NovelToon NovelToon
Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam pengganti / Fantasi Wanita / Bullying dan Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:241
Nilai: 5
Nama Author: Yukipoki

Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang yang Mulai Retak

Kekalahan Kirana di ruang rapat bukan tercatat di laporan keuangan, tetapi di matanya sendiri.

Ketika ia terpaksa menyebutkan angka pengeluaran venue yang lebih rendah, ia tahu ia baru saja mengorbankan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada seratus juta rupiah. Ia mengorbankan ilusi kontrol.

Bagi orang-orang di ruangan itu, perubahan angka hanyalah detail teknis. Namun bagi Nadia, itu adalah pengakuan tanpa kata—sebuah retakan moral yang tak mungkin ditambal lagi.

Kirana tidak takut pada Nadia. Ia takut pada fakta bahwa ada seseorang yang pernah menyentuh e-mail rahasianya, seseorang yang bisa menyeret masa lalunya ke permukaan. Dan ketakutan itu membuatnya ceroboh.

Paranoia, Nadia tahu betul, adalah musuh alami kekuasaan. Orang yang paranoid tidak lagi memimpin. Ia bereaksi.

Dan reaksi pertama Kirana sudah bisa ditebak: mencari pengkhianat.

Dalam pikirannya, lingkaran kecurigaan menyempit cepat. Rina—atau seseorang yang dekat dengannya—telah berubah menjadi titik merah yang berkedip-kedip.

Malam itu, Nadia kembali ke rumahnya yang sederhana. Tidak ada pagar tinggi, tidak ada penjaga. Hanya lampu teras yang sedikit redup dan aroma teh hangat yang menyambutnya. Ia duduk lama di ruang tengah, membiarkan kemenangan kecil itu mengendap.

Ia tidak merasa euforia. Ia hanya merasa yakin.

Kirana tidak akan diam. Ia akan mengisolasi, menekan, dan menyerang balik. Dan target pertamanya, Nadia hampir bisa mendengar detak jamnya, adalah Rina.

Keesokan paginya, sebelum Kirana sempat menyusun narasi dan menanam racun di telinga siapa pun, Nadia lebih dulu bergerak.

Ia menelepon Rina.

“Bu Rina, dengarkan saya baik-baik,” suara Nadia tenang, tetapi mengandung urgensi yang tak bisa disalahartikan. “Setelah rapat kemarin, Kirana curiga. Ia yakin ada orang dalam yang membocorkan detail venue. Dan saya rasa, Anda sedang ia uji.”

Di ujung sana, napas Rina terdengar tidak stabil.

“Saya tahu, Bu Nadia,” katanya cepat. “Dia menelepon saya pagi ini. Meeting Komite yang seharusnya di rumah saya besok dibatalkan sepihak. Alasannya klise—agenda suami. Lalu dia mengirim pesan, menanyakan kenapa saya terlihat tidak fokus kemarin.”

Nadia memejamkan mata sejenak. Semua bergerak sesuai pola.

“Itu tes loyalitas,” ucapnya. “Dan Anda tidak boleh menunggu sampai ia mengisolasi Anda sepenuhnya. Anda harus mundur lebih dulu—dengan cara Anda sendiri.”

Rina terdiam. “Mundur… bagaimana?”

“Dengan alasan yang tidak bisa ia serang,” jawab Nadia pelan. “Gunakan Rio.”

Nadia menyusun narasi itu dengan hati-hati. Rina harus mengumumkan bahwa ia sedang terlalu fokus menangani dampak bullying yang dialami putranya, bahwa ia membutuhkan cuti singkat dari aktivitas Komite demi kesehatan mental anaknya.

“Ini bukan kelemahan, Bu Rina,” lanjut Nadia. “Ini perisai. Kirana tidak bisa melawan seorang ibu yang memilih anaknya. Jika ia mencoba, dia akan terlihat kejam di mata Inner Circle.”

Beberapa menit setelah panggilan itu berakhir, pesan Rina muncul di Grup WA Inner Circle. Nadanya tulus, nyaris rapuh.

Dan seperti yang Nadia perkirakan, simpati mengalir deras.

Tak ada yang berani mempertanyakan keputusan seorang ibu yang terluka. Tanpa disadari Kirana, Rina telah berubah dari potensi pengkhianat menjadi korban pasif—simbol hidup dari kebusukan yang berusaha ditutupi Komite.

Setelah memastikan Rina aman dari serangan langsung, Nadia mengambil keputusan paling berisiko sejak awal permainan ini.

Ia mendekati pusat kekuasaan Kirana.

Sore itu, Nadia mengendarai mobilnya menuju Cluster Puri Kencana—wilayah yang bahkan namanya terdengar seperti peringatan. Ia memarkir kendaraan agak jauh dari gerbang utama, di area yang masih memungkinkan ia berhenti tanpa menarik perhatian.

Dari kejauhan, ia melihatnya.

Gerbang Mahoni Kirana.

Sepasang gerbang tinggi dari kayu mahoni gelap, diukir rumit dengan gaya Eropa, berdiri angkuh diapit dinding batu alam. Di baliknya, rumah neo-klasik Kirana memancarkan cahaya kuning hangat—terlihat ramah, sekaligus tak terjangkau.

Itu bukan sekadar gerbang. Itu pernyataan. Tentang siapa yang boleh masuk, dan siapa yang selamanya berada di luar.

Nadia mematikan mesin mobil. Dua tahun lalu, gerbang-gerbang simbolis—gerbang Komite, gerbang beasiswa—telah ditutup di wajahnya. Kini, ia berdiri di perbatasan yang sesungguhnya.

Ia mengeluarkan handycam kecil dari tasnya, merekam gerbang itu dari berbagai sudut: ukiran mewah, lampu sorot berlebihan, hingga plat nomor mobil Kirana yang berkilau di halaman dalam.

Saat itu pula, sebuah mobil hitam melaju perlahan dan berhenti tepat di depan Gerbang Mahoni.

Ibu Nina.

Donatur utama yang diam seribu bahasa di Grup WA.

Nadia segera mematikan kamera dan merunduk. Ia mengamati dari balik kaca.

Ibu Nina keluar dari mobil tanpa membunyikan klakson. Ia tampak ragu. Ponselnya terangkat, memotret gerbang—khususnya papan nama keluarga Wijaya—lalu pintu kecil di sampingnya, seolah mencari celah yang tak terlihat.

Wajahnya bukan wajah tamu. Itu wajah seseorang yang sedang menimbang ulang keyakinannya.

Nadia mengerti saat itu juga: Ibu Nina tidak hanya menerima e-mail anonim. Ia sedang melakukan penyelidikan sendiri.

Beberapa menit kemudian, Ibu Nina pergi dengan tergesa.

Nadia menunggu lima menit lagi sebelum menyalakan mesin.

Kunjungan singkat itu memberinya tiga hal berharga: bukti visual kemewahan, konfirmasi ketidakpercayaan Ibu Nina, dan sebuah peluang baru.

Pilar Kirana bukan hanya Komite. Pilar sesungguhnya adalah suaminya.

Malam itu, Nadia membuka kembali file kontak dari Ruang Arsip. Ia mencari satu nama: Bapak Wijaya.

Pengusaha properti yang jarang tampil, tetapi menopang hampir seluruh dana amal Kirana.

Ia menelusuri e-mail lama, mencocokkan jadwal perjalanan bisnis Bapak Wijaya dengan korespondensi pribadi mereka. Di sanalah Nadia menemukan kejanggalan.

Setiap kali Kirana mempublikasikan perjalanan bisnis suaminya ke Singapura atau Hong Kong, selalu ada e-mail singkat dari Bapak Wijaya di tengah jadwal itu.

Subjeknya selalu sama:

“Sudah selesai. Tolong urus sisanya.”

Lampirannya pun sama: foto interior sebuah rumah sederhana di pinggiran Jakarta.

Tanggalnya tak pernah bohong.

Bapak Wijaya seharusnya berada di luar negeri. Tapi bukti visual menunjukkan sebaliknya.

Nadia tidak peduli apakah itu perselingkuhan. Ia peduli pada kontradiksi. Pada rahasia yang disembunyikan dari seorang istri yang terobsesi pada citra.

Ia tidak akan menyerang suaminya secara langsung.

Ia akan membuat Kirana mencurigai fondasi rumahnya sendiri.

Dengan alamat anonim dan jalur berbeda, Nadia mengirim satu e-mail singkat kepada sekretaris kepercayaan Bapak Wijaya.

“Apakah proyek properti di Ciledug yang baru-baru ini diurus Bapak Wijaya terdaftar atas nama Yayasan Tangan Emas? Mohon konfirmasi.”

Ia menutup laptop dan bersandar.

Besok pagi, di balik Gerbang Mahoni, bukan hanya badai yang akan datang.

Kepercayaan akan mulai runtuh dari dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!