Apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar kata keluarga? Rumah untuk berteduh? Tempat meminta perlindungan? Tempat memberi kehangatan? Itu semua benar. Tetapi tidak semua orang menganggap keluarga seperti itu. Ada yang menganggap Keluarga adalah tempat dimana ada rasa sakit, benci, luka dan kekangan.
"Aku capek di kekang terus."
"Lebih capek gak di urus."
"Masih mending kamu punya keluarga."
"Jangan bilang kata itu aku gak suka."
"Kalian harusnya bersyukur masih punya keluarga."
"Hidup kamu enak karena keluarga kamu cemara. Sedangkan aku gak tau siapa keluarga aku."
"Kamu mau keluarga? Sini aku kasih orang tua aku ada empat."
"Kasih aku aja, Mamah dan Papah aku udah di tanam." Tatapan mereka berubah sendu melihat ke arah seorang anak laki-laki yang matanya berbinar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Echaalov, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Dua orang gadis kecil baru saja memasuki kelas. Kedua mata mereka terlihat bengkak atau lebih tepatnya sembab, seperti mereka menangis sepanjang malam lalu tidur. Oleh karena itu, mata mereka terlihat bengkak.
Melihat kedua sahabatnya seperti itu, Candy menghampiri mereka dengan tatapan cemas.
"Kalian kenapa? " tanya Candy bergantian menatap Naysa dan Tania.
"Kita gakpapa kok tenang aja Sel," ucap Tania.
"Iya jangan khawatir kayak gitu," suara kekehan terdengar dari mulut Naysa.
"Kalian kira aku anak kecil apa? Kalian kira aku gak tahu apa? " tanya Candy.
"Kita gakpapa Seselku sayang, nih makan permen biar gak cemberut lagi," ucap Naysa menyerahkan permen susu rasa strawberry.
"Kamu kira aku anak kecil yang mudah di bujuk sama permen, tapi karena kamu ngasih aku terima, makasih ya," ucap Candy menerima permen itu lalu memakannya. Naysa tertawa melihat tingkah Candy.
"Karena kamu udah ngasih aku permen, aku kasih kertas permintaan tulis aja permintaan kalian di sini nanti aku kabulin," Candy memberi kertas kosong ke Tania dan Naysa. Sebenarnya Candy tahu bahwa keadaan Naysa dan Tania tidak baik-baik saja. Ia melakukan ini untuk menghibur mereka. Emang bukan sesuatu yang spesial tapi semoga hal ini menghibur mereka.
"Yakin nih gimana kalau aku minta traktir ice cream sepuluh? " tanya Tania menaik turunkan alisnya.
"Kita minta aja snack sekardus gak sih," Naysa melihat ke arah Tania mengkode untuk menjahili Candy.
"Ide yang bagus," ucap Tania.
"Kamu sanggup gak? " ujar Naysa.
"Sanggup tapi boleh gak kalau di cicil?" ucap Candy. Naysa dan Tania tertawa lepas mendengar perkataan Candy.
Hal itu di lihat oleh Tyra dari kejauhan. Ia menatap tidak suka teman-temannya. Kenapa mereka bahagia tidak mengajaknya? Selama ini ia tidak pernah merasakan hal seperti ini. Semua orang harus bahagia di sisinya. Tapi rasa kesal ini seru juga soalnya rasanya menyebalkan.
Dengan kesal Tyra berjalan ke arah mereka.
"Kenapa kalian tertawa tanpa aku? " Tyra berucap dengan nada yang merajuk.
"Gabung aja kali, Ra, " ucap Naysa.
"Tapi kan biasanya meski aku gak gabung kalian selalu nyamperin aku," ucap Tyra sedih.
"Gak semua hal harus sesuai keinginan kamu, Ra," ucap Naysa dengan nada yang sedikit sinis.
"Nanay kok kamu ngomong gitu? "
"Kenapa? Kamu gak suka? "
Tyra merasa ada yang aneh dengan sikap Naysa.
"Udah kalian jangan berantem," ucap Candy melerai pertengkaran mereka.
"Nanay lagi sensitif, udah ya Ra. Kita duduk aja," Tania menarik Tyra agar duduk di bangku mereka.
"Ayo Nay, kita kebangku kita," Candy memegang tangan Naysa berjalan menuju bangku mereka.
Entah mengapa suasana mendadak canggung. Jam pelajaran di mulai suasana hening. Selama jam pelajaran Candy dan Tania merasakan suasana yang begitu canggung.
******
Candy dan Tania hari ini kebagian piket. Mereka menyapu lantai tidak lupa kolong meja pun di sapu. Tyra dan Naysa masih duduk di bangku mereka. Suasana terus canggung sampai jam pelajaran selesai.
Di kelas masih ada Azel, Anka, Harrel dan Gerald. Mereka emang piket hari tugas mereka hanya mengangkat bangku lalu anak perempuan menyapu dan mengepel. Mereka belum pulang karena harus bareng agar mereka tercatat mengerjakan piket.
Candy dan Tania telah selesai menyapu dan mengepel. Mereka duduk di bangku mereka karena lelah. Candy menatap teman-temannya yang sedang melamun. Bahkan Azel terlihat pendiam, tumben sekali anak itu menjadi pendiam.
Mereka duduk di bangku masing-masing dengan pikiran yang kemana-mana. Mereka duduk termenung, pikiran mereka memang berbeda tapi mereka memikirkan hal yang sama, yaitu keluarga.
Apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar kata keluarga? Rumah untuk berteduh? Tempat meminta perlindungan? Tempat memberi kehangatan? Itu semua benar. Tetapi tidak semua orang menganggap keluarga seperti itu. Ada yang menganggap Keluarga adalah tempat dimana ada rasa sakit, benci, luka dan kekangan.
"Aku capek di kekang terus," kata yang ia pikirkan tanpa sadar keluar dari mulutnya. Suasana yang hening membuat mereka mendengar dengan jelas ucapan Candy.
"Lebih capek gak di urus," ucap Tania menanggapi ucapan Candy.
"Masih mending kamu punya keluarga," ujar Gerald.
"Jangan bilang kata itu aku gak suka," Naysa tidak suka dengan ucapan Gerald. Apalagi suasana hatinya masih sedih.
"Kalian harusnya bersyukur masih punya keluarga," ucap Tyra menatap teman-temannya.
"Hidup kamu enak karena keluarga kamu cemara," balas Gerald. Bukan rahasia lagi bahwa keluarga Tyra adalah keluarga cemara. Apalagi orang tua dan kakaknya memberikan kasih sayang sangat banyak sehingga rasa iri muncul di hati mereka.
"Kamu mau keluarga? Sini aku kasih orang tua aku ada empat," ucap Azel santai.
"Kasih aku aja, Mamah dan Papah aku udah di tanam." Tatapan mereka berubah sendu melihat ke arah seorang anak laki-laki yang matanya berbinar. Mereka menatap Gerald dengan raut wajah sendu.
Menyadari itu Gerald kembali berbicara."Aku bercanda teman-teman muka kalian serius banget," Gerald tertawa garing. Namun teman-temannya masih menatapnya sendu.
Gerald berdehem kemudian berkata."Kalian ini gak bisa di ajak bicara, daripada kalian sedih kita adu nasib yu, mulai dari aku deh, Gerald yatim piatu," ucap Gerald santai.
"Azel broken home punya orang tua 4," ucap Azel santai. Mereka menatap tidak percaya kepada Azel.
"Harrel selalu di tuntut sempurna," ucap Harrel ikut-ikutan.
Setelah itu mereka bertiga menatap Anka. Anka yang merasakan tatapan mereka pun menghembuskan nafasnya lelah."Anka, Bunda single parent."
"Sesel strict parents," ucap Candy. Karena teman-temannya berkata permasalahan keluarga mereka tanpa malu. Candy pun ikutan agar mereka tidak malu.
"Nanay ayah nikah lagi," ucap Naysa. Mereka terkejut mendengar ucapan Naysa. Mereka tidak menyangka dengan ucapan Naysa.
"Kenapa kalian terkejut? " tanya Naysa.
"Gakpapa," ucap Candy. Ia tidak mau Naysa merasa tidak nyaman.
"Yaya orang tua sibuk kerja," ucap Tania agar perhatian tidak tertuju kepada Naysa.
"Rara keluarga cemara," ucap Tyra.
"Kamu gak di ajak," ucap Azel singkat, padat, dan sinis.
"Benar itu mah bukan permasalahan keluarga," ucap Harrel.
"Untuk kali ini kamu gak boleh ikutan," ujar Gerald. Di angguki oleh mereka semua.
"Kalian jahat banget, kenapa sih kalian daritadi jahatin aku," ucap Tyra berkaca-kaca. Ia merasa bahwa semua orang jahat kepadanya.
"Aku benci kalian, kalian bukan sahabat aku lagi," setelah Tyra mengucapkan itu ia pergi.
Candy berniat menyusul Tyra, namun tangannya di tahan oleh Tania.
"Biarin Sesel kamu gak perlu bujuk dia," ucap Tania.
"Tapi Ya, " ucap Candy menatap kepergian Tyra.
"Untuk hari ini biarin dia Sel, kita jangan terlalu manjain dia," ujar Naysa. Candy pun tidak jadi menyusul Tyra.
"Rara gak cocok buat pertemanan kita," ucap Gerald.
"Dia selalu harus di ngertiin padahal di antara kita hidupnya lebih bahagia," ucap Harrel. Semua orang diam karena apa yang di katakan Harrel benar.