Keegoisan istrinya, yang bersikeras menolak untuk hamil. Membuat Sam terpojok dengan permintaan neneknya. Satu sisi wanita yang dia cinta sepenuh hati menolak untuk hamil, satu sisi, wanita yang Sam cinta, yaitu nenek dan ibunya. Sangat menginginkan akan kehadiran penerus keluarga Ozage. Sam terpaksa menyetujui, untuk menikah lagi, demi membahagiakan neneknya dan ibunya.
Pernikahan kedua pun terjadi. Seorang wanita bernama Moresa Haya. Menjadi istri kedua Sam. Apakah Sam akan berpaling hati pada istri keduanya? Atau dia tetap setia dengan perasaannya pada Vania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Kamu Menang
Setelah keluar dari ruangan Arini, Vania melangkahkan kakinya, menuju ruangannya. Sesampai di depan pintu ruangan itu, dia menarik napas begitu dalam, lalu Menghenbuskannya perlahan. Jemarinya mulai meraih gagang pintu, dan sedikit memutarnya. Setelah pintu terbuka, tampak seorang gadis, tengah melakukan pekerjaannya.
Mendengar suara pintu yang terbuka, gadis itu menoleh kearah pintu.
"Nona Vania," sapanya.
Vania melemparkan senyuman manis pada asistennya itu. "Naz, satu minggu kedepan kamu cuti, kalau kamu mau pulang kampung, silakan, karena 1 atau 2 minggu ini, ada waktu kosong, kamu bisa gunakan untuk libur. Tapi, mungkin juga ... bisa lebih dari seminggu."
"Saya di pecat, nona?"
"Tidak. Tapi aku yang harus istrirahat, selesaikan saja pekerjaanmu, ini bonus buatmu, sekaligus ongkos taksi, untuk kamu pulang." Vania memberikan amplop kecil pada Nazla.
Sunggingan senyuman sangat jelas di wajah gadis itu, kedua matanya berbinar, melihat amplop itu. "Terima kasih, Nona." Kata-kata itu lolos begitu lepas, dari mulutnya.
Vania tersenyum dan mengangguk. "Tenang saja, gajih bulanan kamu, akan tetap saya transfer, walau saya sedang off, terima kasih juga, atas pelayanan kamu selama ini," ucap Vania.
Nanaz menganggukkan kepalanya begitu semangat. "Sama-sama, Nona," jawabnya.
"Hati-hati, sampai ketemu lagi nanti, aku pulang duluan."
"Iya, Nona."
Vania langsung pergi dari kantor itu, dengan langkah kaki yang gontai, dia terus melangkah menuju mobilnya. Vania menempatkan tubuhnya, di kursi mobil, tepat di belakang kemudi mobilnya. Dia menenggelamkan wajahnya pada setiran mobil.
"Kenapa kau bertindak seperti ini Sam! Kau tau, aku sangat mencintai dunia ini, kenapa kamu menggangguku?"
Merasa cukup puas menumpahkan kesedihannya, Vania segera menghidupkan mesin mobilnya. Perlahan mobil itu meninggalkan area perkantoran tersebut. Sepanjang perjalanan, pikirannya begitu kalut. Sama sekali tidak menduga, kalau banyak orang yang tidak suka. Namun, tidak berani bicara jujur padanya.
Sesampai di halaman rumah Sam, Vania memarkirkan mobilnya, dia menarik napas begitu dalam, mengehembuskannya perlahan. "Hanya Managerku, dan asistenku yang tahu, kalau aku fix berhenti, karena masyarakat bosan padaku. Bagaimana reaksi Sam, kalau aku bilang aku berhenti demi dia?" Gumamnya.
Vania mengumpulkan sisa energinya, mencoba memasang wajah ceria, berulang kali dia latihan tersenyum, sambil memandangi pantulan wajahnya pada kaca spion mobilnya. Dia menarik kedua sudut bibirnya.
Bermacam expresi dia lakukan, akhirnya dia merasa menemukan senyum yang nampak tulus. Vania langsung keluar dari mobilnya. Langkah kaki indahnya berjalan menapaki halaman rumah, hingga kaki indah itu berjalan memasuki teras rumah dan terus melangkah, hingga masuk kedalam rumah.
Rumah besar ini nampak sepi, Vania menrngok kesegala penjuru rumah itu, dari kejauhan, nampak Resa tengah berjalan menuju tangga.
"Hai Resa!" Sapa Vania.
Resa menghentikan langkahnya, dia memutar arah tubuhnya menghadap kearah Vania. "Nona Vania," sapa Resa kembali. Dia memberikan senyuman tulusnya.
"Mau kemana?"
"Ini, saya di suruh Nyonya antar potongan buah segar buat Tuan Sam, beruntung Nona kembali, saya takut masuk kamar Anda, Nona." Resa berjalan mendekati Vania, dia mendekatkan wajahnya ke sisi telinga Vania. "Tuan galak!" Bisiknya.
Vania tersenyum sendiri mendengarkan Resa. "Sudah kuduga, suamiku galak pada semua orang, kecuali aku," ucapnya begitu bangga.
"Sudah, ayoo ikuti aku," pinta Vania.
Resa berjalan mengekori Vania. Vania melihat seorang pelayan laki-laki, berjaga di depan pintu kamarnya. "Kau boleh pergi," seru Vania. Pelayan itupun pergi dari posisinya, setelah memberi hormat pada Vania.
Vania menghentikan langkah kakinya, tepat di depan pintu, dia memutar arah tubuhnya menghadap kearah Resa. "Sini piringnya, biar aku yang bawa, aku yakin, Sam belum memakai pakaiannya," ucap Vania.
Kedua bola mata Resa melotot mendengar ucapan Vania.
Dasar wanita tidak punya otak! Apa gunanya mengatakan hal itu padaku. Gerutu hatinya.
Sedang Vania, mengambil piring yang berisi potongan buah segar, dengan seringai senyuman yang menghiasi wajahnya, dia masuk kedalam kamar, tanpa memerdulikan reaksi Resa.
"Huh …." Resa menghembus napasnya. Perasaannya begitu lega. Dia berjalan meninggalkan tempatnya semula. Dia terus melangkah menuruni tangga. "Pasangan yang serasi," gumamnya, sambil menggelengkan kepalanya.
*****
Di dalam kamar.
Vania POV
Aku tersenyum melihat Sam masih berbaring di tempat tidur, kuletakkan piring yang berisi potongan buah, di nakas yang ada di samping tempat tidur kami. Perlahan kudekatkan wajahku pada wajahnya.
"Sayang …." Ucapku, manja. Sambil menghujani wajah tampan itu dengan ciuman.
Perlahan mata yang tadi berpejam begitu rapat, kini terbuka, terlihat sunggingan senyuman di wajahnya, saat matanya terbuka sempurna.
"Kamu menang sayang," ucapku.
"Menang apa?" Dia nampak heran dengan ucapanku.
"Aku meninggalkan karierku, hanya untuk kamu, demi kamu, karena aku mencintai kamu," rengekku, sengaja ku ucapkan dengan nada yang manja.
"Benarkah?" Dia nampak tidak percaya. Namun, wajahnya sangat ceria. Dia bangkit dan duduk menghadapku.
Aku mengagukkan kepalaku berulang kali. Dia langsung memelukku begitu erat.
"Terima kasih sayang," ucapnya.
Sebenarnya aku malas bersandiwara. Biarlah … anggap saja latihan selama liburan. Ku tarik kedua sudut bibirku, hingga mengukir senyuman yang manis.
"Sayang … ini, ibu suruh kamu makan buah segar, makan ya …." Pintaku, manja.
Dia mengangguk dan tersenyum. Ku ambil piring yang berisi buah segar, ku pandangi wajahnya, dia masih tersenyum. Senyuman yang membuat wajah tampannya semakin sempurna.
Ku masukkan satu potongan buah kemulut, tapi hanya sebatas bibir, ku suapi dia dengan bibirku. Terlihat dia menggeleng, dan langsung menerima suapan buah tersebut. Bukan hanya buah yang berpindah kemulutnya, namun saliva kami juga saling berpindah.
Tangannya mulai nakal, menelusuri setiap jengkal bagian perut dan pinggangku.
"Aku bahagia, ini yang selama ini kutunggu, bersamamu, bermanja denganmu," ucapnya. Tangannya berpindah lalu membelai rambutku begitu lembut.
Ku ulangi lagi step yang sama, namun kali ini dia nakal, ku balas perbuatan nakalnya, hingga butuh waktu lama untuk menghabiskan sepiring yang berisi potongan buah itu.
Tokkk! Tok tok!
Suara ketukan pintu, membuat aktivitas hangat kami terhenti. Dia langsung berdiri dan berjalan kearah kamar mandi, karena dia masih tidak mengenakan apapun. Sedang aku, segera melangkah menuju pintu. Membukakan pintu kamar.
Setelah pintu kubuka, tampak ibu Sam berdiri di depanku.
"Bagaimana keadaan Sam?" Di langsung bertanya.
"Baik, bu." Jawabku.
"Buah yang tadi, dia makan?"
"Iya bu, sudah dia habiskan."
"Ya sudah, kalau dia sudah baikan, kita tidak perlu ke Rumah Sakit." Ucapnya.
Aku hanya mengagukkan kepalaku.
"Ya sudah, ibu pergi, kalau ingin pergi, bilang ke ibu, biar ibu jaga Sam," ucap ibu.
"Aku tidak akan pergi bu, untuk beberapa bulan kedepan, aku hanya bersama Sam."
Senyuman di wajah wanita paruh baya itu makin lebar. "Ya sudah ibu permisi, oh ya, semoga betah, kamu wanita pekerja keras, pasti berdiam diri, di rumah akan membuat kamu bosan." Ucapnya.
Ucapan wanita ini sangat benar. Tapi, aku hanya menyunggingkan senyuman terindahku. Sedang dia terus berjalan menuju kamarnya.
Aku ingin menutup pintu kamar.
"Nyonya Ramida!" Teriakan itu membuatku batal menutup pintu, terlihat, kepala keamanan rumah ini, berlari kearah ibu Sam. Aku sengaja berdiri di depan pintu, untuk melihat keadaan apa itu.
"Pertemuan di Villa perkebunan, bulan ini kan Nyonya?" Terlihat dia memberikan beberapa lembar berkas pada ibu. Mendengar bulan apa sekarang, membuatku teringat sesuatu.
Aku langsung masuk, menutup pintu kamar, dan segera berjalan cepat menuju ruang ganti pakaian. Dengan perasaan kacau, segera tangan ini mengacak-acak tempat di mana kertas laporan itu tersimpan.
Tubuh ini langsung merasa gemetaran, saat melihat tulisan yang ada pada kertas yang aku cari. "Akkkkk!!!" Teriakku. Aku menumpahkan semua tenagaku untuk berteriak.
***
Bersambung ....
****
Ini karya yang paling menyedihkan, karena Author gak bisa up banyak bab, jujur, andai bisa Author juga mau gereze. Namun, saat ini, benar-benar tidak bisa.
Mohon maaf ya, atas banyaknya kekurangan dalam story ini.
Terima kasih, karena telah menjadi bagian dalam karya ini, aku tanpa kalian tidak berarti apa-apa. 🤗🤗🤗🤗🤗
pokoknya serba ga masuk akal
seolah2 semua org suka merengek
bukannya merengek itu bearti seperti manja