satria baru mengetahui jika dirinya hanya seorang anak yang di temukan oleh kakek pandu saat berada di kaki gunung gede, saat kakek Pandu merasa ajalnya sudah dekat ia memberikan sebuah gelang yang ada bersama Satria langit saat ia menemukannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sasmita Sampai di Gunung Lawu
Saat mereka masuk ke dalam, mereka melihat Satria sedang duduk termenung di balkon lantai dua, matanya menatap ke atas langit
" Sat lo ga apa apa?" tanya Hadi
Satria membalikan badan menatap kedua sahabatnya
" loe tahu bahayanya keadaan tadi?" tanya satria, Bimo dan Hadi mengangguk
" semua karena Baron, dia orang berduit, bisa nyewa pembunuh bayaran, sekarang mungkin baru pembunuh bayaran kelas keroco, tapi entah nanti gmana" lanjut Satria berkata
" Terus apa yang harus kita lakukan?" tanya Hadi
" kita ga tau di mana bisa nyari pengawal, dan sepertinya walau kita bisa nyewa, mereka juga ga akan jaga kita 24 jam, kalau kata gw, kalian harus punya kemampuan sendiri buat melindungi diri sendiri " jawab Satria memberikan saran
" jadi kita harus punya kemampuan sendiri" gumam Bimo,
" Sat, ajarin gw " Hadi yang mengerti akan maksud Satria langsung meminta Satria mengajarinya
" gw juga, biar gw bisa kaya loe tadi, hiaaaat, blaaaar" bimo tak mau kalah ia berkata sambil memperagakan cara Satria bertarung tadi
" Ya udah, nanti malam abis Isya kita latiha pernapasan, pagi kita latihan fisik" sahut Satria
" Emang masih perlu latihan fisik?" tanya Bimo.
"Perlu, penting malahan, fisik itu ibaratnya wadah , kalau wadahnya kuat isinya juga pasti aman kalau wadahnya ga kuat di isi nantinya bocor?" jawab Satria menjelaskan
" Oh begitu rupanya" Hadi dan Bimo mengangguk mengerti
Selepas isya mereka berkumpul di atap Vila ( atapnya cor'an yah jadi datar), Satria menyuruh mereka duduk bersila dengan tangan di atas dengkul
" Konsentrasi!" seru Satria memulai latihannya
"Tarik napas enam detik...tahan tiga detik....hembuskan enam detik tahan lagi tiga detik"
Satria memberi arahan pernapasan Irama , di mana pernapasan itu bertahap bisa di naikkan dengan susunan 2 1 2 1, dan itu harus di lakukan berulang, semakin lama berlatih maka semakin besar tenaga dalam yang akan di simpan
Satria melatih mereka sampai jam sebelas malam, karena terlihat keduanya sudah mandi keringat
" Sekarang istrirahat dulu, jangan dulu mandi sebelum keringatnya ilang" ucap Satria
" lho emangnya kenapa?" tanya Bimo heran, badannya sudah lengket semua, tadinya dia pengen langsung mandi, mendengar ucapan Satria dia tak jadi mandi takut ada pengaruh dengan tenaga dalam yang ia kumpulkan
" Nanti panuan" jawab Satria singkat
" sialan, !" gerutu Bimo, ia turun dan menyalakan kipas angin agar keringat di tubuhnya segera mengering
Hadi ikut turun sambil tersenyum , sementara Satria tak ikut turun ia malah duduk bersila di atas sendirian
ajian Bengkeleng
Ajian lembu Sekilan
Ajian Tapak Sewu
Ajian Gembolo Geni
Rupanya Satria melihat ajian ajian yang di tinggalkan Eyang Resi Wiratama di Gelang Candra Kirana, ia bangkit berdiri dan turun ke bawah mengambil pena dan kertas, ia menuliskan ajian yang bisa di pelajari oleh mereka bertiga
Drrrrrt
saat sedang menulis hp satria bergetar, satria mengambil dan melihat siapa yang menelponnya
" Assalamualaikum, kak niken" Satria mengucap salam saat mengangkat teleponnya
" Waalaikum salam, Sayang aku kangen, besok aku kesana yah" niken langsung menjawab dengan ceria mendengar suara Satria
" wah kebetulan, gw nitip yah ," seru Satria senang selain ia juga kangen dengan Niken dia juga butuh beberapa barang untuk latihan
" Nitip apa, nanti aku beliin" sahut Niken
" Tolong beliin Bending yah, yang ukuran setengah kilo 6, sekilonya 6 dan yang dua kilo 6" ucap Satria.
"Bending? apa itu sayang?" tanya Niken yang memang tak tahu Bending itu apa
" Bending itu pemberat tangan atau kaki kak, beli di toko aneka aja kalau ga salah ada di sana" ucap Satria,
" Ooh pemberat, ok besok aku beliin, Dah sayang aku mau bobo biar ga kesiangan besok" Ucap niken dan menutup sambungan telponnya
" loe lagi nulis apaan?" tanya Bimo yang melihat Satria sedang menulis
" Loe berdua salin yang ini" Satria memberikan kertas yang bertuliskan Ajian Lembu sekilan
" Ajian lembu Sekilan? ini ilmu kejawen kuno?" tanya Hadi yang pernah mendengar tentang kesaktian ajian tokoh zaman dulu
" iya, ini kalau berhasil di amalkan tubuh kita mempunyai kekuatan menahan serangan dengan jarak sekilan, seperti namanya" tutur Satria menjelaskan
" Itu Puasa mutih dan Pati Geni maksudnya gimana, " tanya Bimo yang penasaran
" Puasa mutih itu, kita puasa 24 jam buka dan saurnya hanya makan nasi putih sama air putih, kalau mati geni itu tidak makan, minum, tidur, maupun terkena cahaya (api/sinar matahari) di tempat gelap, gunanya memadamkan hawa nafsu duniawi, mendekatkan diri pada Sang Pencipta, dan mencapai ketenangan batin." jawab Satria menerangkan puasa Mutih dan Pati Geni
" Ga boleh pake garam, kan sama putih juga" celetuk Bimo
" Ya ga boleh, cuma boleh nasi putih sama air putih aja"
" besok boleh mulai puasa?" tanya Hadi yang tak sabar, jelas ia ingin secepatnya menguasai ajian itu, selama ini dirinya selalu menjadi bulan bulanan Baron
" Nanti , kalian harus latihan fisik dulu, kalau sekarang jelas kalian tak akan sanggup menjalani puasa Mutih apalagi mati geni" jawab Satria , ia memang berniat memperkuat fisik mereka dulu baru akan mengizinkan mereka menjalani tapa Brata Ajian Lembu sekilan
" Jadi harus menguatkan fisik dulu baru bisa puasa untuk Ajian Lembu Sekilan" gumam Hadi
" Iya, sekarang istirhat, besok pagi kita latihan" ucap Satria . Hadi dan Bimo langsung masuk ke kamar sedangkan Satria kembali ke atap untuk menekuni ajian yang lain, selain ilmu bertahan ia juga harus punya ilmu untuk menyerang
Sementara itu Mobil yang membawa Sasmita dan Baron mulai memasuki kaki Gunung Lawu, namun untuk sampai Di lembah Candra Dimuka, mereka harus berjalan kaki, karena MObil hanya bisa sampai di base camp Cemara Kandang, beruntung Kuncoro mempunyai fisik yang kuat, dia menggendong Baron dari Base camp ke lembah Candra Dimuka yang berada di puncak gunung lawu
karena membawa Baron di punggungnya perjalanan itu menjadi lambat , mereka sering berhenti untuk beristirahat, Pak Sasmita yang tua napasnya tak kuat lagi, setiap setengah jam mendaki ia haruss beristirahat,
setelah hampir 7 jam mereka mendaki, kini di hadapan mereka kawah yang masih mengeluarkan asap berbau belerang terbentang
Kuncoro berjalan ke araj sebuah tebing, ia melihat ke sekeliling, dan saat di lihatnya tak ada siapapun di sana selain mereka bertiga, ia menekan salah satu batu yang menonjol di dinding tebing
Drrrrrt
terdengar suara gesekan keras, dan di tebing itu satu pintu terlihat
" Kuncoro!?" dari pintu itu dua sosok pemuda keluar dengan tombak di tangan mereka, mereka kaget dan segera menegur Kuncoro yang mereka kenal
" Gunardi, bagaimana kabar kalian, aku membawa orang untuk berobat pada sesepuh , kami di beritahu ketua Harya" jawab Kuncoro
" ayo masuk, biar aku antar ke sesepuh " ucap Gunardi, Kuncoro mengangguk, sambil menggendong Baron kembali ia melangkah masuk megikuti Gunardi
Tapi sayang kalau Satria jika dipecat dari kerjanya, soalnya kerjanya sudah mantap tuh, santai dan lingkungannya sangat mendukung untuk latihan²nya... 😁