******
Mencintai seseorang tanpa bertemu dengan nya, adalah bukti bahwa cinta itu bukan di depan mata, tapi di dalam hati. Itu yang terjadi dengan Alana, putri dari Aditya dan Davina.
Pertemuan tak sengaja Alana dengan sosok di media sosial membuat nya nyaman walau perbedaan usia mereka cukup jauh. Status tak menghalangi hubungan kedua nya.
Apa yang membuat Alana memilih pria yang tak pernah dia lihat? Konflik pun terjadi di antara Alana dan pria yang ada di sosial media tersebut. Hingga membuat Alana sering kali memblokir aplikasi hijau nya terkadang aplikasi hitam pun kena sasaran blokir Alana tapi selalu saja di buka kembali karena kedua saling Cinta.
Akan kah mereka bertemu dan bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisah Cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. TCA 2
━━━━━━♡♥♡━━━━━━
Di rumah Raka saat pagi hari dia baru pulang kerumah dan melihat wajah Mahar yang begitu cuek dengan diri nya. Raka tau apa yang membuat istrinya berubah.
"Mahar Kanaya sudah pergi sekolah?" tanya Raka.
"Sudah." jawab Mahar dengan ketus.
"Duduk lah sebentar kita butuh bicara." ucap Raka saat melihat istrinya ingin melewati dirinya.
Mahar hanya melirik dengan tatapan kesal dan wajah yang masam, dia pun duduk di hadapan Raka dengan wajah kesal, Raka yang melihat sang istri duduk jauh dari nya mendekat tapi Mahar bergeser.
"Oke....!" ucap Raka dengan menarik nafas berat saat melihat sikap istrinya.
"Dengar Maharani Admaja kita sudah menikah dan putra kita sedang berada di mesir menuntut ilmu dan kita juga memiliki Kanaya walau dia anak angkat kita tapi kita menyayangi. Mas tau kamu marah saat tau mas mendatangi makam Indah tanpa memberitahu mu, Indah juga bagian dari keluarga Admaja kan dia saudara kamu Mahar gak pantas kamu cemburu sama dia." ucap Raka.
Mahar hanya melirik saja tanpa membalas ucapan sang suami karena dia kesal dan cemburu.
"Kamu cemburu sama almarhum Indah?" tanya Raka saat mereka hanya berdua saja karena anak angkat mereka sudah pergi ke sekolah.
"Iya aku cemburu dan aku benci sikap mas." jawab Mahar dengan nada tak suka.
"Turun kan nada bicara mu Mahar aku mengajak mu bicara baik - baik bukan dengan nada membentak, kamu tahu kenapa mas selalu mendatangi ke makam Indah. Karena rasa bersalah Mahar, mas ingat saat dia akan terbang ke paris dia menemui mas dia mengatakan semua isi hatinya, tanpa perasaan mas mengabaikan nya, mas merasa bersalah Mahar. Mas hanya datang untuk meminta maaf atas sikap mas terhadap dia." jawab Raka.
"Bullshit, omong kosong itu bukan rasa bersalah tapi menyesal sudah menolak Indah ya kan?" tanya Mahar.
"Kamu benar - benar keterlaluan Mahar, sama orang yang sudah tiada saja kamu cemburu dan nuduh mas yang bukan - bukan keterlaluan kamu." jawab Raka dengan kesal.
Raka berdiri dari duduk nya karena melihat sikap Mahar yang tak bisa di ajak bicara baik - baik untuk memahami apa yang dia rasakan.
"Mas...! Jangan pergi gitu saja, jawab dulu benar kan mas suka sama Indah dan nyesel sudah nolak Indah." ucap Mahar dengan sedikit berteriak.
"Terserah kamu mau berpikir apa aku capek mau istirahat." jawab Raka sambil berjalan menuju kearah kamar mereka berdua.
Melihat sikap suaminya Mahar langsung membanting vas bunga yang ada di meja, karena kesal hingga suara pecahan dari vas tersebut terdengar sampai di kamar.
Crang.....
Raka yang mendengar benda pecah membuka pintu kamar nya dan melihat apa yang di lakukan istrinya, hanya bisa menggeleng kepala hingga menarik nafas berat dan panjang.
"Hancurkan saja semua nya Mahar, toh kamu juga yang akan capek beresin nya. Kalau belum puas juga kamu bisa sekalian hancurkan mobil lampiaskan saja kemarahan mu dengan barang biar kamu puas... dan lega. Jujur wajah mu memang mirip dengan bunda nya Alan, sayang watak kalian jauh berbeda. Vina manja sama seperti mu tapi dia bisa menahan emosi nya sama seperti Alan yang pandai menutupi rasa sakit nya." sindir Raka yang pernah melihat tatapan Alan terhadap Helen.
"Vina.... Vina.... Vina terus.... belum bisa move on mas dari kak Vina?" teriak Mahar yang mendengar apa yang di katakan suami nya membuat Mahar menatap kearah sang suami dengan tatapan kesal.
Sedangkan Raka sengaja tak menutup pintu kamar nya, dia hanya masuk dan berbaring saat dia akan memejamkan mata karena lelah dia mendengar suara teriakan Mahar.
"Aw.....!" teriak Mahar saat kakinya tak sengaja menginjak pecahan vas bunga yang di banting sendiri.
*********
Sedangkan di tempat Alana saat jam hampir jam 10 siang dia yang melihat Saga masih sibuk dengan pekerjaan hanya bisa menarik nafas, Alan langsung mendekat kearah meja kerja Saga yang masih fokus dengan pekerjaan nya.
"Abang...!" panggil Alan.
"Apa Alan!" jawab Saga.
"Abang lupa kita harus pergi ke kantor imigrasi, ini sudah hampir jam 10 ayo buruan bang kita pergi." Ajak Alana dengan menarik lengan jas abang nya.
"Astagfirullah Alan..., sabar dek abang simpan dulu file nya, tunggu sebentar." Jawab Saga tetap fokus pada laptop nya.
"Buruan abang keburu tutup kantor nya." Jawab Alana dengan manja.
"Iya iya gak sabaran banget sih, baru jam 10 gak akan tutup, ayo pergi." Ajak Saga.
Alan tersenyum saat Saga berdiri dan merapikan jas nya setelah dia selesai menyimpan semua data yang akan dia bawa meeting besok, mereka pun langsung pergi menuju kantor imigrasi.
"Bos mau kemana?" Tanya Bayu asisten Saga saat melihat bosnya akan pergi.
"Ini pak Bayu saya mau keluar sebentar nemenin adik saya ke kantor imigrasi. Ada apa?" Tanya Saga.
"Oh gak ada bos, kalau begitu saya keruangan saya dulu bos." Jawab nya.
Dia menatap kearah Alana yang memasang wajah jutek saat dia di lihat oleh Bayu. Saga yang mendengar perkataan asisten nya hanya mengangguk saja dan langsung menuju area parkir.
Sepanjang jalan Alan hanya menatap kearah jendela, setiap dia melihat seorang pria menggunakan motor dia teringat akan Riski yang selalu mengajak nya naik motor, Saat mata nya berkaca - kaca alan langsung menghapus dengan cepat seolah dia kelilipan.
Saga yang melihat adiknya mengusap mata melirik dengan lirikkan curiga saga tau alan menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kamu baik - baik saja?" tanya Saga.
"Iya bang alan baik - baik saja kenapa?" tanya Alan.
"Kamu nangis?" tanya saga.
"Enggak cuma pedes saja mata alan semalam kurang tidur mungkin." jawab Alan berbohong agar saga tak tahu isi hati nya.
Tak lama mereka sampai di tempat tujuan, Alan mengantri, hingga sore dia pun baru selesai mendapatkan paspor nya.
"Alan gak cantik abang di foto ini gara² luka nya kelihatan." Ucap Alana dengan menunjukkan foto dirinya.
"Hanya foto dek dan itu juga gak tiap menit orang lihat, kapan kamu mau berangkat nya?" Tanya Saga.
"Besok siang." Jawab Alana.
"Apa...!" Kamu dah gila ya, kenapa cepat banget perginya?" Kaget Saga yang tak menyangka jika adik nya akan pergi besok setelah dia mendapatkan paspor.
"Lah kan paspor nya sudah jadi ngapain di tunda - tunda lagi, lebih cepat lebih baik abang." Jawab Alan.
"Terserah kamu." Jawab Saga sambil dia berjalan menuju area parkir mobilnya di kantor imigrasi.
Alana yang melihat perubahan mimik wajah sang kakak tau jika abang nya merasa kecewa dengan semua keputusan yang dia ambil.
"Abang marah?" Tanya Alan.
"Gak." jawab Saga dengan singkat.
"Nada bicara abang gak enak di denger abang marah sama Alan karena mau pergi?" Tanya Alan dengan mata yang hampir menangis.
"Abang gak marah Lan, masuklah."
"Gak mau masuk, abang masih marah sama Alan." Jawab Alana.
Saga menarik nafas melihat sikap adik nya yang lebih keras kepala dari nya, dia pun berjalan mendekat kearah Alana.
"Denger kan abang, abang gak marah hanya saja abang kecewa kamu mau pergi begitu cepat, apa gak bisa besok - besok nya saja, apa yang membuat ingin pergi begitu cepat Lan? "Tanya Saga.
Alana menunduk dengan air mata di pipi nya, dia mengingat bagaimana Riski mulai menjauhi nya, saat dia sudah memiliki kekasih dengan alasan menjaga perasaan pasangan agar tak cemburu.
"Gak ada abang, gak ada alasan yang kuat untuk Alan pergi, Alan hanya ingin mengejar impian Alan saja." Jawab Alana.
"Ya sudah kamu bisa pergi kejar lah impian mu di negri orang dan kembali lah setelah kamu benar - benar sukses." Jawab Saga.
"Pasti abang, ayah sama bunda akan bangga memliki putri seperti Alan." Jawab Alana.
Saga tersenyum dan mengelus kepala Alana yang tertutup hijab. Alana langsung memeluk tubuh sang kakak dengan erat, hingga di menangis sesegukan di pelukan Saga. Saga yang mendengar tangis Alana merasa heran karena ini pertama kali dia menangis tapi Sagara tau Alana tak akan mengatakan apapun.
Alana menyimpan sendiri rasa sedih dan patah hati nya kerana tak ingin orang - orang mengetahui perasaan dia dan membenci Helen serta Riski karena diri nya.
"Sudah jangan nangis kamu adik abang yang baik dan kuat masa gitu aja nangis, ayo masuk kita pulang." Ajak Saga.
Alana pun menghapus air mata nya setelah itu dia pun masuk ke dalam mobil, Saga langsung melajukan mobil nya menuju ke arah rumah Alan. Sepenjang jalan Alana hanya diam saja hingga mereka memasuki area perumahan, saat melintas di depan rumah Helen lagi - lagi Alan tak sengaja melihat Helen dan Riski sedang berduaan di teras rumah. Alana langsung menatap kearah lain saat dia melihat Helen dan Riski.
"Mau mampir gak?" Tanya Saga.
"Gak ah bang, Alan mau langsung pulang saja capek." Jawab Alana.
Saga terkejut saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Alana. Hingga kedua nya sampai di depan rumah Alana.
"Alan turun ya bang, makasih sudah menemani Alan buat paspor." ucap Alan.
"Tunggu dulu Lan! Kamu baik - baik saja kan?" Tanya Saga.
"Iya Alan baik - baik saja, sudah Alan masuk dulu." jawab Alan dengan menahan air matanya.
"Ya sudah turun sana abang juga mau pulang capek banget."
Setalah memastikan adik turun dan masuk kedalam rumah Saga pun langsung menuju kearah rumah nya yang ada di seberang jalan, dia juga melihat Ken berdiri di depan teras rumah. Ken yang sejak tadi melihat mobil Saga ada di depan rumah Alana langsung berteriak memanggil sang kakak yang baru turun dari mobilnya.
"Abang.....!" Teriak Ken sebelum dia berjalan ke arah rumah Saga dan kedua orang tua Saga.
"Apa Ken, teriak - teriak?" Tanya Saga saat melihat Ken berlari kearah rumah nya.
"Abang dari mana? Tadi aku kekantor abang tapi asisten abang pak Bayu bilang abang gak ada di kantor, kemana abang?" Tanya Ken sambil dia memberikan apa yang dia bawa
"Apa ini?" Tanya Sagara.
"Oleh - oleh dari Taiwan buat abang, papi dan mami abang." Jawab Ken.
"Oh...! Oh iya ngapain kamu ke kantor?" Tanya Saga.
"Mampir saja sekalian mau ngasih oleh - oleh eh abang gak ada kemana?" Tanya Ken sekali lagi.
"Nganter Alan bikin paspor dia mau kemalay." Jawab Sagara santai.
"What....! Serius tu anak mau ke malay sama siapa?" Tanya Ken dengan nada terkejut dan khawatir.
"Sendiri, dia mau ikut pertandingan di sana."
"Ya Allah abang... Kalian kasih izin dia pergi seorang diri, kalau di sana dia butuh sesuatu gimana? Kenapa dia tiba - tiba mutusin mau pergi ke kuar negri?" Tanya Ken.
"Mana abang tau Ken abang sudah tanya tapi dia bilang ingin mengejar cita - cita itu saja, Alan gak akan pernah cerita apa yang ada di hatinya." Jawab Saga.
Di dalam rumah Aisyah ibu dari Saga keluar saat dia mendengar suara yang sangat dia kenal dan menatap kearah wajah Ken yang terlihat cemas.
"Kenzio kamu kenapa nak? Kenapa terlihat cemas? " Tanya Aisyah dengan lembut
"Ini mami, Alan mau pergi keluar negri mami tau?" Tanya Ken.
"Iya tadi pagi dia sudah cerita kamu jangan cemas dia sudah besar dan bisa jaga diri, Alana gadis yang pintar." Jawab Aisyah agar Ken tidak begitu mencemaskan adik nya anak dari Vina dan Aditya.
Bersambung.....
━━━━━━♡♥♡━━━━━━
Riski kek nya suka sama Helen deh klu Alana tau orang yg dia suka justru ga suka sama dia gmn ya ,moga sikap Alana ga berubah ya klu tau
doakan saja agar semuanya lancar ya
apalagi Bagas emg langsung menjauh setelah pacaran sama Helen, lagian Helen juga apa-apaan sih kok kamu sampe segitunya sama Alana
toh Alana gak akan pernah rebut Bagas dari kamu ishhh ngeselin 😤😤
tapi sayangnya kepala Alana malah jadi memar gitu ya
tapi mungkin ini pilihan kamu ya lan, semoga di Malaysia nanti kamu bisa jauh lebih bahagia ya Alana
gak bisa jaga perasaan Alan malah pamer🙄