Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Backstreet di Antara Bau Karbol
Senin pagi. Matahari bersinar cerah, burung berkicau, dan Adrian Bratadikara merasa dunia ini indah.
Dia mengemudikan Porsche hitamnya (yang sudah kembali ke pangkuan) dengan senyum lebar yang tidak bisa luntur. Di kursi penumpang, Rania duduk dengan gelisah, terus-menerus mengecek kaca spion.
"Rania, berhenti gigit kuku. Nanti cacingan," tegur Adrian lembut, tangannya bergerak hendak menggenggam tangan Rania di persneling.
"JANGAN SENTUH!" Rania menepis tangan Adrian histeris, seolah tangan itu mengandung virus Anthrax.
Adrian kaget, mobil oleng sedikit. "Kenapa? Tangan saya steril."
"Kita udah deket RS, Ad! Jarak 500 meter adalah Zona Merah!" Rania menunjuk plang 'Rumah Sakit Citra Harapan' di kejauhan. "Turunin gue di sini."
"Di sini?" Adrian melihat sekeliling. "Ini depan tukang tambal ban, Rania. Lobi RS masih 300 meter lagi. Panas."
"Justru itu! Kalau gue turun dari Porsche di lobi, besok beritanya masuk mading RS: 'Dokter Bedah Umum Diduga Jadi Simpanan Direktur Bedah Plastik'!" cerocos Rania sambil melepas sabuk pengaman.
"Apa salahnya? Kita pacaran resmi. Saya jomblo, kamu jomblo."
"Nggak bisa! Reputasi gue, Ad! Gue nggak mau dianggap nepotisme atau dapet privilese cuma karena pacar gue anak yang punya RS. Gue mau dikenal karena skill gue, bukan karena skill memilih pacar!"
Adrian menghela napas pasrah. "Oke, Konsultan Utama. Aturan diterima. Operation: Backstreet dimulai."
Rania membuka pintu mobil, tapi sebelum keluar, dia menoleh cepat, mengecup pipi Adrian kilat—cup—lalu lari terbirit-birit menuju trotoar.
Adrian memegang pipinya, tersenyum bodoh di tengah kemacetan. "Dasar wanita aneh."
Pukul 10.00 WIB - Nurse Station UGD.
Atmosfer di RS hari ini terasa... ganjil.
Biasanya, Adrian dan Rania akan berdebat soal hal medis. Tapi hari ini, mereka bersikap terlalu sopan.
"Selamat pagi, Dokter Rania," sapa Adrian kaku saat masuk UGD. Tangannya disembunyikan di saku jas, menahan dorongan untuk mengacak rambut Rania.
"Pagi, Dokter Adrian," balas Rania tak kalah kaku, matanya fokus ke status pasien seolah itu dokumen rahasia negara.
"Bagaimana... ehem... bagaimana perkembangan pasien bed 3?" tanya Adrian.
"Stabil. Leukosit turun. Luka kering," jawab Rania robotik.
"Bagus. Kerja yang... sangat... profesional," kata Adrian.
Kevin dan Suster Yanti yang menonton interaksi itu saling pandang bingung.
"Mbak Yan," bisik Kevin. "Mereka lagi musuhan ya? Kok ngomongnya kayak robot Google Translate gitu? Hawanya dingin banget."
"Kayaknya sih gitu, Vin. Kemarin kan abis lomba cerdas cermat, mungkin Dokter Rania masih dendam kalah cepet pencet bel," analisis Yanti sok tahu.
Padahal, di bawah meja Nurse Station, kaki Adrian sedang "nakal" menyenggol-nyenggol kaki Rania dengan ujung sepatu pantofelnya. Rania membalas dengan injakan keras di jari kaki Adrian.
Adrian meringis, tapi tetap tersenyum sopan pada Yanti. "Saya ke poli dulu. Permisi."
Pukul 12.00 WIB - Jam Makan Siang.
Rania sedang makan soto ayam sendirian di pojok kantin, berusaha terlihat menyedihkan dan tidak punya pacar.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Pesan WhatsApp masuk.
My Panda Glowing (Adrian):
Jangan makan kulit ayamnya. Kolesterol. Saya liat kamu dari CCTV.
Rania tersedak kuah soto. Dia celingukan mencari kamera CCTV. Benar saja, di sudut kantin ada kamera yang berkedip merah.
Rania:
Lo ngapain liatin CCTV?! Kerja woy!
My Panda Glowing:
Kangen. Ke Gudang Logistik Farmasi di lantai 2 sekarang. Sepi. Saya bawa puding mangga.
Rania mendengus, tapi hatinya berbunga-bunga. Dia menghabiskan sotonya kilat, lalu berjalan santai keluar kantin, berpura-pura mau ke toilet.
Dia menyelinap ke tangga darurat, naik ke lantai 2, dan masuk ke Gudang Logistik yang penuh tumpukan kardus infus.
Di sana, di antara kardus Ringer Laktat dan NaCl, Adrian sudah menunggu. Begitu Rania menutup pintu, Adrian langsung menariknya ke dalam pelukan.
"Aman?" bisik Adrian di telinga Rania.
"Aman. Yanti lagi sibuk gosip sama bidan," jawab Rania, membenamkan wajah di dada Adrian. "Gila, capek banget pura-pura musuhan sama lo."
"Makanya, kita go public aja," bujuk Adrian sambil menyuapkan sesendok puding mangga ke mulut Rania.
"Nanti dulu. Tunggu momen yang pas. Enak pudingnya."
"Buatan Chef hotel bintang lima langganan Papa. Saya bajak bekal Papa tadi pagi," kata Adrian bangga.
Mereka menikmati momen curian itu. Makan puding berdua di gudang sempit yang bau kardus. Sesekali Adrian mencium puncak kepala Rania.
Kreek.
Gagang pintu gudang bergerak.
Mata mereka melotot. Panik melanda.
"Sembunyi!" desis Rania.
Adrian, dengan refleks luar biasa, melompat ke balik tumpukan kardus popok dewasa. Rania pura-pura sibuk menghitung stok infus dengan serius.
Pintu terbuka. Mas Bejo, staf logistik, masuk sambil bersiul.
"Lho? Dokter Rania?" Mas Bejo kaget. "Ngapain di sini, Dok? Gelap-gelapan?"
Rania tertawa canggung. "Eh, Mas Bejo. I-ini... saya lagi cari... cairan infus yang expired. Buat... buat praktek koas. Iya, buat praktek."
"Oh... kirain nyari wangsit," Mas Bejo garuk-garuk kepala. "Ya udah lanjut, Dok. Saya cuma mau ambil kardus bekas."
Mas Bejo berjalan mendekati tumpukan kardus tempat persembunyian Adrian.
Jantung Rania berhenti berdetak. Kalau Adrian ketahuan jongkok di balik kardus popok, tamat sudah riwayat "Pangeran Wibawa"-nya.
"Mas Bejo!" teriak Rania tiba-tiba.
Mas Bejo melonjak kaget. "Ya Allah! Apa Dok?!"
"Itu... di belakang Mas ada kecoa terbang!" tunjuk Rania asal ke arah pintu.
"Hah?! Kecoa?! Mana?!" Mas Bejo yang ternyata phobia serangga langsung lari terbirit-birit keluar gudang. "Makasih infonya Dok! Saya keluar dulu!"
Brak. Pintu tertutup lagi.
Adrian muncul perlahan dari balik kardus popok, wajahnya pucat tapi lega.
"Kecoa terbang?" tanya Adrian datar. "Itu alibi terburuk yang pernah saya dengar."
"Yang penting berhasil kan?" Rania mengelap keringat di dahinya. "Udah ah, bahaya di sini. Gue balik ke UGD."
"Tunggu," Adrian menahan tangan Rania. "Cium dulu. Bayaran buat serangan jantung barusan."
"Nggak mau! Mulut lo bau mangga!"
"Kamu juga makan mangga, Rania."
Adrian tidak menerima penolakan. Dia mencuri satu ciuman cepat di bibir Rania sebelum melepaskannya.
"Dah. Semangat kerjanya, Dokter Backstreet," goda Adrian.
Pukul 15.00 WIB - Insiden Cemburu.
Ujian "Backstreet" semakin berat saat seorang Medical Representative (Sales Obat) ganteng bernama Dito datang ke UGD.
Dito masih muda, wangi, dan ramah. Dia sedang mempresentasikan antibiotik baru ke Rania.
"Jadi gitu, Dok. Obat ini efikasinya tinggi. Kalau Dokter Rania mau, nanti malam bisa kita diskusikan lebih lanjut sambil dinner? Saya tahu resto steak enak," ajak Dito genit.
Rania tersenyum sopan, hendak menolak. "Wah, makasih Mas Dito, tapi..."
Tiba-tiba, tirai bilik sebelah tersibak kasar.
Dr. Adrian muncul. Wajahnya dingin, auranya mematikan. Dia membawa berkas rekam medis yang entah punya siapa.
"Dokter Rania," panggil Adrian tajam.
"I-iya, Dok?"
Adrian berjalan mendekat, berdiri tepat di antara Rania dan Dito. Dia menatap Dito dengan tatapan mengintimidasi seolah Dito adalah bakteri patogen.
"Mas... siapa ini?" tanya Adrian.
"Dito, Dok. Dari Farma Jaya," jawab Dito gugup melihat nametag 'Kepala Bedah Plastik' di jas Adrian.
"Mas Dito," Adrian membetulkan letak kacamatanya. "Saya dengar Anda mengajak staf saya makan malam untuk membahas obat? Apakah itu sesuai kode etik gratifikasi?"
"Eh... cuma makan biasa kok, Dok..."
"Di RS ini," potong Adrian, mengarang aturan baru seenak jidat. "Diskusi obat harus dilakukan di jam kerja, di ruang rapat, dan didampingi atasan. Yaitu SAYA. Jadi kalau mau ajak Dokter Rania makan malam, Anda harus ajak saya juga. Paham?"
Dito pucat. Makan malam romantis macam apa yang didampingi dokter spesialis galak?
"M-maaf, Dok. Nggak jadi deh. Saya pamit dulu." Dito langsung membereskan brosurnya dan kabur.
Rania menatap Adrian dengan mulut menganga.
"Lo cemburu sama sales obat?" bisik Rania tak percaya.
"Saya tidak cemburu," elak Adrian, merapikan kerahnya. "Saya cuma menegakkan protokol keamanan. Wajahnya mencurigakan. Seperti tipe playboy penipu."
"Bilang aja lo nggak rela gue makan steak gratis."
"Nanti malam saya belikan steak. Dua porsi. Yang penting jangan senyum-senyum sama laki-laki lain di radius 5 meter dari saya," ancam Adrian, lalu berbalik pergi dengan gaya cool.
Rania menggelengkan kepala, menahan tawa. "Dasar posesif."
Di pojokan, Suster Yanti mencatat di buku kecilnya:
Observasi Hari Ini: Dokter Adrian mengusir gebetan Dokter Rania. Fiksasi: Ada sesuatu di antara mereka. Investigasi lanjut diperlukan.
Rahasia mereka sedang di ujung tanduk. Dan ini baru hari pertama.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
ceritanya bagus banget