[Proses Revisi]
Empat orang gadis memiliki kemampuan yang semua orang tidak miliki, melihat mahluk halus? melihat masa depan? melihat masalalu? merasakan aura disekitar? Mengerikan bukan? Tentu saja. Siapa yang baik-baik saja ketika memiliki kemampuan tersebut.
Kadang melihat sesuatu yang mengerikan itu sangat melelahkan.
Tapi semua itu membaik ketika mereka bertemu dengan Kakak senior di sekolah barunya, memiliki aura yang notabenenya mereka butuhkan selama ini.
Bagaimana kisah cinta mereka dan kisah mereka dengan para mahluk tak kasat mata?
On IG: @ry_riuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TABRAK LARI
Setelah kejadian semalam mereka semua langsung memarahi Shila yang di balas hanya dengan cengiran seperti wajah tanpa dosa.
Sekarang mereka sedang berada dibelakang rumah Echa lebih tepatnya taman, dengan kolam ikan diinggir tempat duduk dan kolam renang yang tidak terlalu besar. Mereka menyantap sarapannya di taman, ingin udara segar setelah kejadian malam tadi.
"Udah ini mau ngapain?" tanya Echa.
"gimana kalau lari aja muterin komplek." Saran Hanin.
"boleh juga, udah lama ga peregangan." sahut Ivy.
"Aira mau ga?" tanya Echa.
"mau, tapi Aira ga bawa baju lari." jawab Aira.
"Kakak punya baju anak kecil, tapi buat anak laki-laki, siapa tau ada yang muat buat Aira." Ujar Echa.
"Kak caca punya adik laki-laki, mana?" tanya Aira.
"Bukan, keponakan kakak, waktu itu pernahjtinggal disini, tapi disuruh pulang sama om, tante kakak, katanya harus sekolah." jawab Echa sambil tersenyum.
"Aira masih kecil! ga boleh sayang-sayangan." Ujar Ivy.
"Aira cuman nanyain aja kak vivi!" rengek Aira.
"Eh tapi kak caca kalau dia kesini kasih tau Aira ya." Kata Aira sambil menunjukan deretan giginya.
"baru juga di kasih tau ni anak." sahut Hanin sambil mencubit pipi Aira.
"sakit.." kata Aira sambil mengusap pipinya yang memerah.
"udah ayo, kapan jadinya kalau gini." ujar Echa.
"ayo kak, sama Aira aja." Kata Aira sambil menarik tang Echa.
Mereka semua bersiap-siap untuk lari pagi mengelilingi komplek dengan penuh semangat.
Beberapa menit berlalu, mereka telah selasai mengganti bajunya, Hanin dan Ivy meminjam baju Echa sedangkan Aira memakai baju keponakan Echa yang sangat pas dan lucu dipakai Aira.
"Lets goo!!" teriak mereka.
Mereka lari santai sambil diselingi canda tawa receh mereka.
"kita langsung ketaman deket sini aja ya, cape banget" Ujar Ivy yang sudah ngos-ngosan.
"belum juga seberapa" sahut Hanin.
"Vivi jarang olahraga jadi kek gini deh." Kata Ivy sambil mengusap keringatnya
"yaudah ayo ke taman aja, kasian Aira kalau dibawa jauh-jauh." Ujar Echa sambil menggandeng tangan Aira.
"Iya Aira cape, Aira pengen es krim lagi." jawab Aira yang sudah seperti kepiting kepanasan.
Mereka semua pergi ketaman untuk beristirahat sejenak sambil membeli minuman dan cemilan.
Mereka duduk disalah satu kursi taman yang kosong, sambil memakan cemilan.
"kak bara.." ujar Aira dalam hati, melihat kakaknya di salah satu bangku taman.
"tapi perempuan jahat itu mana ya?" tanya Aira bermonolog.
"Aira.." panggil Echa.
"e-h ii-y-aa kenapa kak caca?" tanya Aira.
"kenapa ngelamun?" tanya Echa.
"itu kakak Aira." jawab Aira sambil menunjuk seseorang yang sedang duduk dibangku taman.
Echa menyipitkan matanya untuk mengetahui wajah orang itu, Echa seperti pernah melihat postur tubuh seperti itu, tapi siapa, Beberapa menit Echa menyipitkan matanya belum juga dapat mengenali wajah itu, namun sudah ada perempuan cantik bak bidadari yang turun dari langit, bergelayut manja ditangan orang itu.
"itu perempuan jahatnya." Ujar Aira menyembunyikan wajahnya dibalik punggung Hanin.
"Ca, kayanya ada yang aneh, Hanin bisa ngerasin aura itu, pantesan aja Aira takut." Sahut Hanin sambil meneliti setiap tubuh wanita cantik itu.
saat Echa memfokuskan dirinya, dia melihat mahluk besar, seluruh tubuhnya berwarna hitam, mempunyai taring yang sangat panjang dan mata yang memerah, sedang menempel di badan wanita itu.
"pantesan aja Aira takut." ujar Ivy yang sejak tadi menggenggam tangan Echa.
"Aira mau pergi aja, Aira takut." Sahut Aira masih bersembunyi dibalik punggung Hanin
"Tapi itu kakak Aira gimana? siapa tau dia lagi nyari Aira." tanya Echa.
"Aira gamau, Aira takut." Ujar Aira yang langsung berlari meninggalkan taman itu.
"Airaaaaa" teriak Hanin, Echa dan Ivy bersamaan.
"Engga!! Aira takutt." Teriak Aira yang masih berlari tanpa melihat kearah jalanan.
"Airaaaa berhentii!! ada mobil." teriak Echa sambil berlari kearah Aira.
"Kak caca!!!" teriak Aira.
BRUGHH..
Terdengar suara yang sangat keras, seperti orang yang terpental dan mobil itu pergi.
"CACA, AIRAA!!" Teriak Hanin dan Ivy panik.
Mereka melihat kejadian itu secara langsung, Echa menyelamatkan nyawa Aira. Mereka semua langsung berlari kearah Echa dan Aira.
"Aira gapapa kan?" tanya Hanin sambil menepuk pipi Aira pelan.
"Aira gapapa ka" jawab Aira terbata, karena masih shock dengan kejadian tadi.
Hanin yang mengetahui Aira shock itu langsung memeluk Aira, untuk sekedar menanangkannya. meskipun ada luka ditangan dan kaki Aira.
"Caa kamu gapapa?" tanya Ivy sambil membaringkan kepala Echa dipangkuannya.
"Caca gapapa, Aira baik-baik aja?" tanya Echa terbata dengan darah yang mengalir di kening dan hidungnya.
"Aira baik-baik aja, Caca tahan sebentar ya, jangan tutup matanya." Jawab Ivy panik.
Echa hanya tersenyum manis mendengar bahwa Aira baik-baik saja. Namun, pandangan Echa sedikit demi sedikit mulai kabur.
"Kak baraaa.." Teriak Aira yang langsung memeluk Bara.
"Aira gapapa?" tanya Bara panik.
"Aira gapapa, tapu kak Caca." Jawab Aira sambil menangis, Bara langsung melepaskan pelukan Aira.
"Caaa." Panggil Bara sambil memegang tangan Echa.
Echa tidak merespon panggilan dari Bara, jujur saja kepalanya sangat pusing dan matanya sudah tidak kuat lagi untuk dibuka.
"Caa, bangunn..kamu baik-baik aja?" tanya Bara panik.
"Airaa.." panggil Echa lemah
"Aira disini kak, kakak harus kuat ya, Aira bakalan ada sama kakak." Sahut Aira sambil memeluk Echa.
"Kak Bara bawa mobil?" tanya Hanin.
"nih." ujar Bara sambil memberikan kunci mobilnya.
Hanin langsung berlari, untuk mengambil mobil Bara.
Tidak lama kemudian Hanin langsung datang menggunakan mobil milik Bara.
"Biar Kakak yang gendong." Ujar Bara panik, Ivy langsung menganggukkan kepalanya.
"Bara!! kamu apaan si orang ga kenal juga, lepasin dia!!" Bentak wanita yang bersama Bara.
"Dia butuh pertolongan." Kata Bara dengan penuh penekanan.
"Kenapa harus kamu? Ga temen-temennya aja?" tanya wanita itu sambi mendelik pada Hanin dan Ivy.
"Diem!! pulang!!" bentak Bara karena wanita itu menghalangi pintu masuk mobil Bara.
"Tapii." ujar wanita itu yang langsung di dorong oleh Aira.
"Minggir!" bentak Aira.
Aira langsung masuk kedalam mobil di kursi belakang di susul dengan Bara sambil menggendong Echa yang masih setengah sadar. Bara menjadikan pahanya sebagai bantalan untuk Echa, meski darah mengalir dikeningnya. sedangkan Aira menjadikan pahanya untuk kaki Echa yang terkilir. Ivy duduk di depan bersama Hanin.
"Ca kuat ya, bentar lagi." Ujar Ivy sambil menangis melihat kearah Echa. Echa hanya tersenyum manis.
Menandakan semuanya akan baik-baik saja, meskipun kepalanya sangat berat dan pandangannya yang mulai menggelap.
Hanin langsung melajukan mobilnya sangat kencang.
setelah 3 thun lalu aku baca 3 kali, tahun ini baca lagi yng ke empat saking bagusnya ni cerita 😍😍
di baca deh, di jamin bakalan nagih 🥳👍
saking suka buat nama panggilan jdi caca🤭
but thanx ya.....lanjut ghostvilla......bye²
Othorr TANGGUNG JAWAB!!!😭😭😭😭
di online pengen ad yg jual tp semua nihil
hbsnya greget sma lnjutnn si teror
ini ulng baca dr awal terus tp tenag gl bosan" kok