Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: GEMPA DI ALUN-ALUN KLAN
Matahari pagi menyinari pelataran luas Klan Han dengan cahaya keemasan yang tajam. Ratusan murid muda berkumpul, mengenakan jubah terbaik mereka. Di tengah alun-alun, sebuah batu kristal setinggi tiga meter berdiri tegak—Kristal Pengukur Jiwa. Alat ini akan menentukan nasib setiap remaja: apakah mereka akan menjadi elit klan atau dibuang sebagai pekerja kasar.
Han Jian berjalan perlahan memasuki area. Langkah kakinya terasa berat, bukan karena lemas, tapi karena setiap langkahnya sekarang mengandung kepadatan energi yang tersimpan di sumsum tulangnya. Ia merasa seperti membawa beban gunung, namun tubuhnya terasa seringan bulu.
"Lihat, si sampah itu benar-benar datang," bisik seorang murid perempuan di barisan belakang.
"Mungkin dia ingin menyerahkan diri lebih awal agar tidak terlalu malu saat diusir," sahut yang lain sambil tertawa kecil.
Han Jian mengabaikan mereka. Matanya tertuju pada panggung utama, di mana para tetua duduk dengan wajah kaku. Di sana juga ada Han Lei, yang tampak pongah dengan lencana tingkat kelima Pemurnian Qi di dadanya.
"Ujian dimulai!" seru Tetua Agung dengan suara yang menggetarkan udara.
Satu per satu murid maju. Kristal itu bersinar dengan berbagai warna sesuai dengan tingkat Dantian mereka.
"Han Mu, Tingkat 3 Pemurnian Qi! Lulus!"
"Han Sisi, Tingkat 4 Pemurnian Qi! Luar biasa, masuk ke barisan inti!"
Hingga tiba giliran yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang sebagai bahan lelucon.
"Han Jian, maju!"
Suasana alun-alun seketika hening, lalu diikuti oleh tawa tertahan. Han Jian melangkah maju dengan tenang. Saat ia melewati Han Lei, sepupunya itu berbisik pelan, "Nikmati saat terakhirmu di sini, budak tambang."
Han Jian berdiri di depan kristal hitam itu. Ia menarik napas dalam. Ia tahu bahwa ia tidak memiliki Dantian. Jika ia meletakkan tangan di kristal itu dengan cara biasa, kristal itu tidak akan bereaksi karena tidak ada aliran Qi dari perut bawahnya.
‘Seni Transmutasi Tulang Purba, aktif!’ batin Han Jian.
Ia tidak mengalirkan energi dari perut, melainkan memicu getaran dari sumsum tulang lengannya. Seketika, energi hitam pekat yang tersembunyi di dalam rangkanya merambat melalui syaraf dan otot, lalu meledak keluar melalui telapak tangannya tepat saat menyentuh kristal.
BZZZZTTT!
Kristal Pengukur Jiwa, yang biasanya bersinar lembut, tiba-tiba bergetar hebat. Cahaya yang keluar bukan biru atau hijau seperti biasanya, melainkan hitam legam yang pekat seperti tinta.
"Apa yang terjadi?" Tetua Agung berdiri dari kursinya, matanya membelalak. "Kristal itu... tidak mendeteksi tingkat Dantian-nya, tapi mendeteksi kekuatan fisik yang mengerikan!"
KRAK!
Retakan kecil muncul di permukaan kristal. Seluruh alun-alun terkesiap. Kristal itu adalah batu tingkat tinggi yang bisa menahan serangan tingkat ketujuh Pemurnian Qi, tapi sekarang ia retak hanya oleh sentuhan tangan seorang remaja yang dianggap tidak punya basis kultivasi.
"Henti—!" Teriak Tetua Agung terlambat.
BOOM!
Kristal itu meledak menjadi ribuan kepingan kecil. Gelombang kejutnya melemparkan murid-murid di baris depan hingga terjungkal. Han Jian berdiri tegak di tengah debu kristal, tangannya masih terangkat, namun tidak ada luka sedikit pun di kulitnya. Tulangnya telah menjadi sekeras baja ilahi.
"Maaf, Tetua," suara Han Jian terdengar dingin dan stabil. "Sepertinya alat kalian terlalu rapuh untuk mengukur kekuatanku."
Han Lei gemetar, wajahnya pucat pasi. "Mustahil... kau tidak punya Dantian! Ini pasti sihir hitam! Kau curang!"
Han Lei, yang merasa otoritasnya terancam, melompat ke arah Han Jian dengan kepalan tangan yang dibalut api Qi. "Mati kau, penipu!"
Han Jian tidak menghindar. Ia hanya mengangkat satu jari. Saat tinju api Han Lei menghantam jari Han Jian, api itu padam seketika, dan suara tulang retak terdengar jelas.
"AAAAAAGH!" Han Lei menjerit. Lengannya patah seperti ranting kering hanya karena menabrak jari Han Jian.
Han Jian menatap sepupunya dengan datar. "Tanpa Dantian, aku tidak butuh menampung energi. Aku adalah energi itu sendiri."
Seluruh alun-alun membeku. Mereka baru saja menyaksikan seorang "sampah" mematahkan lengan jenius klan hanya dengan satu jari. Peraturan dunia kultivasi baru saja dijungkirbalikkan oleh pemuda yang tidak memiliki wadah energi.