Sepertinya alam semesta ingin bercanda denganku, orang yang ku cintai meninggalkanku di saat mendekati hari pernikahan kami. meninggalkan luka yang menurutku tidak ada obat untuk menyembukannya walaupun dia kembali untuk minta maaf.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olip05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 22
kamu lanjutin keringin rambutnya, aku mau nyiapin makan dulu” ucap mita.
Ah padahal nyaman banget tadi dikeringin rambut sama mita.
Ingin sekali arun tarik tangan mita agar tetap mengosokkan anduk dikepalanya. Tapi apalah daya arun yang tahu diri akan posisinya di hati mita.
“kamu makan dulu ya, aku udah angetin makan malamnya” ucap mita yang mulai menata masakannya di atas tempat makan.
Arun duduk di kursi sambil melihat mita yang sibuk menyiapkan makan untuk arun.
“kamu nggak cape mit? Ini udah jam dua belas lebih tapi kamu masih sempat-sempatnya nyiapin makan untukku” arun tahu bahwa istrinya ini juga sibuk di rumah sakit seharusnya dia istirahat, tapi masih sempat-sempatnya menyiapkan makan untuk arun.
Mita tersenyum sambil menyerahkan piring yang sudah terisi dengan nasi dan lauk pauknya. “ini sudah tugas seorang istri run” ujar mita
“kamu juga belum makan?” arun melihat mita mengisi satu piring lagi dengan nasi.
“aku tadi nunggu kamu pulang biar bisa makan bareng sama kamu” mita mulai memasukan makanan pada mulutnya dan sesekali melihat kearah arun
“kenapa harus menungguku pulang,? kalau kamu sudah lapar makan saja tak perlu menungguku” arun heran akan kelakuan mita bagaimana jika dirinya tidak pulang dan itu berarti mita akan melewatkan makan malamnya.
“mmm.. aku tidak biasa makan dalam keadaan sendiri, biasanya dirumah aku selalu makan bareng mamah dan papah, kalau tidak ada mamah dan papah aku akan makan bareng pembantu di rumah atau dengan ab_” tenggorokan mita tercekat saat akan mengucapkan nama orang yang amat mita cintai, terlalu besar pengaruh abian pada kehidupan mita, seakan-akan setiap kejadian tidak pernah luput dari sosok abian. Sekeras apapun usaha mita untuk melupakan abian tetap saja sosok abian seperti hantu gentayangan yang tak diterima oleh bumi selalu menggangu pikiran mita, membuat hati mita kembali tergores oleh luka sekaligus membuat mita merindukan sosok abian di sampingnya.
“hey kenapa?” tanya arun melihat mita yang tiba-tiba tidak melanjutkan makannya dan malah melamun.
Mita tersadar dari lamunannya saat tangan arun menyentuh tangan mita. “oh aapa?” ucap mita gugup kepergok melamun di hadapan arun.
“kamu kenapa berhenti makannya malah melamun?”
“oh itu, mm tiba-tiba aku kangen mamah dan papah udah hampir tiga minggu nggak ketemu mereka dan Cuma bicara lewat telpon aja” mita berharap arun tidak bertanya tentang ucapannya yang tadi menggantung
Arun mengangguk-anggukan kepalanya sambil menyuapkan makanan kedalam mulutnya “aku bisa antar kamu kalau mau ketemu orang tuamu”
“orang tua kita” koreksi mita
Arun terkekeh “oh iya aku lupa kalau orang tuamu sudah menjadi orang tuaku juga”
“aku juga sepertinya harus sering berkunjung kerumah mertua, untuk mengakrabkan diri” lanjut arun
“iya kata kamu benar, aku bahkan baru dua kali ketemu papah dan mamahmu” jika mita mengingat-ngikat dirinya pernah ketemu orang tua arun saat hari pernikahan dan saat orang tua arun berkunjung kerumahnya sebelum H-2 hari pernkahannya. Itupun hanya cium tangan dan selebihnya mita hanya diam karena saat itu keadaannya cukup kacau membuat dirinya tidak ingin bertemu siapapun. Mita berharap semoga mertuanya tidak menyebalkan seperti mertuanya yuni. Ya mita sudah sangat tahu bagaimana cerewetnya mertua yuni itu, mita kira yuni hanya melebih-lebihkan sikap mertuanya saat bercerita pada dirinya. Ternyata saat mita bertemu langsung dengan mertua yuni saat sahabatnya itu mengadakan syukuran empat bulan anak pertamanya. Dan mita sangat setuju apa yang ceritakan yuni bahwa mertua yuni itu sangat cerewet dan menyebalkan. Walaupun mita dan yuni tahu bahwa sikap cerewet dan menyebalkan mertua yuni itu bentuk dari kasih sayang dan perhatian tetap saja yuni merasa tidak nyaman.
“bagaimana dengan aku yanga hanya satu kali ketemu orang tuamu, aku bertemu saat hari pernikahan”
Mita tersenyum miring “wajar jika kamu baru satu kali ketemu orang tuaku, karena kamu lebih mementingkan mengurusi pekerjaan dari pada bertemu calon mertuamu, kamu kan lelaki gila kerja yang seakan-akan takut perusahaanya bangkrut” mita mencibir selalu merasa kesal jika mengingat saat malam pertamanya ai ditinggalkan untuk urusan pekerjaan oleh pria di hadapannya ini.
“hahahaha mit aku sudah beberapa kali bilang bahwa pernikahan itu sangat dadakan untukku, bayangkan saja saat itu aku sangat sibuk-sibuknya mengurusi kerja sama dengan klien baruku.”
“ya ya ya aku sangat mengerti bahwa suamiku ini seorang lelaki yang memiliki perusahaan yang sangat besar jadi wajar kalau sangat sibuk menjelang hari pernikahannya”
Tiba-tiba hati arun berdetak sangat kencang saat mendengar mita berkata suamiku. Bahkan detak jantungnya lebih kencang dari pada saat dia mencium mita dikamar tadi, ada rasa senang di hati arun saat mita berkata suamiku,
Hey ada yang tidak beres dengan diriku kenapa aku sangat senang mendengar kata kata tersebut.
Arun langsung menyambar air putih di sebelahnya dan meneguknya sekali tegukan, ah kenapa dirinya jadi salah tinggah begini.
Rasanya ingin sekali aku mendengar kata sumiaku lagi dari bibir mita.
“ehemm” arun berusaha menormalkan detak jantungnya agar tak terlihat koyol di hadapan mita. “biarkan aku saja yang mencuci piring ini semua, kamu langsung aja istirahat aku tahu kamu pasti lelah” ucap arun.
“tidak apa-apa biar aku saja yang mencucinya lagian tidak banyak juga cucian piringnya, kamu saja yang istirahat lebih dulu, kamu pasti lebih lelah dari pada aku” mita mulai memindahkan piring kotor ke wastafel dan arun mengikuti mita dari belakang.
“aduh” Saat mita berbalik badan, dirinya menubruk tubuh arun. mita tidak tahu jika arun mengikutinya dari belakang. Perbedaan tinggi antara mita dan arun tidak terlalu jauh hanya berbeda sekitar 10 cm, jadi mita tak perlu mengadahkan kepalanya untuk melihat arun
“kenapa berdiri dibekangaku, mengagetkan saja?” tanya mita
Saat mita menubruk tubuh arun, dada bidang arun merasakan benda kenyal milik mita menempel pada dadanya. Benda yang beberapa jam lalu ia mainakan, rasanya arun ingin memainkannya lagi tanpa harus terhalang oleh baju piyama yang mita kenakan, apalagi tadi saat makan arun bisa melihat jelas belahan dadanya mita seperti menantang arun untuk memainkannya.
Ckk membanyangkanya saja membuat bangaian inti tubuhnya menegang, hey kau yang benda yang ada di bawah celana, kenapa kau lemah sekali padahal baru saja membanyangkannya kenapa kau langsung on, kau tahu bagaimana susahnya aku untuk menidurkanmu kembali.
“kataku biar aku saja cuci piringnya, kamu tadikan sudah masak sekarang giliran aku yang mencuci piringnya oke” ucap arun memberi saran, tidak tega melihat mita harus mencuci piring padahal mita sudah masak buat makan malam di tambah mita harus menunggu dirinya pulang sampe larut malam begini.
“oke deh kalau gitu, aku masuk kamar dualuan ya” ucap mita setelah mempertimbangkan saran arun, sebenarnya mita juga sudah sangat lelah dari jam sembilan ia harus menahan ngantuknya menunggu arun pulang apalagi saat tadi di rumah sakit banyak sekali yang harus ai kerjakan setelah selesai masa cutinya. Tapi mau gimna lagi ai harus menahan ngantuknya untuk menggu arun pulang rasanya tak adil jika ai harus tidur sedangkan suaminya masih belum pulang.
“yaudah gih istirahat” ucap Arun sambil mendorong pelan tubuh mita agar keluar dari dapur
Mita melangkah pergi dari dapur dan masuk kedalam kamar, setelah mita masuk kamar arun mulai membersihkan meja makan dan mencuci piring. Di saat mencuci piring tiba-tiba turun hujan kemudian di susul oleh petir. Arun melihat jam di dinding yang sudah menunjukan pukul satu lebih bebrapa menit.
Ah hujan ditengah malam cocok sekali melakukan pergulatan di atas kasur bagi pasangan suami istri, ah kenapa pikiranku selalu menjurus ke arah situ si, arun sadarlah sekarang belum saatnya kau melakukan penyatuan dengan mita.
Arun menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir pikirannya yang tak senonoh dan segera menyelesaikan cucian piring ini agar dirinya bisa cepat merebahkan tubuhnya di atas tubuh mita, eh maksudnya di atas kasur.
................
Guys jangan lupa like, komen,hadiah, dukungan dan votenya. Aku sangat senang mendapatkan like yang banyak dari kalian dan nggak sabar buat up cerita rahasia dibalik pernikahnku ini. Maaf jika banyak typonya. Happy reading guys,