NovelToon NovelToon
Darah Pocong Perawan

Darah Pocong Perawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / Hantu / Mata Batin / Iblis
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: Celoteh Pena

Yitno... Ya namanya adalah Suyitno, seorang laki-laki berusia 36 tahun yang tak kunjung menikah. Ia adalah pemuda baik, tetapi hidupnya sangat miskin dan serba kekurangan.
Baik itu kekurangan ekonomi, pendidikan, wajah dan masih banyak hal lainnya yang membuatnya merasa sedikit putus asa dan berkecil hati. Ia tinggal bersama ibunya yang seorang janda.
Ia pemuda yang rajin dan tak malu bekerja apapun. Iman dan mentalnya berubah semenjak ia menghitung usianya, dan melihat teman-teman sekampungnya yang semuanya sudah berkeluarga. Ia malu, ia pun ingin menikah tetapi tak ada seorang gadis pun yang mau dengannya.
Semua gadis seperti menghindarinya, entah karena Ia miskin, atau karena ia tak rupawan, atau mungkin karena keduanya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang kakek yang akan merubah hidupnya.
apakah yang akan dilakukannya? ikuti terus kisahnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celoteh Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Ada Pilihan

Hah...!!! Bukan pak? Terus siapa?" tanya Hendro penasaran

"Sssttt...!!! Nanti bapak ceritain, yang jelas pelakunya pasti masih sekampung sama Tarman." ucap Mbah Suro

Yitno semakin panik mendengar itu semua. Dalam hatinya sudah tertanam niat untuk menghabisi Mbah Suro.

Di ruang tamu itu Hendro dan ayahnya yang tak lain adalah Mbah suro terus mengobrol membicarakan hal itu dan Yitno terus menyimak pembicaraan mereka berdua tanpa diketahui dan di sadari.

"Terus siapa pak pelakunya?"

"Bapak belum tau, ada kejadian aneh yang bapak alami kemarin malam Ndro. Bapak di temuin gak tau itu siluman, medi atau manusia, dia gak nampak wujudnya tapi ada suaranya. kayaknya sih manusia, dia ngancem bapak buat gak ikut campur masalah Tarman."

"Hah..? Yang bener pak?"

"Iya bapak takut, di tambah dia kayaknya kenal kamu Ndro, dia bilang kalau bapak sampe cari tau, dia bakal ngebunuh anak-anakmu." Jelas Mbah Suro

Sontak Hendro bingung dan terkejut mendengar penuturan ayahnya...

"Terus bapak gimana?"

"Bapak pengennya cari tau, soalnya syarat-syarat udah bapak pegang. Malem ini juga bapak bisa cari tau siapakah pelaku sebenarnya. Tapi mikirin anak-anakmu bapak jadi ragu."

"Jangan pak! orang itu sepertinya sakti pak, bahaya nanti!"

"Bapak gak tau, kalau gak dia yang mati duluan ya bapak, kalau sampe bapak cari tahu. Tapi masalahnya kalau yang jadi korban justru anak-anakmu itu lho." bisik ayahnya

"Bapak gak usah cari masalah, ini bukan soal siapa yang paling sakti, tapi ini menyangkut nyawa. Gak usah aneh-aneh. Aku gak mau anak-anak ku kenapa-kenapa pak.."

"Iya Ndro...perasaan bapak juga gak enak.. emm..kalau ada apa-apa sama bapak.. dengerin bapak..kamu pergi dari kampung ini sejauh mungkin bawa anak dan istrimu. Pasti kamu dan keluargamu bisa kena imbas nantinya, dia tau keluargamu." Pesan ayahnya

"Kok ngomong gitu pak, yang penting bapak gak usah ngeladenin permintaan pak Tarman dan istrinya lagi. Udah bilang aja gak tau pelakunya siapa! Udah beres.."

"Ya bapak udah bilang kayak gitu ke dia tadi Ndro, tapi bapak penasaran. Ini bisa jadi bahaya kalau di diemin bakal banyak korban-korban berikutnya. Mana anak kamu perempuan lagi, kain kafan yang di curi itu pasti buat ngilmu Ndro..itu malapetaka dan harus di hentikan."

"Halah capek aku ngomong sama bapak. Di bilangin kok ngeyel, nanti kalau ada apa-apa sama anak-anak ku..mau bapak tak salah salahin? Udahlah males aku! wong tuwek emang angel dikandani..!!" Gerutu Hendro kesal yang langsung mengajak kedua anaknya pulang, ia begitu kecewa dengan bapaknya yang susah di omongin.

***

Selepas kepulangan Hendro, tampak Mbah suro mempersiapkan ritual. Ia duduk di kamar lain yang tampak kosong hanya ada beberapa lukisan yang terpajang di dinding papan kamar itu, ruangan yang sangat temaram tanpa penerangan. Hanya sebuah sentir dan beberapa sesajen yang memang sudah ia persiapkan dari sore di tempat itu.

Ia membuka bungkusan kantong plastik syarat yang berisi celana dalam dan foto serta tanah kuburan dan duduk bersila di depan sesajen. Sedikit berkomat Kamit sembari menggenggam tanah kuburan yang ia campur kemenyan dan ia remat-remat seperti menggerus dengan genggaman tangan kanannya. Lalu Ia melempar lempar tanah itu ke arah sesajen.

Menyeruak bau kemenyan...

Yitno yang mengintip dari sela dinding papan tak punya pilihan selain menghabisi Mbah suro malam itu juga. Yitno lalu memotong tali tambang jemuran di sebelah rumah itu dengan parang yang ia bawa, ia mengambil sekitar satu meter..

"Hmm..sidik jari ya? Hmm aku harus berhati-hati" batin Atmo 

Ia memotong tali jemuran itu tanpa memegangnya..ia mengambil sekitar satu meter tali itu. Ia menyelipkan parang ke pinggangnya. Kedua ujung utas tali tambang tersebut ia lilitkan ke kedua telapak tangannya..

Yitno masuk rumah melalui pintu belakang yang belum di tutup...perlahan ia mendekati sebuah kamar tanpa daun pintu, hanya tertutup gorden berwarna merah maroon yang tampak sudah usang dengan model jadul.

Perlahan Yitno membuka gorden tersebut, ia melihat Mbah suro sedang duduk bersila dengan mata terpejam sembari mulutnya terus berkomat Kamit..

Dengan langkah jinjit Yitno berjalan ke arah belakang tubuh mbah suro dan mencekik seperti menjerat leher Mbah suro dengan tali tambang dari belakang. Tampak mbah suro berontak tak karuan. Yitno yang tenaganya sangat besar, sekuat tenaga menarik tambang itu, hingga ia bisa merasakan bunyi kraak, ya! tulang kerongkongan Mbah itu mungkin patah atau putus.

Tak lama, mungkin hanya sekitar 3 menit tubuh Mbah suro terkejang sangat kuat seperti kaku lalu perlahan lunglai lemas, ya Mbah Suro tewas malam itu, dengan mata melotot terbelalak..

Yitno terdiam, ia pun lemas terengah karena bersusah payah mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk membunuh Mbah suro. Ia segera mengambil celana dalam Lastri, foto serta gorden lusuh kamar itu...

Ia membakar barang bukti di belakang rumah itu. Sebuah tempat yang memang sudah biasa untuk membakar sampah, seluruhnya ia bakar di situ, tali tambang, gorden, foto Lastri juga celana dalamnya.

Yitno termenung menatap kobaran api itu, tampak ia menyesali perbuatannya tapi ia tak memiliki pilihan lain. Yitno terus menunggu pembakaran barang bukti itu, ia sangat berhati-hati jangan sampai tersisa sedikitpun.

Sebelum meninggalkan rumah itu, ia sedikit berfikir dan mengulas kembali adakah hal yang masih tertinggal? Ia belajar dari kasus Lastri. Ia tak mau membuat kesalahan serupa, sedetail dan sekecil apapun itu ia akan berusaha sebersih mungkin. Ia tak pernah meremehkan kesalahan sekecil apapun.

"Kurasa sudah tak ada celah kesalahan, polisi tak mungkin menemukan barang bukti, Mbah suro juga belum memberitahu Hendro, polisi tak akan menemukan sidik jariku, hanya gorden yang aku pegang dan sudah ku bakar. Setahu polisi Mbah suro mati terbunuh karena bekas jerat tali tambang itu yang membekas di lehernya.

Dan Hendro pasti panik..dia pasti pergi meninggalkan desa ini sesegera mungkin melihat kematian ayahnya yang tidak wajar ini. Dan kemungkinan besar Hendro tak akan berucap tentang masalah ini kepada polisi dan siapa pun, ia pasti lebih mementingkan nyawa keluarganya. Karena dia sudah mendapat pesan dari ayahnya. Kurasa aku bersih dan aman." pikir Yitno

Yitno pun pulang dengan kacau fikirannya yang campur aduk. Antara perasaan lega bercampur dosa ia rasakan. Ia terjebak dalam ulahnya sendiri yang saat ini belum ia sesali.

Sesampainya di rumah ia langsung mandi dan duduk termenung minum kopi dengan tangan yang masih tampak gemetar tak percaya dengan apa yang sudah ia lakukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!