Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan datang ke sana
Kirana terjatuh ke dalam gelap yang tidak memiliki dasar.
Bukan jatuh dengan tubuh
tapi seperti seluruh kesadarannya ditarik mundur dengan paksa.
Cepat.
Terlalu cepat.
Suara retakan masih bergema di telinganya, bercampur dengan satu kalimat terakhir yang belum sempat dia pegang sepenuhnya.
Aku nggak ke mana-mana…
Lalu
hening.
Napasnya tersentak.
Kirana terbangun dengan tubuh menegang.
Langit-langit kamar kosnya kembali ada di atasnya.
Putih.
Diam.
Terlalu biasa.
Terlalu… jauh dari apa yang baru saja terjadi.
Dadanya naik turun cepat.
Tangannya langsung bergerak
mencari.
Sisi kasur.
Udara,apa pun kosong.
Tidak ada hangat.
Tidak ada jejak sentuhan.
Hanya kain sprei yang sedikit kusut di bawah jemarinya.
Kirana duduk.
Cepat.
Terlalu cepat sampai kepalanya sedikit berdenyut.
Napasnya belum stabil.
Matanya menyapu ruangan.
Meja kecil.
Tas.
Lampu redup.
Semuanya di tempatnya.
Semuanya… normal.
Tapi tubuhnya
tidak.
Tangannya masih gemetar halus.
Bibirnya sedikit terbuka
seolah masih ingin mengatakan sesuatu yang belum selesai.
“Li Wei…”
Namanya keluar tanpa sadar.
Pelan.
Hampir tidak terdengar.
Tidak ada jawaban.
Hanya kipas angin yang berputar pelan di sudut ruangan.
Kirana menelan.
Tenggorokannya kering.
Tangannya perlahan naik
menyentuh pipinya sendiri.
Dan di sana
masih ada sisa hangat.
Atau mungkin…
hanya ingatan.
Dia memejamkan mata sebentar.
Mencoba menarik napas lebih dalam.
Lebih pelan.
Lebih stabil.
Ini nyata…
Atau setidaknya
cukup nyata untuk meninggalkan sesuatu.
Ponselnya bergetar di samping bantal.
Kirana sedikit tersentak.
Layar menyala.
Nama muncul.
Risa.
Dia menatapnya beberapa detik.
Seolah nama itu datang dari dunia yang berbeda.
Lalu dia mengangkat.
“Halo?”
“Lo udah bangun?” suara Risa terdengar biasa. Terlalu biasa.
Kirana tidak langsung jawab.
“Iya,” akhirnya dia berkata.
“Good. Jangan telat ya hari ini. Kita mau finalize liburan itu. Wei udah rese dari pagi.”
Nada santai.
Hidup.
Nyata.
Kirana menutup mata sebentar.
Menarik napas.
“Iya… gue datang.”
“Lo kedengeran aneh,” kata Risa.
“Baru bangun,” jawab Kirana cepat.
Tidak sepenuhnya bohong.
“Yaudah cepet ya. Jangan ilang lagi,” tambah Risa, lalu menutup telepon.
Sunyi kembali.
Kirana menatap layar ponselnya yang kini gelap.
Refleksi wajahnya muncul di sana.
Pucat.
Tapi matanya
berbeda.
Lebih dalam.
Seolah sesuatu di dalamnya belum kembali.
Tangannya turun pelan.
Dan tanpa sadar
jemarinya bergerak.
Mengetuk permukaan kasur.
Sekali.
Diam.
Dua kali.
Ritme yang sama.
Seperti memanggil sesuatu yang tidak terlihat.
Tidak ada yang terjadi.
Beberapa detik berlalu.
Kirana tersenyum tipis.
Lemah.
Tapi bukan kosong.
“Katanya… nggak ke mana-mana,” bisiknya.
Tidak berharap jawaban.
Tapi
di detik berikutnya
udara di dekatnya berubah sedikit.
Sangat halus.
Hampir tidak terasa.
Seperti seseorang baru saja berdiri terlalu dekat lalu memilih tidak menyentuh.
Kirana tidak menoleh.
Tidak bergerak.
Dia hanya duduk di sana.
Dan untuk pertama kalinya sejak bangun
dia tidak mencoba memastikan.
Karena jauh di dalam dirinya
dia tahu.
Ini belum selesai.
Bukan akhir.
Bahkan mungkin
ini baru benar-benar mulai pagi itu berjalan seperti biasa.
Terlalu biasa.
Kirana duduk di depan meja kerjanya, membuka laptop, dan menatap layar yang dipenuhi angka. Jemarinya bergerak otomatis mengklik, mengetik, mengganti angka semua sesuai ritme yang sudah dia hafal di luar kepala.
Tapi ada jeda di antara gerakan itu.
Jeda kecil.
Yang tidak terlihat oleh siapa pun.
“Kirana, fokus,” suara Wei dari seberang meja.
Kirana sedikit tersentak. “Iya.”
Risa melirik dari samping, menyipitkan mata. “Lo dari tadi bengong.”
“Enggak,” jawab Kirana cepat.
Terlalu cepat.
Risa tidak percaya sepenuhnya, tapi tidak lanjut.
“Anyway,” katanya sambil memutar kursi sedikit menghadap mereka, “ini shortlist tempat liburan kita.”
Wei langsung ikut mendekat. “Akhirnya.”
Ponsel Risa diputar ke arah Kirana.
Gambar pertama pantai.
Langit biru.
Air jernih.
Tenang.
Kirana menatapnya.
Kosong.
Tidak ada reaksi.
“Yang ini bagus,” lanjut Risa, geser ke gambar berikutnya.
Gunung.
Kabut.
Udara dingin.
Kirana tetap diam.
Sampai—
gambar ketiga muncul.
Sebuah kota tua.
Lampion merah tergantung di sepanjang jalan.
Arsitektur kayu.
Gang sempit.
Dan
sesuatu di dalam dada Kirana langsung berhenti.
Tangannya yang tadi santai
menegang.
“Yang ini…” suara Risa terdengar lebih semangat, “…ini di Cina. Katanya masih banyak kota tua yang preserved banget. Vibes-nya dapet.”
Wei mengangguk. “Lumayan jauh sih, tapi menarik.”
Kirana tidak menjawab.
Matanya tidak lepas dari layar.
Lampion itu.
Terlalu mirip.
Terlalu… sama.
“Aneh ya,” Risa menambahkan santai, “gue nemu ini random banget. Kayak tiba-tiba muncul aja di rekomendasi.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi membuat sesuatu di dalam Kirana terasa tidak kebetulan.
“Lo kenapa?” tanya Wei.
Kirana mengedip sekali.
Lalu lagi.
Menarik napas pelan.
“Enggak,” katanya.
Tapi kali ini
tidak meyakinkan.
“Lo pucet,” Risa menambahkan.
Kirana menggeleng kecil.
Tangannya bergerak pelan
menyentuh layar ponsel itu.
Ujung jarinya berhenti di salah satu lampion di gambar.
Dan di detik itu
sesuatu terjadi.
Bukan di luar.
Tapi di dalam kepalanya.
Suara.
Sangat pelan.
Hampir seperti bisikan yang datang dari jauh.
“…Kirana…”
Dia langsung menarik tangannya.
Cepat.
Seperti tersengat.
Wei dan Risa saling pandang.
“Lo beneran gapapa?” tanya Wei.
Kirana tidak langsung jawab.
Matanya masih di layar.
Tapi fokusnya
sudah tidak di sana.
“…Li Wei?”
Namanya keluar.
Pelan.
Tanpa sadar.
Risa langsung mengernyit. “Siapa?”
Sunyi.
Kirana membeku.
Beberapa detik.
Lalu dia tersadar.
Cepat.
“Tadi gue salah sebut,” katanya buru-buru.
Terlalu buru.
Risa tidak terlihat yakin.
Wei juga diam lebih lama dari biasanya.
Tapi tidak ada yang memaksa.
“Yaudah,” kata Risa akhirnya, “balik ke topik. Lo ikut nggak?”
Kirana menatap layar lagi.
Lampion.
Gang.
Cahaya merah.
Dan sesuatu di dalam dirinya
berdenyut.
Sama seperti semalam.
Pelan.
Tapi pasti.
Dia menarik napas dalam.
Lalu berkata
“Ikut.”
Satu kata.
Tapi kali ini
bukan sekadar keputusan liburan.
Wei tersenyum. “Nice.”
Risa langsung semangat lagi.
Tapi Kirana
tidak mendengar kelanjutannya.
Karena di sudut layar laptopnya yang hitam
refleksi itu muncul lagi.
Lebih jelas.
Lebih dekat.
Li Wei tidak hanya berdiri.
Bibirnya bergerak.
Tanpa suara.
Tapi Kirana bisa membacanya.
Satu kalimat.
Yang membuat jantungnya langsung berdetak lebih kencang.
“Jangan datang ke sana.”