Dahulu kala, seorang Kaisar Kuno yang agung berhasil menyatukan empat kekaisaran dan menaklukkan dewa penguasa demi melindungi keseimbangan dunia. Namun, di puncak kejayaannya, ia dikhianati dan ditikam dari belakang oleh murid kesayangannya sendiri yang bekerja sama dengan sekte iblis, hingga raganya jatuh ke dalam lembah kegelapan. Sepuluh ribu tahun berlalu, sang Kaisar bereinkarnasi menjadi Shang Zhi, seorang bocah miskin yang hidup menderita di jalanan. Tragedi kembali menghampirinya saat ibunya tewas, memicu takdir baru ketika ia diselamatkan oleh seorang master misterius.
Perjalanan Shang Zhi menuju Perguruan Tian Long membawanya bertemu dengan Yun Xi, seorang gadis periang yang perlahan menumbuhkan benih romansa di tengah kerasnya pengembaraan. Namun, bahaya selalu mengintai saat kelompok perompak menyerang dan memaksa segel misterius dalam tubuh Shang Zhi bangkit, mengubahnya menjadi sosok buas yang tak kenal ampun demi melindungi orang yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di jalan setapak
"Semoga wanita tua itu mampu membantumu memecahkan misteri segel itu... sebelum kekuatan itu justru menghancurkanmu dari dalam, Shang Zhi."
Hutan yang membentang menuju wilayah Perguruan Tian Long adalah labirin hijau yang tak berujung. Di bawah kanopi pepohonan raksasa, Shang Zhi melangkah seorang diri. Hembusan angin pegunungan memainkan rambutnya, sementara daun-daun kering yang berguguran seolah berbisik, mengiringi perjalanan panjang demi memenuhi wasiat sang Ayah menemukan sosok misterius bernama Mei Ling.
Langkah Shang Zhi terhenti. Matanya yang tajam menangkap pergerakan di balik semak. Seekor kelinci liar, gemuk dan terlihat lezat, sedang asyik mengunyah pucuk tanaman. Dengan gerakan yang telah terlatih selama bertahun-tahun, Shang Zhi merakit tombak sederhana dari sebilah pisau dan kayu.
Ia merunduk, menahan napas, mengendap selembut bayangan. Namun krak! sebuah ranting kering patah di bawah kakinya. Kelinci itu melesat seperti anak panah.
"Sial!" umpatnya.
Dimulailah aksi kejar-kejaran yang melelahkan. Selama satu jam, Shang Zhi harus melompat, terguling di semak berduri, hingga terperosok ke dalam lubang. Dengan wajah memerah karena amarah dan napas yang terngah engah, ia akhirnya berhasil mencengkeram telinga panjang hewan itu.
"Hewan nakal... kau akan menjadi hidangan paling lezat untuk perutku malam ini!" gertak Shang Zhi ketus.
"Wah, kelinci yang luar biasa gemuk! Kau benar-benar hebat bisa menangkapnya."
Suara bening itu muncul tiba-tiba, membuat Shang Zhi hampir melompat kaget. Di hadapannya berdiri seorang gadis muda. Parasnya seindah mentari pagi yang baru terbit, kulitnya seputih giok yang paling murni, dan matanya berbinar penuh keceriaan.
"Namaku Yun Xi," ucapnya dengan senyum yang sanggup mencairkan es di puncak gunung. "Mau kau apakan kelinci malang itu?"
Shang Zhi berdeham, berusaha menutupi rasa terkejutnya. "Makan malam," jawabnya singkat sambil berbalik menuju aliran sungai terdekat.
"Hei, tunggu! Aku bantu ya!" Yun Xi mengikuti dari belakang dengan langkah ringan, seolah hutan ini adalah taman bermain baginya.
Malam jatuh dengan cepat. Di tepi sungai yang jernih, api unggun kecil yang dibuat Shang Zhi menari-nari, mengusir dingin yang menusuk. Aroma daging kelinci panggang mulai memenuhi udara.
"Ahhh... enak sekali!" seru Yun Xi sambil mengunyah dengan lahap. Ia menatap Shang Zhi dengan kekaguman yang jujur. "Ternyata kemampuan memasakmu sebanding dengan kemampuan mengejarmu tadi."
Shang Zhi hanya diam, fokus menatap api.
"Kau ini cukup pendiam ya?" Yun Xi mulai protes, ia memiringkan kepalanya. "Sejak tadi aku bicara, kau hanya mengabaikanku. Siapa namamu? Dari mana asalmu? Dan... mau ke mana pria sekaku dirimu pergi sendirian?"
Shang Zhi mengerutkan alis, merasa ketenangannya terusik. "Dasar cerewet. Bisakah kau tenang sedikit? Apa kau selalu bertingkah seakrab ini pada orang asing?"
Yun Xi justru membusungkan dada dengan bangga. "Tentu saja! Siapa yang mampu menolak pesona nona muda ini?"
Shang Zhi mendengus remeh. "Nona muda? Nona muda mana yang berkeliaran di tengah hutan rimba sendirian tanpa pengawal? Kau terlihat lebih seperti orang hilang bagiku."
Wajah Yun Xi memerah karena kesal. Ia langsung berdiri tegak. "Hei! Jika aku tidak tersesat dan terpisah dari kelompokku, aku pasti sudah sampai di gerbang Perguruan Tian Long saat ini!"
Gerakan tangan Shang Zhi terhenti. Matanya menyipit. "Tunggu... Tian Long? Apa urusanmu di sana?"
Yun Xi cemberut, menendang kerikil kecil ke arah air. "Ayahku memaksaku. Katanya, sifatku terlalu liar dan aku harus berguru di sana agar bisa menjadi lebih tenang dan anggun. Menyebalkan, bukan?"
"Aku setuju dengan ayahmu," sahut Shang Zhi datar dengan senyum ejek di sudut bibirnya.
"Apa?! Kau benar-benar tukang bully!" teriak Yun Xi gemas.
Namun, setelah suasana sedikit mencair, Shang Zhi akhirnya menceritakan tujuannya. Mengetahui bahwa mereka memiliki tujuan yang sama, mata Yun Xi kembali berbinar. Ketakutannya karena tersesat sirna, digantikan semangat baru karena kini ia memiliki teman seperjalanan walaupun teman yang satu ini sangat menyebalkan.
Tetapi, di tengah tawa kecil Yun Xi, bulu kuduk Shang Zhi tiba-tiba berdiri. Indranya yang telah ditempa keras oleh Zhou Xuan menangkap sesuatu yang janggal. Suara jangkrik mendadak senyap. Angin terasa lebih berat.
Shang Zhi meletakkan tangannya pada gagang pisaunya, matanya menatap tajam ke arah kegelapan hutan di balik pepohonan. Ada sesuatu yang sedang mengawasi mereka... sesuatu yang lapar dan berdarah dingin.
Bersambung...