-
Masuk ke dimensi lain, dan menjadi buronan di hari pertama yang menyebabkannya mati. Begitu mati, jiwanya memasuki tubuh lain lagi dan menjadi ibu tiri dari tiga orang anak.
Frustasi dan tertekan yang dirasakan Karina.
Tapi, demi bertahan hidup dan kembali ke dunia aslinya, Karina mau tidak mau harus menjalani kehidupannya di desa kecil seraya menyelesaikan serangkaian misi yang diberikan padanya.
Kuat tidak kuat Karina menjalaninya, ikuti terus kelanjutan ceritanya untuk mengetahui akhir dari perjalanan Karina!
-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serigala Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Saling Menerima
*
*
Paginya, Karina bangun dengan perasaan baru dan semangat baru, setelah mendapat sedikit penjelasan dari Blue kemarin, tentang bagaimana dirinya bisa memasuki tubuh baru hanya dalam satu hari.
Ia membuka mata dan menoleh ke samping. Serena tidur dengan damai disana. Sebelum beranjak, ia mengecup dahinya dan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Ia mengambil beras untuk dicuci, sekalian mencuci wajahnya agar lebih segar. Barulah setelah beras dimasak untuk dibuat bubur, ia mulai melihat hal-hal yang ada di dapur.
Tidak ada sayur yang tersisa. Tetapi untung masih ada ikan hidup di ember, dan ayam pegar yang sebelumnya diasapi supaya tahan lama, juga beberap telur ayam.
Melihat itu, akhirnya ia memilih telur, dan memecahkannya untuk dimasukkan ke dalam bubur. Beri bumbu lalu aduk sampai mengental dan jadilah bubur dengan telur.
Merasa hambar karena hanya ada telur di dalamnya, akhirnya Karina memotong ayam yang diasapi, sebagai topping tambahan untuk bubur tersebut. Selain itu, ikan yang tersisa juga dibuat sup ikan sebagai menu tambahan untuk menutrisi anak dan ayahnya.
Setelah beberapa saat berkutat dengan masakan, akhirnya semua diselesaikan. Karina beralih pada herbal dan kembali memasaknya. Obat yang dibeli, masih ada sekitar 3 kali minum lagi. Artinya, hari ini akan habis sepenuhnya diminum.
Seraya menunggu obat jadi, Karina mulai mengambil tepung. Menambahkan air dan mulai membuat adonan untuk dijadikan Mie. Sudah lama sejak ia tidak makan mie. Meskipun bukan mie instan yang biasa ia makan, tapi mie yang dibuatnya akan cukup memuaskan rasa rindunya pada mie.
Setelah menguleni, Karina langsung menunda pembentukan mie, dan beralih pada obat yang sudah masak. Setelah mengangkatnya, ia mengganti ketel baru untuk membuat sup ikan.
Setelah menumis bumbu yang dicincang halus, masukkan air dan ikan yang telah dipotong. Tunggu sampai sup mendidih dan siap setelah dibumbui dan sup ikan bening akan siap dalam beberapa saat.
Seraya menunggu, Karina mulai mengambil adonan yang sudah diuleni sebelumnya, dan membentuk mie. Karena di dunia asli ia punya cetakan mie, dan disini tidak, Karina akhirnya mengide dengan menggunakan pisau, memotongnya tipis dan memutarnya memanjang, agar bentuk mie bulat panjang, tidak kotak panjang.
Baru kloter pertama membuat mie, sup ikan bening akhirnya matang. Karina kembali menghentikan kegiatannya dan mengangkat sup, menuangkannya ke dalam wadah sedang.
Melihat semuanya sudah siap, Karina menyiapkan meja, kursi dan peralatan makan lebih dulu diruang tengah. Lalu mengambil beberapa hidangan yang baru saja dimasak ke meja yang disiapkannya. Setelah semua tertata rapi, Karina mulai menyendok bubur ke setiap mangkuk, begitupula dengan sup ikan. Jadi satu orang dapat dua mangkuk sedang dan kecil di meja.
Setelah menyimpan air untuk setiap orang, Karina pun beranjak lagi, pertama-tama membangunkan Deraga dan Ganika, dan langsung menyuruh keduanya mencuci muka, sementara dirinya membangunkan Serena. Menggendongnya langsung ke kamar mandi dan membantunya buang air kecil seraya mencuci muka.
"Ibu! Cepat, cepat, aku sudah tidak sabar! Semuanya sangat harum." Ucap Ganika dengan semangat, ia sudah lebih dulu duduk di sana, bahkan tangannya sudah memegang sendok, siap menyantap.
"Makanlah, aku harus mengurus ayah kalian lebih dulu." Ucap Karina seraya tersenyum. Ia sudah tidak mengikuti sifat pemilik asli sebelumnya, dan lebih memilih menjadi dirinya sendiri pagi ini.
"Biar kami yang melakukannya setelah makan, kau makanlah dengan kami." Ucap Deraga, akhirnya mengeluarkan suara.
Karina menatap Deraga sebentar, kemudian mengulum bibirnya menahan senyum. Deraga semakin perhatian, tapi Karina paham, ia masih enggan menunjukkannya secara terang-terangan. Malu, tentu saja. Karena dialah yang awalnya paling tidak menyukainya.
Kemudian keempatnya makan dengan khidmat. Ganika dan Serena bahkan meminta tambahan sup ikan bening pada Karina, membuat Karina senang, karena nafsu makan anak-anak semakin baik dari hari ke hari sejak ia datang.
Setelah menambahkan sup ikan di mangkuk kecil Ganika dan Serena, Karina menatap Deraga yang makan perlahan dan tenang, terlihat sangat anggun. Deraga sedang menyuapkan bubur sesendok demi sendok ke mulutnya, sedangkan sup ikan, telah habis di awal.
Melihat mangkuk kecil kosong, dan bubur hampir habis, Karina berinisiatif menambah porsi juga. Mengambil mangkuk kecil di depan Deraga, kemudian menambahkan sup ikan lagi ke mangkuknya.
"Jangan menolak, makanlah lebih banyak. Dua adikmu bahkan menambah porsi, kau juga harus punya satu porsi tambahan." Ucap Karina, menepuk kepala Deraga dua kali, membuat Deraga yang mau mengucapkan sepatah dua patah kata, mengurungkan niatnya dan fokus pada makanannya lagi.
"Ibu! Aku juga, aku juga! Tepuk kepalaku." Pinta Ganika dengan tatapan penuh harap. Bahkan Serena ikut menatapnya dengan mata bulat berbinar.
Karina tertawa kecil melihat tingkah keduanya. Pada akhirnya ia tak berdaya menghadapi tatapan keduanya, dan menuruti kemauan keduanya. Menepuk kepala Ganika dan Serena dengan lembut, secara bergantian.
Setelah mendapat keinginannya, keduanya kemudian menunjukkan senyum dengan mata yang ikut melengkung seperti bulan sabit. Dan Karina, mau tidak mau mendengus seraya tersenyum.
Deraga melihat semuanya dalam diam. Perlahan, hatinya juga menghangat, mulai menerima Karina dihatinya. Apalagi, mengingat kemarin dirinya dipuji dan diperlakukan dengan baik, Deraga tanpa sadar mulai menyukai ibu tirinya.
Setelah beberapa saat, Sarapan pagi akhirnya selesai. Karina membereskan meja dan membawa semua mangkuk ke halaman belakang untuk dicuci. Dibantu Serena, ia lebih cepat menyelesaikannya kali ini.
Sementara Ganika dan Deraga memasuki kamar ayahnya, dan mulai mengurus ayahnya. Memberi makan, memberi obat, mengoleskan salep ke luka, serta membersihkan badannya. Keduanya bekerja sama dengan baik.
Di sisi lain, setelah mencuci mangkuk dan alat lainnya, Karina beranjak kembali ke dapur, dan matanya menatap keranjang punggung di dekat kamar mandi.
"Oh, aku hampir melupakannya!" Gumam Karina. "Baiklah, aku akan membuat mie lebih dulu, baru mengurusmu agar bisa dijual hari ini juga." Lanjutnya, kemudian masuk ke dapur, mengikuti jejak Serena yang telah lebih dulu masuk, dengan membawa sendok dan mangkuk untuk disimpan.
Begitu masuk, ia menatap Serena yang sudah naik ke atas kursi dan melihat adonan yang ditinggalkan Serena di meja di dapur.
"Ibu, membuat mie?" Tanya Serena.
"Ya, apa kau suka mie?" Tanya Karina.
"Aku tidak yakin, aku belum pernah memakannya sebelumnya." Balas Serena dengan tatapan menyesal, karena tidak bisa membalas dengan semangat seperti biasanya.
Karina menepuk jidatnya dan akhirnya tersadar, ia lupa, anak-anak ini sepanjang waktu di istana, bukan? Umurnya juga masih kecil, tidak mungkin diberi makan Mie disana.
"Kalau begitu, mari makan mie untuk makan siang. Aku akan membuatmu ketagihan." Balas Serena.
"Um! Aku akan menunggu." Balas Serena seraya tersenyum, perasaan sesalnya hilang, karena Karina membalas dengan lembut.
*
*