NovelToon NovelToon
Kepepet Cinta Ceo Arogan

Kepepet Cinta Ceo Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / CEO / Romansa / Fantasi Wanita / Nikah Kontrak / Wanita Karir
Popularitas:40.7k
Nilai: 5
Nama Author: keipouloe

Arash Maulidia, mahasiswi magang semester enam yang ceroboh namun gigih, tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu tabrakan kecil di area parkir.
Mobil yang ia senggol ternyata milik Devan Adhitama — CEO muda, perfeksionis, dan terkenal dingin hingga ke nadinya.

Alih-alih memecat atau menuntut ganti rugi, Devan menjatuhkan hukuman yang jauh lebih berat:
Arash harus menjadi asisten pribadinya.
Tanpa gaji tambahan. Tanpa pilihan. Tanpa ruang untuk salah.

Hari-hari Arash berubah menjadi ujian mental tanpa henti.
Setiap kesalahan berarti denda waktu, setiap keberhasilan hanya membuka tugas yang lebih mustahil dari sebelumnya.
Devan memperlakukan Arash bukan sebagai manusia, tapi sebagai mesin yang harus bekerja sempurna — bahkan detik napasnya pun harus efisien.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menghindar

Setelah menghabiskan bubur ayamnya, Arash langsung berdiri dan membawa dua mangkuk kosong ke gerobak penjualnya. Ia membayar miliknya dan milik Devan, seperti biasa tanpa menunggu laki-laki itu menawarkan diri. Devan hanya berdiri di belakangnya, diam, wajahnya tidak terbaca. Begitu mereka keluar dari tenda bubur itu, Devan langsung melangkah cepat menuju mobil dan masuk tanpa sepatah kata pun.

Arash sedikit mengerucutkan bibir, lalu ikut masuk.

“Saya hutang sama kamu,” ujar Devan tiba-tiba setelah mesin mobil menyala.

Arash mengerjap. “Saya juga masih punya hutang sama Bapak,” jawabnya lirih.

Devan hanya menggumam pendek. “Hem.”

Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Devan fokus mengemudi, sedangkan Arash menatap jalanan Jakarta yang ramai, pikirannya melayang soal gala dinner nanti malam. Sesampainya di pusat kota, Devan menurunkannya di halte dekat kantor, sesuai permintaan Arash agar tidak ada pegawai yang curiga.

Hari itu Arash tenggelam dalam pekerjaannya. Tugas-tugas yang diberikan Devan semakin banyak—laporan, proposal, revisi presentasi, hingga mengatur jadwal meeting. Sejak pagi hingga sore, ia tidak sempat melihat Devan sama sekali. Laki-laki itu keluar kantor bersama sekretarisnya untuk menghadiri meeting di luar.

Arash menyandarkan punggungnya ke kursi dan menghela napas panjang. “Ya Allah… capek banget,” gumamnya. Tapi meski lelah, ia tetap menyelesaikan semuanya tanpa mengeluh.

Menjelang jam pulang, suara langkah sepatu berhenti di samping mejanya.

“Tunggu saya di halte,” ucap Devan singkat, tanpa menatapnya.

“Iya, Pak,” sahut Arash.

Setelah membereskan barang-barangnya, Arash turun dan berjalan keluar area Adhitama Group. Di halte, Devan sudah menunggu dengan mobilnya. Arash mengira ia akan dibawa pulang ke kosan untuk persiapan gala dinner malam ini.

Ternyata salah.

Begitu masuk mobil, Devan langsung membawa mobilnya pergi entah ke arah mana.

“Pak… kita mau ke mana?” tanya Arash pelan, sedikit takut.

“Diam,” ujar Devan, tegas.

Arash menelan ludah. Ia memilih tidak bertanya lagi. Sepanjang perjalanan, dadanya terasa sesak karena gugup. Mobil terus melaju keluar kota. Pemandangannya berubah dari gedung-gedung tinggi menjadi deretan pepohonan dan udara yang semakin sejuk.

Kurang lebih satu setengah jam perjalanan dari Jakarta menuju Bogor.

Akhirnya mobil berhenti di depan sebuah villa besar bernuansa kayu, dikelilingi kebun hijau yang terawat rapi.

Arash terpaku. “Kok… ke sini, Pak?”

“Turun.”

Arash turun perlahan, masih bingung. Bukannya kemarin Devan bilang akan mengajaknya ke gala dinner. Kenapa sekarang malah ke villa?

Devan tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dan menariknya masuk. Arash mengikuti, setengah diseret. Villa itu sepi dan luas. Mereka menuju sebuah kamar besar dengan ranjang king size di tengahnya.

Baru beberapa detik pintu tertutup, Devan tiba-tiba memeluknya erat. Arash membelalakkan mata.

“Pak! Lepas! Kenapa sih?!” seru Arash panik, mencoba mendorong dada Devan.

“Sebentar saja, Rash… tolong,” ujar Devan, suaranya bergetar.

Arash terdiam. Ada sesuatu dalam nada Devan yang membuatnya berhenti melawan—seperti luka yang tidak terlihat. Ia membiarkan pelukan itu, meski jantungnya berdetak tak karuan.

Beberapa menit berlalu. Devan akhirnya melepasnya, menarik napas panjang seolah berusaha menenangkan diri.

“Kamu mandi dulu,” ujarnya pelan. “Baju gantimu nanti diantar orang suruhan saya.”

“I… iya, Pak.”

Devan keluar kamar tanpa penjelasan tambahan.

Arash berdiri mematung. Jantungnya masih belum stabil. Kenapa dia tiba-tiba peluk? Ada apa dengan dia? pikirnya bingung. Ia mengambil ponsel, tetapi baterainya sudah mati. Aduh… charger lupa dibawa.

Ia akhirnya masuk ke kamar mandi.

......................

Di luar, Devan duduk di ruang tengah villa, menatap kosong ke arah jendela. Ekspresinya keras, tapi matanya menunjukkan amarah dan luka yang menumpuk.

Flashback beberapa jam sebelumnya.

Saat meeting di restoran mewah, ia tidak sengaja melihat seorang wanita yang sangat ia kenal: Chintya—mantan tunangannya. Perempuan yang dulu meninggalkannya.

Dan kini, Chintya duduk manis bersama Joshua.

Sahabatnya sendiri.

Mereka tertawa mesra… saling menatap… seolah dunia hanya milik mereka. Seolah Devan tidak pernah ada. Devan nyaris kehilangan kendali. Rahangnya mengeras, dadanya panas seperti terbakar.

Belum selesai rasa sakit itu, ibunya menelepon saat ia di parkiran.

“Devan, kamu nanti datang ke gala dinner bersama Vena. Mama sudah siapkan semuanya. Tidak ada penolakan, Dev.”

Vena.

Anak sahabat keluarga mereka, seorang model papan atas yang selalu dijodohkan dengannya. Ibunya selalu memaksa—sampai membuatnya muak dan ingin kabur.

Semua tekanan itu membuat dadanya sesak. Kemarahan, rasa dikhianati, kewajiban keluarga… semuanya menumpuk dalam waktu yang sama.

Ia tidak punya siapa pun untuk melarikan diri.

Sampai satu-satunya nama yang muncul di kepalanya adalah Arash.

Wanita keras kepala yang selalu menurut tapi tetap punya batas. Satu-satunya orang yang tidak memanfaatkannya, tidak menjilat, tidak mengambil keuntungan.

Satu-satunya perempuan yang begitu patuh padanya.

Karena itu… ia membawa Arash ke tempat yang bahkan keluarga dan sekretarisnya tidak tahu.

Villa ini.

Ia hanya ingin… tenang.

Dan satu-satunya tempat yang terasa aman baginya saat ini adalah berada di dekat Arash.

......................

Setelah beberapa menit, pintu kamar mandi terbuka. Arash keluar dengan rambut basah yang ia tutup dengan handuk dan pakaian masih sama seperti sebelumnya, karena baju kirimannya belum datang.

Ia menatap sekeliling, Devan tidak ada.

Arash berjalan keluar dan menemukan Devan duduk sendirian di sofa. Lelaki itu menatapnya sekilas lalu mengalihkan pandang.

Hening beberapa detik.

Arash akhirnya memberanikan diri. “Pak… sebenarnya kenapa kita ke sini?”

Devan menghela napas panjang, menunduk.

“Karena saya tidak mau pulang. Dan saya tidak mau pergi ke gala dinner dengan orang lain selain kamu.”

Arash terpaku. “…Kenapa saya?”

“Kau satu-satunya orang yang tidak bikin saya muak,” ujar Devan lirih, berbeda dari biasanya. “Itu saja.”

Arash tidak tahu harus berkata apa. Hatinya kacau—antara bingung, kaget, dan… tersentuh.

“Saya… mandi dulu,” ucap Devan akhirnya, berdiri dan masuk kamar mandi.

Arash masih terpaku di tempat, menatap pintu kamar mandi yang tertutup.

“Pak Devan… sebenarnya apa sih yang Bapak sembunyikan?” gumamnya lirih.

Malam mulai turun, dan villa itu menjadi saksi awal dari sesuatu yang Arash sendiri belum siap hadapi. Namun satu hal jelas: sejak saat itu, hubungan mereka tidak akan pernah sama lagi.

1
Mineaa
waaahhh.....fixs.....itu mah.....
devan junior otw. ......
moga moga twins.....🤲
Rita Rita
dapet dipastikan atuch kalo Devan junior sedang otw,,, siap siap aja pak Dev kalo Arash ngidam 🤭🤣🤣
Rita Rita
Arash sensitif begitu jangan jangan beneran sedang hamil. udah lah rash biar kan Devan mandiri
Rea
ribet amat neng. hidup jangan dibuat ruwet🤭
rokhatii: heran juga sensi banget itu wkwk... kayaknya bakal ada sesuatu deh
total 1 replies
Rita Rita
lanjut Thor sampai ending,,, AQ rasa nih Arash hamil,,,
Mineaa
penasaran arash flek tanda awal kehamilan atau lg pms nich......🤔
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
anita
thor jgn jadiin tokoh utama menye2 dong..demi apa coba
Rita Rita
kok diem aja rash di bully orang,, lawan dong jangan lemak kek gitu. sabar ada batas nya rash,kalo udah dijambak dipukul yg wajib di lawan dong,, sabar ada tempat nya rash
Reni Anjarwani
lanjut thor
Rita Rita
kan pada awal nya Arash udah hidup mandiri dan sederhana tanpa ngandelin harta dan kekayaan orang tua nya, jadi Arash udah terbiasa dengan apa ada nya bukan dengan ada apa Dengan nya. jadi, Devan jangan pernah sia sia kan Arash kalo nanti sukses lagi
Mineaa
Semoga Devan lekas sembuh...bisa berjalan, berlari dan beraktifitas seperti biasanya.....🤲, kalian sudah melewati banyak derita saat nya berbahagia..... fighting....💪
Rea
bagus
Rea
novelnya bagus
Reni Anjarwani
doubel up
Rita Rita
double dong Thor,,,
Rita Rita
lanjut Thor,,, bikin keluarga Adhitama mengerti apa itu tak dihargai
Rita Rita
si Danu memang bapak yg tak guna,,, jadi percuma juga kalo Devan kembali,, biarkan si Danu hidup nya dihantui rasa bersalah
Rita Rita
lanjut Mak Thor,,, jalan Arash pasti kek jalan bebek habis dimakan Devan,🤣🤣
Mineaa
selamat ya untuk kalian berdua, semoga samawa.....🤲
rokhatii: terimakasih ditunggu amplopnya kakak🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!