NovelToon NovelToon
THE DEVIL'S WIFE

THE DEVIL'S WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:

Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.

Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.

Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.

Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.

Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.

Aku melihat kematianku sendiri.

Dan aku tersenyum.

Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.

Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Kau Tahu Terlalu Banyak

Bau itu tidak mungkin dilupakan.

Bukan bau busuk biasa—tapi aroma manis yang membusuk, seperti daging yang dibiarkan terlalu lama di tempat tertutup, bercampur dengan debu tua dan sesuatu yang dingin. Alea menekan hidungnya dengan lengan baju, tapi baunya sudah masuk, menempel di langit-langit mulutnya.

Di tangannya, buku harian itu terasa lebih berat dari yang seharusnya. Sampulnya dari kain usang, warna biru muda yang dulu mungkin cerah, sekarang lusuh seperti luka lama yang tak pernah sembuh. Halaman terakhir yang baru saja dibacanya masih terbayang di matanya:

"Aku mati di sini."

Tulisan anak kecil. Gemetar. Huruf kapital semua.

Alea mencoba menghela napas, tapi udara di ruang bawah tanah ini seperti menolak masuk ke paru-parunya. Di sekelilingnya, tembok beton mengelupas, meninggalkan bercak-bercak gelap yang ia tidak mau tebak asalnya. Satu-satunya sumber cahaya adalah senter ponselnya, yang sekarang gemetar di genggamannya, membuat bayangan di dinding menari seperti arwah.

Ia harus segera keluar.

Tapi kakinya terasa kaku. Bukan karena takut—setidaknya bukan hanya karena takut. Ada sesuatu di ruangan ini yang menariknya. Seperti ada suara bisikan yang tidak bisa didengar telinga, tapi bisa dirasakan tulang.

Alea menutup buku harian itu. Tangannya bergerak lambat, seolah takut merusak barang bukti yang mungkin menjadi kunci semua misteri. Ia menyelipkannya ke dalam tas kecil yang selalu ia bawa—tas yang sebenarnya hanya berisi lipstik dan dompet palsu, tapi sekarang menjadi tempat paling berharga di dunia.

Angkat kaki. Sekarang.

Ia berbalik.

Langkah pertama menuju pintu besi terasa seperti berjalan di lumpur. Langkah kedua lebih ringan. Langkah ketiga—

Bunyi.

Bukan dari belakang. Dari depan. Dari balik pintu yang setengah terbuka itu.

Klik.

Suara sepatu di lantai beton.

Alea membeku. Senter ponselnya masih menyala, tapi ia tidak berani mengarahkannya ke lorong. Ia hanya bisa menatap bayangan yang mulai memanjang dari balik pintu.

Bayangan itu milik pria. Tinggi. Bahu lebar. Gerakannya pelan, seperti predator yang tahu korbannya tidak punya jalan keluar.

“Kau tahu terlalu banyak.”

Suaranya tidak keras. Bahkan cenderung pelan. Tapi di ruang bawah tanah yang sunyi ini, setiap suku kata bergema di dinding, merambat ke tulang belakang Alea, membuat bulu kuduknya berdiri satu per satu.

Damian.

Bukan Damian Kecil.

Ini Damian dewasa. Dengan semua dinginnya yang membekukan.

Alea berusaha mengatur napas. Ia tidak boleh menunjukkan ketakutan. Tidak di sini. Tidak dihadapannya.

— Show, don't tell. Tunjukkan ia takut lewat fisik, bukan bilang "aku takut."

Tangannya yang memegang ponsel mulai bergetar. Alea menjepit pergelangan tangannya dengan tangan satunya, memaksa otot-otot itu diam. Tapi jantungnya malah berpacu lebih kencang, memukul tulang rusuk seperti burung yang terperangkap.

“Aku hanya—”

“Aku tidak bertanya.”

Damian melangkah masuk. Sekarang ia berdiri tepat di ambang pintu, tubuhnya menutupi hampir seluruh celah. Lampu dari lorong di belakangnya membuat siluetnya hitam pekat, tapi matanya... dua titik redup yang menangkap pantulan senter Alea, berkilat seperti kaca pecah di malam hari.

Ia menatap buku harian yang menyembul dari tas Alea.

“Kau bawa itu.”

Bukan pertanyaan. Fakta.

Alea mundur selangkah. Tumitnya menyentuh tumpukan kotak kardus di belakang, membuatnya tersentak. Ia mendongak, mencoba membaca wajah Damian, tapi ekspresi pria itu datar. Terlalu datar.

Itu yang membuatnya menakutkan.

“Damian.” Alea berusaha membuat suaranya stabil. “Aku hanya mencari tahu apa yang terjadi padamu. Padamu kecil. Buku ini—”

“Bukan untukmu.”

Sekarang nadanya berubah. Ada sesuatu di sana—bukan marah, bukan benci. Tapi lapisan lain yang tidak bisa ia identifikasi. Damian mencondongkan tubuh ke depan, dan cahaya senter akhirnya menerpa wajahnya.

Alea menarik napas.

Wajah Damian pucat. Bukan pucat biasa, tapi pucat seperti orang yang tidak pernah terkena matahari. Tapi bukan itu yang membuat Alea terkejut.

Matanya.

Biasanya, mata Damian hitam pekat, seperti lubang tanpa dasar. Tapi sekarang, di bawah sorot senter, Alea melihat ada warna lain di sana. Merah. Bukan karena menangis—tapi karena pembuluh darah pecah di ujung matanya, seperti pecahan kaca merah yang tersusun rapi.

Damian belum tidur.

Atau... ia tidak bisa tidur.

“Kau tidak boleh ada di sini,” Damian melanjutkan, suaranya turun setengah oktaf. Satu langkah maju. “Kau tidak boleh melihat itu.”

Alea memaksakan dirinya tidak mundur lagi. Punggungnya sudah menyentuh dinding dingin. Ia menegakkan bahu, mengangkat dagu.

“Aku psikiater forensik, Damian. Aku sudah melihat hal yang lebih buruk dari buku harian anak kecil.”

“Kau tidak mengerti.”

“Maka jelaskan.”

Diam.

Damian menatapnya dengan intensitas yang membuat Alea ingin mengalihkan pandangan. Tapi ia tidak. Ia tahu, di dunia mafia dan predator, menunjukkan kelemahan adalah kematian. Dan meskipun ia bukan bagian dari dunia itu, ia tahu satu hal: Damian sedang mengujinya.

Lalu Damian melakukan sesuatu yang tidak Alea duga.

Ia tertawa.

Bukan tawa bahagia. Tawa itu pendek, pahit, seperti batuk yang tertahan. Damian menggeleng pelan, lalu matanya kembali menatap Alea—tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Ada kelelahan di sana.

“Kau pikir ini tentang buku harian?” Damian menunjuk tas Alea. “Kau pikir dengan membaca tulisan bocah 8 tahun itu, kau akan mengerti siapa aku?”

“Aku ingin membantu—”

“Aku tidak butuh bantuan.”

Damian melangkah maju lagi. Sekarang jarak mereka hanya satu lengan. Alea bisa mencium aroma kayu cendana yang familiar, tapi di bawahnya ada bau lain. Logam. Darah.

Lukanya dari pertempuran sebelumnya belum sepenuhnya sembuh.

“Kau datang ke sini,” Damian melanjutkan, suaranya seperti bisikan yang dipaksakan keras, “ke ruang yang bahkan anak buahku tidak berani dekati. Kau mengambil benda yang tidak seharusnya kau lihat. Dan kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja?”

“Kau akan membunuhku?”

Pertanyaan itu keluar lebih cepat dari yang Alea rencanakan. Ia sendiri terkejut mendengar suaranya sendiri—tenang, terlalu tenang.

Damian mengerjap. Untuk pertama kalinya, ekspresinya retak.

“Apa?”

“Kau bilang aku tahu terlalu banyak.” Alea merasakan adrenalin mengalir, menggantikan ketakutan dengan sesuatu yang lebih tajam. “Itu dialog klise yang biasanya diikuti dengan peluru di kepala. Jadi aku bertanya: kau akan membunuhku?”

Damian terdiam. Matanya menyipit, seperti baru pertama kali melihat Alea dengan cara yang berbeda.

“Kau tidak takut.”

“Aku takut setengah mati.” Alea jujur. “Tapi aku lebih takut pada jawaban yang tidak kudapatkan. Kakakku mati karena sesuatu yang berhubungan dengan keluargamu. Sekarang aku di sini, dinikahi paksa, dikurung di kamar mewah, dan satu-satunya petunjuk adalah bocah yang muncul jam 3 pagi dan bilang ‘Damian dewasa jahat’. Jadi ya, kalau kau mau bunuh aku, lakukan. Tapi setidaknya beri tahu aku—apa yang sebenarnya terjadi di ruangan ini 20 tahun lalu?”

Udara di ruang bawah tanah terasa bergetar.

Alea tidak tahu apakah itu imajinasinya, atau memang ada sesuatu yang bergeser di antara mereka. Damian tidak bergerak. Tidak berbicara. Ia hanya berdiri di sana, bayangan dan cahaya bergantian menerpa wajahnya, membuatnya seperti patung yang hidup.

Kemudian, Damian melakukan sesuatu yang tidak Alea duga lagi.

Ia berlutut.

Bukan berlutut untuk memohon. Tapi ia menurunkan tubuhnya, duduk bersila di lantai beton yang dingin, membelakangi pintu. Dengan gerakan lambat, ia membuka kemeja hitamnya.

Alea mendengar suara jahitan robek.

Di dada Damian, tepat di atas jantung, ada bekas luka. Bukan luka sayatan biasa—ini seperti bekas gigitan, tapi terlalu besar untuk gigi manusia. Kulit di sekitarnya keriput, putih pucat, seperti jaringan yang pernah mati dan dipaksakan hidup lagi.

“Kau ingin tahu apa yang terjadi 20 tahun lalu?” Damian menunjuk bekas luka itu. “Ayahku melakukan ini. Dengan palu dan paku. Karena aku menolak membunuh anjingku.”

Alea tidak bisa berkata apa-apa. Mulutnya kering.

“Tiga bulan aku dikurung di sini.” Suara Damian datar, seperti sedang membaca laporan cuaca. “Tiga bulan dengan mayat ibu tiriku yang membusuk di pojok. Tiga bulan tanpa makanan yang cukup, tanpa air, tanpa cahaya. Hanya suara tikus dan suara tangisanku sendiri.”

Ia menoleh, menatap Alea dengan mata yang kosong.

“Pada minggu kedua, aku berhenti menangis. Pada bulan pertama, aku lupa seperti apa rasanya kenyang. Pada bulan kedua...” Damian berhenti. Ia menelan ludah, dan untuk pertama kalinya, ada getaran di suaranya. “Pada bulan kedua, aku menciptakan Damian.”

“Damian Kecil?”

“Bukan.” Damian menggeleng. “Damian dewasa. Yang kau lihat sekarang. Aku membunuh bocah 8 tahun yang ketakutan itu, dan menciptakan seseorang yang tidak takut pada apa pun. Seseorang yang bisa bertahan.”

Alea merasakan dadanya sesak.

— Emosi ditunjukkan, bukan diceritakan.

Ia tidak bilang “Aku iba”. Tapi tangannya—tanpa sadar—meraih pergelangan tangannya sendiri, memeluk tubuhnya seperti sedang kedinginan. Matanya basah, tapi ia tidak membiarkan air mata jatuh.

“Lalu... Damian Kecil?” suaranya parau. “Dia siapa?”

“Dia adalah sisa.” Damian menatap langit-langit ruangan. Di sana, retakan plafon membentuk pola seperti peta yang tidak lengkap. “Sisa dari bocah yang aku bunuh dulu. Aku pikir dia hilang selamanya. Tapi beberapa tahun lalu, dia kembali. Dan dia tidak mau diam.”

“Kau menyebutnya kepribadian ganda.”

“Aku menyebutnya hantu.”

Damian berdiri. Gerakannya lambat, seperti orang yang baru saja bangun dari mimpi buruk. Ia mengambil langkah mendekati Alea, tapi kali ini tidak mengancam.

“Kau tahu sekarang, Alea.” Ia mengulurkan tangan. Bukan untuk menyentuh, tapi untuk menunjuk pintu di belakang. “Kau tahu aku bukan sekadar mafia kejam yang kau bayangkan. Aku monster yang diciptakan di ruangan ini. Dan monster seperti aku tidak pantas—”

“Jangan.”

Alea memotong. Suaranya keluar lebih keras dari yang ia inginkan.

Damian berhenti.

“Jangan selesaikan kalimat itu,” Alea melanjutkan. Napasnya terengah-engah, tapi matanya tajam. “Kau bukan monster. Kau korban. Dan Damian Kecil bukan hantu. Dia adalah bagian dirimu yang tidak pernah mati.”

Damian mengerjap. Sekali. Dua kali.

Kemudian ia tersenyum.

Senyuman itu aneh. Tidak bahagia, tidak sinis. Tapi seperti seseorang yang melihat hal lucu di tengah tragedi.

“Kau benar-benar psikiater.”

“Aku benar-benar wanita yang sedang berusaha tidak pingsan di ruang bawah tanah yang bau ini.”

Untuk pertama kalinya, atmosfer di antara mereka sedikit mencair.

Damian menunduk. Ia mengambil buku harian itu dari tas Alea—dengan gerakan yang lembut, terlalu lembut untuk tangan yang katanya pernah membunuh puluhan orang. Ia membuka halaman pertama, membaca tulisan anak kecil di sana.

Alea melihat bayangan Damian di dinding. Bayangan itu bergerak, tapi bukan karena Damian bergerak.

Ada sesuatu yang lain.

“Damian.” Alea merasakan hawa dingin tiba-tiba turun. “Kita harus keluar dari sini.”

“Nanti.” Damian tidak menoleh. Matanya masih tertuju pada buku harian. “Dia suka saat aku membacakan ini.”

“Dia? Siapa—”

“Ibu tiri.”

Alea merasakan jantungnya berhenti satu detik.

Damian menunjuk pojok ruangan. Tempat yang sebelumnya gelap, sekarang—entah kenapa—terasa lebih gelap. Lebih padat. Seperti ada sesuatu yang berkumpul di sana.

“Dia ada di sini,” Damian berkata dengan suara datar. “Setiap malam. Menonton. Menunggu.”

Alea tidak bisa melihat apa pun. Tapi di ujung jarinya—di mana biasanya visi kematian datang—terasa kesemutan. Bukan visi. Tapi kehadiran.

Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan logika.

“Kita pergi.” Alea meraih lengan Damian. Untuk pertama kalinya, ia menyentuh pria itu dengan sengaja. Kulit Damian dingin, seperti mayat hidup. Tapi ketika Alea menggenggamnya, Damian menoleh.

Matanya berubah.

Bukan Damian dewasa. Bukan Damian Kecil.

Tapi sesuatu di antara keduanya. Kosong. Lembut. Pulang.

“Kau tidak takut padaku?” tanyanya dengan suara yang berbeda. Lebih muda. Lebih rapuh.

“Aku takut untukmu,” jawab Alea. “Sekarang keluar. Aku tidak bisa bernapas di sini.”

Damian mengangguk. Ia membiarkan Alea menariknya keluar dari ruang bawah tanah, melewati lorong gelap, menaiki tangga, sampai akhirnya mereka tiba di lorong utama mansion.

Udara di sini lebih hangat. Lebih hidup.

Alea melepaskan genggamannya. Ia baru sadar bahwa seluruh telapak tangannya berkeringat, dan kukunya meninggalkan bekas setengah bulan di kulit lengan Damian.

“Maaf,” gumamnya.

Damian tidak menjawab. Ia menatap buku harian di tangannya, lalu menatap Alea.

“Kau tidak boleh kembali ke sana.”

“Aku tahu.”

“Aku tidak bercanda.” Damian melangkah maju, menempatkan tubuhnya di antara Alea dan pintu ruang bawah tanah. “Dia... ibu tiriku. Dia tidak suka pengunjung. Jika kau kembali, dia mungkin akan...”

Ia tidak menyelesaikan kalimat.

Tapi Alea mengerti.

“Aku tidak akan kembali,” janjinya. “Tapi aku perlu tahu satu hal.”

Damian menunggu.

“Kenapa kau menikahiku?” Alea menatap mata Damian. “Kau bilang kau butuh wanita yang bisa melihat Damian Kecil. Tapi kenapa aku? Kenapa bukan psikiater lain? Kenapa bukan agen rahasia yang lebih ahli?”

Damian terdiam lama.

Kemudian ia mendekat. Wajahnya hanya beberapa sentimeter dari Alea. Alea bisa merasakan napasnya—dingin, tapi tidak lagi mengancam.

“Karena,” bisik Damian, “kau adalah satu-satunya yang tidak lari.”

Ia menoleh ke lorong. Di sana, di ujung, bayangan kecil berdiri.

Damian Kecil.

Bocah itu tersenyum. Tapi senyumnya berbeda malam ini. Ada sesuatu di matanya—sesuatu yang terlalu dewasa untuk anak 8 tahun.

“Kak,” suara Damian Kecil menggema di lorong, “Damian dewasa belum cerita semuanya.”

Damian dewasa menegang.

“Dia belum cerita soal ibu kakak.”

Alea membeku.

“Ibu kakak yang... masih hidup.”

Damian Kecil tersenyum lebar.

Lalu lampu di lorong padam.

---Bersambung---(⁠ノ゚⁠0゚⁠)⁠ノ⁠→

Ibu Alea masih hidup? Apa hubungannya dengan keluarga Damian? Dan apa yang masih disembunyikan Damian dewasa?

Jangan lewatkan Bab 21: WARISAN DARAH — hanya di NovelToon!

Dukung cerita ini dengan like, komen, dan share! Biar semakin Semangat untuk menulis Kisah Damian yang tersembunyi.

---

1
Amelia
Ceritanya penuh misteri Dokter RSJ vs Monster pasangan yang cocok jiwa mereka sama" kayak tidak memiliki Jiwa dan sakit jiwa😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!