“Hhmmm… wangi,” lirih seorang pria tua usai menceruk leher gadis yang ada di depannya.
Menatap lamat. Diam-diam mengagumi iras cantik mempesona milik gadis ranum tersebut. Tersenyum miring, sembari membayangkan hal indah yang selanjutnya akan ia lakukan ketika sudah berhasil membuat gadis itu sadar.
Membelai rambut. Ujung helai lurus itu kemudian di pilin, memainkannya. Tak lupa juga ikut ia endus, menikmati sensasi aroma segar yang menguar. Cukup menguji adrenalin, mendegupkan detak jantung dua kali lipat dari biasanya.
“Kau sangat cantik, Naira. Sudah sejak dulu aku menunggu saat-saat seperti ini bisa bersamamu.” Lelaki tua itu kembali berujar, lirih dengan suara serak, akibat tekanan batin yang kian membuncah. Tak sabar ingin melahap habis makan malamnya yang kali ini sudah ditunggu sejak lama.
Apa yang selanjutnya akan terjadi pada Naira? Penasaran ingin tahu cerita selengkapnya? Kalau begitu yuk ikuti segera kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F A N A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TMTK - BAG 23
“Euuggg… eungghhhh…,” desau seorang gadis muda menggeliat di atas sebuah pembaringan empuk berukuran besar yang terdapat disebuah ruangan—dengan tubuh ramping yang meliuk bergantian pada dua arah. Menggerakkan tidak hanya tangan, tapi juga kedua kaki yang ikut berputar mengikuti liukan sang daksa yang saat ini tengah mencari kenyamanan.
Aroma musk menguar. Seorang pria barusaja keluar dari kamar mandi yang memang menyatu di dalam ruangan tersebut. Masih sedikit basah, sehingga menonjolkan kesan maskulin yang begitu segar pada panca indera.
Melangkah. Menggosok pelan helai rambut menggunakan handuk kecil yang ada pada satu tangan, sembari menyoroti sosok gadis muda yang masih meliuk di atas ranjang berukuran king size miliknya.
Menggoda. Bahkan Boy merasa ada yang tegang dibawah sana. Jantungnya bahkan terasa berdebar semakin kencang saat sudah semakin dekat dengan gadis itu, diliputi perasaan takut, khilaf atas gerakan yang gadis muda itu perbuat.
Boy berhenti tepat setelah ia berhasil berada tepat pada sisi arah tidur Naira. Sedikit menunduk, sehingga tanpa sengaja membuat sisa air yang terdapat dirambutnya menetes pada wajah Naira.
Perlahan gadis muda itu membuka mata. Lamat-lamat, mengedikkan dahi, hingga akhirnya mendapati bayang wajah Boy yang ada dihadapannya. Sapaan alam yang cukup menyegarkan mata. Sangat tampan, benar-benar mengagumkan. Nikmat mana lagi yang kau dustakan kawan? Seperti bangun di alam surga, diberikan pemandangan cukup indah oleh kerupawanan yang ada dihadapannya?
Netra saling bertemu. Bagaikan tersihir, keduanya terpaku saling menatap tanpa berkedip. Menikmati keindahan rupa masing-masing dengan perasaan tak karuan. Terlebih Boy yang sudah melonjak ingin kelelakiannya, namun berusaha ia tahan.
Tetesan air dari rambut Boy kembali menetes pada wajah Naira. Seketika menyadarkan gadis muda itu akan perbuatannya. Terkejut, segera menunduk. Menutupi wajah dengan bantal, reflek menyembunyikan diri malu.
‘Astaga… apa yang sudah aku lakukan? B- bagaimana aku bisa melihat wajah itu begitu lama? B- bahkan aku… aku—’
Belum habis lontaran hati ter-utarakan. Naira merasa bantal yang ia pakai menutupi wajah tertarik dengan cukup kasar. Jatuh terhempas ke lantai dengan kekuatan cukup kuat. Lalu maniknya mendapati iras tadi yang sempat ia kagumi mendekati wajahnya.
“J- jangan!” Naira berseru. Wujud dari ketakutan yang saat ini ia rasakan. Segera mengangkat kedua bahu, menutupi wajah dengan kedua tangan. Membuat Boy yang sudah sangat dekat wajahnya itu tersenyum dengan tingkah Naira?
Benar-benar lucu. Menggemaskan. Lalu memegang kedua telapak tangan itu memindahkan dari wajah Naira. Gadis muda itu tentu tidak berani menatap. Bahkan jiwanya terguncang takut akan sosok yang ada dihadapannya?
Bagaimana jika nanti ia diterkam? Lantas laki-laki dewasa itu melakukan hal-hal tidak etis pada dirinya? Tidak! Naira masih sangat muda! Kehormatannya harus ia jaga sampai akhirnya nanti ia menikah. Tidak bisa membiarkan tubuhnya terjamah begitu saja. Bahkan oleh sosok rupawan yang saat ini ada dihadapannya.
“Jangan ca buli saya! Meskipun anda tampan tapi anda sudah tua. Carilah wanita yang sepadan, yang bisa memenuhi kebutuhan biologis anda. Saya masih 18 tahun, dan saya ingin menjaga kesucian saya untuk suami saya!” Gadis muda itu meringis memohon iba. Cukup membuat Boy tergelitik dengan ucapannya.
Tapi tunggu. Bukankah tadi ia mengatakan tentang tua? Bagaimana bisa! Usia Boy baru menginjak angka 3 dan menurutnya itu usia yang memasuki matang, bukan tua!
“Apa kau meragukan kemampuanku?” desis Boy dengan suara parau.
Naira langsung menggeleng. “Anda pria perkasa! Justru itu saya minta jangan sakiti saya. Jangan renggut kesucian saya. Saya masih sangat muda, Tuan. Saya ingin hal beharga dalam diri saya terberi kepada lelaki yang tepat.”Gadis itu kembali memohon dengan raut takut gemetar. Sungguh, benar-benar ingin menjaga kesuciannya. Tidak ingin di rudapaksa oleh Boy yang bukan mahramnya.
Boy tersenyum miring. Sungguh reaksi Naira saat ini membuat ia sangat kagum. Ternyata masih ada yang menolaknya? Ditengah gencaran para wanita yang berlomba ingin seranjang dengannya meski orang-orang itu juga mendapati kabar tentang kelainnya. Tak terkabulkan. Sampai membuat wanita-wanita benar-benar mengecap jika Boy benar-benar sosok GAAY!
Menarik diri. Boy yang tadi sempat mengempaskan bokong pada kasurnya, beranjak dari sana. Berdiri tegak sambil terus menyorotkan pandangannya ke arah Naira yang masih gemetar ketakutan.
Boy lalu berkata,- “penghulu sudah datang. Sebentar lagi kita akan menikah. Jadi sekarang pergilah bersihkan diri, karena sebentar lagi Carlos akan datang untuk meriasmu.”
Dan Boy lalu berpaling. Beranjak dari tempatnya. Menuju ke suatu ruangan lain yang masih menyatu dengan kamar tersebut sembari meloloskan handuk yang melilit di pinggangnya.
Benar-benar membuat gadis muda itu syok, tertegun ditempatnya. Kembali menutup mata dengan kedua tangan usai mendapati pemandangan yang menurutnya belum pantas ia saksikan!
Boy melenggang dengan tubuh polosnya. Sampai akhirnya bayangan pria maskulin itu menghilang dibalik ruangan lain yang terdapat di dalam kamar tersebut.