NovelToon NovelToon
Fajar Di Gerbang Hijau

Fajar Di Gerbang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar digerbang Hijau 22

Pagi masih diselimuti kabut tipis ketika Jaya, Arjun, dan Baskoro sudah berangkat ke ladang, mencari pekerjaan harian. Setelah insiden pahit beberapa waktu lalu, kebutuhan untuk membuktikan diri dan segera mendapatkan uang tunai telah menjadi cambuk tak terlihat yang mendesak mereka.

Ladang tempat mereka bekerja hari itu bukanlah sawah datar yang subur, melainkan lereng bukit yang sedikit terjal, digunakan untuk menanam palawija. Tanah di sana keras dan berbatu, memaksa mereka mengeluarkan tenaga ekstra untuk mencangkul dan membersihkan gulma.

Suasana di ladang itu sunyi, hanya dipecahkan oleh suara 'changk! changk!' yang monoton dari mata cangkul yang menghantam tanah. Matahari mulai meninggi, membakar punggung mereka, dan peluh membasahi kaos yang mereka kenakan. Bau tanah kering dan rumput yang tercabut memenuhi udara.

Arjun, yang biasanya paling banyak bicara, kali ini hanya fokus pada pekerjaannya. Jaya, dengan wajah datar, mencangkul dengan ritme yang teratur dan brutal, seolah ingin melampiaskan seluruh frustrasi dan penyesalan masa lalunya pada gundukan tanah di depannya.

"Jaya, istirahat dulu," tegur Baskoro, suaranya serak karena tenggorokannya kering. Baskoro mengelap keringat di dahinya dengan lengan. Kelelahan fisik mulai terasa, namun tekanan mental jauh lebih berat.

Jaya tidak berhenti. "Tidak. Sedikit lagi. Kita harus cepat selesai," jawabnya singkat, suaranya berat dan penuh tekad. Emosi yang dia keluarkan adalah campuran antara penyesalan mendalam dan kebutuhan untuk penebusan.

Arjun berjongkok, minum dari botol airnya. "Kita sudah bekerja dua jam tanpa henti, Jay. Lihat, punggungmu basah sekali."

Jaya akhirnya berhenti, menancapkan cangkulnya ke tanah. Ia menatap ke langit yang sudah biru terang. "Aku hanya ingin semuanya cepat kembali normal. Aku ingin memastikan semua orang tidak gelisah lagi. Aku ingin segera mengumpulka uang itu. Hari ini juga,agra bisa lunas dan tidak ada beban lagi."

"Kita semua tahu, Jay," ujar Arjun pelan. "Tapi kita juga harus hati-hati. Terlalu memaksakan diri, nanti malah sakit. Ingat, kita butuh tenaga untuk bekerja lagi besok."

Jaya mengangguk, mengambil napas panjang. Mereka duduk di bawah pohon kecil, berbagi bekal nasi dan air. Selama jeda singkat itu, mereka merencanakan pekerjaan lain di sore hari, memastikan setiap jam diisi dengan kegiatan yang menghasilkan uang. Tekad mereka satu: bekerja keras, menebus masa lalu, dan menyediakan penghidupan.

Sementara itu, di rumah, aktivitas Valaria, Ratri, dan Bibi Tirta jauh lebih ringan namun sama sibuknya. Dapur sederhana mereka dipenuhi asap tipis yang beraroma gurih, campuran dari minyak panas, bawang putih, dan ubi yang sedang diolah.

Setelah sukses kemarin dengan ubi rebus, Valaria segera mengeksekusi ide masakan baru yang lebih menarik. Singkong goreng, yang mudah dibuat dan murah, menjadi menu utama, dipasangkan dengan sambel nasi bungkus. Ide gorengan daun pakis dan pohpohan, yang terasa terlalu unik dan berisiko tidak laku, mereka urungkan dan memilih hidangan yang lebih terjamin.

Valaria sedang melakukan tahap pertama: menghaluskan ubi rebus dengan cepat menggunakan lumpang kayu besar. Suara 'duk, duk, duk' berulang kali memenuhi dapur.

"Bibi Tirta, bawang putihnya sudah halus?" tanya Valaria, wajahnya sedikit berkeringat karena panas wajan.

Bibi Tirta, yang sedang menyiapkan bumbu untuk sambal, menjawab dengan senyum penuh pengalaman. "Sudah, cukup. Garamnya sedikit saja, ubi liar ini sudah punya rasa manis alami. Jangan terlalu banyak bumbu, nanti malah aneh rasanya." Nada Bibi Tirta penuh kasih sayang dan nasihat praktis.

Ratri mencampurkan bumbu halus ke dalam tumbukan ubi. Mereka bekerja dalam harmoni yang tenang, saling melengkapi.

"Perkedel ini pasti laku, Valaria," kata Ratri, sambil mulai membentuk adonan ubi menjadi bulatan pipih yang seragam. Ratri mengeluarkan emosi semangat dan optimisme. "Ini unik. Di desa kita, kalau ada yang unik dan enak, pasti cepat dibeli."

Valaria mengangguk, mengambil giliran menggoreng. Bau harum ubi yang berpadu dengan bawang putih yang digoreng menyebar ke seluruh halaman.

"Ya, Ratri. Dan yang paling penting," Valaria menyahut sambil membalik perkedel, "kita menjual makanan yang mengenyangkan dan terjangkau. Nasi bungkus sambal dengan ubi seharga 700 rupiah, itu berarti semua orang bisa membelinya, bahkan anak-anak."

Setelah semua perkedel ubi liar dan singkong goreng selesai, Valaria menata dagangan mereka. Ada juga ubi rebus sisa yang masih hangat. Semuanya diletakkan dalam baskom besar yang ditutup daun pisang, siap dibawa ke medan pertempuran: Pasar Desa.

Namun, sebelum berangkat ke pasar, Valaria memiliki tugas penting yang membutuhkan energi dan fokus mental yang berbeda. Ia harus mengirimkan naskah-naskah sastranya.

Valaria berjalan sendiri menuju kantor surat kabar desa yang juga merangkap sebagai pos kecil untuk Radio Pusat di kota. Tempat itu terletak di pinggiran desa, sebuah bangunan kecil dari kayu dengan jendela yang selalu terbuka. Suasana di dalam kantor itu terasa dingin dan hening, kontras sekali dengan panas dan riuhnya dapur mereka. Hanya ada satu meja kayu besar dan mesin ketik tua yang sunyi.

Pak Darman, petugas di sana, seorang pria paruh baya berkacamata tebal, menyambutnya dengan senyum resmi. Valaria mengeluarkan tiga bundel kertas dari tasnya:

Beberapa cerita pendek dan artikel pengetahuan.

Puisi-puisi untuk radio pusat.

Valaria menyerahkan naskah puisinya. Tiga bait yang ia tulis tentang kehidupan desa tentang subuh sunyi, padi yang dibasahi embun, dan senyum ramah di setiap jiwa dan puisi tentang Indahnya Alam Dunia tentang gunung menjulang dan hati yang damai adalah upayanya untuk mentransfer keindahan sederhana yang ia temukan di desa ke dalam kata-kata yang bisa didengar orang jauh.

"Ini puisi-puisi terbaru, Pak Darman. Untuk siaran minggu depan," kata Valaria, emosi kerendahan hati bercampur dengan semangat seorang penulis.

"Bagus. Puisi-puisimu selalu... jujur, Valaria. Mereka merayakan hal-hal kecil yang sering kita lupakan di sini," komentar Pak Darman sambil membaca cepat beberapa baris pertama. Nada Pak Darman profesional, namun tersirat apresiasi tulus.

Setelah selesai dengan urusan administrasi dan kontrak, Pak Darman menyerahkan beberapa lembar uang kertas jumlahnya 6.000 rupiah. Ini adalah honorarium Valaria dari naskah-naskah yang terbit minggu lalu.

"Lumayan. Dengan ini, kau bisa membeli bahan makanan lagi," kata Pak Darman.

Valaria menggenggam uang itu. Hanya enam ribu, tetapi bagi mereka saat ini, itu adalah kemenangan kecil. Itu berarti uang untuk membeli bahan masakan, minyak, dan garam, sebagian lagi bisa disimpan untuk modal cokelat.

Setelah urusan administrasi selesai, Valaria segera bergabung dengan Ratri dan Bibi Tirta. Mereka berjalan menuju Pasar Desa.

Suasana Pasar Desa adalah kebalikan dari kedamaian hutan dan keheningan kantor. Udara dipenuhi hiruk pikuk suara tawar-menawar, aroma tajam rempah-rempah yang beradu dengan bau anyir ikan, dan teriakan pedagang. Lantai pasar yang berbatu dan sedikit becek penuh dengan orang-orang yang bergegas.

Valaria, Ratri, dan Bibi Tirta menempatkan dagangan mereka di sudut yang strategis, dekat pintu masuk, di mana orang yang baru datang bisa mencium aroma perkedel ubi yang baru digoreng.

"Ayo,kita mulai! Perkedel Ubi Liar! Hangat! Singkong Goreng renyah! Murah meriah, mengenyangkan!" teriak Bibi Tirta dengan suara lantang, energi seorang pedagang sejati.

Valaria, meskipun canggung pada awalnya, ikut berseru. Ia berinteraksi langsung dengan para pembeli. Di matanya, tidak ada lagi kelelahan, hanya fokus dan ketangkasan menjual.

"Nasi Bungkus! 700 rupiah! Cukup untuk sarapan berat, Pak! Dijamin enak dan pedas!" seru Valaria sambil tersenyum ramah pada setiap pembeli yang mendekat.

Seorang ibu rumah tangga menghampiri. "Perkedel ubi liar? Apa ini? Beda dengan perkedel biasa?"

"Berbeda, Bu," Valaria menjelaskan dengan cepat dan meyakinkan. "Ubi liarnya lebih pulen dan manis alami, kami campur bawang putih dan garam sedikit saja. Cobalah satu, Bu. Hanya 100 rupiah per buah."

Ibu itu mencoba dan mengangguk puas. "Ambil tiga. Sekalian nasi bungkusnya satu."

Penjualan berjalan lancar. Ubi liar itu, yang semula hanya tanaman merambat di hutan, kini bertransformasi menjadi uang tunai. Setiap koin yang masuk ke dalam kotak uang terasa seperti konfirmasi atas kerja keras dan kecerdasan mereka.

Di tengah keramaian pasar, Valaria merasakan hal yang sama dengan Jaya di ladang: rasa kepuasan yang didapat dari perjuangan murni. Uang 6.000 rupiah yang ia peroleh dari hasil karya sastranya adalah modal inspirasi, tetapi uang hasil menjual perkedel ubi liar adalah darah segar yang menggerakkan kehidupan.

Saat mentari mulai condong ke barat, hampir semua dagangan mereka ludes. Mereka berhasil mendapatkan cukup uang untuk membeli bahan masakan esok hari dan, yang terpenting, sedikit tambahan untuk disimpan. Valaria menyadari, di desa ini, perjuangan hidup tidak hanya tentang fisik, tetapi juga tentang kreativitas, ketekunan, dan kerja sama.

1
panjul man09
pak Arjun dan bu Ratri 👍👍
panjul man09
banyak hal2 yg kurang dipahami masalah tanah , berikan yg lebih menarik lagi
panjul man09
sayang tahunnya agak jauh seandainya di tahun yg belum pake drone untuk transportasi atau mundur 4 tahun dari 2030 kayaknya lebih cocok
panjul man09
sebaiknya untuk orang tua valaria gunakan kata ayah dan ibu supaya posisinya jelas
Herwanti: terima kasih sarannya. kalau yang baru saja di revisi itu bagaimna.baru tiga bab sih
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
anggita
ikut dukung ng👍like aja, 2👆👆iklan. moga novelnya lancar.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!