Seorang Dokter Jenius dari masa depan bereinkarnasi kembali ke dalam raga seorang putri bangsawan, yang menikah dengan pria yang sangat membenci dirinya. Hingga pada suatu hari yang nahas, dia pun diasingkan ke sebuah wilayah terkutuk bersama pelayannya, karena tuduhan.yang keji.
*
"Aku tidak akan menyerah! Sudah diberi kehidupan dan kesempatan kedua, masa harus aku sia-siakan?"
*
Jadilah saksinya, wahai langit! Jika aku, akan mengguncang dunia kuno ini dengan semua keahlianku!"
*
"Nona, tapi Anda tidak bisa apa-apa, loh!"
*
"Tenang saja ... Dewa memberkatiku dalam komaku kemarin, dan aku akan menunjukkan keahlianku!"
*
Bagaimana kisah si Dokter Jenius ini di dunia kuno yang tidak terdapat di dalam sejarah Kekaisaran?
*
Apakah dia mampu membangun kekuatannya sendiri di sana?
*
Ikuti kisah si Dokter Bar-bar hanya di sini ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 05: Lembah Bangkai!
***
Langkah Anlian dan Yaoyao berhenti tepat di depan sebuah gerbang kayu reyot yang menandai batas 'Lembah Bangkai'.
Gerbang itu miring, dipenuhi bekas cakaran dan noda darah yang sudah menghitam.
Dari balik kabut kelabu, terdengar suara tawa parau bercampur erangan kesakitan.
"Arrghh ... Hahahahaha ..."
Yaoyao menelan salivanya dengan gugup, dia benar-benar belum siap mental untuk menghadapi semua ini.
"N—Nona ... Apakah kita benar-benar akan masuk ke sini?" tanya Yaoyao dengan suara bergetar ketakutan.
Anlian menyelipkan tangannya ke dalam saku jaket hitam modernnya.
"Kita sudah sejauh ini, kalau mundur sekarang, aku akan menertawakan diriku sendiri," jawab Anlian santai.
"Tapi Nona—"
"Tenangkan dirimu, Yaoyao. Selama kamu berada dekat denganku, maka kamu akan selamat!" sela Anlian dengan suara tegas.
"Kata-kata Anda itu ... Sama sekali tidak bisa menenangkan hati hamba, Nona ..." ujar Yaoyao dengan suara lirih.
Anlian tersenyum tipis, lalu dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam wilayah 'Lembah Bangkai'.
Kabut yang penuh dengan aura suram langsung menyelimuti mereka.
"Hmm ... bau darah, bangkai, dan kebencian. Sungguh sebuah kombinasi yang sangat sempurna!" gumam Anlian dengan nada riang.
Yaoyao semakin merinding, saat mendengar suara ceria majikannya itu.
"T—tolong jangan terlalu gembira, Nona ... Jika ada yang mendengarnya—"
Belum sempat Yaoyao menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara tawa yang sangat kencang ditelinga mereka.
"HAHAHAHA!"
"Tuh, kan?! Ada yang muncul ..." gumam Yaoyao dengan tubuh gemetar ketakutan.
Sesosok tubuh kurus dengan rambut kusut, melompat turun dari atas sebuah batu.
Tap!
"Hei-hei ... Ada pendatang baru rupanya ... Hahahaha!" seru sosok itu sambil tertawa.
Matanya merah, giginya kuning, dan bajunya terlihat compang-camping. Seperti sosok berandalan yang tidak mandi selama enam bulan di dunia modern, membuat pusing orang yang mencium aroma tubuhnya.
"Apakah dua gadis cantik ini tersasar? Sampai bisa muncul di neraka kecil ini?" tanya sosok itu dengan bibir menyeringai.
Yaoyao hampir pingsan dibuatnya, namun dia menguatkan diri agar bisa menjaga Nona cantiknya ini.
"Nona ..."
Anlian mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Yaoyao diam.
"Siapa kamu?" tanya Anlian datar.
Pria itu tertawa lebih keras, saat mendengar pertanyaan Anlian.
"Hahahahahahaha!"
"Namaku?" Dia menunjuk da-danya sendiri.
"Mereka memanggilku An-jing Neraka Ketujuh!" jawab sosok itu dengan nada bangga.
"Hisss! Namanya jelek sekali," komentar Anlian, sambil memperlihatkan wajah mengejek.
"DASAR T—TIDAK SOPAN!" sosok pria itu meraung murka.
"Kalian sadar tidak, jika kalian ini sedang berada dimana, hah?!! Ini adalah wilayah buangan yang paling kejam!! Yang ada disini hanyalah orang gila, pembunuh, dan monster!" raung pria itu kembali, sambil melompat kesana-kemari.
"Bagus sekali! Itu artinya aku tidak datang ke tempat yang salah!" jawab Anlian dengan nada ceria.
Pria itu langsung terdiam, dia menyipitkan matanya dengan curiga.
Apakah otak gadis ini sudah rusak?
Kok dia sepertinya gembira sekali bisa menemukan tempat berbahaya seperti ini?
"Sayang sekali ... Cantik-cantik tapi stress ..." gumam pria itu dalam hatinya.
"Aku rasa, kamu seorang gadis kecil yang aneh ..." ujar pria itu.
"Terima kasih atas pujiannya, Tuan. Itu adalah julukan diriku ..." sahut Anlian dengan nada tenang.
"Kalian ini sebenarnya mau apa, sih? Kalau ingin mati, aku bisa membantu tanpa harus membayar harga ..." ujar pria itu sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Anlian hanya tersenyum tipis, saat mendengar ocehan pria itu.
"Aku datang kesini untuk menawarkan sebuah kehidupan ..." ujar Anlian.
"Hah?!? Sebuah kehidupan? Kehidupan yang bagaimana maksudnya?" tanya pria itu dengan wajah sinis.
"Kami dibuang ke wilayah ini, itu tandanya kami sudah mati! Tidak ada kehidupan layak untuk kami yang ada disini! Kamu jangan beri kami harapan palsu, ya?!" lanjut pria itu dengan wajah meremehkan.
"Aku serius ..." sahut Anlian.
"Aku menawarkan sebuah kehidupan yang jauh lebih baik kepada kalian."
"Badan kalian bisa sehat, racun kronis lenyap, dan membuat kalian menjadi sangat kuat, agar kalian tidak diinjak-injak lagi ..." ujar Anlian menjelaskan.
Pria itu tertawa kencang, saat mendengar penjelasan Anlian.
"Whuahahahahaha!"
"Dasar Gadis Pembohong!"
"Tsk! Coba saja dulu kalau tidak percaya ..." jawab Anlian sambil mendecakkan lidahnya.
Dia mengeluarkan sebuah tabung berukuran kecil, yang berisi sebuah cairan berwarna biru pucat.
Mata pria itu langsung terpaku ke arah tabung yang dipegang oleh Anlian.
"A—apa itu?" tanya pria itu.
"Obat cair," jawab Anlian singkat.
"Minumlah, cairan obat ini akan menyembuhkan luka di area paru-parumu itu!" ujar Anlian sambil menyodorkan ramuan hasil racikannya.
Pria itu mundur selangkah, wajahnya mengerut tanda tidak percaya.
"Bagaimana kamu tahu aku sakit dibagian paru-paru?" tanya pria itu, curiga.
"Aku bisa mencium bau racun di setiap helaan napasmu itu," jawab Anlian.
"Setiap kali kamu batuk da-rah, da-rahmu itu terasa pahit, kan?" lanjut Anlian dengan diagnosanya.
Pria itu terdiam, karena apa yang dikatakan oleh gadis didepannya ini semua benar.
"Apa efeknya jika aku meminumnya?" tanya pria itu.
"Maka kamu akan hidup normal dan sehat ..." jawab Anlian.
"Jika kamu ragu, tidak perlu meminumnya. Paling lama, kamu hidup selama satu minggu lagi ..." lanjut Anlian dengan nada santai.
Yaoyao terlihat panik, saat melihat majikannya memprovokasi pria itu.
"Nona, sebaiknya hentikan! Ini terlalu berbahaya ..." bisik Yaoyao ditelinga Anlian.
"Diam!" bentak Anlian tanpa menoleh.
Yaoyao pun langsung berdiri patuh dibeakang Anlian dengan wajah pucat.
Pria itu menatap tabung yang ada di tangan Anlian agak lama, namun akhirnya dia mengambilnya dengan tangan gemetar.
"Aku minum! Kalau kamu bohong ... aku akan mencabik tubuh indahmu itu tanpa sisa!" ujar pria itu dengan nada mengancam.
"Silakan saja, aku tidak takut ..." jawab Anlian.
Pria itu meneguk cairan berwarna biru tersebut dengan tangan gemetar.
Gluk! ... Gluk!
Tidak lama kemudian, dia tersedak.
"UGH—!"
Tubuhnya langsung bergetar dengan hebat.
"AAAAAH!! APA INI?!"
Pria itu langsung jatuh berlutut, sambil mencakar-cakar tanah.
"Ini obat apa sih?! Kenapa aku jadi seperti ini?!!" raung pria itu, sambil terus mencakar tanah.
Yaoyao menutup mulut dengan kedua tangannya, jujur saja ... dia sangat-sangat terkejut!
"N—Nona ... Apakah dia—"
"Jangan panik, tunggu sebentar lagi ..." ujar Anlian dengan nada tenang.
Dia tahu seberapa besar efek dari racikan barunya itu, dan racikan itu tidak akan merenggut nyawa pria tersebut.
*A Few Moment Later ....*
"Hah ... haaaah ..."
Pria itu akhirnya bisa duduk dengan napas yang terengah-engah.
Dia menyentuh da-danya sendiri.
"Eh, kok hangat ...?"
Dia mencoba untuk menarik napasnya dalam-dalam, lalu menahannya.
"Loh, tidak sakit lagi ...!"
Dia menatap Anlian dengan mata terbeliak lebar, seolah-olah telah bertemu dengan seorang 'Tabib Ajaib' yang telah tiada.
"Apa ... apa yang kamu lakukan padaku?!" tanya pria itu.
"Itu baru dosis awal," jawab Anlian.
"Kalau kamu mau dosis lanjutannya, maka kamu tahu harus ke mana ..." lanjut Anlian dengan nada santai.
Pria itu terdiam lama sekali, namun tiba-tiba dia langsung berlutut di hadapan Anlian.
Brugh!
"A—aku ... aku akan jadi pengikutmu!" ujar pria itu.
Yaoyao tersentak kaget.
"Ah! Cepat sekali memutuskannya?!" seru Yaoyao.
Pria itu menatap Yaoyao dengan tatapan mata yang liar.
"Jika kamu hidup dengan rasa sakit selama bertahun-tahun, maka kamu akan paham!" ujar pria itu kepada Yaoyao.
Anlian menganggukkan kepalanya, puas.
"Baru satu ..." gumam Anlian.
Tidak lama kemudian,
Prok ... Prok ... Prok ...
Suara tepuk tangan menggema dari balik kabut.
"Luar biasa sekali!"
Sosok tinggi dengan memakai jubah berwarna abu-abu, muncul.
Wajahnya penuh bekas luka, dan tatapan matanya sangat tajam.
"Sudah lama aku tidak melihat seseorang yang bermain dengan ramuan seperti itu," ujarnya sambil menyeringai.
"Yah, ada orang gila lagi, Nona ..." ujar Yaoyao sambil mundur ketakutan.
Pria itu tersenyum tipis, saat mendengar ucapan Yaoyao.
"Tenanglah, aku masih sangat waras ..." sahut pria itu.
"Bagus, kalau masih waras. Aku sudah cukup muak menghadapi orang gila soalnya ..." jawab Anlian dengan wajah datar.
Pria itu terkekeh ringan, dia tertarik dengan keberanian gadis cantik di depannya ini.
"Hehehe ... Perkenalkan, namaku Shen Luo," ujar pria itu.
"Duxin," sahut Anlian singkat.
"Nama yang sangat ... unik! Salam kenal, Nona Duxin ..." ujar pria itu.
"Hmm,"
"Lalu, kamu datang mau apa?" tanya Anlian.
"Awalnya aku datang ingin membunuhmu," jawab Shen Luo jujur.
"Tapi sekarang, aku malah tertarik."
"Tertarik apa maksudmu?" tanya Anlian.
"Tertarik dengan ramuanmu itu ..." jawab Shen Luo.
Anlian menatap kearahnya dengan tatapan sedingin Antartika.
"Apakah kamu sakit?" tanya Anlian.
"Ya, sangat parah!" jawab Shen Luo.
"Meridian dibagian kiriku hancur ..." lanjut Shen Luo.
Anlian menghela napasnya.
"Haah! Lalu kamu mau apa?" tanya Anlian dengan nada sabar.
"Aku ingin bergabung," jawab Shen Luo dengan nada lugas.
"Tapi, aku tidak ingin menjadi bawahan biasa ..." lanjut Shen Luo dengan nada main-main.
Anlian mengernyitkan dahinya, dia tidak suka ada orang yang minta 'Hak' istimewa, sebelum mereka bisa memberikan kontribusi untuknya.
"Tidak ada anggota istimewa di dalam anggotaku," sahut Anlian dengan wajah dingin.
"Setiap mereka yang berkontribusi dan patuh, maka semua akan mendapat perlakuan yang sama ..." lanjut Anlian.
Shen Luo terkekeh, saat mendengar jawaban Anlian.
"Baiklah, Nona Duxin ... Aku akan patuh, selama aku masih bernapas!"
Anlian mengeluarkan tabung kedua dari saku jaketnya, lalu melemparkannya ke arah Shen Luo.
"Minumlah!"
Shen Luo langsung meneguknya tanpa ragu.
Gluk! ... Gluk!
Dan efeknya lebih brutal dari yang pertama.
Shen Luo langsung berlutut, dengan da-rah yang mengalir dari sudut bibirnya.
Namun—
Dia tertawa bagaikan orang gila.
"HAHAHA ... Ini sangat menyakitkan ... Namun, meridianku sepertinya mulai ... membaik!" ujar Shen Luo dengan mata berbinar.
Anlian tersenyum puas, dan dia bergumam untuk menghitungnya.
"Dua."
♨
Dari kejauhan, terlihat sosok pria tampan yang sedang mengamati setiap gerakannya.
"Sungguh gadis kecil yang menarik!Bukan hanya pakaiannya yang aneh, tapi dia ternyata sedang merekrut para orang gila di Lembah tersebut."
"Bukan hanya menyembuhkan mereka, tapi dia juga membuat mereka patuh terhadapnya ... Sungguh gadis yang sangat langka!"
Sementara itu di dalam Lembah Bangkai, suara-suara mulai berdatangan dari dalam kabut.
"Hey, apa yang terjadi?"
"Apakah benar ada obat se-mujarab itu?"
"Dan, siapa gadis cantik itu? Pakaiannya terlihat ... aneh!"
Kabut pun terbelah ...
Lima ... sepuluh ... Dan akhirnya belasan sosok pun muncul dari sana.
Tatapan mereka penuh luka dan kebencian.
Tanpa merasa takut, Anlian melangkah maju ke arah mereka.
Lalu, Anlian berkata dengan suara lantang:
"Aku tidak akan memaksa kalian!"
"Aku juga tidak akan menjanjikan Surga!"
"Aku hanya ingin memberi kalian satu hal, yaitu ... Kesempatan!"
"Dengan meminum ramuan ajaibku, maka kalian akan hidup nyaman dibawah bimbinganku!"
"Jika tidak, maka kalian akan mati perlahan dalam kesunyian dan penderitaan mendalam di dalam Lembah Bangkai ini!"
Suasana menjadi hening sejenak, setelah orasi Anlian selesai.
Tidak lama kemudian, terlihat ada satu orang yang melangkah maju.
Lalu, dua orang ...
Kemudian, Lima orang.
Yaoyao berdiri dengan tubuh gemetar, saat melihat kejadian itu.
"Nona ... mereka semua ..."
"Hm ... Mereka adalah para calon pasukan terkuat di masa depan. Kamu juga akan berlatih dan menjadi kuat, Yaoyao. Karena, aku tidak akan menerima orang yang lemah!" sahut Anlian dengan nada tegas.
Sementara itu di atas sebuah tebing, sosok pria tampan berwajah dingin pun tersenyum lebar untuk pertama kalinya, saat melihat kejadian itu.
"Badai mulai terbentuk ... Dan pusatnya adalah gadis kecil yang bernama ... Anlian! Hehehehe!"
Di dalam benak Anlian, suara T2 terdengar kembali.
[Mendeteksi peningkatan koneksi sosial abnormal.]
[T2 menyarankan agar tahap pembentukan inti kekuasaan dimulai.]
Anlian menyeringai puas.
"Bagus!" gumam Anlian, sambil melihat para calon anggota pasukannya.
"Akhirnya ... dunia ini mulai berjalan sesuai dengan apa yang aku rencanakan! Tunggu pembalasanku, wahai orang-orang yang tidak punya nurani!"
"Kalian bisa bersikap kejam, maka aku akan sejuta kali lebih kejam dalam membasmi kalian!"
Kabut di dalam Lembah Bangkai itu berputar lebih kencang.
Dan tanpa disadari oleh mereka ...
Sejarah dunia itu mulai bergeser.
♨♨♨
Terima kasih atas dukungan kalian dengan membaca cerita ini. Jika kalian suka tolong bantu Author d4ngan komen, like, Subscribe, dan ratingnya oke? 😊🙏🏻
Terima kasih ...💖💖💖