriha saling tatap, kemudian secara bersamaan menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Keduanya menyiapkan kuda-kuda kembali dan terlihat tersenyum. Bersamaan mereka berkata: "Serangan terakhir!"
Shun menerapkan Fix pada kedua belatinya, begitu juga Yuzuriha yang menerapkan Fix pada kedua jarumnya.
Mereka berdua melesat maju. Saat sudah dekat—
Dan benar-benar dekat—
Suara dentingan senjata yang sangat keras bergema di seluruh ruangan latihan. Tanah yang mereka injak sebagian hancur, dan asap menggumpal di tempat benturan senjata itu terjadi.
Perlahan asap itu menghilang, dan saat benar-benar hilang—
Yang menangkis serangan Shun bukanlah Yuzuriha, melainkan Riot yang menggunakan sabit sawah yang telah berubah menjadi senjata ninja kama. Ia menggunakan seluruh energi di kedua lengannya untuk menahan serangan Shun.
Sementara itu, yang menghentikan serangan Yuzuriha juga bukan Shun melainkan Kai, yang menggunakan katana berkarat dan mengeluarkan setengah energi di kedua lengannya untuk menahannya.
"Oke, oke... Latihan selesai." Ucap Kai dengan santai sambil tersenyum.
"Ya ampun!, bikin repot saja!" Riot memarahi Shun.
Ternyata, saat Shun dan Yuzuriha sedang bersiap untuk serangan terakhir mereka, Kai dan Riot sedang menuju ke ruang latihan untuk melihat latihan Shun.
Namun, saat hampir tiba, firasat Kai memberitahukan bahwa ruang latihan akan hancur sebagian.
Kai langsung berlari dengan cepat, begitu juga Riot yang menyusul dari belakang.
Shun yang mendengarnya cukup bingung mengapa serangan mereka berdua bisa menyebabkan ruang latihan hancur sebagian. Namun, dia segera menghiraukannya karena merasa bahwa dirinya dan Yuzuriha memang sudah cukup kuat.
Mereka berempat duduk di tanah, jauh dari tempat Shun dan Yuzuriha bertarung. Kali ini Kai ingin memberi tahu Shun bahwa energinya bisa membesar akibat emosi amarahnya.
Setelah mendengarnya, Shun meminta maaf karena mudah terbawa emosi. Dia juga akan berusaha tidak lagi terbawa emosi, setelah mengetahui akibatnya yang bisa berkaitan dengan nyawa.
"Hahahaha..." Kai tertawa. "Tidak apa-apa, lagi pula mulai sekarang latihanmu akan lebih berat." Kai tersenyum.
Kali ini Shun sangat terkejut dan melihat ke arah Riot yang memiliki raut wajah kecewa.
"Kenapa?" Riot melihat ke arah Shun. "Jijik tahu, cuih!"
Shun mendekat ke Riot dan memegang kedua bahunya.
"Oii! Master sialan!, latihan biasa saja sudah sulit! Sekarang malah akan ditambah, pikirin dong master sialan!" Shun meneriakkan kata-katanya langsung di wajah Riot.
"Oi! Jangan dong, air liur keluar terus tuh!" Riot mendorong Shun menjauh. "Menurutku latihanku tidak terlalu sulit kok." Wajah Riot terlihat lesu.
"Hah!!, Tiap hari harus bertarung melawan orang yang kekuatannya luar biasa! Malah bilang tidak terlalu sulit!" Shun mengeluh.
Mereka berbincang cukup lama; Shun dan Riot saling berdebat dan bercanda. Segala sesuatu berlangsung dengan cepat sampai akhirnya hari sudah malam dan jam menunjukkan pukul 21.24.
Tiba-tiba saja tawa yang menggema punah setelah mereka mendengar suara laporan dari seorang mata-mata Nightshade yang ternyata adalah Kayle.
Kayle muncul tiba-tiba dari belakang mereka dan berkata: "Boss, Nine sudah mulai menyerang Desa Hoshigawa."
Semua orang diam. Shun ingin langsung pergi, namun segera dihentikan oleh Riot dan ia dengan cepat menuruti.
"Berapa jumlah mereka?" Ucap Kai dengan suara dingin.
"30 orang anggota Justice yang sepertinya bukan pengguna Ten, dan dipimpin langsung oleh Nine sendiri." Ucap Kayle dengan cepat.
Sepertinya informasi dari Yoshida memang benar, dan Kayle juga menyatakan bahwa yang menyerang desa itu memang benar Nine.
Kai berpikir siapa yang akan dikirim ke sana. Kebetulan Frederica dan Shinji baru saja masuk ke ruang latihan karena tidak sengaja melihat Kayle masuk dengan tergesa-gesa.
Kai terlihat tersenyum tipis dan langsung menunjuk anggota yang akan menuju Desa Hoshigawa.
Mereka adalah Shun, Yuzuriha, Frederica, dan Shinji—atau lebih dikenal sebagai Kelompok Black Roses. Selain itu, Kai juga menunjuk beberapa anggota Nightshade lain untuk membantu mereka.
Kali ini, Shun akan kembali menghadapi Nine.
Dan kali ini, dia bersumpah tidak ingin melihat orang-orang terdekatnya mati, termasuk warga Desa Hoshigawa.
Dan Shun juga akan memastikan bahwa Nine benar-benar akan mati.