~BEBERAPA PART MENGANDUNG MATURE CONTENT~
Hidup Regan tiba-tiba rumit sejak dipindah tugaskan mengajar di kampus keluarganya dan bertemu dengan Yona, model cantik dengan sejuta tingkah menyebalkannya.
Parahnya, mereka ternyata dijodohkan.
"Jika yang merindu adalah jiwa, kenapa yang sakit sekujur raga?" tanya Yona Anantasya William memeluk erat kekasih hatinya.
Kepulangan Yona ke Indonesia atas paksaan dari orang tuanya ternyata bukan tanpa sebab. Orang tuanya telah memilihkan seorang lelaki untuk menjadi suaminya.
Kata pepatah, 'Orang tua ikut menuliskan takdir anak-anaknya'.
Bagaimana takdir Regan dan Yona? Akankah perjodohan mereka berjalan dengan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiya Corlyningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelegar Petir
Hujan angin mengguyur Kota itu, membuat mobil dan kendaraan lainnya yang melintas berhenti sejenak untuk menepi. Angin kencang membuat pepohononan disana meliuk-liuk seakan ingin tumbang dari tempatnya.
Waktu telah beranjak malam, meskipun lampu menyala tidak bisa menerangi jalanan yang diguyur hujan deras sekaligus angin. Regan terpaksa berhenti di minimarket terdekat, takut terjadi sesuatu yang buruk menimpa mereka berdua.
"Kita berhenti dulu sampai hujan reda," ucap Regan diangguki Yona.
Seharusnya mereka tadi bergegas untuk pulang sebelum petang. Tapi pemandangan di sana tidak mampu mereka lewatkan begitu saja. Regan dan Yona terhipnotis keindahan alam disana sehingga melupakan waktu untuk pulang.
Yona mengigil kedinginan, dia tidak membawa jaket atau apapun didalam koper kecilnya.
Regan mengambil jaketnya didalam dasboar mobilnya, mengalungkannya di pundak Yona.
"Lain kali kalau berpergian siapkan jaket," ucap Regan mewanti-wanti jika kejadian seperti ini terulang kembali.
Regan turun dari mobilnya untuk membeli minuman hangat yang tersedia di minimarket tempatnya berteduh. Yona menyusulnya, berniat mencari makanan ringan untuk mengisi perutnya yang sudah mulai keroncongan.
Mereka berdua duduk di kursi minimarket, menyantap makanan ringan dan minuman hangat yang telah dia beli.
"Sepertinya hujannya tidak mereda, anginnya bertambah kencang," ucap Yona merapatkan jaketnya kedinginan.
Regan mengangguk menyetujui apa yang wanita itu katakan.
"Musim di Indonesia tidak bisa kita tebak, manusianya terlalu menyepelekan alam," ucap Regan.
Hutan ditebangi dan dibakar untuk dibuat lahan, gunung menjadi gundul, tanah di perbukitan manusia ambil untuk keperluan mereka hingga menyebabkan tanah longsor. Belum lagi ketidaksadaran manusia yang membuang sampah di kali hingga menyebabkan banjir.
Jika alam sudah marah, manusia bisa apa?
Regan berharap pemerintah bisa membuat peraturan untuk upaya pencegahan hal seperti itu terjadi. Bencana memang rencana Tuhan, tapi Tuhan tidak akan marah jika manusianya menjaga alam dengan baik. Seperti itulah pemikiran Regan tentang alam dan manusia.
"Apa tidak sebaiknya kita mencari hotel untuk menginap?" tanya Yona khawatir jika mereka memaksakan diri untuk pulang akan terjadi apa-apa di jalan.
"Aku cek dulu di Google Maps," jawab Regan mencari hotel terdekat di ponselnya.
Regan mencari hotel yang menurutnya baik, aman dan juga nyaman. Dia menemukan satu hotel yang memiliki kriterianya, 300 meter dari tempatnya saat ini.
"Aku menemukannya," ucap Regan.
Yona mengangguk, dia berdiri mengikuti Regan untuk segera menuju hotel yang mereka tuju. Hanya menempuh waktu lima menit untuk sampai di sana.
Hotel itu lumayan megah, kondisi hotelnya pun rapi, bersih, dan juga memiliki bangunan terbaru. Seorang resepsionis menyambut mereka,
"Berapa kamar, Pak?" tanya resepsionis itu.
"Dua kamar," jawab Yona mendahului Regan, takut lelaki itu akan memanfaatkan keadaan untuk menguntungkannya.
Resepsionis itu meminta Regan dan Yona untuk mengikutinya, mengantarkan Regan dan Yona ke kamar mereka yang kebetulan bersebelahan.
"Selamat menikmati layanan hotel kami, jika ada yang dibutuhkan bisa menghubungi kami dengan telepon yang sudah disediakan. Selamat malam Bapak, Ibu," ucap Resepsionis itu.
Yona membuka kunci pintu kamarnya. "Kamu yakin tidur sendiri?" tanya Regan menatap Yona tidak yakin.
"Iyalah, memang kenapa?"
"Kamu tidak tahu kalau semua hotel pasti ada penunggunya?" tanya Regan sengaja menakut-nakuti Yona.
Yona menyerngitkan keningnya, dia bukan orang yang percaya dengan hal-hal semacam itu.
"Penunggunya? Siapa? Kamu?" tanya Yona menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah jika tidak percaya," ucap Regan membuka pintu kamarnya dan melenggang masuk ke dalam.
Yona menghendikkan bahunya acuh, tidak peduli dengan apa yang lelaki itu katakan untuk menakut-nakutinya saja.
Yona mengambil baju gantinya yang ada didalam koper kecilnya, Yona memutuskan untuk membersihkan dirinya dan beristirahat setelah itu karena rasa lelah yang kini menyergapnya.
Suara guruh petir membuat Yona berjingkat kaget, baru saja wanita itu menyelesaikan ritual mandinya. Rasa takut menggelayuti dirinya, kilatan petir yang terlihat di jendela kamar hotelnya terlihat begitu jelas.
Yona bergidik ngeri, wanita itu segera berganti baju dan berlari keluar kamarnya untuk menuju kamar hotel Regan.
Dengan tidak sabar, Yona menekan tombol di pintu kamar Regan dan menggedornya dengan keras. Berharap lelaki itu mendengarnya.
"Ayolah Regan, jangan tidur dulu," gumam Yona ketakutan jika Regan tidak mendengarkan bel yang dia bunyikan.
Regan membuka pintunya, keningnya berkerut melihat Yona berdiri di depan kamarnya.
"Hei," panggil Regan saat Yona melenggang masuk kedalam kamarnya menginap.
Yona langsung merebahkan tubuhnya di ranjang, menutupi dirinya dengan selimut hingga melilit tubuhnya.
"Katanya berani tidur sendiri," ejek Regan dengan tangannya mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.
"Aku takut dengan petir," ucap Yona menjawab ejekan Regan.
"Bilang saja tidak bisa jauh dariku," jawab Regan mendengus.
Yona melemparkan bantal ke arah Regan. "Kau, tidur di sofa saja," ucap Yona membuat Regan membelalakkan matanya.
"Kamu lupa ini kamarku?" tanya Regan berkacak pinggang.
"Aku kan hanya menumpang semalam saja," jawab Yona polos.
Iyalah semalam, memang mereka mau menginap disana sampai kapan? Sampai mereka menikah dan punya anak? Begitu?
"Aku tidak mau, badanku capek seharian menyetir," keluh Regan.
"Memangnya kamu tega aku yang tidur di sofa?" tanya Yona menyolot garang.
"Aku tidak menyuruhmu tidur di sofa Yona, aku mau kita berbagi ranjang."
"Ck, dalam mimpimu!" jawab Yona kembali menutup tubuhnya dengan selimut.
"Yas udah, aku yang pindah ke kamarmu," ucap Regan.
Yona membuka selimutnya, wanita itu menatap Regan tidak percaya. Apa bedanya jika mereka akhirnya tidur di kamar yang berbeda? Niat Yona datang ke sana dengan tujuan mencari teman agar dia tidak sendirian.
Duarrrrrrr, suara gelegar petir membuat Yona berlari memeluk Regan. Wanita itu memeluk Regan dengan erat.
"Regan, aku tidak mau sendiri," lirih Yona dengan tubuhnya yang gemetaran mendengar suara petir diluar sana.
Regan merengkuh tubuh Yona, mengelus puncak kepala Yona.
"Sttt, jangan menangis. Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri," ucap Regan, memberikan ketenangan kepada Yona yang tengah ketakutan akan masa lalunya.
Gelegar petir itu, membuat Yona teringat penculikan yang pernah terjadi padanya. Penculikan yang hampir membuatnya meregang nyawa karena fans fanatiknya kala itu.
Malam ini, Yona tidak mau sendiri. Dia ingin bersama dengan seseorang yang mampu membuatnya tenang. Dia ingin Regan bersamanya, menemaninya disaat-saat seperti ini.
Mari lanjut membaca..