Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.
Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.
Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.
Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Sugar Daddy KR
Ayu berdiri di hadapan Lingga, dua dokumen di meja di antara mereka: perjanjian finansial yang fantastis dan akta nikah siri. Lingga menuntut jawaban, menukarkan masa depan finansial Ayu dengan pengakuan atas hasratnya yang tak terkendali.
Ayu menatap akta nikah itu. Pikirannya, yang biasanya dipenuhi analisis data dan kurva ekonomi, kini dipenuhi oleh ajaran agama dari guru mengaji semasa SMA.
Ia teringat kata-kata Vera, tentang 'kenikmatan' yang didapat dari sugar daddy, yang Ayu tahu pasti adalah dosa besar. Lingga menawarkan cara keluar dari kehidupan seperti itu—ia menawarkan pernikahan.
Menikah. Jika aku menikahinya, ciuman itu... keintiman yang kucuri saat di Bali... itu akan menjadi halal, diberkahi. Aku tidak perlu merasa kotor atau bersalah lagi.
Ayu yang polos, yang secara naluriah takut pada dosa, melihat pernikahan sebagai satu-satunya benteng yang aman untuk menampung gejolak hasratnya yang baru bangkit.
Namun, kemudian matanya tertuju pada penjelasan Lingga: "Ketika kau lulus, atau setelah enam bulan, kita bisa mengakhiri pernikahan ini secara damai."
Itu menusuk langsung ke inti masalahnya. Enam bulan. Itu nikah kontrak. Nikah kontrak juga dosa besar. Guru agamanya pernah mengajarkan bahwa pernikahan yang dibatasi waktu atau memiliki niat untuk bercerai di awal adalah haram.
Ayu mengangkat pandangannya. Ia harus berbicara, meskipun suaranya bergetar.
"Tuan Lingga," kata Ayu, menarik napas. "Saya setuju, hubungan kita tidak bisa terus seperti ini. Anda melanggar janji, dan saya... saya takut pada diri saya sendiri jika Anda melanggar lagi."
Lingga mencondongkan tubuh ke depan, matanya penuh harapan. "Kalau begitu, tandatangani. Kita akan segera mengurus semuanya."
"Tidak," potong Ayu. "Saya tidak akan menandatangani pernikahan kontrak."
Lingga terkejut. "Kontrak? Ayu, ini nikah siri. Ini sah secara agama. Aku hanya memberikanmu jaminan bahwa kau bebas pergi setelah kau mencapai tujuanmu. Ini adalah perjanjian yang menguntungkanmu!"
"Ini menguntungkan uang saya, Tuan. Tapi ini menghancurkan martabat saya dan agama saya," balas Ayu, tegas. "Nikah siri itu sah, selama niatnya adalah pernikahan, bukan kontrak berbatas waktu. Anda bilang, setelah enam bulan saya boleh pergi, atau Anda akan menceraikan saya. Itu berarti niat Anda adalah untuk kontrak layanan berbayar, bukan pernikahan."
Ayu meletakkan tangannya di atas dokumen itu, seolah melindunginya dari niat busuk Lingga.
"Saya menolak menjadi sugar baby yang terselubung dalam pernikahan, Tuan. Saya ingin dinikahi dengan baik-baik," tegas Ayu.
Lingga tertegun. Ia telah menggunakan semua trik bisnis dan kekuatannya untuk menjebak Ayu, tetapi Ayu membalasnya dengan martabat dan keimanan yang murni.
Gadis ini, yang membutuhkan uang, justru menolak uang demi menjaga martabatnya.
"Lalu, apa yang kau inginkan, Ayu?" tanya Lingga, suaranya kini dipenuhi kekaguman yang bercampur frustrasi.
"Saya ingin pernikahan, Tuan. Bukan kontrak," jawab Ayu, menatap lurus ke mata Lingga. "Anda ingin menguasai hasrat Anda? Anda ingin menjaga martabat saya? Kalau begitu, buang pasal enam bulan ini."
Ayu menunjuk ke dokumen itu. "Saya setuju menikah siri demi menjaga Anda dari dosa dan demi menjaga martabat saya. Saya setuju menerima semua uang ini. Tapi, saya tidak mau ada batas waktu. Saya ingin Anda berjanji, bahwa pernikahan ini hanya akan berakhir jika salah satu dari kita benar-benar menginginkannya, bukan karena batas waktu kontrak."
Ayu menarik napas. "Jika Anda ingin saya menjadi istri Anda, meskipun siri, Anda harus memperlakukan saya seperti istri. Saya akan tetap menjadi asisten Anda di siang hari, tapi di malam hari, Anda harus menjaga martabat saya. Jangan anggap ini pernikahan kontrak. Anggap ini adalah pernikahan yang sebenarnya, hanya saja dirahasiakan karena usia saya."
Lingga memandang Ayu lama sekali. Ia melihat keputusan di mata gadis itu. Ayu tidak hanya menawar uang; dia menawar jiwa dan kehormatannya.
Lingga menyadari, jika ia menerima syarat ini, ia akan terikat pada Ayu secara permanen, secara moral dan agama. Keberadaan Ayu tidak lagi hanya enam bulan.
"Baik, Ayu," kata Lingga, akhirnya menyerah. Suara penerimaannya terdengar berat, seolah ia baru saja menandatangani penyerahan kendali atas hidupnya sendiri.
"Aku setuju. Tidak ada batas waktu. Kita akan menikah siri dengan niat pernikahan yang sesungguhnya."
Lingga mengambil pena dan mencoret bagian batas waktu pada dokumen itu dengan tegas.
"Kau akan menjadi istriku, Ayu," kata Lingga. "Sekarang, tandatangani."
***
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....