NovelToon NovelToon
Nona Pengganti

Nona Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.

Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.

Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terpikirkan

"Wah enak sekali!"

Meja makan begitu ramai tatkala Lian bergabung di sana. Gadis itu begitu cantik dan bersinar saat siap menghadiri kelas pagi.

Hita, di sisi lain tersenyum membawa nampan keluar dari dapur bersama dengan Nadia. Aroma kanan yang mereka masak menguar memenuhi meja makan, bahkan membuat siapapun yang menciumnya langsung meneteskan liur.

"Tentu saja enak." Nadia tersenyum, menyajikan ke masing-masing piring di atas meja. "Itu karena hari ini Hita yang membantu mama untuk memasak."

Senyum merekah di wajah-wajah penanti begitu piring mereka diisi. Ada Nathan dan senyum teduhnya di ujung meja, sementara Dirga dan Bram duduk di sisi-sisinya hingga berhadapan. Kursi lainnya diisi oleh Lian dan tamu kita yang tak diundang—Baskara.

Dirga—si wajah dingin tanpa ekspresi itu sedari tadi mengamati Hita yang tak sama sekali melirik ke arahnya. Jujur saja, entah mengapa ia benar-benar kesal dengan hal itu.

Dirga tau dan ingat persis bahwa ia melarang Hita untuk menatapnya dengan mata perempuan itu yang ia katakan 'kotor' dengan begitu lantang. Tapi ia jadi kesal sendiri saat diabaikan seperti ini, apalagi dengan pemberontakan Hita yang tiba-tiba di kamar tadi.

"Wah, wah, sepertinya bibi Nadia punya saingan sekarang," goda Baskara, memasukkan sesendok nasi goreng lezat ke dalam mulutnya. "Tapi tenang saja, masakan bibi Nadia akan menjadi yang nomor satu."

"Benarkah begitu, Bas?" Nathan menyahuti. "Sepertinya sejak dulu kau banyak memuji masakan istriku, apakah ada niat terselubung di sana?" balas laki-laki tua itu menggoda, menatap Baskara dan Lian secara bergantian.

Lian memasang tampang sengit, melotot ke arah ayahnya yang berakhir tertawa puas.

"Niat terselubungnya adalah meminta restu, Om." begitu terang-terangan Baskara menjawab.

"Kau terlalu tua, Bas, cari saja yang lain."

Namun saat suara Bram si kakak tertua terdengar, langsung menciut nyali Baskara saat itu juga.

"Aku hanya bercanda," jelasnya, mengibaskan tangan dengan santai.

Sungguh hangat rasanya hati Hita begitu melihat interaksi itu di meja makan keluarga Martadinata. Pemandangan ini sering ia lihat di kediaman Wijaya juga, namun ia hanya menonton dari sudut ruangan.

"Hita tidak akan pernah menjadi sainganku," kata Nadia, merangkul pundak menantunya itu dengan bangga. "Karena dia adalah putriku. Putriku setelah Lian," jelasnya, membuat senyuman Hita merekah.

Untuk sesaat, penderitaannya terlupakan sejenak.

Hanya sejenak sebelum matanya berpapasan dengan tatapan Dirga yang begitu dingin dan menohok. Buru-buru Hita menatap ke arah lain.

"Menurutku ini sama sekali tak sebanding." Dirga menatap Hita walaupun perempuan itu mengalihkan pandangan. "Rasanya tidak seenak itu," komentarnya dingin.

Tangan Hita diam-diam mengepal, antara kesal dan sakit hati mendengar ucapan dingin suaminya.

Biasanya Hita akan merasa rendah setelah hinaan itu, tapi tidak setelah apa yang Dirga lakukan padanya kemarin. Ia berhak marah. Berhak kesal.

Meja makan itu sontak menegang begitu mendengar ucapan Dirga, membawa kembali kenyataan bahwa Hita bukanlah Loria—sosok yang harusnya berada di sana. Menjadi menantu keluarga Martadinata dan istrinya.

"Tidak semua orang memiliki selera yang bagus, kak." Lian terdengar menyahuti di sela-sela kunyahannya. "Kak Dirga salah satunya," ucapnya tanpa rasa takut sedikitpun. "Selera kakak kan jelek."

Bram diam-diam melirik Hita, secerah rasa iba tersirat di tatapannya, begitu pula dengan Nathan yang pura-pura menyesap kopinya.

Namun alih-alih minta maaf lagi, Hita justru menjawab. "Kau benar, Lian, tidak semua orang punya selera yang sama," ujarnya. "Mungkin saja makanan ini tidak cocok di lidah kak Dirga."

Baskara tampak manggut-manggut setuju, kagum akan respon Hita pada ucapan dingin sahabatnya. "Ya, ya, kalau tidak suka berikan saja padaku," entengnya, langsung saja disambut senyuman oleh Hita.

Teman Dirga yang satu itu rakus sekali.

Hita memasang tampang puas begitu mengitari meja, berhenti di samping tempat duduk Dirga hingga laki-laki itu mendongak ke arahnya dengan satu alis terangkat.

Dirga mencengkram garpu dan sendoknya erat-erat. Matanya memincing dan menyiratkan permusuhan.

"Kalau kakak memang tak menyukainya, akan aku minta tante Nadia yang masakan, yang ini berikan kak Baskara saja," ucapnya, mengambil piring dI hadapan Dirga yang sontak membuat laki-laki itu terbelalak tak menyangka.

"Perempuan ini... apa yang terjadi padanya?" batin Dirga.

Ketidak relaan terukir di wajah tampan pria berkacamata itu saat Hita meletakkan piringnya di hadapan Baskara. Setiap pujian menggelikan terlontar dari mulut Baskara tatkala dengan rakus memakan makanan masakan Hita.

Dirga berusaha menekan kekesalannya agar tak meledak saat itu juga. Lancang sekali Hita ini mengambil jatah makanannya untuk pria lain.

Nadia menatap Hita dan Dirga bergantian, seakan berusaha memahami keduanya sebelum akhirnya tersenyum dan menggeleng pelan. Senyuman penuh arti terukir di wajah wanita itu.

"Kalau begitu Dirga tunggu, mama masakan—"

"Tidak perlu," potong Dirga tajam, matanya tak lepas dari Hita. "Aku akan berangkat sekarang, makannya di kantor saja."

Dengan itu Dirga bangkit dari kursi hingga benda itu berderit kencang di bawahnya, membuat semuanya yang berada di sana saling bertukar pandang bingung.

"Ayo, Bas."

Baskara terbelalak dan tersedak begitu Dirga tiba-tiba menarik kerah bajunya, menyeretnya keluar dari meja makan.

Hita melongo di tempat, meringis ngeri begitu melihat Baskara memberontak kesal pada sahabatnya yang tiba-tiba menariknya keluar. Hilang sudah wibawa seorang Baskara jika sudah berhadapan dengan Dirga.

Hita terdiam sejenak, entah mengapa jantungnya berdegup kencang setelah bersikap berani seperti ini. Apakah ini sudah benar untuk dia lakukan?

...****************...

"Kenapa terlihat begitu... familiar?"

Komentar itu dilontarkan oleh Baskara begitu mengamati sosok laki-laki pada rekaman CCTV yang dikirimkan oleh Wisnu.

Mereka berdua—Dirga dan Baskara—kini berada di kantor pusat Mahargabhi hanya untuk membahas tentang pencarian Loria.

Wanita yang satu itu lihai sekali bersembunyi, entah di mana dia sekarang dengan pria sialan antah berantah itu.

Baskara menyipitkan matanya, mencubit-cubit layar hanya untuk mengamati si pria berambut pirang yang ia rasa kenali.

Sedangkan Dirga? Laki-laki itu untuk pertama kalinya terlihat tak fokus, menghadap ke arah jendela besar yang menampakkan pemandangan ibu kota.

"Familiar bagaimana maksudmu, Bas?" tanyanya, tak ada nada tertarik yang biasanya ia gunakan pada setiap pembahasan mengenai Loria.

Untuk satu alasan yang tak diketahui, Dirga tampak merana dan gelisah.

Apa pula yang terjadi padanya sekarang?

Dirga berbalik menghadap Baskara yang kini duduk di kursi putar yang seharusnya dia duduki, begitu lancang sahabatnya itu menyilangkan kaki di atas meja sementara matanya terfokus pada layar handphone.

"Tidak tau," balas Baskara, sedikitpun tak menoleh. "Tapi aku benar-benar merasa bahwa aku mengenali pria ini, dia benar-benar familiar sekali."

"Bisakah aku bertemu dengan Wisnu? Panggilkan dia kemari untuk membahas ini lebih lanjut?" Kali itu Baskara menoleh ke arah Dirga, sebelah alisnya terangkat.

Ada sedikit rasa heran dalam tatapan Baskara begitu melihat Dirga yang tampak tak fokus, laki-laki itu memandangi tembok dengan pikiran yang kusut.

"Kau mendengarkanku, kawan?"

Suara Baskara itu tampak menyadarkan Dirga, laki-laki itu menggeleng pelan, membenarkan posisi kacamatanya dengan ujung jari.

"Apa?"

"Aku ingin kau memanggilkan Wisnu kemari," dengus Baskara, memutar mata begitu melihat temannya yang sibuk memikirkan hal lain. "Ada apa? Sepertinya pikiranmu sedang melayang jauh sekali."

"Tidak apa-apa, hanya masalah pekerjaan," balas Dirga, menegakkan tubuhnya dan melangkah mendekati Baskara. "Apakah tidak bisa bicara melalui telpon saja? Aku memberikan Wisnu tugas penting di rumah."

"Tugas penting?"

Dirga mengangguk sekilas.

"Tugas penting seperti apa?" tanya Baskara, tampak penasaran. "Mengawasi adikmu yang tak terkontrol itu?"

"Ya." begitu singkat pula jawaban Dirga, dingin seperti biasanya. "Aku memang menyuruhnya mengawasi Lian, dan... Istriku juga."

Semakin heran pula Baskara mendengar ucapan sahabatnya.

Istri? Terang-terangan sekali kini Dirga mengakui Pramahita itu.

"Sejak kapan?" tanya Baskara.

"Apanya?"

"Sejak kapan kau terang-terangan begitu menyebutnya istri?"

Ada jeda hening yang terjadi begitu pertanyaan Baskara terlontar. Itu membuat otak Dirga semulanya yang begitu cepat merespon seakan berhenti.

Sejak kapan. Ia juga tak tau.

Akhir-akhir ini Hita memang banyak mencuri perhatiannya, bahkan tanpa dia sadari. Kedekatannya dengan Bram yang membuat Dirga kesal, insiden di mall, percakapan di rumah sakit, membelikan ponsel, sampai mengurusi perempuan itu saat demam di malam hari.

"Dia memang istriku, kan?" Dirga menjawabnya dengan tenang, meskipun kini dirinya sendiri merasa bingung. "Istri sementara," tambahnya, dengan nada dinginnya yang biasa.

Dirga menatap Baskara, menghela napas dan menyisir rambutnya dengan jari begitu mendapati tatapan Baskara yang sulit diartikan.

"Sudahlah, kalau begitu aku akan menghubungi Wisnu jika itu yang kau perlukan untuk mencari Loria," akhirnya, mengakhiri topik mengenai istri penggantinya itu. "Aku akan melakukan apapun asalkan dia kembali."

Dirga melangkah keluar dari ruangan begitu mengeluarkan ponselnya dari saku, tak menyadari tatapan heran Baskara di belakangnya.

Begitu pintu tertutup di belakangnya, Dirga menggulir layar ponselnya untuk mencari kontak Wisnu.

Namun alih-alih mengklik kontak orang kepercayaannya keluarga Martadinata itu, Dirga malah mengklik kontak seseorang yang kini menghantui pikirannya—Pramahita, istrinya.

Pikirannya melayang kembali pada kejadian di meja makan, saat Hita begitu menyebalkannya mengambil makanannya dan memberikannya pada Baskara. Untungnya ia buru-buru menyeret Baskara pergi sebelum semua makanan dihabiskan.

Sahabatnya itu memang rakus.

Pemberontakan tiba-tiba Hita juga tampaknya membuatnya tak tenang, berpikir apa yang membuat perempuan itu memiliki keberanian yang tiba-tiba.

Dirga menatap kontak Hita cukup lama, entah mengapa terlihat benar-benar bimbang.

Dirga tak tau apa yang terjadi pada dirinya sendiri, tapi jelas ia merasa bahwa ini aneh. Bahwa sikap Hita yang seperti ini padanya sungguh tak ia sukai.

Apa yang terjadi pada perempuan itu sebenarnya? Apa yang terjadi pada istrinya?

Bersambung...

1
Lilla Ummaya
Please thor jangan satu bab
Lilla Ummaya
Ditunggu segera thor updatenyaa
Lilla Ummaya
Pleasee update banyk penasaran
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kak aku mampir. kalo berkenan boleh mampir keceritaku juga yang judulnya "Istri pengganti " mari saling suport🤗 makasih👋
Elvia Rusdi
Thor..jangan sampai bikin Hita hamil ya..dan pengen lihat penyesalan Dirga atas sikap nya ke Hita
Elvia Rusdi
cukup menarik
partini
wow double wow ini mah buka pedas lagi Thor ini di luar Nurul seorang lelaki yg suka lendir nya loria Weh Weh nyesek nya
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
partini: ngemis seperti apa ya Thor
dia like Casanova 🤣
total 2 replies
partini
Dirga otaknya geser ya Thor udah lihat masih aja bego ini akibat nya lihat pakai mata dengkul
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
partini: patut lah ukuran kecil tuh otak udang pantas ga nympe yah Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
partini
semoga Hita ga kaya yg lain jatuh cinta duluan 😭
partini
sangat bangus cerita nya tapi muak sama Dirga Thor jaharaaa bnggt plus bego nya dihhh gumussss
Liaramanstra: Wahh makasii ya kakk🤍
total 1 replies
partini
tuh kabur sama laki laki,masih Bege jg ga melek tuh mata
partini
Bram sering dah ketemu ma Hita biar tuh tuan sombong plus songong esmosi
partini
yah di gantung Thor
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
partini
good story
Liaramanstra: Wahh makasi banyak ya kakk, semoga suka sama ceritanya🤍
total 1 replies
partini
jirr CEO koplak pantas harus ketemu udah lihat yg polos polos dasar CEO kamu yang murahan bukan Hita
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga
partini
tuh mulut kaya bon cabe ,, Ampe Kemabli use your brain Dirga cari tau tuh Liora kenapa macam ferek
partini
dasar laki" BEGE
partini
nice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!