Mia Hazel dan Benjamin menikah karena terpaksa. Saat itu Benjamin memiliki tunangan yang dicintainya. Dan Mia hanya ingin menyelamatkan usaha ibunya.
Walaupun sudah menikah, Mia memilih menjalankan pekerjaannya tanpa mempedulikan suaminya. Benjamin juga tetap bertemu kekasihnya tanpa mempedulikan istrinya.
Mereka berpura-pura tidak saling mengenal ketika diluar rumah dan kembali ke rumah seperti orang asing.
Ibu Benjamin telah merancang berbagai situasi dan kondisi agar mereka bisa menyatukan perasaan tapi semuanya percuma.
Semua itu berubah ketika Benjamin mulai menaruh curiga pada istrinya yang sering tidak pulang karena pekerjaan. Benjamin menjadi sangat marah saat menemukan Mia bersama laki-laki lain.
Akankah mereka menjadi pasangan suami istri yang sebenarnya. Atau haruskah mereka berpisah demi kebaikan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Pulang dari kantor, Benjamin tidak melihat bayangan Mia di rumah ataupun kamar. Ayah dan ibunya juga tidak ada di dalam kamar mereka.
"Tuan dan Nyonya pergi ke rumah Non Mia sejak petang tadi. Apa saya harus menyiapkan makanan?" tanya pembantu yang ada di rumah Benjamin.
"Tidak perlu" jawabnya lalu pergi ke kamarnya. Kamar yang selama ini lebih sering ditiduri oleh Mia itu. Kenapa orang tuanya pergi ke rumah Tante Kathy? Bukankah perceraian mereka akan segera terjadi tiga hari lagi?
Benjamin meletakkan tubuhnya di atas ranjang dan merasakan hangatnya selimut. Bukan, bukan kehangatan ini yang dirasakannya beberapa hari yang lalu. Kehangatan aneh yang membuat seluruh tubuhnya merasakan getaran hebat. Kehangatan yang membuat matanya melihat kecantikan dan kesempurnaan seorang perempuan. Kehangatan ... yang bahkan tidak dirasakannya dari Olivia.
"Gila!!!" teriak Ben ketika dia mulai meraba-raba sesuatu di pikirannya. Semua hanyalah nafsu karena Olivia tidak ada di sampingnya. Semua hanyalah nafsu tak berarti pada seorang perempuan yang juga tidak berarti.
Tapi, kenapa rasa kulit putih yang hangat itu masih nyata di ujung jarinya? Dan kenapa bibirnya selalu menuntut untuk membuka seakan membayangkan sesuatu yang kemarin terjadi, terjadi lagi? Sungguh aneh. Apa sebenarnya yang terjadi padanya? Tidak boleh. Sebaiknya dia mandi dan meluruskan pikirannya.
Berada di dalam kamar mandi cukup lama, membuat Benjamin merasa segar. Ketika keluar dari kamar mandi, dia melihat seorang perempuan yang membuatnya berpikir keras selama satu hari ini. Rambut sebahu yang bergerak mengikuti gerakan pemiliknya. Gaun pendek di atas lutut berwarna krim menunjukkan lekuk tubuh Mia yang tidak berlebihan tapi sangat sesuai dengan usianya. Mempesona. Kata itu tiba-tiba saja muncul di kepala Benjamin saat melihat Mia di depan matanya.
"Oh, kak Ben sudah pulang? Maaf, aku akan segera membereskannya"
Lemari terbuka, baju berserakan di atas ranjang dan koper besar ada di samping Mia tidak diperhatikan oleh Ben sama sekali sejak keluar kamar mandi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Benjamin lalu mengeringkan rambutnya.
"Karena kita bercerai tidak lama lagi, Tante Laura dan paman Jon serta ibu sepakat untuk menyuruhku kembali pulang. Selamat ... akhirnya kak Ben dan Olivia akan segera bersama"
Tidak tahu kenapa, Benjamin merasa tidak suka dengan ucapan Mia. Bercerai? Pindah? Tidak, ucapan selamat Mia karena kebahagiannya membuatnya kesal.
"Kau tidak akan pergi dari sini sampai perceraian benar-benar terjadi" kata Ben tenang lalu melempar handuknya ke arah tumpukan baju Mia.
"Apa?" Mia tampak terkejut dengan perkataan Ben saat ini. Bukan hanya Mia yang terkejut karena itu, Benjamin juga sebenarnya tidak percaya dengan ucapannya sendiri.
"Kau akan tetap disini sampai perceraian terjadi. Apa kau tidak sabar untuk menjalin hubungan dengan laki-laki lain?" Sekali lagi, Benjamin tidak percaya telah mengatakan hal ini. Padahal biasanya dia sangat acuh kepada istrinya. Tapi ... tidak untuk malam ini. Kehadiran laki-laki yang selalu ada di dekat Mia mengusiknya. Entah apa yang dirasakannya sekarang, Ben tidak peduli. Selama perempuan ini menjadi istrinya, dia boleh melakukan apapun pada Mia.
Mia tentu saja terlihat tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Selama ini, laki-laki yang menjadi suaminya tidak pernah mempedulikannya sama sekali. Dan Benjamin ingin Mia tetap tidur di kamar ini? Aneh sekali, pasti seperti itu dalam pikiran Mia.
Tidak mempedulikan perkataan Ben, Mia tetap melanjutkan kegiatannya mengemas baju. Hal itu membuat Ben menjadi sangat marah, tidak tahu kenapa. Dengan gerakan cepat, Benjamin mengangkat koper Mia dan melemparkannya ke arah pintu kamar. Hanya dalam satu kali lempar, koper itu remuk di satu sisi dan membuat Mia terlihat sangat terkejut sampai menutup telinganya.
Benjamin yang masih bertelanjang dada setelah mandi segera mendekat ke arah Mia dan mendorong tubuh kecil itu ke arah ranjang. Tangan Mia memang terlihat kecil dan lemah, tapi sanggup menahan dada Benjamin agar tidak mendekat.
"Tidak!!!" teriak Mia lalu berusaha menjauhkan Benjamin dari tubuhnya. Percuma, ketika Benjamin telah tersulut, maka tidak ada yang dapat menahannya lagi. Dengan kedua tarikan kuat, gaun Mia terlepas begitu saja dan memperlihatkan pakaian dalam berwarna hitam yang hampir tidak menutup semua dadanya. Seberkas senyum terlihat di wajah Ben sebelum dia menenggelamkan wajahnya di leher Mia. Rintihan bercampur kemarahan keluar dari mulut Mia, semakin membuat Benjamin bersemangat dan segera melepas sisa pakaian yang menempel di badan Mia.
Badan Mia memang kecil dan terlihat lemah. Tapi kekuatannya yang didapat dari bekerja paruh waktu selama ini tidak bisa dianggap remeh. Tidak tahu mendapat kekuatan dari mana, Mia berhasil mendorong Benjamin dan melepaskan diri. Benjamin terjatuh dari ranjang dan Mia memanfaatkan hal itu untuk berlari ke kamar mandi.
Tentu saja Benjamin tidak diam saja setelah jatuh dari ranjang. Dia menyusul Mia dan berhasil masuk ke dalam kamar mandi dan memaksa Mia melayaninya sebagai seorang istri. Teriakan, desahan dan darah yang mengalir dari luka cakar Mia tidak lagi dirasakan oleh Benjamin ketika mereka bersatu. Suara napas Mia yang masih berpacu membuat Benjamin mempercepat gerakannya. Di bawah air yang jatuh dari shower, akhirnya dia merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Berhubungan dengan Mia ternyata membuatnya sangat puas . Mia berdiri ketika Ben melepasnya dan menghadap ke dinding. Menyembunyikan semua bagian tubuh yang kemerahan karena ******* Benjamin.
"Ini kewajibanmu sebagai istriku. Apa kau marah?" Benjamin tidak berniat melepaskan Mia pergi. Dia menahan tubuh istrinya dan menempelkan tubuhnya kembali pada kulit yang halus itu.
"Jangan sentuh aku!!" teriak Mia lemah, mungkin karena terlalu terkejut dengan kejadian yang baru saja terlewati.
"Aku sangat berhak menyentuhmu, Mia. Kau masih istriku sampai kita bercerai nanti" Ben kembali mencium tengkuk dan memeluk tubuh Mia yang sudah menyerah.
"Apakah semua ini menyenangkan untukmu karena terasa seperti selingkuh dari Olivia?"
Ben terhenyak karena perkataan yang keluar dari perempuan yang selama ini tidak pernah diperhatikannya ini. Olivia, sejauh mana Mia mengetahui tentang kekasihnya itu? Perempuan yang dipeluknya itu berbalik secara perlahan.
"Aku akan melupakan apa yang terjadi saat ini. Hal ini tidak pernah terjadi" Kata-kata Mia berhasil membuat Benjamin melepasnya. Mia keluar dari kamar mandi meninggalkan Benjamin yang tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Berselingkuh? Perempuan bodoh. Akulah yang berselingkuh dengan Olivia selama kita menikah. Dan wajah tenang yang mengatakan bahwa semua ini tidak pernah terjadi membuat Benjamin kesal. Apa Mia tidak merasakan apapun ketika mereka melakukannya tadi? Desahan dan rintihan itu adalah tanda Mia puas, kan? Atau semua itu hanya sesuatu yang tidak berarti bagi Mia?
Semua pertanyaan itu membuat Benjamin kesal lalu keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Mia sudah memakai baju kembali lalu mengeringkan rambutnya. Cantik ... cantik sekali. Mia sangat cantik.
tp kl ga gini ga ada cerita yeeee... hehehehee...
tp yg bodoh disini gq cm ben tp ortunya jg.. duit dihambur2in kok diem aja
plissla