NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:22
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keempat

Anya menggigit bibirnya, menahan air mata yang kembali mendesak keluar. Ia merasa seperti bidak catur yang sedang dimainkan oleh orang lain. Ia tidak punya pilihan. Ia tidak punya suara.

Bram, yang sedari tadi hanya diam, akhirnya membuka suara. "Anya, Ayah tahu ini berat untukmu. Tapi, Ayah mohon, pikirkanlah baik-baik. Ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan keluarga kita."

Anya menatap ayahnya dengan tatapan kosong. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia merasa sendirian dan putus asa.

"Ayo, kita pulang," ucap Bram sambil berdiri dan menarik tangan Anya. "Kau butuh istirahat."

Dewi mengikuti mereka dari belakang dengan tatapan sedih. Ia tahu betapa hancurnya hati Anya saat ini. Tapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa berharap yang terbaik untuk putrinya.

Di dalam mobil, Anya hanya diam menatap keluar jendela. Pikirannya kacau dan hatinya penuh dengan kebimbangan.

Sesampainya di rumah, Anya langsung berlari menuju kamarnya dan mengunci pintu. Ia menjatuhkan diri ke tempat tidur dan menangis sejadi-jadinya.

Di ruang keluarga, Dewi mencoba berbicara dengan Bram, berharap suaminya itu mau mendengarkannya. "Mas, apa tidak ada cara lain? Kita batalkan saja perjodohan ini," pintanya dengan suara lirih.

"Kau bicara apa, Dewi?!" bentak Bram, matanya memerah. "Kalau kau bisa melunasi hutang perusahaan, aku akan batalkan perjodohan ini detik ini juga!"

"Tapi, Mas, jangan korbankan Anya!" Dewi memohon dengan air mata berlinang. "Mas tahu sendiri kondisi pria itu. Anya tidak akan sanggup!"

Bram tertawa sinis. "Sanggup atau tidak, bukan urusanmu! Yang penting perusahaan ini selamat!" bentaknya. "Lagipula, dia akan mendapatkan semua yang dia inginkan. Uang, kemewahan, dan kehidupan yang nyaman. Apa lagi yang dia inginkan?"

Dewi menggelengkan kepalanya dengan sedih. "Kamu sudah berubah, Mas," ucapnya lirih. "Kamu tidak lagi peduli pada kebahagiaan anak kita."

"Diam kamu!" bentak Bram. "Jangan sok tahu tentang perasaanku!"

Dewi terdiam, tidak berani lagi membantah suaminya. Ia tahu, Bram sudah dibutakan oleh uang dan kekuasaan. Ia tidak mungkin bisa mengubah pikirannya.

Sementara itu, di balik pintu kamarnya, Anya mendengar jelas setiap kata pertengkaran kedua orang tuanya. Keputusasaan semakin mencengkEram hatinya.

"Bagaimana cara membatalkan semua ini?" bisiknya di sela isak tangisnya. "Apakah ini memang takdirku? Ataukah ini hukuman atas dosa-dosaku?"

Malam ini terasa begitu kelam bagi Anya. Tangisannya menjadi saksi bisu betapa ia menolak perjodohan yang memaksanya merelakan kebahagiaan.

Tubuhnya remuk redam, pikirannya berkecamuk, dan hatinya hancur berkeping-keping. Ayahnya... pria yang dulu begitu menyayanginya, kini tampak seperti orang asing.

.

.

.

.

Anya membuka mata keesokan harinya, matanya sembab, wajahnya pucat pasi, dan bibirnya terasa kering.

Pagi ini terasa begitu berat. Telepon dari Bapak Pramudya semalam terus terngiang di benaknya, mengingatkannya akan pertemuan siang ini.

Anya merasa terlalu lelah untuk membuat keputusan. Haruskah ia menyerah dan memenuhi tuntutan mereka?

Anya bangkit dari tempat tidur dengan langkah gontai. Ia berjalan menuju kamar mandi dan menatap dirinya di cermin. Ia melihat seorang gadis yang lelah, putus asa, dan tidak berdaya.

"Aku tidak boleh menyerah," gumam Anya pada dirinya sendiri. "Aku harus mencari cara untuk keluar dari semua ini."

Anya mencuci wajahnya dan menyikat giginya. Ia berusaha untuk terlihat lebih segar dan bersemangat. Ia tahu, ia harus kuat. Ia harus bisa menghadapi Pramudya dan ayahnya.

Setelah selesai bersiap-siap, Anya keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan. Ia melihat ayahnya sedang duduk di meja makan sambil membaca koran.

"Selamat pagi, Ayah," sapa Anya dengan suara pelan.

Bram mendongak dan menatap Anya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Selamat pagi," jawabnya singkat.

Suasana di ruang makan terasa sangat tegang dan canggung. Anya tidak tahu apa yang harus ia katakan pada ayahnya. Ia merasa ada jarak yang sangat lebar di antara mereka.

"Anya..." Bram akhirnya membuka suara. "Ayah tahu ini berat untukmu. Tapi, Ayah mohon, pikirkanlah baik-baik. Ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan keluarga kita."

Anya menghela napas panjang. Ia tahu, ayahnya akan mengatakan hal itu. Ia tahu, ayahnya tidak akan pernah mengerti perasaannya.

"Anya sudah memikirkannya, Ayah," ucap Anya dengan suara yang lebih tegas dari sebelumnya. "Dan Anya sudah membuat keputusan."

Bram menatap Anya dengan tatapan penuh harap. "Keputusan apa?" tanyanya.

Anya menarik napas dalam-dalam. "Anya tidak akan menghadiri pertemuan siang ini," ucapnya. "Anya tidak akan menikahi Arga."

Mata Bram membelalak kaget. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Apa katamu?" bentaknya dengan nada marah.

Anya menatap ayahnya dengan tatapan yang lebih berani dari sebelumnya. "Anya tidak akan mengorbankan kebahagiaan Anya demi perusahaan," ucapnya. "Anya punya hak untuk memilih jalan hidup Anya sendiri."

Bram bangkit dari kursinya, wajahnya merah padam menahan amarah. "Kau tahu apa yang kau katakan, Anya?!" bentaknya, suaranya menggelegar di seluruh ruangan. "Kau tahu apa konsekuensinya jika kau menolak?!"

Anya menelan ludah, namun berusaha mempertahankan tatapan matanya yang berani. "Anya tahu, Ayah," jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar. "Anya tahu perusahaan akan bangkrut, Ayah akan kehilangan segalanya, dan hidup kita akan berubah drastis. Tapi, Anya tidak peduli. Anya tidak bisa hidup dalam pernikahan tanpa cinta. Anya tidak bisa mengorbankan kebahagiaan Anya sendiri."

Bram terdiam sejenak, mencoba menenangkan diri. Ia berjalan mendekat ke arah Anya, lalu meraih kedua bahu putrinya dengan erat.

"Anya," ucapnya dengan nada yang lebih lembut, namun tetap penuh tekanan. "Ayah mohon, jangan lakukan ini. Pikirkanlah baik-baik. Ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan kita semua."

Anya menatap ayahnya dengan tatapan iba. Ia tahu, ayahnya sedang sangat putus asa. Ia tahu, ayahnya sangat takut kehilangan segalanya.

"Ayah, Anya mengerti," ucap Anya dengan lembut. "Tapi, Anya juga punya hak untuk bahagia. Anya juga punya mimpi dan harapan. Anya tidak bisa mengorbankan semua itu hanya untuk menyelamatkan perusahaan."

Anya melepaskan tangan ayahnya dari bahunya, lalu menatap ayahnya dengan tatapan yang penuh dengan ketegasan. "Anya sudah membuat keputusan, Ayah," ucapnya. "Dan Anya tidak akan mengubahnya."

Bram terdiam, menatap Anya dengan tatapan kosong. Ia tidak tahu apa lagi yang harus ia katakan. Ia merasa telah kehilangan segalanya.

Tiba-tiba, Dewi datang dan memeluk Anya dengan erat. "Ibu bangga padamu, Sayang," bisiknya. "Ibu tahu, kau akan membuat keputusan yang tepat."

Namun, tatapan Bram menusuk keduanya dengan amarah membara. Ia tidak akan membiarkan ini terjadi. Dengan gerakan cepat, ia mencengkeram lengan Anya, menyeretnya keluar rumah.

"Mas! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan Anya, Mas!" Dewi menjerit histeris, berusaha menghentikan suaminya.

Bram tak menggubris. Cengkeramannya semakin kuat, membuat Anya meringis kesakitan.

"Ayah! Sakit, Ayah! Lepaskan Anya!" teriaknya pilu, namun Bram tetap tak bergeming.

Dengan kasar, Bram mendorong Anya masuk ke dalam mobil, membuat tubuhnya terhempas dengan keras.

Dewi menangis histeris sambil berusaha mengejar mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Ia tidak tahu ke mana Bram akan membawa Anya. Ia takut Bram akan melakukan hal yang nekat.

Di dalam mobil, Anya berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman ayahnya. Namun, Bram mencengkeram lengannya dengan sangat kuat sehingga Anya tidak bisa bergerak.

"Ayah, lepaskan Anya," ucap Anya dengan suara yang bergetar. "Anya mohon, jangan lakukan ini."

"Diam kamu!" bentak Bram dengan nada yang sangat marah. "Kamu sudah membuat Ayah malu. Kamu sudah menghancurkan masa depan keluarga kita. Sekarang, kamu harus bertanggung jawab!"

Anya terdiam. Ia tahu, tidak ada gunanya berbicara dengan ayahnya saat ini. Ayahnya sedang dibutakan oleh amarah dan ketakutan.

Anya hanya bisa pasrah dan berdoa agar ia selamat. Ia tidak tahu ke mana ayahnya akan membawanya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.

Setelah beberapa saat, mobil berhenti di depan sebuah gedung yang sangat mewah. Anya mengenali gedung itu. Itu adalah kantor Pramudya Angkasa.

"Turun!" perintah Bram dengan nada yang kasar.

Anya menolak untuk bergerak. Ia tahu, ayahnya akan menyerahkannya kepada Pramudya. Ia tidak ingin bertemu dengan Arga. Ia tidak ingin menikah dengan pria yang memiliki masalah kesehatan mental.

Bram menarik Anya keluar dari mobil dengan paksa. Ia menyeret Anya menuju pintu masuk gedung.

"Ayah, jangan lakukan ini," ucap Anya dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. "Anya mohon, jangan serahkan Anya kepada mereka."

Bram tidak menghiraukan permohonan Anya. Ia terus menyeret Anya masuk ke dalam gedung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!