Menikah adalah hal sakral yang tidak boleh di permainkan. Namun, pernikahan Elena terjadi karena semata-mata ingin menyelamatkan nyawa papanya yang sedang terancam. Dan tanpa diketahui, ternyata dirinya menjadi istri kedua dan bukanlah istri satu-satunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anasta_syia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Albert, Sandrina" Rachel menyebut nama kedua orang tua Elena membuat sang pemilik nama menoleh. Konferensi pers telah selesai dan para wartawan pun sudah meninggalkan area pers.
"Aku akan membawa Elena kembali ke mansion. Aku harap kalian tidak keberatan dengan hal itu" ucap Rachel.
"Tidak. Elena sudah menjadi menantu kalian bukan? Dan saya berharap kalian menjaga putri kami dengan baik" ucap Sandrina.
"Arthur!!" Albert menatap Arthur dengan wajah datar. "Jika sampai putriku kenapa-napa maka orang pertama yang aku habisi adalah dirimu" Arthur terkekeh pelan. "Kau tidak berubah"
"Dan kau Rafael, sekarang putriku adalah tanggung jawabmu. Jika sampai terjadi sesuatu padanya kau juga akan aku habisi" ancam Albert penuh penekanan. Ia masih belum percaya sepenuhnya pada menantunya itu. Ia tidak yakin pada Rafael apakah dia bisa menjaga Elena dengan baik atau tidak.
"Nyonya mobil sudah siap" Rachel mengangguk dan menyentuh bahu suaminya. "Kita harus pergi sekarang" Rachel dan Arthur berjalan lebih dulu masuk ke dalam mobil. Sedangkan Elena langsung menghambur memeluk kedua orang tuanya. Ini pertama kalinya ia jauh dari kedua orang tuanya dan tinggal di tempat yang asing baginya.
"Jaga dirimu baik-baik" Elena mengangguk saat Sandrina mengusap air mata yang jatuh di kedua pipinya. "Papa tidak meragukan putri papa. Aku yakin dia adalah wanita tangguh seperti mamanya" ucap Albert membuat Elena terkekeh.
Setelah berpamitan pada kedua orang tuanya, Albert dan Elena masuk ke dalam mobil yang berbeda dengan Rachel dan Arthur. "Apa sudah selesai adegan menangisnya? Apa kita bisa jalan sekarang?" tanya Rafael sembari menghembuskan nafas panjang.
"Ck kau tidak merasakan apa yang aku rasakan" cibir Elena dan memandangi orang tuanya. Mobil mulai melaju memecah jalanan kota menuju kediaman William.
"Hanya pisah rumah. Kalian masih satu negara dan masih satu kota jadi bisa saling bertemu satu sama lain jadi gausah lebay" ucap Rafael dan mengejek wajah Elena yang basah karena air mata wanita itu.
"Oh ya? Jadi aku lebay?" tanya Elena sembari berkacak pinggang. Wanita itu siap melayangkan cubitan di seluruh tubuh Rafael agar pria itu tau rasa.
"Ya emang lebay" Rafael merotasikan bola matanya namun sedetik kemudian ia mengaduh kesakitan saat Elena benar-benar melayangkan cubitan di seluruh tubuhnya.
"Kau ini ya? Benar-benar kepiting. Sukanya mencubit orang" ucap Rafael heran bagaimana bisa papanya menemukan kepiting berwujud manusia seperti Elena.
"Wohoho tuan Rafael Erlando William si tukang marah-marah" ejek Elena sembari bersedekap dada. Ia lebih memilih memandangi jalanan kota dari pada wajah Rafael. Sang supir yang melihat interaksi keduanya hanya bisa menahan tawa. Ia tak berani menertawakan majikannya apalagi di hadapan mereka.
"Aku tau kau sedang menertawakan kami" ucap Elena dan memasang wajah garang pada sang supir. "Dia menertawakan kita?" tanya Rafael dan diangguki oleh Elena.
"Oh sudah berani ya? Mau menertawakanku? Hah? Jawab!!"
Nyalinya langsung hilang seketika saat diserbu oleh kedua majikannya itu. "Maaf tuan. Saya tidak bermaksud seperti itu"
"Lalu? Apa maksudnya?"
"Sudahlah kau ini mengoceh terus kalau dia tidak konsentrasi menyetir kita berdua bisa mati tertabrak" oceh Elena. Wanita itu membuang muka dan sudah malas berdebat lagi dengan dua pria di dalam mobil itu. Apa semua pria menyebalkan? Tapi Aaron tidak.
"Kali iki kau selamat. Tapi tidak untuk lain kali" ucap Rafael dan akhirnya ia membebaskan supirnya itu agar bisa fokus menyetir. Ia bersandar pada kursi dan memijat kepalanya yang terasa pening karena sedari kemarin ia harus berdebat dengan Elena. Wanita benar-benar menyebalkan. Datang secara tiba-tiba dan menjadi istrinya secara tiba-tiba pula.
"Di dunia ini masih banyak wanita lalu kenapa papa memilih orang seperti Elena untuk menjadi istriku" lirih Rafael meluapkan seluruh kekesalannya sedari kemarin.
"Kau membicarakanku?" Elena menoleh cepat membuat Rafael memasang senyum palsu. "Hah? Tidak. Buat apa aku membicarakanmu" ucap Rafael santai dan mengedikkan bahunya acuh.
"Telingaku tidak tuli"
"Kalau dengar kenapa harus bertanya Elena Kazira Anderson" ucap Rafael jengah. Gadis itu terus saja mengoceh. Jika bersamanya selama dua hari saja sudah membuatnya pusing lalu bagaimana kedepannya nanti? Mungkin dalam satu bulan kepala Rafael bisa-bisa copot.