NovelToon NovelToon
Jodohku Ternyata Lurah

Jodohku Ternyata Lurah

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Wanita Karir / Keluarga / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: zenun smith

Menurut Azalea Laire, dirinya mempunyai bapak kolotnya minta ampun. Jaman sekarang masih saja dijodoh-jodohkan, mana pakai ada ancaman segala, dimana kalau tidak mau dijodohkan, dirinya akan ditendang bukan lagi dari keluarga, tapi di depak dari muka bumi.

Azalea geram di tagih perjodohan terus oleh bapaknya, sehingga dia punya niat buat ngelabrak pria yang mau dijodohkan olehnya agar laki-laki itu ilfeel dan mundur dari perjodohan. Tapi eh tapi, ketika Azalea merealisasikan niat itu yang mana dia pergi ke desa untuk menemui sang jodoh, ternyata dia melakukan kesalahan.

Ternyata jodoh dia adalah Lurah.

Terus kira-kira masalah apa yang udah dibikin oleh Azalea? Kira-kira masalah Azalea ini bikin geram atau malah bikin cengar-cengir?

Nyok kita pantengin aja ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hanya Sebatas Teman

Hagia menepuk bahu anggotanya yang tadi melapor.

"Ini kesempatan bagus untuk mengenalkan sanggar ke masyarakat luas. Tolong awasi Adi, ya. Pastikan semua latihannya hari ini selesai dengan baik. Jangan biarkan dia kelayapan, apalagi sampai masuk ke area latihan putri. Disiplin adalah kunci, mengerti?"

"Siap, Ketua." jawab anggota itu.

Hagia kemudian menatap Adi dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kerjakan dengan baik, Di. Anggap saja ini latihan fisik agar staminamu kuat saat adegan perang nanti. Saya ada urusan penting dengan media dan juga...Azalea."

Setelah memberikan instruksi terakhir, Hagia melenggang pergi yang diikuti Cong dibelakangnya. Begitu sosok Hagia hilang ditelan jarak, Adi langsung menjatuhkan papan kayu yang dipegangnya. Brak!

"Duh, Gusti... ini mah bukan latihan akting, ini mah perbudakan terselubung." keluh Adi sambil memijat pinggangnya yang terasa mau patah.

Anggota yang ditugasi menjaga Adi hanya geleng-geleng kepala. "Sabar, Di. Semua orang di sini pernah ngerasain jadi kuli."

Adi tiba-tiba memegang perutnya dengan ekspresi kesakitan yang sangat dramatis. "Aduh Mas, kayaknya perut saya melilit nih gara-gara habis makan pedas. Saya ee dulu, ya. Benar-benar kebelet nih, nggak tahan."

"Yo jangan disini, Di. Sana ke toilet. Tapi jangan lama-lama ya." Orang suruhan Hagia berseru begini lantaran Adi sudah ambil posisi jongkok dilantai.

"Siap, Mas. Sepuluh menit saja." seru Adi sambil berlari menjauh.

Namun alih-alih menuju toilet umum di dekat pendopo, Adi malah memutar lewat jalan pintas di balik rimbunnya pohon bambu. Di sana Suci sudah menunggu dengan harap-harap cemas. Mata mereka bertemu, dan dalam diam, sebuah kesepakatan rahasia kembali diperkuat.

"Tadi itu hampir saja kamu bikin masalah, terus usaha kita sia-sia." Suci langsung menyemprot Adi begitu pria itu sampai di hadapannya.

Adi mengatur napasnya. "Ya habisnya aku kesel, Ci! Masa aku disuruh jadi kuli sementara dia mau asyik-asyik liputan sama Azalea? Mana dibilang rakyat jelata lagi. Tapi tadi aku lihat kode kamu, makanya aku ngerem."

Suci menghela napas panjang.

"Terus aku harus gimana?" tanya Adi melihat Suci belum juga bersuara kembali.

"Satu, jangan pernah membantah Mas Hagia di depan Azalea. Biarkan Azalea melihat kamu sebagai korban yang sabar. Perempuan itu punya insting melindungi yang tinggi. Kalau dia lihat kamu ditindas Mas Hagia tapi kamu tetap nrimo dan kerja keras, dia bakal merasa kasihan. Kasihan itu pintu masuk menuju cinta, paham?"

Adi manggut-manggut. "Begitu ya, terus?"

"Dua, jangan puji-puji dia berlebihan. Azalea itu sudah biasa dipuji cantik. Dia butuh seseorang yang melihatnya sebagai rekan. Kalau nanti kamu ketemu dia, sapa dengan sopan dan tanya soal latihannya, lalu kembali kerja. Tunjukkan kalau kamu ke sini benar-benar buat belajar seni, bukan cuma buat ngejar dia. Nanti dia bakal lihat kamu sebagai teman, bukannya orang yang harus dihindari."

Suci mengeluarkan sebuah botol kecil berisi minyak. "Pakai ini di leher dan tanganmu."

"Minyak apa ini?"

Suci hanya terdiam.

"Suci?"

"Pokoknya kamu ikutin instruksiku, jangan banyak tanya."

Suci aslinya gemeteran saat kasih benda tersebut ke Adi. Dia saja tidak berani untuk memakainya demi memikat Hagia. Makanya di kesempatan ini Suci menjadikan Adi percobaan, apakah manjur untuk menjerat Azalea.

...****...

Sementara itu,

Di beranda sanggar suasana tampak sibuk. Tim media dari sebuah stasiun TV lokal sudah menata kamera dan lampu.

Di dalam kamarnya, Azalea baru saja menutup ponselnya. Wajahnya tampak sedikit bersemu setelah berbicara dengan ibunya. Dia ngaku-ngaku kalau Hagia itu adalah pacarnya. Bodo amat lah, lagipula ngakunya juga dengan nama Lurah, jadi tidak mudah dilacak. Begitu pikir Azalea.

"Lea, dipanggil Mbak Lastri. Katanya kamu diminta temani Mas Hagia liputan oleh media."

"Wawancara lagi?"

"Iya, kayanya sih wawancara cinta. Kalian kan pasangan couple Halea yang lagi naik daun. Pasti suka diminta spill keunyuan kalian. Uhuuuuy ehehe."

Azalea cengar-cengir, apaan dah! ngeledek aja nih.

Azalea mengiyakan panggilan itu, ia segera memulas sedikit lipstik dan merapikan rambutnya yang hitam legam. Ia harus tampil cantik. Saat ia melangkah keluar, mata Hagia langsung tertuju padanya. Ada binar yang tak bisa disembunyikan dari mata sang ketua, meski ia berusaha tetap terlihat tenang.

"Nah, ini dia primadona kita, Mbak Azalea," ujar pembawa acara dengan antusias saat melihat Azalea mendekat.

Sesi wawancara dimulai. Hagia menjelaskan persiapan naskah terbaru yang akan diperlombakan untuk pentas penentuan juara nanti. Azalea sesekali menimpali dengan jawaban yang lugas mengenai proses pendalaman karakter.

"Luar biasa ya Mas Hagia ini. Tapi pemirsa pasti penasaran," potong sang host dengan nada menggoda. "Mbak Azalea, sini dong duduknya agak merapat ke Mas Hagia. Masa jauh-jauhan begitu? Nanti dibilang lagi berantem lho."

​Azalea tertawa kecil. Ia sedikit menggeser duduknya. Sang host tidak berhenti di situ.

"Pegang tangannya Mbak Azalea dong, Mas Hagia, biar nggak ketinggalan," candanya.

​Alih-alih menyambar tangan Azalea seperti yang diharapkan banyak orang, Hagia justru menoleh ke arah Azalea, menatap matanya dengan lembut lalu mengangguk kecil sambil berkata pelan, "Geser sedikit ke sini, Lea, supaya kamu masuk frame kamera. Maaf ya." Bicaranya sangat sopan.

​"Wah, sopan sekali ya calon imam ini. Mau minta geser aja harus minta maaf terlebih dahulu." goda sang host lagi, membuat suasana makin riuh oleh tawa kru media

"Tapi serius nih, Mas Hagia, Mbak Azalea. Hubungan kalian ini sebenarnya apa sih? Di panggung romantisnya bukan main, bikin gigi pemirsa kering. Apa jangan-jangan sudah ada janji di luar panggung?"

​Azalea melirik Hagia, menunggu jawaban yang selama ini juga ia pertanyakan dalam hatinya.

​Tiba-tiba layar monitor kecil di depan mereka menampilkan cuplikan video pendek. Itu adalah video dokumentasi yang diambil secara candid beberapa hari lalu di rumah Hagia. Terlihat Hagia sedang memetik gitar sementara Azalea menyanyi di sampingnya dengan penuh penghayatan. Di sana juga ada Bima, adiknya Hagia yang ikut main musik.

Ya ampun, mereka dapat aja moment itu. Batin Azalea, dan mungkin saja Hagia pun sama.

​"Video ini viral lho di kalangan penggemar Halea. Masa ya cuma teman sampai seakrab ini di rumah pribadi?" tanya Host.

​Azalea merasa hatinya menghangat melihat video itu lagi. Ia sudah siap jika Hagia akan memberikan pernyataan yang sedikit lebih berani hari ini.

Akan tetapi,

​Detik berikutnya dunia Azalea seolah berhenti berputar. Sang host memutar cuplikan video wawancara terpisah yang diambil kemarin, saat Azalea sedang tidak membersamai Hagia.

​Dalam video itu, Hagia ditanya pertanyaan yang sama: "Apa Azalea adalah calon pendamping hidup Anda?"

​Hagia di video itu menjawab, "Kami hanya berteman, nggak lebih. Kalau soal keromantisan diatas panggung, itu bisa dibilang bagian dari profesionalitas demi hasil yang memuaskan untuk pemirsa."

​Video berakhir.

​"Nah, Mbak Azalea, tadi Mas Hagia bilang itu cuma gimick dan sebatas teman. Tanggapan Mbak Azalea bagaimana? Apa Mbak juga merasa itu hanya akting?"

Jujur saja, ​Azalea baru tahu tentang wawancara itu sekarang. Dan kini Azalea merasakan nyeri di hatinya. Ia pun menjawab,

"Iya, kami hanya sebatas teman."

.

.

Bersambung.

1
Felycia R. Fernandez
Hagia kah??
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
vote meluncur
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
😍😍😍😍
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
otornya absurd, tokohnya jadi absurd juga 🤦‍♀️🤦‍♀️
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
kamu salah paham. tapi aku suka. biarkan kesalah paham ini, semakin panjang /Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
iya, punya ayahmu. tapi kamu pewarisnya
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
heleehhhh, modus mu /Facepalm//Facepalm//Curse/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dan ternyata itu ialah nomor sang penipu /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
sebegitu khawatirnya hagia sama lea. apalagi itu, jika bukan cinta
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
ooo, lebih privasi gitu maksudnya
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dia memang menyukai mu hagia. seharusnya bukan akting yg ditunjukkan tapi kebenaran
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
fokus leaaa, fokus /Chuckle//Chuckle//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
aku suka sama pikiranmu
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
nah kan, akhirnya kamu sadar lea
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dia bukan khawatir kamu patah hati Lea. yang dia khawatirkan kamu berhasil berada di hati Hagia. walaupun itu, memang benar adanya
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
Sebutkan nama lengkapnya Yahh /Facepalm//Grin/
〈⎳ FT. Zira
eaaa katahuannn
〈⎳ FT. Zira
aduh alasannya/Facepalm/
〈⎳ FT. Zira
lahhh... kelihatan banget jadinya
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
zenuuuuuunnnnnnn nackal sekali kamuuuhhhhhhh. ihhh geeemmmeeessshhhh
Zenun: iiih ada akak😄🥳👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!