Dendam dua jiwa.
Jiwa seorang mafia cantik berhati dingin, memiliki kehebatan dan kecerdasan yang tak tertandingi, namun akhirnya hancur dan berakhir dengan mengenaskan karena pengkhianatan kekasih dan sahabatnya.
Jiwa yang satu adalah jiwa seorang gadis lugu yang lemah, yang rapuh, yang berlumur kesedihan dan penderitaan.
Hingga akhirnya juga mati dalam kesedihan dan keputus asaan dan rasa kecewa yang mendalam. Dia mati akibat kelicikan dan penindasan yang dilakukan oleh adik angkatnya.
Hingga akhirnya dua jiwa itu menyatu dalam satu tubuh lemah; jiwa yang penuh amarah dan kecewa, dan jiwa yang penuh kesedihan dan putus asa, sehingga melahirkan dendam membara. Dendam dua jiwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikri Sa'ati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25. Penghukuman Annabella yang Berlaku
"Maka aku putuskan hukuman keluarga atasmu, Bella," kata Abraham Winata bernada tegas. "Kamu mendapat hukuman cambuk 50 kali, dan dikurung di gudang bawah tanah selama 1 minggu, biar kamu dapat merenungkan tentang kesalahanmu...."
Tak ada niat untuk mencegah dari wajah Chalinda Winata, sang ibu kandung, atas hukuman itu. Hanya guratan kesedihan dan kekecewaan atas prilaku Annabella, sang putri kandung.
Sedangkan Nindira, sebenarnya ada niat untuk mencegah hukuman itu, atau lebih tepatnya meminta papanya untuk meringankan hukuman.
Namun, mengingat perbuatan Annabella sudah keterlaluan; menindas Nikita, ditambah lagi ikut balapan liar di jalan raya, mudah-mudahan itu hukuman yang sepadan buat Annabella.
Semoga dengan hukuman itu Annabella bisa merenungkan akan perbuatan buruknya.
Sedangkan Arden, cukup puas dengan keputusan papanya. Wajah tampannya mengguratkan rasa senang atas hukuman itu.
Adapun Nikita, tidak usah ditanyakan lagi, betapa senang hatinya dengan hukuman yang telah diputuskan oleh papanya itu. Hatinya benar-benar bersorak gembira atas penderitaan Annabella yang sebentar lagi akan dia nikmati.
Sementara Darren, meski wajah datar dan dinginnya tidak menunjukkan rasa senang atau bersedih atas hukuman itu, tapi jelas dia mendukung keputusan papanya, karena dia yang meminta Abraham Winata untuk memberi pelajaran pada Annabella yang bandel.
"Pa..., sepertinya hukuman itu terlalu berat bagi Kak Bella," seketika Nikita tampil dengan dramanya, seolah menjadi pembela sang kakak, nadanya dibuat sesedih mungkin. "Bisakah papa meringankan hukumannya demi aku?"
"Aku... nggak masalah, Pa..., Kak Bella menindasku, aku sudah memaafkannya," Nikita makin menjadi peran dramanya, seolah bertindak sebagai peri yang baik hati. "Tolong papa jangan menghukumnya seberat itu!"
"Buat apa kamu memohon keringanan hukuman atas gadis brengsek itu, Niki?" kata Arden bernada ketus, menyayangkan ucapan Nikita. "Nanti dia jadi makin ngelunjak jika nggak dihukum dengan berat...."
"Tapi, Kak...."
"Sudah, Niki," tukas Abraham Winata bersikap lembut kepada putri kesayangannya, "tidak perlu kamu memohon untuk keringanan hukumannya. Anak tidak tahu diri itu pantas mendapat hukuman seperti itu."
"Bahkan hukuman itu sebenarnya masih ringan buatnya," lanjut Abraham Winata lebih menegaskan. "Tapi... papa berharap hukuman itu bisa menjadi pembelajaran bagi dirinya untuk merenungi semua kesalahannya."
Nikita tertunduk sedih, seolah merasa bersalah atas hukuman yang diberikan kepada Annabella. Padahal hatinya bersorak gembira.
"Kamu lihat adikmu, Bella," kata Nindira seolah bertindak menjadi kakak yang bijak. "Dia masih saja sudi memaafkan kamu, meski kamu selalu saja menindasnya. Kenapa kamu nggak mau juga sadar akan kekeliruanmu? Bahkan kelakuanmu semakin aneh-aneh saja...."
Tak ada reaksi yang tampak dari Annabella terhadap drama yang berlangsung di depannya, baik dari sikap maupun dari raut wajahnya. Sementara wajahnya masih saja datar tapi juga kelem.
Seolah-olah apa yang berlangsung barusan baginya sama sekali tidak terjadi.
Dan Darren hampir tidak pernah lepas mengamati gerak-gerik Annabella. Dan hingga detik ini sikap Annabella yang aneh itu masih merupakan tanda tanya besar dalam pikirannya.
Kenapa Annabella tiba-tiba berubah aneh begitu?
"Darren, ambil tongkat cambuk keluarga, dan kamu yang memberi hukuman cambuk anak itu!" perintah Abraham Winata akhirnya.
Darren segera berdiri dengan cepat tanpa membantah. Namun belum juga dia beranjak untuk mengambil tongkat yang dimaksud....
★☆★☆
"Tuan Abraham, aku merasa kau memberikan keputusan secara sepihak," seketika Annabella berkata, tidak bermaksud membela diri, bernada datar, dingin namun tenang. "Dan itu artinya kau masih meremehkan aku."
"Sepertinya kau ingin bermain-main denganku, Tuan," lanjutnya tetap tenang, tak ada rasa takut sama sekali pada sikap dan nada suaranya. "Begitu kah?"
Ucapan Annabella yang jelas dan lugas itu seolah telah membekukan keadaan di ruangan tengah itu. Darren urung melaksanakan perintah, sedangkan Abraham Winata langsung tercekat diam.
Tidak menyangka Annabella berani mengucapkan kalimat yang mengandung ancaman itu.
"Tapi... kalau kau ingin bermain-main denganku, silahkan saja kau mencobanya!"
Mendengar ucapan yang begitu berani tapi amat lancang itu, membuat Abraham Winata semakin murka. Maka kejap berikutnya dia kembali memerintahkan Darren untuk melaksanakan hukuman.
"Cepat laksanakan penghukuman, Darren....!"
Tanpa menunda lagi Darren segera mengambil sebuah tongkat cambuk yang terletak di sebuah meja lemari di dekat situ. Lalu dia memerintahkan dua orang penjaga keamanan untuk memegang kedua tangan Annabella.
Sementara Annabella tetap berdiri diam bagai patung manekin, tetap tenang bagai telaga. Tak ada riak ketakutan atau rasa gentar daei sikapnya.
Dan begitu dua orang penjaga keamanan itu hendak memegang kedua tangan Annabella, terdengar ucapan gadis itu bernada dingin dan datar, sarat akan ancaman yang pasti.
"Berani kalian menyentuhku, rasakan sendiri akibatnya!"
Dua penjaga keamanan itu langsung berhenti, urung melaksanakan perintah. Suara Annabella tiba-tiba membuat mereka merasa takut.
"Tidak usah hiraukan ucapannya! Cepat laksanakan perintah!" bentak Abraham Winata bernada kesal.
Kedua penjaga keamanan itu segera menindih rasa takut dan rasa sungkan kepada majikan mudanya itu, karena mereka lebih takut terhadap Tuan Besar kediaman Winata.
Dengan segera mereka kembali melaksanakan perintah, hendak mencekal kedua tangan Annabella. Namun belum juga niat mereka terlaksana, gerakan gadis cantik itu yang amat cepat sudah mendahului tindakan mereka.
Belum juga tangan mereka berhasil mencekal tangannya, dengan cepat Annabella menepisnya dengan kuat. Lalu tanpa memberi kesempatan kedua penjaga keamanan itu terkejut lebih lama, Annabella melakukan gerakan tendangan bela diri yang cepat, cekatan dan presisi.
Sehingga dalam 3-4 gebrakan saja kedua penjaga keamanan itu langsung tumbang ke lantai marmer dengan tanpa berkutik lagi, alias pingsan.
Apa yang dilakukan oleh Annabella barusan, tak lepas dari perhatian semua orang yang ada di ruangan tengah itu. Dan sukses membuat mereka terperangah bukan main. Bahkan Chalinda Winata, Nindira dan Nikita terkejut ngeri dibuatnya.
Sementara Annabella tidak menghiraukan tatapan terkejut orang-orang itu. Dia segera melepas tas belakangnya, lalu meletakkan di atas lantai agak jauh dari tengah ruangan.
Kemudian dia kembali ke posisinya tadi, lalu beralih menatap tajam dan dingin pada Darren yang masih terpaku diam. Terus berkata bernada datar dan dingin.
"Tuan Darren, apa kau masih ingin melaksanakan perintah konyol orang tua itu?"
Darren seketika tersentak dari keterkejutan ketika mendengar ucapan ancaman Annabella itu. Lalu, dengan menindih rasa gentarnya demi harga dirinya, dia berkata dingin, seolah tidak takut akan ancaman Annabella.
"Kamu pikir dengan permainan murahanmu itu membuat aku takut untuk menghukummu, Bella?" dingin dan datar Darren membalas, menunjukkan ketidak gentarannya dan harga dirinya.
"Baiklah, karena kau meminta, maka aku akan memberikannya dengan senang hati," balas Annabella sambil tersenyum dingin.
Darren tidak lagi berbicara, dia sekarang hendak bertindak. Dengan gerakan cepat tanpa keraguan, dia mencambuk tubuh Annabella dengan tongkat di tangannya.
Namun satu hal yang dia dan semua orang yang ada di situ tidak tahu jika yang ada di hadapan mereka bukanlah Annabella yang hanya menurut saja apa mereka inginkan, melainkan Fiorella yang akan membalas perbuatan mereka dengan lebih sadis.
★☆★☆
Dengan sigap dan mantap Annabella menangkap tongkat itu, membuat Darren dan semua orang yang ada di ruang tengah terkejut bukan main.
Tapi Annabella tidak sudi memberi ampun pada Darren dan kelengahannya. Dengan kuat ditarik tongkat itu dari tangan pemuda muka kulkas itu hingga terlepas cukup mudah.
Lalu selanjutnya, Annabella melancarkan serangan pada Darren dengan tanpa rasa sungkan dan tanpa merasa takut. Gerakannya begitu tangkas, cekatan dan presisi.
Dan jangan lupa, terlalu cepat untuk dibendung dan diikuti oleh Darren. Sehingga dalam beberapa gebrakan saja pukulan tongkat dan tendangan Annabella sudah bersarang di tubuhnya, tanpa ampun dan tanpa ragu.
Membuat semua orang yang ada di ruang tengah amat sangat terkejut dengan mata terbelalak ngeri.
Sedangkan Nikita, wajah cantiknya langsung pucat. Tidak menyangka jika Annabella bisa sehebat itu. Tidak menyangka jika Darren dapat dipecundangi dengan begitu mudah.
Seketika rasa takut langsung menyergap dirinya. Satu-satunya orang yang diandalkan untuk meredam kebrutalan Annabella, kini dibuat tak berarti oleh gadis itu.
Siapa lagi yang dia andalkan kalau begitu?
Dengan refleks dia langsung memeluk mamanya, seakan hendak melenyapkan rasa takutnya di situ yang sebenarnya tidak bisa.
Sementara Nyonya Chalinda maupun Nindira tampak terpaku diam dalam meterperangahan. Mereka tidak menyangka, sama sekali tidak menyangka jika Annabella tega dan berani melakukan itu, menghajar Darren tanpa rasa sungkan apalagi takut.
"Arden, batu kakakmu!" entah setan apa yang merasuki Abraham Winata, seketika dia berteriak begitu di tengah keterkejutannya.
Arden langsung tersentak kaget mendengar seruan itu, seakan dia baru tersadar dari mimpi buruk yang mengerikan.
Lalu, entah reflek dia langsung berdiri, menegakkan harga dirinya dan keberaniannya yang sudah mulai ciut. Kemudian dia memanggil penjaga keamanan untuk menangkap Annabella.
"Penjaga, tangkap gadis itu!"
Lima orang penjaga keamanan segera masuk ke ruang tengah. Lalu tanpa bertanya mereka segera melaksanakan perintah, hendak membekuk singa betina yang sedang mengamuk.
Namun sebelum kelima penjaga keamanan serta Arden yang juga hendak menyerang melakukan apa yang mereka inginkan, Annabella sudah berhasil membuat Darren tak berkutik lagi.
Tampak tubuh Annabella melayang terputar dengan ringan ke udara hampir satu meter. Berikut kaki kanannya ikut melayang dan terputar mengikuti gerak tubuhnya.
Itu adalah tendangan terputar yang begitu indah, namun sekaligus mengerikan.
Karena tanpa dapat ditangkis lagi oleh Darren yang sudah setengah kewalahan, tumit belakang kaki kanan Annabella langsung menghantam lehernya dengan kuat dan telak serta presisi.
Membuat Darren langsung jatuh tersungkur ke lantai dengan setengah sadar setengah pingsan.
Sedangkan Annabella tidak lagi menghiraukan nasib Darren setelah itu. Dia dengan cepat bergerak lagi, menyongsong lima penjaga keamanan dan Arden yang datang hendak menyerang.
Lalu adegan selanjutnya, memang benar-benar memukau, namun sekaligus mengerikan.
Bagai singa betina yang sedang terluka, Annabella mengamuk habis-habisan, menghajar lima penjaga keamanan dan Arden tanpa rasa sungkan tanpa kenal ampun.
Bukan karena mereka tidak memiliki ketangkasan ilmu bela diri, bahkan mereka memiliki bela diri yang cukup hebat. Tapi karena Annabella terlalu sulit dan terlalu hebat untuk dilawan apalagi ditaklukkan.
Lebih dari pada itu, seandainya mereka tahu Annabella yang mereka lihat itu hanyalah fisik Annabella, tubuh Annabella.
Padahal sesungguhnya di dalam fisik atau tubuh itu bersemayam jiwa Fiorella, seorang ratu mafia kejam yang kehebatannya di atas rata-rata.
Sehingga dalam beberapa menit saja Annabella sudah mendominasi pertarungan. Tongkat cambuk yang masih di tangannya dan tendangannya terus saja bergerak dengan cepat, tepat dan mantap, menghantam semua lawannya nyaris tak dapat ditangkis.
Sehingga belum sampai 15 menit pertarungan berlangsung, lima penjaga keamanan itu sudah tersungkur jatuh dengan babak belur.
Sementara Annabella terus saja melancarkan serangan. Menghantam tubuh Arden yang masih berdiri limbung dengan tongkat cambuk. Tidak tanggung-tanggung, Annabella mencambuk Arden dengan kuat.
Hingga Arden kini nyaris tak berdaya. Berdirinya semakin goyah, tubuhnya semakin limbung ke belakang.
Namun Annabella tak mau memberi ampun. Segera melayangkan serangan terakhir. Mengirimkan tendangan terputar sembari melayang di udara, menghantam leher Arden dengan kuat dan tepat.
Sehingga membuat artis muda itu limbung hebat ke samping, lalu ambruk ke lantai dengan semaput.
Semetara Abraham Winata beserta istri dan kedua putrinya, seolah terhipnotis suasana mengerikan itu, mereka hanya bisa terpaku diam di tempat duduk mereka dengan mata yang terbelalak.
Terbelalak ngeri dan terbelalak tidak percaya jika seorang Annabella, yang dulunya lemah dan penakut, dapat melakukan adegan yang begitu memukau sekaligus mengerikan itu.
"Tuan Abraham, kau nggak menyangkan bukan, akhirnya penghukumanku yang berlaku?"
★☆★☆★
bella menunggu momen di mana dia benar benar diusir oleh keluarga winata, baru dia mau keluar.