NovelToon NovelToon
Gelang Bima

Gelang Bima

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Ilmu Kanuragan
Popularitas:15.3k
Nilai: 5
Nama Author: bang deni

satria baru mengetahui jika dirinya hanya seorang anak yang di temukan oleh kakek pandu saat berada di kaki gunung gede, saat kakek Pandu merasa ajalnya sudah dekat ia memberikan sebuah gelang yang ada bersama Satria langit saat ia menemukannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ratu Siluman

Baron mendekat ke arah mereka yang sedang berlatih kuda-kuda dan mencoba melakukan posisi yang sama dengan mereka. Untuk beberapa saat ia masih kuat bertahan, tetapi setelah memasuki menit ke-15, kakinya mulai gemetar tak kuasa menahan beban tubuhnya dalam satu posisi selama itu.

"Huh, capek banget," keluh Baron sambil duduk melungker, mencoba menghilangkan pegal di kakinya.

"Baru segitu udah capek? Lo kalau mau belajar tenaga dalam, minimal loe diam dalam posisi itu selama dua jam," celetuk Kuncoro.

"Haaaa! Dua jam!?" Baron berteriak kaget mendengar ia harus melakukan kuda-kuda selama dua lam baru bisa berlatih tenaga dalam.

"Iya, nanti baru loe bisa mulai latihan mengumpulkan tenaga dalam," timpal Gunardi.

"Aduh, kayanya gw nggak kuat. Besok gw tanya ke Sesepuh aja, belajar instan gimana caranya," ucap Baron.

"Kalau gitu ayo, aku antar ke tempat beristirahat," ajak Gunardi. Baron dan Sasmita mengangguk setuju.

Gunardi membawa mereka ke satu rumah yang berada di sisi selatan. Baron dan Sasmita beristirahat di sana, namun pikiran Baron tak tenang. Ia sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan Sesepuh lagi, ia ingin tahu cara mendapat kekuatan secara cepat. Jika berlatih seperti anak-anak keturunan Sutasoma, jelas ia harus menunggu bertahun-tahun untuk menjadi kuat.

Keesokan harinya, tepat jam delapan malam, Baron berjalan sendirian menuju gua tempat Sesepuh bersemedi. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rasa takut dan ambisi yang membara.

"Sesepuh, Baron datang menghadap," ucap Baron saat berada di mulut gua.

"Masuklah," suara berat dan dingin itu kembali terdengar dari dalam kegelapan.

Baron melangkah masuk. Di sana, Sesepuh Sutasoma sudah duduk bersila menunggunya dengan mata terpejam.

"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Sesepuh tanpa membuka mata.

"Aku ingin punya kekuatan, Sesepuh! Aku ingin membalaskan sakit hatiku!" sahut Baron dengan penuh penekanan.

"Kalau kau ingin yang alami, kau harus berlatih lama," sahut Sesepuh itu.

"Bagaimana dengan cara instan yang Sesepuh maksud kemarin?" tanya Baron lagi.

Sesepuh itu akhirnya membuka matanya. Tatapannya tajam seolah bisa menembus isi hati Baron.

"Dengar baik-baik. Di sekitar Gunung Lawu ini, terdapat alam lain yang menyatu dengan alam manusia, disebut Alam Bumantara atau lebih dikenal dengan Pasar Gaib. Di sana terdapat kerajaan-kerajaan yang dipimpin oleh makhluk-makhluk sakti yang sudah berlatih ribuan tahun."

"Kerajaan gaib?" tanya Baron penasaran.

"Ya. Dengan bersekutu dan mengabdi pada kerajaan gaib, maka kau akan mendapatkan kekuatan, tenaga dalam, dan kebal senjata tajam dalam sekejap mata," sahut Sesepuh itu menjelaskan.

Baron terdiam sejenak, lalu mengangguk mantap.

"Aku mau, Sesepuh!" ucapnya setelah teringat betapa hina dirinya diperlakukan dulu.

Sesepuh itu berdiri. Ia menggerakkan tangannya ke arah dinding gua yang kosong dan melafalkan mantra-mantra yang terdengar seperti gumaman angin malam.

Wusss... Wuuut...

Tiba-tiba udara di sekitar mereka berputar kencang. Penglihatan Baron menjadi kabur. Bau tanah dan bau hutan yang kuat tercium menusuk hidung. Saat pandangannya kembali jernih, mereka sudah tidak lagi di dalam gua batu, melainkan berada di sebuah jalan setapak di lereng Gunung Lawu yang asing.

Di hadapan mereka terbentang sebuah istana yang sangat megah namun menyeramkan. Bangunannya terbuat dari tulang-belulang yang disusun rapi dan kayu hitam legam. Di sekelilingnya menyala api unggun yang berwarna biru kehijauan, memberikan cahaya yang remang-remang namun anehnya cukup terang.

"Ini... ini di mana?" tanya Baron gugup.

"Ini adalah wilayah kekuasaan Ratu Penguasa Pasar Gaib. Tenang, selama kau bersamaku, mereka tidak akan berani menyentuhmu," jawab Sesepuh.

Mereka berjalan masuk melewati gerbang besar yang dijaga oleh dua sosok tinggi besar dengan wajah menyeramkan. Baron menelan ludah, keringat dingin mulai membasahi punggungnya.

Namun saat mereka sampai di ruang utama, Baron seketika terpana dan lupa akan rasa takutnya.

Di atas singgasana yang terbuat dari taring-taring binatang buas, duduk seorang wanita.

Wanita itu sangat cantik jelita. Kulitnya putih mulus, matanya tajam dan menggoda, bibirnya merah segar. Tubuhnya sangat montok, seksi, dan menggairahkan, terbalut kain jarik yang ketat memperlihatkan lekuk tubuh yang sangat memikat.

Baron yang terkenal 'mata keranjang' dan sangat menyukai wanita, seketika itu juga langsung terpesona. Jantungnya berdegup bukan karena takut, tapi karena gairah yang muncul tiba-tiba.

" Cantik sekali!!" batin Baron bersorak. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa makhluk gaib bisa secantik dan seseksi ini.

"Hi Hi Hi .. Eyang Sutasoma, sudah lama tidak berkunjung," suara wanita itu terdengar renyah, manja, namun memiliki wibawa yang sangat kuat.

"Aku membawa tamu, Nyai Ratu," ucap Sesepuh memberi hormat. "Pemuda ini ingin mendapatkan kekuatan darimu."

Ratu itu turun dari singgasana. Ia berjalan mendekati Baron dengan gerakan pinggul yang sangat menggoda. Wangi parfumnya sangat harum, semerbak memenuhi ruangan, membuat kepala Baron terasa pusing dan pikirannya menjadi kabur, hanya terbayang keinginan untuk memiliki wanita di depannya ini.

"Mengapa kau ingin punya kekuatan?" tanyanya sambil menyentuh dada Baron dengan jari telunjuknya yang lentik dan dingin.

"Aku ingin membalas dendam pada orang yang telah mematahkan kakiku, Ratu," jawab Baron sambil menatap lekat wanita cantik yang ada di hadapannya.

"Ikut dengan ku!"

Wanita itu berjalan menuju sebuah kamar yang berada di belakang singgasananya.

Baron mengikuti langkah wanita itu, tetapi matanya tak lepas dari tubuh yang bergoyang-goyang menggoda di depannya.

Sampai di kamar, wanita itu membuka kain yang menutupi tubuhnya. Melihat pemandangan itu, Baron yang tak bisa menahan nafsu langsung memeluk wanita siluman itu erat-erat.

"Aaaahhh..." wanita mendesah manja, membuat Baron semakin bernafsu. Ia menggendong wanita itu dan membawanya ke pembaringan.

Keduanya saling mencumbu. Selama lebih dari satu jam, kamar itu dipenuhi oleh desah nafas dan erangan penuh nafsu. Sesepuh Sutasoma yang mengantar hanya diam mendengar dari luar, hal seperti itu sudah biasa baginya.

Setelah hasrat keduanya tersalurkan, wanita itu memandang Baron dengan tatapan sendu.

"Kau kuat, aku suka. Tapi ingat, mulai saat ini tubuh dan jiwamu adalah milikku. Setiap malam Selasa Kliwon, kau harus melayaniku. Jika kau ingkar, aku akan mengambil jiwamu!" ucap wanita itu dengan nada mengancam namun lembut.

"Baik, aku bersedia. Berarti aku harus sebulan sekali kemari?" tanya Baron.

"Tidak perlu. Cukup kau sediakan kamar khusus saja di rumahmu, aku akan datang ke sana," jawab wanita itu.

"Lalu bagaimana dengan kesaktian itu?" tagih Baron tak sabar.

Wanita itu tersenyum, tangannya bergerak seperti mengambil sesuatu dari udara, dan secara ajaib di tangannya muncul sebuah cawan kecil.

"Minumlah ini, akan membuatmu menjadi sakti," ucap wanita itu sambil menyerahkan cawan yang dipegangnya.

Tanpa ragu sedikitpun, Baron meminum air itu sampai habis. Rasanya amis namun hangat dan langsung menyebar ke seluruh tubuhnya.

Blaaaaar!!

Dari dalam tubuh Baron meledak satu kekuatan energi yang besar, berpusat dari ulu hatinya.

Aaaaargh!!

Baron menjerit saat ledakan energi itu berputar mengitari tubuhnya. Tulangnya seperti diremas-remas, belum lagi kepalanya seakan pecah dimasukkan berbagai gerakan jurus silat dan ilmu hitam.

Heeeeaaah!!

Wuuut!!

Blaaaar!!

Karena tak tahan akan besarnya kekuatan itu, Baron berteriak dan memukul sebuah patung besi yang ada di sudut ruangan. Serangkai angin keras keluar dari telapak tangan Baron dan menghancurkan patung besi itu hingga berkeping-keping. Namun ia kaget, karena patung besi itu ternyata mengeluarkan jerit kesakitan layaknya manusia!

"Siapa yang menjerit, Nyai!?" tanya Baron heran. Jelas-jelas ia memukul sebuah patung besi, tetapi mengapa terdengar jeritan manusia?

"Hanya sisa jiwa saja, jangan kau hiraukan. Kini kau telah menguasai ilmu kesaktian, kau tinggal berlatih melancarkan gerakan saja," ucap Wanita itu.

Baron tak tahu jika patung itu dulunya manusia sama sepertinya, yang tergiur cara cepat dan bersekutu dengan Ratu Siluman Babi itu. Jika ia mati nanti, jiwanya akan dibawa ke kerajaan wanita itu dan dijadikan hiasan abadi.

"Terima kasih, Nyai," ucap Baron. Ia kembali mencumbu wanita itu. Dalam pandangannya, wanita ini sangat sempurna. Ia tak tahu jika di balik kecantikan yang memikat itu tersimpan wujud asli seekor babi hutan yang besar, ganas, dan buas.

1
Dewi kunti
bimo pamer sama Bimo piye Iki kang
Blue Angel: tandain kak biar nanti saya revisi
total 1 replies
Dewi kunti
mentang2 beli nasi Padang ada bila sambel nya
Dewi kunti
menundukkan kepala,kok kepalane ketinggalan siiiich kan gak bs cuci mata
Dewi kunti
heeeehhh jari nya main ketetangga,Hadi ya😤
Blue Angel: tangannya ke gedean jadi salah pencet 🤣🤣🤣🙏🙏🙏
total 1 replies
Dewi kunti
kaget dan terkejut😤😤😤😤😤
Dewi kunti
tak tunggu updatenya,Yen iso Ojo gur sak bab to🤭🤭🤭🤭
Blue Angel: sesok tak up date 2 bab, 🙏🙏🙏🙏
total 2 replies
Aman Wijaya
top top markotop lanjut terus Thor
Aman Wijaya
ajian lembu sekilan.mantab lanjut terus
Aman Wijaya
gaaas njeduk Thor lanjut
pendekar angin barat
semangat thor
Aman Wijaya
gaaas njeduk Thor
Aman Wijaya
mantab Baron bercumbu dengan babi montok dan semlohe . lanjut terus Thor
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos pooolll lanjut
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor
Aman Wijaya
top top markotop lanjut terus
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos lanjut terus Thor
Was pray
aji lembu sekilan milik satria macet kah? kok terkena peluru satria nya? jangan2 udah luntur... 🤣🤣🤣
Was pray
katanya satria udah punya aji lembu sekilan? kok takut sama kestol? 🤣🤣
Was pray: waduh.... parah tuh satria... harusnya dia udah menguasai baru diajarkan pada oranf lain. .Kan otomatis di sini posisi satria sebagai pelatih/guru. .. masak guru belum punya kemampuan di suatu bidang udah diajarkan pada orang lain... harus satria udah menguasai dengan sempurna baru diajarkan pada orang lain karena dia udah mengalami proses menguasai ilmu itu sampai berhasil jadi bisa membimbing jadi dan Bimo agar berhasil menyerap ilmu tersebut, dirinya masih awam mnau membimbing orang lain
total 4 replies
Aman Wijaya
jooooz jooooz gandos lanjut terus
Aman Wijaya
jooooz pooolll Thor 💪💪💪 terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!