Seperti kata pepatah, "Setelah kehilangan, barulah dia menyadari perasaannya." Itulah yang dialami oleh Revandra Riddle, pria berusia 30 tahun yang menikahi Airin Castela dalam pernikahan kontrak selama 5 tahun. Pernikahan mereka terjadi karena perjodohan; kedua orang tua Revan sangat menyukai Airin, sementara Erika Queen, kekasih Revan, justru menjadi sosok yang dibenci. Untuk itu, demi memisahkan mereka berdua, orang tua Revan menjodohkan dirinya dengan Airin.
Namun, selama pernikahan itu, Revan tak pernah memberi hatinya pada Airin. Ia terus berlaku kasar dan dingin, menunjukkan kebencian yang mendalam terhadap istrinya. Namun, takdir seakan ingin memberinya pelajaran; suatu hari, Revan mengetahui bahwa Erika, sang pujaan hati yang ia lindungi selama ini, ternyata telah mengkhianatinya. Detik itu juga, Revan tersadar akan kesalahannya. Airin yang selama ini bersabar dengan segala perlakuan buruknya, justru merupakan wanita yang setia dan mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gebi salvina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Airin menghela nafas lega setelah berbincang dengan Rama dan memutuskan untuk pergi. Dia berpamitan kepada Rama dengan senyuman, tidak ingin mengganggu pekerjaan pria itu lebih lama. Airin menyalakan mesin mobilnya dan mengarahkannya menuju rumah mamanya.
Saat tiba di rumah, Airin disambut oleh Siti, asisten rumah tangga yang sudah bekerja di sana sejak lama. "Non Airin, selamat datang," ucap Siti sambil membungkukkan badan.
"Airin saja, Mbok," balas Airin sambil tersenyum. Dia merasa tidak nyaman ketika seseorang bersikap terlalu formal padanya. "Mama ada, Mbok?"
"Iya, ada, Mbak. nyonya sedang di belakang bersama Tuan dan Non Kayla," jawab Siti. Airin mengangguk dan berjalan menuju ke belakang rumah.
Siti mengekor di belakangnya sambil berkata, "Ehm, nggak apa-apa kan kalau saya panggil Mbak saja, nggak enak rasanya memanggil Non."
Airin tersenyum lembut, "Tentu saja, Mbok. Panggil saja sesuka hati, yang penting kita saling menghormati." Siti mengangguk, senang dengan sikap ramah Airin.
Mereka sampai di taman belakang rumah, Airin melihat mamanya duduk di kursi taman sambil tertawa bersama ayah dan Kayla, saudara tirinya. Airin menghampiri mereka dengan langkah hati-hati, tidak ingin mengganggu kebahagiaan mereka. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar rengekan Kayla.
Kayla duduk di samping Farah merajuk, wajahnya tampak merah padam seolah-olah dia sedang menangis. "Mama, katanya mau kasih aku satu butik, kok sampai sekarang masih belum, sih ma?" ujarnya dengan suara manja. Airin berdiri di balik pintu, terdiam dan mematung, menatap mereka dari kejauhan. Hatinya merasa penasaran dan sedikit cemas, ingin mengetahui jawaban apa yang akan diberikan mamanya itu.
Farah, mamanya, menatap putri sambungnya dengan sabar dan mencoba untuk memberikan penjelasan yang masuk akal. "Nanti mama bujuk kakak kamu dulu, ya. Soalnya semua butik atas nama Airin, kalau kamu mau harus seizin dia dulu," ucap Farah sambil menepuk-nepuk lengan Kayla, berusaha menenangkan hati anak itu.
Wajah Kayla semakin merah dan air matanya mulai mengalir deras, dia merasa sangat diperlakukan tidak adil. "Gimana sih, ma? Dia kan sudah punya banyak warisan dari almarhum papanya, belum lagi ada pabrik tekstil," kata Kayla dengan suara yang semakin meninggi.
Airin yang mendengar pembicaraan mereka dari kejauhan, merasa hatinya semakin teriris. Dia tidak menyangka bahwa adik sambungnya itu bisa begitu egois dan tidak mengerti perasaannya. Butik itu memang di urus oleh mamanya, tetapi semua pakaian yang di jual disana merupakan produksi dari keluarga papanya, mamanya hanya menjual, mengoperasikan. Ada hak apa dia meminta butik itu, lain lagi jika mamanya membelikan menggunakan uang pribadi, mungkin dia tidak akan protes.
Farah menghela napas panjang, mencoba untuk meredakan emosi yang meluap-luap dari putri sambungnya. "Sabar ya, Nak. Nanti mama akan bicara dengan kakakmu dia tidak akan menolak jika tau kamu memintanya. " kata Farah sambil mengelus punggung Kayla yang sedang menangis.
Sementara itu, Airin berusaha untuk menyembunyikan rasa sakit yang ada di hatinya. Dia pun berbalik perlahan dan meninggalkan tempat itu, berusaha untuk mengumpulkan kekuatan dan keberanian untuk menghadapi kenyataan bahwa mamanya mungkin tidak akan pernah sama seperti dulu lagi.
Tak lama kemudian, Mbok Siti datang ke taman belakang dengan membawa nampan berisi cangkir teh hangat untuk Airin. Aroma teh yang harum tercium oleh Kayla.
"Lho, Mbok, itu minuman buat siapa?" tanya Kayla heran, karena selain mamanya, tidak ada yang minum teh di rumah ini. Papanya lebih suka kopi, sementara Kayla sendiri lebih suka jus.
"Oh, ini buat Mbak Airin, Non. Mbak Airin-nya kemana, ya?" tanya Mbok Siti sambil menatap ke sekeliling ruangan, mencari keberadaan wanita itu.
Farah terkejut mendengar bahwa Airin datang. "Airin datang ke sini, Mbok? Kapan?" tanyanya dengan nada bingung dan khawatir.
"Belum lama ini Nyonya, Mbak Airin datang, katanya ingin bertemu dengan Nyonya, " jelas Mbok Siti.
Mendengar itu, Kayla dan Farah saling bertukar pandang, penasaran dan bingung akan kedatangan Airin. Apakah ada sesuatu yang penting hingga wanita itu datang ke rumah mereka tanpa pemberitahuan terlebih dahulu?
'Apa Airin mendengar percakapan kami tadi sehingga dia langsung pergi begitu saja, tapi kenapa? 'Farah tidak habis pikir.
Sementara Kayla, memilih melihat ayahnya yang sedari tadi sibuk dengan laptop. Tidak peduli dengan Airin, apakah dia mendengarnya atau tidak justru itu bagus dengan begitu, janda itu dapat memikirkan, butik mana yang akan dia berikan padanya.
...
Dalam keadaan yang sangat terpukul Airin melajukan mobilnya menuju pemakaman umum tempat ayahnya dimakamkan. Matanya menatap nanar jalanan yang sepi, pandangannya kosong namun di sudut matanya terlihat air mata yang menggenang. Suara mesin mobil seolah menjadi latar musik yang menyayat hatinya.
"Aku tidak menyangka, kehilangan Papa, juga membuatku kehilangan sosok Mama. Meski raganya ada, tetapi cintanya telah hilang," gumam Airin. Setetes air mata meleleh di pipinya, menyiratkan rasa sakit yang mendalam. "Pa, Airin rindu Papa." Lirihnya. "Kenapa Papa pergi begitu cepat? Apakah aku begitu menyebalkan, sehingga Papa tidak tahan tinggal bersamaku?"
Mobil yang dikendarai Airin berhenti di depan gerbang pemakaman. Langkah kakinya terasa berat, seakan tak ingin mendekati tempat peristirahatan terakhir ayahnya. Namun, dia tetap melangkah maju, menapak tiap jalan setapak yang membawanya pada sebuah batu nisan yang tertulis nama ayahnya.
Airin berlutut di depan batu nisan tersebut, tangannya meraih bunga yang dibawanya dan meletakkannya di atas tanah. "Papa, bagaimana kabarmu di sana? Apakah Papa bahagia? Apakah Papa sudah tidak merasakan sakit lagi?" Airin menundukkan kepalanya, menghela napas panjang. "Aku sangat merindukanmu, Pa. Aku merasa sangat kehilangan tanpa kehadiranmu."
Dalam tatapan kosong yang terbalut kesedihan, Airin berbicara pada batu nisan ayahnya, mengungkapkan rasa rindu dan kehilangan yang tak terhingga. Di saat-saat seperti ini, Airin merasa sepi, kehilangan sosok ayah yang selalu melindunginya dan menyayanginya dengan tulus. Hati Airin semakin hancur ketika menyadari cinta dan kasih sayang sang mama tidak lagi pada dirinya, Airin merasa telah kehilangan sosok yang paling berarti dalam hidupnya.
Sudah satu jam lebih Airin berada di pemakaman papanya, dia meluapkan segala rasa yang selama ini dia pendam. Air mata mengalir deras seolah tak ada habisnya, tangisannya terhenti sejenak saat angin berhembus mesra mengayun hijab lebarnya. Airin melihat langit yang mendung, awan hitam berarak menggantung tebal di angkasa, sepertinya hujan akan segera turun. Namun, ia belum juga ingin beranjak dari sana, terlalu nyaman berada di sisi sang papa yang telah pergi untuk selamanya.
Dering ponselnya memecah keheningan, membuat Airin terkesiap. Dengan gemetar, ia mengambil ponsel dari dalam tasnya dan melihat siapa penelpon, ternyata mamanya lah yang menghubunginya. Wajah Airin berubah, raut wajahnya penuh kebencian.
"Untuk apa Mama menghubungiku? Cinta dan kasih sayang mana yang selama ini Mama berikan pada Papa dan aku? Hanya kebohongan dan perselingkuhan yang Mama berikan!" ujar Airin dalam hati, berusaha menenangkan diri sebelum menjawab panggilan.
Airin mengangkat telepon dengan suara bergetar, "Halo, Mama?"
Di seberang sana, suara mamanya terdengar lemah, "Airin, sayang... apa kamu tadi datang kerumah Mama? Mama tidak tau, dan kenapa kamu langsung pergi, bukankah mbak Siti bilang kamu mencari Mama? "
Airin menatap langit yang makin gelap, gerimis mulai turun, membasahi wajah dan bumi. Ia menghela napas panjang, berusaha menahan amarahnya, "Tidak ada yang penting, kok. Aku hanya tidak mau menggangu kebahagian Mama dengan anak dan suami Mama. Udah ya Ma, aku mau jalan lagi, jalanan macet. "
Mereka berdua memutuskan panggilan, dan Airin berdiri. Ia menatap makam sang papa, berjanji dalam hati bahwa dia akan hidup lebih baik, meski tanpa kasih sayang sang mama.
...
Kalau Kayla hidup menderita maka Rudi akan turut menderita kemudian Ibu kandung Airin sakit hati ,
Biar Rudi tahu bagaimana derita Airin setelah kehilangan ibu kandung ketika melihat Kayla menderita , Biar Rudi dan Ibu kandung Airin merangkak di kubur Ayah kandung Airin demi memohon ampun ,
Dosa kita dengan Allah SWT itu mungkin di ampun tapi dosa kita dengan manusia bagaimana mahu mohon ampun kalau orang itu sudah tidak lagi ada di dunia .
glirn ga undang aja,bru hboh...ga ush ngrsa jd krban deh,sdngkn klian jg tau spa pnjhatnya....iri blang dong,ga ush ftnah2 sgla.....tar airin bongkar kbusukan bpkmu sm emak tiri trcntamu....