Shaqila Ardhani Vriskha, mahasiswi tingkat akhir yang sedang berada di ujung kewarasan.
Enam belas kali skripsinya ditolak oleh satu-satunya makhluk di kampus yang menurutnya tidak punya hati yaitu Reyhan Adiyasa, M.M.
Dosen killer berumur 34 tahun yang selalu tampil dingin, tegas, dan… menyebalkan.
Di saat Shaqila nyaris menyerah dan orang tuanya terus menekan agar ia lulus tahun ini,
pria dingin itu justru mengajukan sebuah ide gila yang tak pernah Shaqila bayangkan sebelumnya.
Kontrak pernikahan selama satu tahun.
Antara skripsi yang tak kunjung selesai, tekanan keluarga, dan ide gila yang bisa mengubah hidupnya…
Mampukah Shaqila menolak? Atau justru terjebak semakin dalam pada sosok dosen yang paling ingin ia hindari?
Semuanya akan dijawab dalam cerita ini.
Jangan lupa like, vote, komen dan bintang limanya ya guys.
Agar author semakin semangat berkarya 🤗🤗💐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rezqhi Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit
Malam itu Reyhan sedang duduk di ruang keluarga, tubuhnya bersandar malas di sofa panjang berwarna abu-abu tua. Televisi menyala, menampilkan acara berita malam yang suaranya hanya menjadi dengung latar. Sebenarnya laki-laki itu sedari tadi mengantuk, namun ia tahan karena Shaqila belum juga datang padahal sudah jam sepuluh.
Sedari tadi laki-laki itu menelpon namun tidak ada satupun panggilannya yang dijawab padahal ponsel gadis itu berdering.
Biar bagaimanapun keluarga Shaqila menitipkan gadis itu kepadanya.
Dan pada akhirnya pintu rumah terbuka.
Bukan dengan suara keras. Tidak dibanting, tidak juga tergesa-gesa. Justru terlalu pelan...seolah orang yang masuk tidak ingin keberadaannya disadari siapa pun.
Reyhan melirik sekilas.
Dan saat itulah ia sedikit terkejut.
Shaqila berdiri di ambang pintu. Ada yang salah pada wajah gadis itu. Matanya sembab, merah, dan sedikit membengkak. Hidungnya tampak kemerahan, bibirnya pucat. Ada bekas air mata yang jelas belum lama mengering di pipinya.
Reyhan tidak bodoh. Ia tahu seperti apa wajah orang yang baru saja menangis lama. Menangis sampai dada terasa sesak, sampai mata perih, sampai tubuh lelah sendiri.
Shaqila sama sekali tidak menoleh ke arahnya.
Gadis itu menunduk, melepas sepatu dengan gerakan kaku, lalu berjalan cepat menuju tangga. Langkahnya tergesa, nyaris seperti ingin lari. Bahunya sedikit merosot, seolah menahan beban yang terlalu berat untuk tubuh sekecil itu.
Reyhan mengernyit tipis. Dadanya sempat terasa mengganjal. Namun hanya sesaat.
Ia kembali menatap televisi.
Ia berpikir itu bukan urusannya. Yang terpenting gadis itu sudah sampai di rumah dengan selamat.
Kalau gadis itu menangis, itu urusannya sendiri. Hidup orang dewasa memang penuh masalah.
Ia mematikan televisi, bangkit, lalu melangkah menuju kamarnya tanpa menoleh lagi ke arah tangga.
Dan malam berlalu dengan sunyi.
...***...
Cahaya pagi merembes pelan melalui celah tirai kamar Reyhan, membentuk garis tipis di lantai . Alarm ponselnya bergetar pelan di atas nakas, belum sempat berbunyi nyaring ketika tangan Reyhan sudah lebih dulu meraihnya.
Matanya terbuka, setengah sadar.
Laki-laki itu melangkah menuju kamar mandi dan bersiap-siap ke kampus. Hari ini jadwal kelasnya pagi.
Setelah siap, ia keluar dan hendak sarapan. Dari kejauhan ia melihat bi Asti yang menyiapkan sarapan.
Reyhan duduk, mengerutkan kening.
Tiba-tiba ia mengingat Shaqila yang pulang agak malam dengan wajah yang sembab.
"Bi, apa Shaqila sudah bangun?" tanya Reyhan
Bi Asti menggeleng kepalanya pelan. "Belum tuan."
Sesuatu di dada Reyhan terasa turun sedikit, tidak nyaman.
Reyhan menoleh ke arah tangga. Tangannya mengepal tanpa sadar.
Laki-laki itu berperang batin dengan dirinya sendiri. Seakan ada dirinya ada dua. Yang satu mengatakan bahwa biarkan saja, itu bukan urusanmu. Namun yang satunya lagi mengatakan periksalah, siapa tahu dia kenapa-napa.
Reyhan menggeleng keras untuk menghilangkan hal-hal itu. Kemudian ia memijat pangkal hidungnya dan melangkah keluar.
Namun baru saja dipintu, kakinya tiba-tiba saja berbalik dan melangkah menuju ke arah tangga. Setiap anak tangga terasa lebih berat dari biasanya.
Pria itu berhenti di depan pintu kamar Shaqila.
Ia mengetuk.
"Shaqila?"
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras.
"Shaqila!"
Hening.
Jantung Reyhan mulai berdetak lebih cepat. Ia mencoba memutar kenop pintu.
Terkunci.
Rahangnya mengeras.
"Shaqila," suaranya kini lebih tegas. "Buka pintunya!"
Tidak ada respons.
Ia mundur satu langkah.
Lalu ia memutuskan mendobrak pintu tersebut.
Pemandangan di dalam membuat langkah Reyhan terhenti mendadak.
Tisu.
Berserakan di mana-mana. Di lantai, di atas meja, di samping tempat tidur, bahkan di atas kasur. Beberapa remuk, beberapa basah, jelas digunakan berkali-kali.
Pandangan Reyhan langsung tertuju ke kasur.
Selimutnya menggumpal tinggi, seperti gunung kecil yang tak bergerak. Ia tahu… Shaqila ada di bawah sana.
Ia melangkah mendekat, napasnya tertahan.
Tangannya meraih ujung selimut itu, lalu menariknya perlahan.
Dan jantungnya seolah berhenti berdetak.
Shaqila terbaring di sana. Wajahnya pucat nyaris tak berwarna. Bibirnya kering, pecah-pecah. Rambutnya berantakan, menempel di pelipis yang basah oleh keringat.
Di jidatnya… menempel salonpas. Miring ,tidak rapi. Seolah ditempel dengan tangan gemetar di tengah kondisi yang tidak sepenuhnya sadar.
Tubuh gadis itu menggigil hebat meski selimut menutupi seluruh badannya.
Matanya terpejam rapat.
"Shaqila…" panggil Reyhan.
Tangannya terulur, menyentuh dahi gadis itu.
Panas.
Sangat panas.
Reyhan menarik tangannya seolah tersengat.
"Bi Asti!" teriaknya keras.
Bi Asti berlari masuk, lalu terkejut melihat kondisi di dalam kamar. "Ya Allah… Non Shaqila kenapa, tuan?"
"Ambil air hangat sekarang!" perintah Reyhan.
Reyhan duduk di tepi kasur, mengangkat tubuh Shaqila sedikit agar posisinya lebih nyaman.
Tubuh Shaqila bersandar lemah ke lengannya.
Kelopak mata Shaqila bergerak sedikit. Bibirnya bergetar.
"P-pak?" suaranya nyaris tidak terdengar.
Namun mata itu kembali terpejam.
Bi Asti datang membawa air dan termometer. Reyhan membantu memeriksa suhunya.
Angka berhenti di 39 derajat lebih
Ia menatap wajah Shaqila yang lemah,
"Bi, tolong buatin bubur," perintah laki-laki itu.
"Baik tuan," ucap bi Asti.
Reyhan mengambil ponselnya dan mengabarkan kepada asistennya untuk menggantinya mengajar.
Reyhan menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri yang entah sejak kapan terasa kacau.
Ia menyimpan ponsel, lalu kembali fokus pada Shaqila.
Tangannya meraih handuk kecil, mencelupkannya ke air hangat, lalu memerasnya perlahan. Dengan gerakan hati-hati...jauh lebih lembut dari wataknya sehari-hari...ia mengompres dahi gadis itu.
Shaqila menggeliat pelan.
Alisnya berkerut, seolah sedang melawan rasa sakit yang tak kasatmata.
Reyhan memperhatikan wajah itu lebih saksama. Lingkar hitam di bawah matanya jelas. Bulu matanya masih lembap, sepertinya gadis itu melanjutkan tangisannya saat sampai.
Bi Asti kembali dengan semangkuk bubur hangat.
"Tuan, ini buburnya," katanya pelan, seolah takut mengganggu.
Reyhan mengangguk. "Terimakasih bi,"
Ia menopang tubuh Shaqila agar sedikit duduk. Kepala gadis itu terkulai lemah di dadanya.
Shaqila mengerang pelan, tangannya refleks mencengkeram baju Reyhan.
Gerakan kecil itu membuat tubuh Reyhan menegang sesaat.
Namun ia tidak menyingkir.
Dengan satu tangan ia menyuapkan bubur perlahan, sedikit demi sedikit ke bibir Shaqila.
"Buka mulutnya, Shaqila!" ujarnya lembut tapi tegas.
Butuh beberapa detik sebelum gadis itu menurut. Bubur masuk, meski sebagian menetes ke sudut bibirnya.
Reyhan mengelapnya dengan ibu jari, tanpa banyak berpikir.
Setelah beberapa suap, Shaqila kembali lemas.
Reyhan membaringkannya lagi, merapikan selimut, lalu kembali mengompres.
Hai hai hai guys,
Author kembali lagi,
Jangan lupa tinggalkan jejak ya seperti like, komen, vote, dan bintang limanya. Hehehe ...
See you next part guys 🫶
tapi aku juga jika ada di posisi Shakila stress sih