"Aku cinta kamu. Meskipun kamu duda, aku enggak peduli. Aku pasti bisa membuatmu jatuh cinta padaku," ucap Berliana.
"Satu tahun. Jika kamu mampu bertahan dan membuatku jatuh cinta padamu, maka pernikahan kita berlanjut. Tetapi jika tidak, kita bercerai. Deal?" tanya Dion memulai kesepakatan.
"Oke, aku setuju. Aku yakin Mas Dion akan jatuh cinta padaku sebelum jangka waktu satu tahun pernikahan kita," jawab Berliana penuh keyakinan.
Berkat kekerasan yang selalu ia dapatkan, kematian kedua orang tua dan adik-adiknya serta dendam tak kunjung padam akibat ulah pihak ketiga, membuat dirinya tumbuh menjadi sosok Sadisme. Tidak ada wanita yang sanggup seranjang dengannya. Tanpa Berliana tahu bahwa suaminya itu tengah menyembunyikan identitas dan karakter aslinya.
Sanggupkah Berliana Cahaya Mahendra menjadi dermaga cinta terakhir suaminya, walau tubuhnya akan hancur dan terkoyak?
Simak kisahnya💋
Update Chapter : Setiap Hari.
🍁Merupakan bagian dari Novel : Bening🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Menggoda Suami
"Pertama, Mas harus operasi kembali agar pernikahan kita ini tetap bisa menghasilkan keturunan. Kedua, aku ingin Mas bersedia terapi ke Dokter Aldo."
Deg...
"Mak_sudmu terapi?" tanya Dion terbata-bata.
"Maaf, aku enggak sengaja mendengar pembicaraan Mas dengan Dokter Aldo sewaktu di balkon. Aku ingin Mas sembuh. Aku cinta sama kamu, Mas. Kalau Mas enggak mau lakuin, detik ini juga Mas akan lihat Berliana Cahaya Mahendra hanya tinggal sebuah nama. Tenang saja, Mas tidak akan masuk penjara karena kematianku. Papa tidak akan bisa membuat Mas masuk penjara. Tetapi seumur hidup, Mas akan terbelenggu dengan penyesalan atas kematianku."
☘️☘️
Beberapa jam kemudian.
Seorang suami yang beberapa waktu sebelumnya tengah berdebat sengit dengan istrinya, kini tengah menatap wajah istrinya yang tertidur pulas. Jejak air mata dan luka masih terpancar jelas di wajah ayunya.
Bahkan lehernya yang sempat terkena goresan ujung pisau pun sudah diperban dengan baik. Tanpa sadar matanya yang biasa menatap istrinya dengan tajam, kini menjadi berembun.
"Maafkan aku telah banyak membuat luka untukmu. Maaf," batin Dion sendu.
Ia pun lantas memperbaiki tatanan selimut yang menutupi tubuh istrinya itu. Udara kota Bandung terasa sangat dingin malam ini. Terlebih baru saja beberapa menit lalu hujan turun dengan derasnya membasahi tanah.
"Selamat tidur, sayang." Dion hanya bisa mengucap dalam hati kalimat indah tersebut.
Sebuah kecupan hangat tiba-tiba mendarat di kening Berliana dan keduanya tertidur nyenyak hingga pagi menjelang.
Sesuai kesepakatan semalam, akhirnya kini sepasang suami istri ini tengah duduk di depan meja dokter spesialis urologi. Setelah dilakukan pengecekan secara menyeluruh baik kondisi pasien dan sebagainya. Maka besok suami Berliana ini bisa melakukan prosedur vas*ektomi reversal.
Berliana akhirnya bisa bernafas dengan lega. Semua yang sedang ia upayakan demi keutuhan rumah tangganya berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti.
Dion bak seperti anak ayam yang tengah dirundung ketakutan kehilangan induknya. Setiap permintaan Berliana selama masih dalam batas koridor yang wajar, maka ia akan menurutinya tanpa banyak membantah.
Dirinya sendiri pun tak tahu mengapa ia bisa bersikap seperti ini pada Berliana. Padahal dulu ia mati-matian membenci putri sulung Arjuna dan juga keluarga Berliana tentunya.
Akan tetapi saat ini ia merasa takut kehilangan Berliana. Sejak dahulu ada satu rasa yang ia takuti yakni kehilangan. Dalam arti kehilangan orang tercinta untuk selama-lamanya. Kematian.
Seluruh anggota keluarganya telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Dirinya menjadi sebatang kara dan yatim piatu. Hal itu membuat ia sangat takut dan kalut saat Berliana mengancam akan bunuh diri di depannya jika tak menuruti apa yang dikehendaki. Dan pada akhirnya tak ada jalan lain selain menuruti kemauan Berliana.
☘️☘️
Tiga minggu berlalu.
Dalam pekatnya malam, sepasang suami istri yang akan beranjak tidur tengah sibuk melakukan aktivitas di atas ranjang. Si suami sedang berusaha mati-matian tak menyentuh istrinya.
Ia tengah menghadap ke arah lain dengan memunggungi istrinya. Sedangkan istrinya sibuk menggodanya sedari tadi. Bahkan malam ini istrinya itu sengaja memakai lingerie tipis menerawang berwarna broken white tanpa dalam*an.
"Mas, ayo dicoba. Bukankah hampir tiga minggu ini Mas sudah rutin terapi ke Dokter Aldo dan juga setiap akhir pekan menginap di pondok Pak Kyai. Siapa tahu sudah ada kemajuan. Kemarin Eyang telepon, tanya sudah ada tanda-tanda cicitnya apa belum? Huft... gimana ada cicitnya kalau belum dijebol gawangnya," gerutu Berliana sengaja memancing suaminya.
Operasi vas*ektomi reversal yang dijalani Dion tiga minggu yang lalu berjalan lancar. Datang bulan Berlian sudah dua minggu yang lalu selesai. Dalam kurun tiga minggu ini, Dion juga sudah rutin menjalani terapi di klinik Dokter Aldo. Dan setiap akhir pekan melakukan terapi keagamaan dan tradisional yang ada di pondok Pak Kyai kenalan Dokter Heni.
Salah satu saran dari Dokter Heni pada Berliana agar mengajak suaminya itu lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Selain beribadah rutin di rumah, tak ada salahnya datang ke pondok sebagai cara alternatif mempercepat kesembuhan mental Dion.
Berliana pun antusias mencoba semua cara yang disarankan padanya. Ia sangat mencintai Dion. Dirinya sangat yakin suaminya ini sebetulnya orang yang baik dan memiliki hati yang penuh cinta serta kasih sayang terhadap sesama.
Hal itu terbukti, tanpa sengaja ia menemukan beberapa lembar ucapan terima kasih dari suatu panti asuhan di Kota Bandung. Setelah ia menyelidikinya, ternyata suaminya ini telah menjadi donatur tetap di sana selama tiga tahun terakhir. Sebagai seorang istri, ia sangat bangga pada suaminya.
Alhasil malam ini ia sangat ingin suaminya ini menyentuhnya lebih dalam. Berharap benih yang ditanam nantinya membuahkan hasil.
☘️☘️
Saat ini ia tengah meniup-niup dan menghembuskan nafasnya di bagian telinga serta tengkuk suaminya. Seketika hawa panas semakin merambat di sekujur tubuh Dion.
"Mas, ayo. Aku pengin," bisik Berliana mesra dan menggoda.
Lelaki ini tengah memejamkan matanya dan berusaha memukul mundur libi*donya yang sudah naik sejak Berliana keluar dari kamar mandi dengan lingerie tipisnya. Tapi sepertinya bendungannya tak kuat menahan laju api asmara yang sengaja dikobarkan oleh istrinya ini.
Pria adalah makhluk visual. Terlebih dia adalah pria normal. Tentu saja disuguhkan pemandangan indah yang seketika membuat matanya berkabut hasrat. Ditandai sejak tadi bukti gair@hnya itu sudah bangun dari hibernasinya. Bukti bahwa dia seorang pria tulen.
Berlanjut godaan dari sang istri yang terus saja dilancarkan kepadanya akhirnya seketika...
🍁🍁🍁