Karena balas budi, Kailani bersedia mengandung calon bayi dari pria yang sama sekali belum ditemuinya. Namun, apa jadinya jika pria tersebut ternyata adalah sang mantan terindah yang ditinggalkannya karena tuntutan sebuah keadaan?
Apakah yang akan dilakukan sang pria yang ternyata masih mencintai Kailani dalam diam dan dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi di waktu subuh
Karina tidak menjawab pertanyaan Kailandra. Paham benar, jika dia terus menimpali sang suami, yang ada pertengkaran hebat yang akan terjadi. Seperti yang sudah-sudah, benar-salah, apa yang sudah menjadi keyakinan Kailandra, itulah yang akan dianggap benar. Saat ini, tidak ada jalan lain bagi Karina selain mengalah. Jika dia vokal menentang, yang ada malah kebohongannya yang akan terbongkar.
"Kenapa diam? Sudah sadar kalau selama ini memang kamu lebih banyak menerima daripada memberi? Sadar kalau aku bahkan tidak pernah memberatkanmu dengan kewajiban-kewajiban normalnya seorang istri pada umumnya," bentak Kailandra.
"Kai, apa maksud ucapanmu barusan? Hubungan pernikahan apa yang kalian bangun? Kai, Mama memang tidak menyukai Karina. Tapi kamu salah kalau kamu mempermainkan pernikahan. Jika pernikahan kalian hanya berlandaskan sebuah kesepakatan, lebih baik kalian pisah saja. Mama mengharapkan kamu benar-benar bahagia dalam rumah tangga yang utuh, bukan sekedar pura-pura," sahut Kasih, tegas dan cukup jelas.
Kini Kailandra yang langsung terdiam. Begitu tidak bisa mengendalikan emosinya, Kailandra sampai lupa jika Kasih jelas-jelas masih berada di sana. Tidak seharusnya dia mengucapkan kata-kata tadi di depan sang mama.
"Sudahlah, Kai lelah. Sebaiknya mama pulang saja. Kai akan memberi tahu Mama jika ada perkembangan terbaru dari anak-anak," putus Kailandra untuk menghentikan pembicaraan yang sangat tidak enak.
"Terserah kamu saja. Anak-anak itu tidak bisa terus-terusan disebut hanya anak-anak atau baby twins. Beri nama yang bagus maknanya. Mama pulang, kamu jangan lupa jaga pola makanmu," pamit Kasih masih dengan melirik sinis ke arah Karina.
Sepeninggalan Kasih, Kailandra membaringkan badannya di atas sofa panjang. Pria tersebut berusaha keras agar bisa memejamkan mata. Lelah jiwa raga sudah tidak bisa dibendungnya lagi. Kata-kata Kenzo, Kalifa, Kalvin, Kailani dan perawat silih berganti terngiang di telinga. Diabaikannya Karina yang beberapa kali mencari perhatiannya dengan merintih kesakitan hingga memanggil perawat. Entah mengapa, Kailandra kali ini memilih untuk benar-benar tidak peduli.
Lama kelamaan Kailandra pun akhirnya bisa tertidur pulas dalam arti yang sebenarnya. Pria tersebut terbangun begitu sudah mendengar kumandang adzan subuh dari masjid yang ada di lingkungan rumah sakit. Kailandra pun terbangun, dilihatnya, Karina tidak ada di atas brankarnya. dia mencoba mencari di kamar mandi, tapi dia tidak menemukan keberadaan istrinya itu.
Dia pun memilih untuk mandi sekaligus wudhu terlebih dahulu. Setelah itu, Kailandra berganti pakaian dan menunaikan ibadah dua rakaat sebelum fajar di dalam ruangan.
"Kemana Karina? Apa dia ke ruangan baby twins? Bisa jadi, sih. Coba aku lihat ke sana," gumam Kailandra sambil mengambil ponselnya.
Sementara itu, di tempat di mana baby twins berada. Dua orang perempuan sedang beradu sikap dingin. Siapa lagi kalau bukan Kailani dan Karina. Tanpa membuat janji terlebih dahulu, keduanya bertemu di sana. Kailani datang lebih awal, karena dia mengantarkan hasil ASI-nya yang dipompa untuk baby twins. Sementara niat Karina hanyalah untuk berbicara dengan perawat. Apalagi kalau bukan untuk membuat rencana baru. Namun sayang, bukan perawat yang ditemuinya, melainkan Kailani. Karena perawat sudah meminta izin pada Kailani untuk menunaikan kewajiban ibadahnya sebentar.
"Owh, ternyata begini caramu. Diam-diam datang kemari dan memberikan ASI untuk anak-anakku. Supaya apa? Kamu pikir dengan cara seperti ini Kailandra akan melupakan kebenciannya padamu. Dengar baik-baik, Kai. Suamiku, selamanya akan membencimu. Urusan kita sudah selesai sampai di sini. Keluar dari rumah sakit ini segera. Jangan lupa, kembalikan kartu yang kuberikan padamu."
Karina memberikan penekanan saat mengucapkan kata "anak-anakku".
" Biarlah seluruh dunia menganggap mereka anakmu. Tapi naluri seorang Ibu itu tidak bisa dibeli dan dipelajari, Kar. Jika sikapmu seperti ini, aku yakin, meski usia mereka belum sampai hitungan Lima jari, sedikit pun mereka tidak akan merasakan kenyamanan saat bersamamu. Dan bagi orang-orang yang paham, itu saja sudah cukup untuk dijadikan tanya, pantaskah kamu menjadi seorang ibu?" Kailani memberikan tatapan sinis terkesan merendahkan Karina.
"Lancang kamu, Kai. Siapa yang lebih tidak pantas disebut Ibu di antara kita. Ibu yang baik, tidak menukar anaknya demi apa pun." karina sengaja melemparkan kata-kata menyakitkan itu untuk Kailani.
"Yang meminta menukar nyawa dengan nyawa adalah kamu, Kar. Jika ada jalan untuk mempertahankan mereka, pasti akan aku lakukan. Aku tidak rela melepas mereka hidup bersama perempuan yang mati rasa seperti kamu," balas Kailani, berani tanpa ragu.
Kedua bayi yang berada di dalam box rupanya mulai terusik dengan suara berisik akibat perdebatan Kailani dan Karina. Apalagi saat Karina yang bicara, perempuan itu seakan lupa di mana dia kini berada.
"Pergi dari sini, Kai. Pergi!" Karina yang kalap menarik tangan Kailani dari kursi rodanya. Membuat Kailani terpaksa berdiri dan menahan nyeri.
"Kamu benar-benar gila, Kar. Apa yang membuatmu berubah seperti ini? Dulu kamu perempuan yang baik. Aku yakin kamu tidak sekejam ini, Kar. Kamu pernah membantuku tanpa peduli sebelumnya kita saling kenal atau tidak. Percayalah Aku bukan orang yang mudah ingkar janji. Tapi tolong, buang jauh-jauh sikap burukmu ini. Aku ikhlas melepas mereka, jika kamu bisa membuktikan kamu memanglah pantas menjadi seorang ibu. Jangan sampai anakku hanya kamu gunakan sebagai alat," tutur Kailani panjang lebar. Lembut namun intonasinya cukup tegas.
"Cukup, Kai. Jangan banyak bicara lagi!" Karina mendorong tubuh Kailani hingga terhuyung hampir menabrak meja tempat beberapa alat medis berada.
Keberuntungan kali ini milik Kailani, belum sampai perutnya terbentur pucuk meja, Kailandra yang beberapa detik sebelumnya bertepatan membuka pintu ruangan tersebut, dengan sigap menopang tubuh Kailani yang terlihat jelas menahan rasa sakit sembari memegangi perutnya.
"Kai, Kar, apa-apa'an kalian!" bentak Kailandra.
"Kai... dia datang ke sini pegang-pegang baby twins. Untung saja aku datang. Dia itu sedang depresi, Kai. Anaknya meninggal. Pasti dia iri sama aku. Kami berjuang program bayi tabung bersama. Lalu melahirkan juga bersamaan. Tapi anaknya malah meninggal." Karina mencoba memberikan alasan paling masuk akal yang terlintas di pikirannya.
Kailani menggelengkan kepalanya dengan lirih. Tangan Kailandra tanpa sadar masih melingkar pada pinggul perempuan yang membuat perasaannya selalu bertikai dengan pikirannya sendiri itu.
"Cukup, Kar. Aku tidak sanggup lagi, aku tidak peduli tuntutan apa yang akan aku hadapi nanti. Kamu sudah keterlaluan." Kailani semakin berani menentang Karina.
"Fitnah apa lagi yang ingin kamu katakan, Kai? Ini semua takdir. Aku menikah dengan Kai dan sudah mempunyai anak dengannya. Aku ternyata salah menilaimu, Kai. Aku kira dengan mengajakmu bersahabat, kamu akan berhenti mengejar suamiku. Ternyata kamu malah semakin menjadi. Kamu memang perempuan yang tidak tahu diri." Karena kalap, Karina lupa kalau dia sedang berpura-pura baru selesai melahirkan. Gerakannya begitu cepat menyingkirkan tangan Kailandra dari pinggul Kailani. Saking kasarnya, sampai tangan Kailandra malah menghempas Karina. Perempuan tersebut terjerembab menyentuh dinginnya keramik rumah sakit.
Bersamaan dengan itu seorang perawat masuk. Dia bergegas membantu Karina berdiri. Tidak ada ekspresi kesakitan sama sekali pada raut wajah Karina. Perempuan tersebut benar-benar melewatkan peranannya.
"Tolong periksa jahitan perempuan itu, sus. Dia baru saja melahirkan. Takut jahitannya basah seperti yang saya rasakan saat ini." Kailani mengatakannya dengan suara bergetar. Tangannya sudah basah dengan darah.
Kailandra tampak panik. "Tolong Kailani dulu, sus," pintanya.
"Tidak, Bang... biar Karina dulu." Kailani sengaja memaksa. Kesabaranya kali ini sudah habis. Seekor cacing sekalipun, pasti akan mengeliat jika diinjak. Akan sangat bodoh, jika dia membiarkan sikap semena-mena Karina tidak ada ujungnya.
Karina tampak ketakutan. Dia ingin menghindar, tapi tangan kekar Kailandra mencekal lengannya dengan kuat. "Periksa dia di sini, Sus," pintanya. Tentu saja membuat Karina seketika pucat pasi.
Kadang pembaca ini membaca untuk menenangkan fikiran tapi karyamu yg hanya STUCK pada 1 huruf boleh bikin pikiran pembaca jadi stress 😔😔😔 & aku salah 1 pembaca yg sekarang sudah stress 😒😒😒
jika hampir disetiap novel kalian kalian pasti hadirkan sosok lelaki lain yang begitu baik dan peduli pada pemeran utama wanita seperti sosok KELVIN, kalian bungkus intaksi mereka dengan embel peduli pada sahabat, menganggap saudara, melindungi orang yang disayang,dll
apakah novelis wanita berani juga hadirkan sosok wanita lain yang baik dan begitu peduli pada sosok pemeran utama pria (suami), dengan embel peduli pada sahabat, dan anggap saudara atau melindungi orang yang disayangi
saat kalian hadirkan sosok kelvin yang begitu tulus dan selalu ada untuk melindungi kailani, berani tidak kalian berlaku adil hadirkan juga wanita lain yang tulus, dan selalu ada untuk melindungi kailandra
karena wanita itu mahluk egois
tidak ada wanita yang boleh menyukai suaminya kalau ada wanita itu wanita pelakor
tapi mereka akan kebaperan bila ada pria lain yang menyukainya dan akan menganggap pria itu pria baik2 dan tulus