Samanta tidak menyangka,setelah ia bertemu dengan pria bernama Alfin ia meras hidup di antara dua alam, akankah tumbuh perasaan di antara mereka, bisakah hantu dan manusia bisa bersama.
Yuk ikuti kelanjutan ceritanya,,..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deii Haqil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINTA DUA DUNIA
Bab 23
"Sampai saya bertemu dengan Almh. Ibu Sari, ia menunjukan alamat yang tertulis di sebuah kertas kecil. Sampai saya tahu dan mencari kakak kesini." Mata Wulan terbelalak tak percaya dengan ucapan Sam.
"Bagaimana bisa..?" tanyanya heran.
Sam seketika terdiam, ia kebingungan harus menjawab apa. Dan Sam tidak mau memberi tahu rahasianya bahwa ia memiliki kemampuan untuk mengetahui dan merasakan sesuatu yang tak dapat dilihat atau didengar orang lain.
Setelah beberapa saat Sam hanya terdiam, akhirnya ia terpikirkan ide untuk menjawab pertanyaan dari Wulan tanpa memberitahukan rahasianya itu.
Tinggal sedikit mengarang cerita saja! Lagian demi menjaga privasi diri sendiri, kan? Itu lebih baik. ucap Sam dalam hati.
Sam menghela nafas panjang, lalu ia kembali melirik Wulan dengan ekspresi serius.
"Tak lama setelah aku pulang ke desa. Aku sering bermimpi di datangi seorang wanita tua. Mimpi itu terus berulang sampai suatu malam, ia kembali hadir dan membawaku ke suatu rumah. Lalu menunjuk ke arah laci di dalam lemari, juga sempat menyampaikan pesan padaku untuk mencari anaknya karena ia ingin sekali bertemu. Pada saat aku terbangun. Aku tidak langsung mempercayainya, aku merasa itu hanya bunga tidur semata. Tapi rasa penasaranku akhirnya mengalahkan keraguanku. Dengan bermodal sedikit nyali. Aku memberanikan diri untuk mendatangi rumah kak Wulan, lalu aku menyelinap masuk ke sana."
"Padahal sebelumnya. Banyak warga yang mengatakan bahwa, ada beberapa orang yang mengatakan mereka pernah di jumpai sosok hantu yang menyerupai Ibu kakak. Kadang terdengar suara tangisan dari dalam rumah. Tetapi rumah itu kosong setelah kepergian kak Wulan dan Ibu Sari yang meninggal. Dari situlah aku akhirnya mengetahui bahwa sebenarnya Almh. Ibu Sari sangat ingin memita tolong, agar kak Wulan bisa melihatnya di peristirahatan yang terakhir."
Sambil mendengarkan apa yang Sam ceritakan, Wulan hanya terdiam dengan air mata yang masih membanjiri kedua pipinya.
"Ternyata.. Bu Linda sudah berbohong kepadaku." ucap Wulan. Sambil ia memandang jauh keatas langit yang sebagian sudah mulai gelap.
Flash back on
"Pokoknya! Kamu harus segera lunasi hutang-hutang Ibumu. Kalau tidak, aku akan menyeret kalian ke meja hukum!!" ucap seseorang di dalam telepon.
"Tolong kasih saya waktu lagi nyonya, saya akan menyicilnya. Tapi tidak sekarang. Saya akan mencari pekerjaan dulu, saya berjanji saya pasti akan melunasinya."
Saat itu. Wulan tengah didesak oleh Bu Linda, ia adalah mantan majikan Ibunya sewaktu beliau bekerja menjadi seorang ART di kota yang sekarang menjadi tempat tinggal Sam. Sebelumnya, Bu Sari sudah bekerja padanya selama enam tahun. Karena Ibu Sari sering sakit-sakitan, ia memutuskan berhenti dan pulang ke desanya. Di saat itu Wulan masih duduk di bangku kelas tiga SMK. Ia begitu bahagia ketika ibunya telah pulang, namun. Sang Ibu terlihat sangat kurus dan memprihatinkan. Semenjak Ibunya bekerja, Wulan yang masih remaja. Terpaksa tinggal seorang diri untuk bisa tetap melanjutkan sekolahnya.
Karena saat itu penghasilan Bu Sari di desa tidak mencukupi, hanya mengandalkan kerja serabutan saja. Akhirnya. Ia memutuskan untuk bekerja di kota agar penghasilannya bisa untuk memenuhi kebutuhan sekolah Wulan.
Tetapi semenjak Ibu Sari pulang kembali ke desanya. Keadaanya semakin parah, ia yang selalu dipaksa bekerja tanpa henti telah mengakibatkan kerusakan fatal pada tubuhnya. Sampai harus di larikan ke rumah sakit. Wulan yang masih berstatus seorang pelajar, ia tak tahu harus mencari uang kemana untuk biaya pengobatan ibunya. Segala cara ia lakukan, termasuk meminta bantuan kerabat Ibunya agar bisa menolong Bu Sari.
Tetapi semuanya hanya angkat tangan karena mereka pun orang tak mampu. Karena keadaan kritis itu, lalu kebutuhan ekonomi pun yang semakin mendesak. Akhirnya Bu Sari dengan sangat terpaksa meminta bantuan dari majikannya yang berada di kota untuk meminjamkan uang senilai Rp. 5 juta Rupiah. Meskipun itu berhasil, tetapi Bu Linda memberikan uang pinjaman itu beserta bunga, yang harus di kembalikan Ibu Sari nantinya. Hutang itu menumpuk sampai Wulan lulus SMK karena jarang di bayarkan. Semenjak Bu Sari sembuh kembali ia tidak kembali bekerja pada Bu Linda, ia hanya bekerja serabutan di kebun orang lain untuk memenuhi kebutuhannya dan wulan sehari-hari. Wulan pun tidak tinggal diam, ia menjadi pelayan toko di pasar untuk sedikit mengurangi beban Ibunya.
Setelah mendengar perkataan Wulan, Bu Linda berencana untuk membawa Wulan ke kota. "Baiklah kalau seperti itu, saya tidak akan memaksa kalian lagi.. Tapi sebagai gantinya, Wulan harus ikut saya ke kota untuk bekerja di pabrik garmen keponakan saya. Kebetulan saat ini dia membutuhkan karyawan baru disana. Dari pada kamu bekerja di kampung, sampai kapan hutang Ibumu akan lunas." jawab Bu Linda tak mau dibantah.
Wulan masih memegang hape jadulnya di dekat telinga. Ia melirik ke arah Ibunya yang hanya menangis mendengar perkataan Bu Linda di sebrang telepon. Saat Wulan meminta persetujuan Bu Sari dengan tatapan matanya. Bu Sari berlalu pergi ke dapur dan terdengar isak tangis disana. Wulan yang di landa kebimbangan itu hanya terdiam.
"Halo.. halo Wulan, kamu masih dengerin saya nggak" ucap Bu Linda di dalam telepon.
"I—iya Bu, kapan Saya harus berangkat kesana." jawab Wulan terbata. Antara bingung tak tega bila harus berjauhan kembali dengan Ibunya. Dengan berat hati, akhirnya Wulan menyetujui permintaan Bu Linda.
Setelah percakapn nya selesai, Wulan menutup teleponnya dan terdiam sesaat, lalu ia beranjak ke dapur untuk menemui Ibunya yang tengah bersedih.
"Bu.. gak pa-pa ya, Wulan tinggal. Sekarang.. gantian, Wulan yang akan bekerja untuk membahagiakan Ibu. Nanti juga Wulan akan selalu mengirimi Ibu uang, agar Ibu tidak bekerja lagi di kebun. Jaga kesehatan Ibu ya. Jangan sampai sakit." ucapnya lembut sambil menenangkan Ibunya.
Setelah Wulan sampai di kota, ia di tempatkan di rumah kontrakan petak kecil yang hanya ada kamar tidur dan kamar mandi saja. Awalnya Bu Linda sangat baik dan selalu memberinya makan dan kebutuhannya selama ia bekerja. Akan tetapi ketika waktu gajian pertamanya tiba, Bu Linda datang ke kontrakannya dan berkata kalau selama ia bekerja, Bu Linda yang akan memegang uang gajinya. Dan Wulan hanya akan di beri jatah untuk makan dan kebutuhan sehari-hari dengan nilai 600 ribu rupiah sudah termasuk biaya kontakan yang harus Wulan bayar.
"Tapi kalau saya hanya di beri uang segitu, bagaimana saya mengirim uang kepada Ibu saya" tanya Wulan tak terima.
"Kamu tenang saja, sisa gajimu yang Rp. 3 juta itu, nanti saya yang akan mentranfernya ke Ibumu. Dan sebagian untuk mencicil hutangmu. Sudah jangan banyak protes, tugasmu hanya bekerja dan Ibumu pun akan senang kalau kau rajin mengiriminya uang."
"Dan kamu harus ingat, hutang Ibumu itu sudah diatas limabelas juta, jadi harus kamu cicil mulai dari sekarang. Faham.?" Hardik Bu Linda
Wulan yang sudah setengah jalan di kota ini. Akhirnya ia menerima keputusan Bu Linda. Ia berharap semoga saja ia bisa secepatnya melunasi hutang-hutang Ibunya. Dan bisa cepat kembali pulang dan hidup bahagia bersama Ibunya.
Tetapi nyatanya. Bu Linda sama sekali tidak pernah memberikan hak Wulan pada Bu Sari. Setelah ia memberikan uang setiap bulan pada Wulan, ia menyimpan uang itu untuk dirinya sendiri.
Pernah suatu ketika Wulan ingin sekali pulang. Tapi selalu di halang-halangi oleh Bu Linda. Dia selalu bilang bahwa Ibunya baik-baik saja, dan hidup berkecukupan. Tetapi nyatanya malah sebaliknya.
Jauh dari ramainya perkotaan. Setiap hari Bu Sari selalu memandangi pintu rumahnya, berharap putri tercintanya segera pulang. Hari-hari ia lalui dengan kesunyian, bulan-berbulan sudah ia lalui. Tanpa kabar apapun dari putri atau pun mantan majikannya itu. Saat ia menghububungi nomor majikan dan putrinya pun. Sama sekali tidak ada jawaban, karena Bu Linda sudah mengganti nomornya dan menyita hape milik Wulan dengan alasan agar ia bisa fokus bekerja.
Tak ada uang sepeserpun yang datang pada Bu Sari. Setiap hari ia hanya mengandalkan tenaganya yang rapuh juga belas kasih para tetangga yang iba kepada dirinya. Terkadang Bu Sari harus menahan lapar ketika ia tak kuat bekerja karena penyakitnya yang sering kambuh.
Sampai pada saat ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Bu Sari merasakan sakit yang sangat hebat di bagian dadanya, ia berencana untuk membuat air hangat untuk mengompres dadanya itu. Karena tidak ada uang, biasanya Bu Sari hanya mengompres nya saja. Dan akan berkurang rasa sakitnya setelah itu. Akan tetapi, malam na'as itu pun tiba. Saat ia bermaksud mengambil air di kamar mandi, rasa sakitnya datang dengan sangat hebat. Sampai ia terjatuh saking tak kuatnya ia menahan. Hingga kepalanya terbentur tembok kamar mandi dengan sangat keras.
Tak ada siapa-siapa di sana. Hanya kesunyian yang menemaninya sampai akhir nafasnya tiba.
Dan di waktu yang sama. Wulan yang tengah tertidur pun di kejutkan dengan suara jeritan Ibunya, yang entah dari mana. Atau hanya perasaannya saja. Ia begitu cemas sampai bekerja di siang harinya pun, ia tidak fokus. Dan terus mendapat teguran dari atasannya.
Saat keesokan harinya. Tetangga yang biasanya mengajak Bu Sari bekerja di kebun, dibuat terkejut dengan kondisi Ibu dari Wulan itu, sudah terbujur kaku di dalam kamar mandi.
Flash back off
"Siapa Bu Linda, kak?" tanya Sam penasaran.
"Dia yang membawa saya ke sini dan mempekerjakan saya di pabrik milik keponakannya. Sampai saat ini. Dia berhutang penjelasan pada saya selama ini."
Wulan mulai mengalihkan kan perhatiannya dan fokus menatap Sam.
"Sam. Terimakasih banyak, tanpamu mungkin selamanya aku akan menjadi orang yang bodoh. Tapi berkat kamu, aku akan menjadi kuat dan akan mencari keadilan untukku juga Ibuku."
"Sama-sama kak, apa pun yang terjadi pada kalian. Kuharap kakak tetap sabar dan tabah ya."
Wulan tersenyum kecil, lalu ia mengangguk pelan sambil kembali berbicara.
"Ya... semoga saja aku bisa melalui ini semua. Terimakasih Sam, kita berpisah disini ya. Selamat tinggal"
Setelah berkata seperti itu,
Wulan pun memeluk Sam erat, dan berpamitan kepadanya. Wulan juga berkata akan segera pulang ke desa secepatnya.
Sam dan Wulan pun akhirnya berjalan pulang saling berlainan arah.
Wulan yang hatinya hampa ia tidak bisa merasakan kakinya yang berjalan tak tentu arah, apa yang telah ia lakukan selama ini.. Kenangan semasa ia bersama ibunya berlarian di depan matanya, seolah ia tengah melihat dirinya di masa lalu. Saat bahagia bersama Ibunya dahulu.
Tapi sekarang, kembali pun ia rasa percuma. Karena sosok yang ia rindukan tidak akan pernah ia jumpai lagi.
Tetapi ia berjanji setelah ia memberi perhitungan pada Bu Linda, ia akan segera pulang dan memeluk pusara Ibunya. Kasih sayang yang tak akan pernah hilang di dalam hatinya.
Wulan mulai mempunyai jalan hidup yang baru, beban dipikirannya selama ini sudah lenyap seperti debu yang perlahan menghilang karena dihembus angin ke udara.
Sam yang melihat kepergian Wulan itu hanya tersenyum sambil menatap tubuh Wulan yang perlahan semakin menjauh, namun Sam masih bisa merasakan ketulusan dan semangat Wulan dalam menjalani hidupnya sendiri.
*Bersambung..*