NovelToon NovelToon
Ksatria Untuk Alisa

Ksatria Untuk Alisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.

“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.

Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”

“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Makan Malam

Undangan itu datang dalam bentuk nota singkat yang diletakkan Cakra di meja piket ruang komunikasi: “Lettu Satria, makan malam di rumah dinas jam 19.00. Seragam bebas rapi.” Sederhana, namun bagi Satria, nota itu memiliki bobot yang lebih berat daripada perintah operasi tempur. Ini adalah pertama kalinya Sang Mayor membuka pintu rumahnya secara resmi setelah insiden badai tempo hari.

Di barak perwira, suasana menjadi sedikit riuh. Satria tampak sibuk di depan cermin kecilnya sejak pukul lima sore. Ia sudah mandi tiga kali, memastikan tidak ada sisa bau lumpur atau oli yang menempel di tubuhnya. Ia memilih kemeja flanel kotak-kotak berwarna biru gelap yang disetrika hingga licin sempurna, dipadukan dengan celana kargo bersih. Rambutnya yang biasanya hanya disisir seadanya, kini tertata rapi dengan sedikit pomade, menciptakan kesan segar namun tetap maskulin.

Damar, yang sedang bersantai di dipan sambil membaca koran, berkali-kali memutar bola matanya. Ia melihat keponakannya itu berulang kali mematut diri, membetulkan kerah baju, lalu tiba-tiba tersenyum sendiri menatap cermin.

"Sat, kamu itu mau makan malam atau mau pelantikan jadi Panglima?" tegur Damar dengan nada jengah. "Sudah sepuluh kali kamu cek kerah baju itu. Tidak akan copot, percayalah."

Satria tidak menghiraukan sindiran paman sekaligus seniornya itu. Ia justru kembali tersenyum lebar sambil merapikan jam tangannya. "Ini momen penting, Om. Mayor Cakra itu radar hatinya sensitif. Salah kostum sedikit, bisa-bisa saya disuruh push-up di ruang tamu."

"Dan berhenti tersenyum seperti itu!" seru Damar lagi, kini benar-benar merasa risi. "Gigi kamu bisa kering kalau terus dipamerkan begitu. Kamu terlihat seperti orang yang baru menang lotre, bukan perwira perhubungan yang tangguh."

Satria akhirnya terkekeh. "Saya memang merasa menang lotre, Om. Bisa selamat dari pohon tumbang dan dapat undangan makan malam dari 'Singa Batalyon' dalam satu minggu itu keajaiban."

Kursi Panas di Rumah Dinas

Pukul tujuh malam tepat, Satria berdiri di depan pintu rumah dinas Cakra. Bau harum masakan rumahan—ayam goreng bumbu lengkuas dan sambal terasi—menyeruak keluar, memancing seleranya sekaligus menambah kegugupannya. Alisa yang membuka pintu, dan untuk sesaat, Satria terpaku. Alisa mengenakan daster rumahan yang sopan dengan rambut yang dikuncir kuda, tampak sangat manis di bawah cahaya lampu teras yang kuning.

"Wah, Kak Satria rapi sekali. Aku hampir tidak mengenali kalau ini ksatria yang kemarin mandi lumpur," goda Alisa dengan senyum jenaka.

"Ayahmu bilang 'bebas rapi', Alisa. Aku tidak mau mengambil risiko," bisik Satria. Alisa mempersilakannya masuk, menuju meja makan di mana Cakra sudah duduk dengan posisi tegak, menatap setiap gerak-gerik Satria dengan mata elangnya.

"Duduk, Satria. Jangan kaku begitu, ini meja makan, bukan meja sidang," ujar Cakra. Meski nadanya mencoba santai, wibawa perwiranya tetap memenuhi ruangan.

Makan malam dimulai dengan keheningan yang sedikit canggung, hanya terdengar denting sendok dan garpu. Alisa bertindak sebagai tuan rumah yang ceria, mencoba mencairkan suasana dengan bercerita tentang draf novelnya. Namun, Cakra memiliki caranya sendiri untuk "menginterogasi" tamu istimewanya.

"Jadi, Satria," Cakra memulai sambil meletakkan sendoknya. "Setelah kejadian kemarin, apa yang kamu pelajari tentang keselamatan di medan berat?"

Satria menelan makanannya dengan hati-hati. "Lapor, Mayor. Saya belajar bahwa kesiapan alat tidak menjamin keselamatan tanpa ketenangan mental. Dan... menjaga nyawa orang lain jauh lebih menekan daripada menjaga nyawa sendiri."

Cakra mengangguk tipis. "Lalu, bagaimana rencana karirmu ke depan? Kamu tidak selamanya ingin jadi teknisi di hutan seperti ini, kan?"

Interogasi halus itu berlanjut. Cakra menanyakan tentang keluarga Satria, pandangan hidupnya, hingga hobinya. Setiap jawaban Satria disaring dengan ketat oleh Cakra. Alisa yang merasa Ayahnya terlalu menyudutkan Satria, sesekali menyela dengan candaan. "Yah, jangan tanya soal karir terus. Kak Satria ini pintar masak juga, lho. Dia sering bantu di dapur barak."

Cakra melirik Satria, lalu beralih ke Alisa. "Pintar masak itu bagus untuk bertahan hidup, tapi tanggung jawab melindungi perempuan itu soal karakter." Cakra kemudian menatap Satria dengan dalam. "Aku sudah baca bagian akhir novel Alisa yang baru. Dia menulis tentang ksatria muda yang menyelamatkan putri di tengah badai. Deskripsinya... sangat mirip denganmu."

Wajah Satria memerah seketika, sementara Alisa tersedak air minumnya sendiri.

"Ayah! Itu kan cuma fiksi!" protes Alisa malu.

Cakra justru terkekeh—sebuah suara langka yang membuat suasana di meja makan itu mendadak hangat. "Fiksi atau bukan, Satria, aku menghargai keberanianmu kemarin. Tapi ingat satu hal," suara Cakra kembali berat dan penuh penekanan, "pangkatmu mungkin Lettu, tapi di rumah ini, lencana terbesarmu adalah kepercayaan yang aku berikan. Jangan sampai rusak."

Satria menatap Cakra dengan hormat yang tulus. "Siap, Mayor. Saya mengerti sepenuhnya."

Pengakuan yang Sunyi

Setelah makan malam selesai, Cakra mengizinkan Alisa dan Satria duduk di teras sebentar untuk minum teh, sementara ia sendiri memilih masuk ke ruang kerja. Dari balik jendela, ia melihat Satria dan Alisa mengobrol santai. Satria tidak lagi tampak tegang; ia terlihat tulus mendengarkan cerita Alisa, sementara Alisa tampak sangat nyaman berada di dekat pemuda itu.

Cakra menghela napas, rasa jengah dan protektifnya kini berganti dengan sebuah pengakuan pahit yang manis. Satria telah membuktikan bahwa ia bukan sekadar pemuda yang mengejar sinyal Wi-Fi, tapi pria yang mampu menjaga Alisa di titik paling kritis.

Di teras, Alisa menoleh pada Satria. "Kakak tadi rapi sekali, benar-benar niat ya?"

Satria tersenyum, kali ini senyumnya lebih tenang. "Tentu saja. Menghadapi Ayahmu itu butuh persiapan mental dan visual, Alisa. Tapi yang paling penting, aku ingin menunjukkan kalau aku serius menghargai undangan ini... dan menghargaimu."

Malam itu ditutup dengan tawa kecil di teras rumah dinas. Damar yang kebetulan lewat di depan rumah dengan jip dinasnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Satria yang masih saja tersenyum lebar saat berpamitan. Baginya, Satria mungkin terlihat lucu dengan tingkah "jatuh cinta"-nya, tapi bagi Cakra dan Alisa, Satria telah menjadi frekuensi baru yang membuat pangkalan terpencil itu terasa lebih hidup daripada sebelumnya.

1
panjul man09
disetiap kesulitan ada kemudahan ,disetiap kesedihan akan ada kebahagiaan , setelah hujan muncullah pelangi , author 👍👍👍👍👍
panjul man09
ujian hati dimulai
panjul man09
ceritanya sangat menyentuh hati ,kalimat yg digunakan jauh lebih berbobot daripada cerita novel yg lain ,authornya sangat pandai memainkan perasaan
panjul man09
👍😍👍😍👍😍
panjul man09
👍👍👍👍👍
panjul man09
cuman 2 pemerannya ? tdk ada pemeran ketiga ?
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
mereka memelukan sosok ibu
panjul man09
sebaiknya cakra menikah lagi
david 123
terharu Thor...ttp semangat ya ..cerita ini bisa sbg movitasi bagi anak yg berjuang mencari jadi dirix melalui bakat dan minat.
david 123
aduh baca sambil berderai air mata..alurx..keren..sangat menyentuh...hati...luar biasa Thor ..ceritamu ini...ttp semangat dg ide -ide cermelangx....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!