NovelToon NovelToon
DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Iblis / Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hasri Ani

Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.

Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.

Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.

Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KESEDIHAN WARDAH

Melihat seseorang yang sangat baik, dan sangat sayang kepada kita. Tentunya kita akan merasa iba dan bersedih, bila orang itu mengalami sesuatu musibah.

Apa lagi, musibah itu terlihat sangat menyiksanya.

Ingin menolong, namun kita di patahkan oleh keadaan.

Seperti halnya Wardah. Di hatinya semakin pilu kala melihat Budenya yang tergolek lemah, dengan sekujur tubuh penuh luka yang menganga. Bahkan, binatang yang seharusnya hanya ada di tubuh mayat atau bangkai, kini mereka hidup subur di tubuh itu. Terlihat Bu Saedah selalu meringis kesakitan. Walau pun setiap saat Wardah, selalu membersihkannya.

"Bude, cepat sembuh, aku yakin Bude adalah orang baik. Walau, entah penyakit biasa, atau penyakit di buat oleh orang yang tak bertanggung jawab. Wardah yakin, Bude akan sembuh secepatnya." Ucap Wardah sambil mengolesi obat salep ke seluruh tubuh, Bu Saedah.

Bu Saedah perlahan membuka mata. Terlihat tatapan sayu di sana. "Iya Wardah, kamu sangat baik. sudah ya Nak, jangan bersedih. Mungkin ini karma buat Bude, yang selama ini Bude selalu menutupi kesalahan yang fatal."

"Bude, Bude itu orang baik. Jadi, jangan bicara pesimis seperti itu. Bude yang sabar ya? Wardah akan

selalu ada di sini untuk membantu merawat, Bude."

Bu saedah hanya diam. Ingin mengatakan suatu rahasia, namun lidahnya keluh. Rasa sayangnya terhadap anak perempuan satu-satunya itulah yang membuatnya ragu untuk mengatakan kepada siapa pun. Dia pun hanya mencurahkan segalanya dengan air matanya.

Wardah yang menyangka Budenya kesakitan, terus memberikan kata semangat.

"Sudah Bude, jangan bersedih. Bude pasti akan sembuh kok. Wardah jamin, Bude." Ucap Warda dengan penuh semangat. Walau hati rasanya sudah sangat rapuh.

Bu Saedah mengangguk dalam linangan air mata.

Kamu sungguh baik nak. Maaf, Bude nggak bisa cerita akan masalah Bude. Walau bagaimana pun, Sulis adalah anakku. Anak tersayangku. Aku harap, setelah ini, dia akan hidup sehat dan bahagia selamanya. Biarlah dosanya aku yang menanggung.

Hari pun mulai siang. Namun, sang surya sepertinya enggan untuk menampakkan sinarnya. Langit gelap yang tertutup awan hitam, menambah kesenyapan di desa yang mencekam itu. Di sudut pelataran rumah yang tak begitu jauh. Pria yang berbaju hitam mengepalkan kedua tangannya.

Dasar keluarga tak tahu diri! Baiklah..., aku akan tunjukan kepadamu Sulis. Apa itu rasanya menderita karena kehilangan.

Dia berbalik akan meninggalkan tempat itu, namun...

"Sebenarnya iblis dari mana kamu ini! Mengapa kau begitu tega menyakiti orang yang tidak bersalah." Tiba-tiba Wardah sudah ada di depannya.

Pria itu tersenyum kecut lalu membuka tutup kepalanya. "Kamu lihat aku dengan seksama. Tanya kepada hatimu, apakah aku mirip dengan mu? Jika iya, maka dari situlah mengapa aku selalu ada di dekatmu."

Wardah terpaku. Semakin ia menatap wajah itu, semakin banyak kenangan yang ia ingat. Dia tak mengenali orang itu, tapi dia selalu ada di setiap keadaan yang genting selama perjalanan hidupnya. Dadanya semakin sesak. Mengingat akan dulu ia sempat putus asa karena akan di perkaos. Namun, benar dia tak menyangka, setelah melihat lebih dekat, wajah pria itu mirip dengannya.

"Ka-kamu, siapa? Kenapa mirip sekali denganku. Si-siapakah kamu sebenarnya?" Ucap Wardah terbata. Firasatnya pasti akan ada yang tidak beres.

Pria itu menatap sendu Wardah. "Kita saudara Adek. Dan jangan halangi dendam kita. Mereka, mereka semua yang ada di rumah mewah itulah, yang telah menghancurkan keluarga kita. Mereka jugalah yang membuat kita terpaksa terpisah. Aku tau, ini kejam. Tapi itu tidak sebanding dengan apa yang mereka perbuat terhadap kita. Mereka memfitnah, dan membakar kedua orang tua kita, setelah beribu kebaikan yang telah orang tua kita lakukan untuk mereka. Jangan pernah percaya kepada mereka, kalau kau tidak ingin akan menjadi mangsa keserakahan dan kekejaman mereka juga." Papar lelaki itu.

Wardah membeku, dengan semua penjelasan dari pria di hadapannya itu. Wajahnya terlihat sangat kebingungan, ia tidak ingin percaya, pria di hadapannya itu pasti berbohong. Pikirnya.

"Tidak! Tidak mungkin, keluarga Budeku, sejahat itu. Yah, aku tahu, aku hanyalah anak angkat. Tapi, nggak mungkin keluarga orangtua angkatku itu, begitu kejam kepada orangtua kandungku. Dan selama aku mengenal mereka, mereka sangat baik kepadaku." Ucap Wardah mengelak.

"Andai saja mereka tahu, siapa kamu sebenarnya, Dek.

Aku yakin, mereka pun akan melenyapkanmu." Ucap pria itu lagi.

Wardah menggeleng pelan. "Tidak mungkin! Kamu pasti orang jahat. Jika benar kamu kakak kandungku, dan anak dari orangtuaku, kamu tidak akan mungkin sejahat ini. Kamu telah merugikan banyak orang. Aku yakin kamu hanyalah pembohong supaya aku tidak membongkar kejahatanmu ini kan?!" Ucap Wardah tegas.

Pria itu tidak bergeming.

"Aku akan laporkan kamu ke kepala desa. Bila kamu terus membuat onar!" Tegas Wardah lagi. Walau hati kecilnya mengatakan hal lain. Namun Wardah, tetap kukuh akan niatnya itu.

"Aku sudah siap dengan segala konsekuensinya. Aku

pun tak berpikir akan hidup lebih lama. Mari kita lihat, siapa yang akan binasa lebih dulu. Aku, atau keluarga kaya raya yang tak mempunyai hati itu." Azka berbalik badan dan dalam hitungan detik, sosoknya sudah tak terlihat lagi.

Wardah mematung. Tenggorokannya terasa tercekat. Begitu tiba-tiba kabar kalau kakak kandungnya masih hidup. Apalagi, kakanya mengaku, ialah yang menyebakan semuanya ini, dan akan melenyapkan keluarga orang tua angkatnya. Wardah terduduk lemas di tanah.

"Abang?! Ternyata selama ini kau abangku?! Tuhan, aku bingung. Tapi, aku harus segera bertindak. Kalau tidak, Bude dan yang lainnya akan terancam nyawanya." Wardah segera kembali, ingin memgajak Beni untuk menemui, Pak Imam segera.

Pasti rumahnya ada di dalam hutan itu. Aku harus memberi tahu semua, untuk menyelamatkan semuanya.

Wardah mempercepat langkahnya. Walau hati kecilnya merasa senang, karena ia tau, bagaimana rupa akan kakak kandungnya yang selama ini mendengar dari kedua orang tuanya saja. Sejujurnya ia sangat merindukan sosok kakanya itu. Namun, apa daya, keselamatan keluarga adalah yang penting baginya.

Dengan napas tersengal, ia memasuki rumah. Namun, langkahnya terkejutnya ia, ketika tiba-tiba, ia melihat orang-orang hilir mudik dengan raut wajah yang suram

dan tergesa. Perasaan tidak enak mulai merayap kalbunya. Jangan-jangan! Pikirnya.

"Beni, ada apa?" Tanya Wardah saat melihat Beni berjalan kearahnya. Beni dengan wajah bengis mendekati Wardah. Lalu ia mencekal lengan Wardah.

"Kenapa mbak, meninggalkan Nenek sendirian? Mengapa? Lihat sekarang! Nenek sudah meninggal! Dia terjatuh, di karenakan ia ingin mengambil air minum di meja. mbak tau kan? Kalau tubuh Nenek sangat lemah, mengapa mbak ninggalin dia sendirian begitu lama? mbak sendiri kan yang bilang akan menjaga Nenek. Dan kita percaya, kalau mbak akan benar-benar menjaga Nenek. Tapi kenyataannya? Lihat! mbak malah pergi tanpa berpesan kepada orang lain. Nenek sekarang sudah meninggal, gara-gara perbuatan konyol, mbak itu! mbak tau kan? Kalau Nenek itu segalanya bagiku, mbak." Ucap Beni dengan nada keras. Ia menangis dan meraung, begitu merasa kehilangan. Bagaimana tidak, sejak kecil, hanya Neneknya lah yang selalu merawat dan ada buatnya.

Dari jarak jauh, Laela hanya tersenyum mencemo'oh. "Keluarga yang aneh. Cuma nenek tua saja di tangisin sampek begitunya." Gumamnya lalu mengambil kunci motor hendak pergi.

Wardah tiba-tiba membeku. "Nggak! Nggak mungkin Nenek meninggal. Aku hanya keluar sebentar." Lirih Wardah yang menyesali dengan kecerobohannya. Hatinya benar-benar hancur. Niat melindungi, malah ia

Kehilangan.

Dia segera berlari menuju kamar Bu Saedah, dan tak memperdulikan Beni yang masih ingin melampiaskan kekesalannya.

Saat melihat Nenek yang sudah terbujur kaku, Wardah terdiam di tempat.

"Ini dia nih, pelakunya. Heran! Ngomongnya aja yang gede! Hasilnya enol! Sok bisa menjaga orang sakit. Tapi malah keluyuran nggak jelas!" Ketus Parmi dengan wajah sinis.

"Kami itu benar-benar anak yang nggak punya tanggung jawab ya, Wardah. Sudah tau kan? Kalau Ndoro itu lagi sakit parah! Dan nggak bisa apa-apa, tapi mengapa kamu tinggalin dia begitu lama? Sebenarnya kamu ini manusia bukan sih? Atau kamu ini sengaja, iya? Pengen Ndoro meninggal? Biar kamu kecipratan harta dari mbak Sulis? Anak semata wayangnya. Cih! Picik sekali kamu Wardah. Lihat! Ini tidak akan sesuai harapanmu! mbak Sulis sudah melihat sendiri kelakuan bejatmu! Pantas saja perasaanku nggak enak, lalu aku ngecek keadaan Ndoro, kalau tidak, kasian sekali Embak Sulis akan tertipu oleh kebusukanmu, lalu dia pasti akan memberimu uang yang banyak sebagai tanda terimakasih. Padahal kamu itu PEMBUN*H!!!." Ketus Parmi lagi dengan nada penekanan. Wardah terdiam kaku. Ia tidak menyangka akan di sebut sebagai pembun*h. Air matanya tiba-tiba mengalir begitu deras.

Semuanya hanya diam tak bersuara. Sepertinya semua orang yang ada di tuangan itu, telah terpengaruh oleh hasutan Parmi sebelumnya.

Sulis hanya melirik Wardah. Lalu focus kembali ke layar Ponselnya.

"Ta-tapi, a-aku...!" Ucap Wardah terbata, mengusap air matanya. Ingin menjelaskan, tapi ia keburu di bawa pergi Ibu dan Ayahnya.

"Sudahlah. Kamu pulang saja dulu, Nak. Biar Ibu, dan Bapak yang menjelaskan semua ini." Ucap Bu Rahma.

Wardah makin hancur hatinya karena orang tuanya pun tak memberinya ruang untuk menjelaskan. "Tapi, Bu. Aku ingin melihat Bude yang untuk terakhir kalinya.

Huhu..."

"Nak, keadaannya sedang tidak baik-baik saja, semua tuduhan sedang mengarah kepadamu. Biar keadaan tenang dulu. Wardah, pulanglah dulu, Nak." Pak Ardi menambahkan.

Dengan berat hati, dan langkah gontai. Wardah akhirnya hanya bisa patuh. Dia pun berjalan meninggalkan rumah tersebut. Namun, dia tidak lupa, akan membawa barang terakhir yang Budenya berikan kepadanya, yang ia simpan di dalam kamarnya. Dia pun mengendap. Tiba-tiba terdengar percakapan dua orang, yang aneh di sudut rumah yang jauh kerumunan orang.

"Akhirnya. Misi kita selesai, Embak."

"Bagus! Akan aku berikan sisa uang uangnya. Ingat jaga rahasia ini rapat-rapat. Kalau bocor, aku pasti kamu menerima hukuman, dan bila perlu, kau pun akan ku kirim untuk menyusul mereka." Ancam Sulis. Membuat tubuh Parmi, bergetar ketakutan

"Siap, Embak."

Wajah Wardah menegang. Ada firasat kalau percakapan itu ada kaitannya dengan meninggalnya, Bude Saedah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!