Nama adalah hal yang sakral di dunia Haochun, Nama adalah berkah Dewa, nama adalah kekuatan. Manusia tanpa nama bukanlah siapa-siapa, semua manusia yang tak bernama hanyalah orang-orang buangan dan kriminal.
Karena hak pada Berkah dan Nama mereka dicabut.
Mereka akan dipanggil dengan sebutan apapun yang orang inginkan. Meskipun mereka bisa membuat nama sendiri, tetap saja itu tak memiliki makna apapun.
Nama lahir adalah kehormatan mutlak di dunia ini. Dan inilah kisah tentang anak Klan Bangsawan kelas satu. Dia memiliki Inti Spritual yang sangat buruk. Saking buruknya, bahkan tidak seorang pun sebelum dia di dunia Kultivasi yang memiliki Inti spritual seperti itu.
Sehingga dia dianggap sebagai aib keluarga. Berkah namanya miliknya dicabut layaknya hukuman bagi
penjahat keji.
Dimulailah kisah anak buangan yang membawa nasib baik dan buruk bersamaan.
Berjuang tanpa kekuatan Berkah Nama seperti yang dimiliki orang lain. Huang Kai yang berganti nama menjadi Feng Yan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Pertemuan dan Perpisahan
"Adik ipar bagaimana kau melakukannya?" Xinxin bergegas lari ke arah Huang Kai yang terduduk karena sangat kelelahan.
Hah, kalian berdua siapa?" tanya Huang Kai yang sedang ngos-ngosan.
"Adik ipar jawab aku, bagaimana kau melakukannya." desak Xinxin tanpa menghiraukan pertanyaan Huang Kai.
Huang Kai diam sesaat mengatur nafasnya sambil memperhatikan kedua gadis cantik itu.
Ya, Xinxin terlihat cantik dengan pakaian pendekar berwarna biru yang ia kenakan. Sedangkan Fengying terlihat sangat manis dengan gaun rok pendek berwarna putih dan corak hijau.
"Huang Kai kenapa kau diam saja?, bukankah berkah nama tidak bisa di
Keluarkan seperti esensi alam. Hanya bisa untuk memperkuat tubuh.
Xiao Feng Ying yang sedang menggenggam tangan sendiri di depan dada juga terlihat penasaran, sepertinya mulai kagum dengan tunangannya itu.
"Kau tidak lihat aku sedang kelelahan?" ucap Huang Kai dengan kesal.
"Aku juga tidak tahu, ini juga baru pertama kali kejadian seperti ini." jawab Huang Kai pelan.
Karena kelelahan Huang Kai dengan begitu saja langsung merebahkan tubuhnya di depan gadis-gadis itu.
Dukk
"Aduh" Huang Kai kesakitan karena di tendang oleh Fengying.
"Kau, dasar mesum!" tunjuk Feng Ying marah sambil mengarahkan telunjuknya pada Huang Kai. Serta merapatkan kaki dan memegangi
Roknya.
Huang Kai segera berdiri "hehehe, maaf aku tidak bermaksud." ia meminta maaf sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Huh" Fengying memalingkan wajahnya dari Huang Kai karena kesal.
"Gadis kecil, siapa namamu?. Kau pasti tunanganku kan?" tanyanya tanpa rasa bersalah.
"Kau" Fengying menunjuk hidung Huang Kai dengan marah. Kemudian menghentakkan kakinya karena kesal.
"Adik ipar bukankah itu keterlaluan, Kau bahkan tidak mengetahui nama tunanganmu sendiri." Xiao Xinxin juga kesal karena hal itu.
"Ehm,,, itu... aku juga baru diberitahu kemarin kalau aku sudah punya tunangan. Dan aku lupa menanyakan namanya." Dengan sedikit merasa bersalah Huang Kai meminta maaf pada FengYin.
FengYin hanya menatapnya dengan kesal dan bibir yang terlihat sedikit monyong.
"Sudahlah adik, mari kita lupakan itu dulu. Sekarang aku hanya ingin tahu bagaimana kau melakuan hal seperti tadi?" desak Xinxin pada Huang Kai.
"Gadis ini cerewet sekali" pikir Huang Kai.
Bukannya menjawab Huang Kai malah membahas hal lain. "Kalian sudah tahu namaku, sekarang katakan nama kalian."
"Cih, bukannya itu salahmu nama tunangan sendiri tidak tahu" decak Fengyin dengan kesal.
"Aku Xiao Xinxin kakak iparmu, dan tunanganmu ini Xiao Fengying. Jangan kau lupakan itu tuan jenius" Xinxin benar-benar sangat kesal karena sedari tadi rasa ingin tahunya tidak pernah di jawab oleh Huang Kai.
"Sekarang coba kau ulangi lagi
Teknik seperti tadi, aku akan memperhatikanmu dengan sungguh-sungguh" desak Xinxin.
"Kakak kau cerewet sekali apa kau tidak lihat aku sangat kelelahan. Berkah namaku bahkan sudah habis. Dan juga menggunakannya seperti tadi benar-benar menghabiskan semua energi dalam tubuh "
"Hihihi" Fengyin menutup mulutnya dengan tangan saat mendengar kakaknya dibilang cerewet.
"Kakak kau dengar, bukan hanya aku yang berpikir kalau kau sangat cerewet" goda Fengyin pada kakaknya.
Xiao Xinxin tidak memperdulikan dua bocah itu, ia hanya melongos pergi untuk mencoba menggunakan berkah nama seperti yang dilakukan Huang Kai sebelumnya.
"ΧΙΑΟ ΧΙΝXIN" berkah nama terpancar dari tubuh gadis itu kemudian bersiap melakukan teknik yang iya latih,
Tapi tidak terjadi hal apapun.
"ΧΙΑΟ ΧΙΝΧΙΝ"
"ΧΙΑΟ ΧΙΝΧΙΝ"
Ia terus mencobanya walau tidak berhasil. Sementara itu Huang Kai dan Fengyin hanya memperhatikan dari pinggir.
"Adik, kau tidak ingin mencobanya seperti kakakmu?" Huang Kai mencoba memulai percakapan.
Fengyin menoleh sebentar lalu kembali memalingkan wajahnya. Ia terlihat masih kesal karena kejadian sebelumnya.
"Gadis ini merepotkan sekali, bukankah aku tadi sudah minta maaf" pikir Huang Kai.
"Tunggu sebentar, aku segera kembali" Huang Kai berlari pergi meninggalkan tempat itu. Sedangkan Fengying terlihat tidak begitu peduli.
Tapi tidak begitu lama Huang Kai
Sudah datang kembali.
"Ini untukmu" Huang Kai menyodorkan satu kotak pada Fengying.
Fengying yang sebelumnya marah mendadak gugup karena Huang Kai tiba-tiba memberikan sesuatu padanya. Padahal mereka baru pertama kali bertemu.
"A aapa ini" ucapnya bingung dan gugup.
"Ibuku meninggal saat aku lahir, ia meninggalkan surat dan kotak ini.
Wasiat ibuku mengatakan aku harus memberikan ini pada wanitaku kelak. Karena kau tunanganku kuberikan saja sekarang." Huang Kai kembali menyodorkan kotak itu pada Fengying.
Fengying yang kebingungan akhirnya meraih kotak itu dari tangan Huang Kai. Xiao Xinxin yang sedang berlatih melihat hal itupun tersenyum. Ia tidak menyangka dua orang belia itu bisa terlihat akrab dengan mudah.
Sudah datang kembali.
"Ini untukmu" Huang Kai menyodorkan satu kotak pada Fengying.
Fengying yang sebelumnya marah mendadak gugup karena Huang Kai tiba-tiba memberikan sesuatu padanya. Padahal mereka baru pertama kali bertemu.
"A aapa ini" ucapnya bingung dan gugup.
"Ibuku meninggal saat aku lahir, ia meninggalkan surat dan kotak ini.
Wasiat ibuku mengatakan aku harus memberikan ini pada wanitaku kelak. Karena kau tunanganku kuberikan saja sekarang." Huang Kai kembali menyodorkan kotak itu pada Fengying.
Fengying yang kebingungan akhirnya meraih kotak itu dari tangan Huang Kai. Xiao Xinxin yang sedang berlatih melihat hal itupun tersenyum. Ia tidak menyangka dua orang belia itu bisa terlihat akrab dengan mudah.
"Dia tidak buruk juga, masih muda tapi sudah pintar mengambil hati seorang gadis" pikirnya.
Xinxin tersenyum geli melihat tingkah mereka berdua, padahal sebelumnya Fengying terlihat sangat kesal.
"Cih, mereka berdua padahal masih bocah tapi bertingkah seperti orang dewasa. Aku jadi merasa kasihan pada diriku sendiri."
Fengying membuka isi kotak itu dan ternyata berisi sebuah gelang.
"Kata paman Yunshang gelang itu terbuat dari benang laba-laba iblis, jadi tidak akan mudah putus. Sedangkan permata nya terbuat dari... hmm maaf aku lupa hehe." Huang Kai merasa malu saat menjelaskannya.
"Yang jelas gelang itu bisa memperkuat serangan saat menggunakan teknik rune sihir, pasti akan berguna suatu hari nanti."
Lanjutnya.
Sebagai gadis belia sepuluh tahun tentu saja Fengying sangat malu, ini pengalaman pertamanya sebagai seorang gadis diperlakukan seperti ini. Ia hanya diam tertunduk malu tidak tahu harus bereaksi atau mengatakan apa.
"Adik, kenapa tidak langsung dipakai. Tidak sopan berlaku seperti itu saat seorang pria memberi hadiah." Xinxin sudah bergabung dalam percakapan mereka, ia pasti sudah memahami situasi adiknya yang belum memahami apapun.
"Bocah, ternyata kau sangat pintar merayu wanita. Sepertinya kami harus mengawasimu kelak agar tidak sembarangan merayu gadis-gadis." Xinxin sambil berkacak pinggang di hadapan Huan Kai.
Mendengar perkataan Xinxin, Huang Kai langsung kelagapan.
"A aaku tidak merayu, aku hanya
Memberi hadiah. Senior-seniorku mengatakan saat bertemu tunangan laki-laki harus memberi hadiah. Aku hanya tidak tahu harus memberikan apa, jadi aku berikan saja peninggalan dari ibuku." ucap Huang Kai malu.
"Xixixixi, adik ipar aku hanya bercanda. Kenapa kau sampai ketakutan begitu."
"Ying'er lihat gelang itu sangat cantik di pergelanganmu. Kau harus menjaganya dengan baik, jangan sampai menghilangkan hadiah dari adik ipar. "Xinxin mengusap kepala adiknya yang sedari tadi hanya tertunduk.
Fengying bahkan tidak menjawab perkataan kakanya itu.
"Adik ipar, kudengar kau seharusnya sudah bisa membuka jalur meridian mu. Memangnya apalagi yang kau tunggu? Kenapa masih belum mau menerobos ke ranah awal pemurnian tubuh?. "Xinxin sengaja mengalihkan pembicaraan
Supaya adiknya tidak terlalu kikuk.
"Bukannya aku tidak mau, tapi ayah dan para tetua melarang membukanya sekarang. Karena mereka sudah mengundang orang-orang dari empat sekte kuat" Huang Kai sedikit kesal dengan keluarganya.
"Padahal aku sudah siap untuk menerobos, dan menjadi kultivator" sambil bersungut-sungut ia menjelaskan.
Xinxin hanya mengangukkan kepala mendengar penjelasan dari Huang Kai.
"Fengying, kau juga harus lebih rajin lagi berlatih, kalau tidak kau akan tertinggal jauh dari bocah ini."
Memangnya selama ini aku tidak rajin berlatih" suara Fengying hanya terdengar lirih.
"Kakak, bagaimana jika akar spritualku nanti sangat buruk?." tanya Fengying pada kakaknya.
"Adik, kau tidak boleh pesimis
Seperti itu. Baik atau buruk kau tetaplah Xiao Fengying adikku."
"Fengying tenang saja, jika memang nanti kultivasimu buruk. Aku Huang Kai akan menghajar semua orang yang menghinamu." ia berbicara dengan percaya diri sambil berkacak pinggang. Mungkin secara naluriah sebagai laki-
laki ia ingin terlihat keren.
"Hmmm, Ying'er kau harus hati-hati. Sepertinya bocah ini memang memang seorang perayu handal. Suatu hari bisa saja dia merayu banyak gadis di belakangmu."
"Kakak..." ucap Fengying malu.
Sedangkan Huang Kai hanya mengalihkan wajahnya pura-pura tidak mendengar perkataan Xinxin sebelumnya.
"Sebaiknya kita kembali ke kediamanmu, sebaiknya aku akan berlatih mengeluarkan berkah nama setelah lah sampai di kota Gunung
Taring."
"Kakak Xinxin, menurutku sebaiknya hal itu dirahasiakan saja terlebih dahulu."
Xinxin dan Fengying saling tatap dan kemudian mengangguk tanda setuju dengan pemikiran Huang Kai. Lagi pula walaupun diceritakan pada seseorang tidak akan ada yang percaya.
Akhirnya mereka bertiga kembali ke aula pertemuan, dan sudah pasti Huang Kai dimarahi ayahnya. Ia mesti berulang kali meminta maaf pada kakeknya Fengying karena sudah berlaku tidak sopan.
Sementara Fengying menjadi lebih pendiam, ia terlihat lebih sering menyentuh gelang pemberian Huang Kai.
Menjelang petang, karena suatu hal keluarga Xiao tidak menginap di kediaman klan Huang. Mereka langsung kembali saat itu juga ke kota Gunung
Taring.
Huang Kai melambaikan tangan kepada dua gadis keluarga Xiao dan keduanya ikut melambaikan tangan.
Dan tentu saja hari ini adalah hari yang tidak akan terlupakan oleh gadis kecil Fengying. Hari dimana ia mungkin telah jatuh cinta. Walau ia belum memahami arti dari perasaannya.