Seorang mafia kelas kakap, Maxwell Powell nyaris terbunuh karena penghianatan kolega sekaligus sahabatnya. Namun taqdir mempertemukannya dengan seorang muslimah bercadar penuh kharisma, Ayesha, yang tak sengaja menolongnya. Mereka kemudian dipersatukan oleh Allah dalam sebuah ikatan pernikahan gantung karena Ayesha tak ingin gegabah menerima lamaran Maxwell terhadapnya. Kehidupan seorang muallaf dengan latar belakang kehidupan gelap seorang mafia mengharuskan sang gadis muslimah yang nyaris sempurna ini harus menguji dulu seberapa mungkin mereka kelak bisa membangun rumah tangga Islami yang seutuhnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurliah Ummu Tasqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23. Pingsan
Setelah sholat subuh berjamaah di mushollah rumah, Ayesha segera pamit pada suaminya untuk ke dapur dan menyiapkan sarapan pagi bersama Bibi Leida. Tadi setelah tahajjud dia sudah coba membuatkan bubur untuk suaminya dan sudah dimakan walau sedikit. Entahlah Maxwell tak sanggup memakannya dan hampir ia memuntahkan semuanya jika saja Ayesha terus memaksanya. Setelah kembali meminum obat demam, barulah Ayesha merasa agak lega dan selanjutnya mereka pun bersama penghuni rumah yang lainnya melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Sementara Ayesha di dapur, Maxwell tetap di mushollah dan meminta Ahmed mengajarinya mulai membaca Iqra'. Tanpa rasa malu dan dengan penuh semangat Maxwell mengikuti setiap bimbingan kakak iparnya tersebut. Ahmed, Sir Vladimir, Uncle John dan Ali sungguh terharu melihat kesungguhan Maxwell yang nampak tulus tanpa dibuat-buat. Namun tak berlangsung lama, masih sekitar 15 menit berlalu, tiba-tiba semuanya dikejutkan dengan tubuh Maxwell yang semula duduk bersila menghadap Ahmed mendadak tersungkur ke depan dan hampir kepalanya membentur meja kecil yang permukaannya dilapisi kaca jika saja Ahmed yang ada di seberang meja tersebut tak segera menahan kepala adik iparnya itu dengan sebelah tangannya.
"Maxwell...Maxwell...kau kenapa nak?"
Sir Vladimir menepuk pelan pipi cucu menantunya yang langsung di raihnya tadi dan diletakkan di pangkuannya tersebut.
"Sepertinya dia pingsan. Tubuhnya panas sekali. Ayo bawa ke ruang perawatan saja. Ini sepertinya masih berhubungan dengan efek racun yang dulu bersarang di tubuhnya"
Bergegas Ahmed, Uncle John dan Ali pun mengangkat tubuh pria tak berdaya itu ke ruang perawatan, tempat semula Maxwell dirawat sebelumnya. Sementara ketiga pria tersebut melakukan perintah Sir Vladimir, sang kakek tersebut bergegas ke arah meja telpon dan langsung melakukan sambungan ke dr Anne. Ia tahu dokter mode tersebut menginap di rumah Elena, sahabat kecil Ayesha yang rumahnya tidak jauh dari rumahnya, tepatnya di belakang rumahnya. Ia sendiri yang berpamitan padanya semalam karena sudah rindu pada sahabatnya tersebut.
"Anne, bisakah kau kemari sebentar. Suami Ayesha mendadak pingsan dan tubuhnya kembali panas".
"Ya kek. Aku segera ke sana"
Ayesha yang masih berkutat di dapur mulai menyadari sesuatu. Ketika dilihatnya wajah sang kakek yang nampak gusar dan menelpon seseorang ia bergegas minta ijin pada Bibi Leida untuk meninggalkan pekerjaannya dan bergegas mendekati kakeknya. Sekilas diliriknya mushollah yang tak jauh dari meja telpon dan sedikit heran. Kenapa sunyi?
"Kek, ada apa? Di mana suamiku? Sudah selesaikah belajarnya?", Ayesha mulai curiga. Ada perasaan tidak enak hinggap di hatinya.
"Jangan khawatir. dr Anne akan segera datang. Ayo ke ruang perawatan"
Ayesha langsung mengerti. Setelah sampai di ruangan Maxwell dirawat, ia pun segera menghampiri suaminya yang masih belum sadar. Selang infus sudah terpasang di tangan kiri suaminya. Nampak kain kecil untuk kompress pun sudah melekat di keningnya. Ali cukup sigap memberi pertolongan pertama. Ini bukan demam biasa.
"Ali, menurutmu ini masih berhubungan dengan efek racun yang sempat bersemayam pada tubuh suamiku"
"Sepertinya begitu Non Ayesha...eh Nyonya..."
"Tetaplah dengan panggialan biasa Ali"
Ali hanya diam. Dia tahu wanita cantik bercadar di depannya sedang cemas.
Uncle John mendekati ranjang dan memutar sedikit settingan di bawah bed dan perlahan bagian kepala Maxwell terangkat sedikit.
"Sepertinya ada gangguan dengan nafasnya. Tidakkah ia perlu alat bantu nafas?", Uncle John menangkap suara nafas yang terganggu dari mulut Maxwell yang terbuka sedikit.
Ali langsung meresponnya dan memasang selang oksigen di hidung Maxwell.
"Sebaiknya kita tunggu dulu dr Anne, saya tidak berani bertindak yang lain lagi karena bisa jadi nanti salah penanganan"
Sementara Ayesha nampak sibuk membasahi kembali kain kompres yang dengan cepat kering menyerap panas tubuh suaminya tersebut. Sedangkan Ahmed membuka kancing-kancing baju depan Maxwell yang saat itu memakai kemeja lengan pendek. Ia tertegun melihat bekas jahitan di dada kiri adik iparnya tersebut. Ini mungkin bekas operasi luka tembak yang diceritakan Ayesha dulu. Lirihnya dalam hati. Kakak Ayesha yang tak kalah rupawan dengan adik iparnya tersebut perlahan melebarkan belahan baju Maxwell ke sisi kiri kanannya agar Ayesha bisa leluasa mengompres badannya yang masih sangat panas. Sejenak Ahmed tercenung melihat perut kotak-kotak di hadapannya. A perfect man, batinnya.
"Ayesha, kompres juga tubuhnya ini agar sedikit mengurangi panas tubuhnya"
"Ya kak".
Ayesha segera melakukan yang diperintahkan kakaknya. Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu di ketuk dan muncullah orang yang selama ini ditunggu-tunggu.
dr Anne dengan gesit segera melakukan ritualnya. Setelah melakukan pemeriksaan seperlunya ia melakukan injeksi melalui selang infus yang sudah terpasang. Selama ini kemana pun ia pergi ia memang selalu stand by dengan obat-obatan yang penting dalam tasnya dan di kamar perawatan Ayesha sendiri sudah lengkap dengan perlengkapan medis juga berbagai jenis obat.
"Ayesha, aku memberikan obat pencahar untuk detoksifikasi racun yang masih tersisa dalam tubuh suamimu".
"Apakah itu cukup?"
"Sebenarnya cukup, tapi karena ada trigger yang merangsang reaksi sisa racun yang ada membuat ada gangguan syaraf sehingga ia sewaktu-waktu bisa mengalami hal seperti tadi"
"Maksud dokter?"
"Apakah dia memakan sesuatu selain yang biasanya diberikan selain beberapa minggu sebelumnya?"
Ayesha sontak menepuk keningnya pelan.
"Astaghfirullaah...maaf aku lupa....mungkin dia sudah menyentuh makanan yang dihidangkan untuk para tamu...Aku lupa memberikan makanan ikan air tawar seperti biasa.."
"Itulah..pantangan makan tersebut masih berlaku hingga saat ia benar-benar pulih. Mungkin untuk 2 bulan lagi ia masih harus menjaganya Ayesha. Karena ini bereksi pada suhu tubuh dan syaraf kesadarannya"
"Terima kasih dr Anne. Jadi tidak ada hal lain yang membahayakan kan?"
"InsyaaAllah tidak. Mungkin beberapa hari ini dia akan sangat lelah dan lemas karena proses detoksifikasi ini. Tapi aku yakin prosesnya akan lebih cepat selesai karena sudah ada orang terkasih yang akan setia mendampingi", dr Anne melirik ke arah Ayesha.
Ayesha pun salah tingkah.
"Brother Ali bisakah engkau merawat kembali Tuan Maxwell?", dr Anne mulai memancing.
"Tentu saja. Tuan Maxwell sudah menjadi bagian dari keluarga kita bukan? Sebelumnya saja aku sudah terbiasa...apalagi sekarang...", jawab Ali dengan polosnya.
"Ayesha?", terdengar suara Sir Vladimir. Ayesha langsung paham. Blush. Wanita cantik itu sudah membayangkan sesuatu yang mengerikan. Ya Allah....., lirihnya dalam hati.
"Ya kek? Tentu saja aku akan merawat suamiku dengan baik", Ayesha sangat mengerti tatapan kakeknya itu. Ia menggigit bibirnya sendiri. Bola matanya berputar menahan sebuah perasaan.
"Jadilah istri yang baik, adikku sayang", Ahmed tersenyum menggoda.
"Sudah seharusnya seorang istri merawat suaminya bukan", Uncle John pun menimpali. Ia sudah connect dengan semua tatapan orang-orang sekitar. Cuma Ali yang masih 17 tahun ke bawah, padahal ia sudah melakukan perawatan detoksifikasi sebelumnya. Ah remaja manis berwajah Amerika itu memang masih polos.
/Pray//Pray//Pray/