TAMAT
"Ingat, kau milikku Kiar!" Sorot menusuk dari mata hazel Tuan mafia menyandera gejolak gadis itu.
Adalah Kiara Elga, nama janda kembang berusia 20 tahun. Sebuah peristiwa menakutkan membawa gadis malang itu kepada seorang mafia.
Dave Myles nama dari ketua sekumpulan rahasia yang terkenal dengan pengaruh besarnya di bidang politik, 28 tahun usianya, sukses, tampan, gagah, tapi sialnya adalah Kiara hanya istri sirinya.
Bukan main, hanya dalam waktu satu hari saja, Kiara mampu membeli berhektar-hektar tanah sawah di kampung halamannya.
Welcome para pembaca baru karya ku, Yeay, anda telah memasuki zona bucin akut beracun🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasha Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mabuk
"Tidak buruk." Kiara meringis kuat setelah tandas dia meneguk minuman miliknya.
"Gadis baik." Dave mengusap lembut pipi mulus wanita itu, bahkan mengecup bibir Kiara seperti khalayak pasangan romantis di kota ini.
Reynolds dan Giselle menjadi orang yang paling membenci pemandangan ini. Namun Gilbert dan tamu lain seolah tersetrum aura keromantisan sepasang suami istri itu.
Kiara tersenyum getir, meski kali ini ia bisa membuktikan bahwa ia mampu mengikuti tradisi suaminya, sejatinya wanita mungil itu masih Kiara kampung yang asing dengan minuman keras.
Setelah dibuka dengan minuman. Hidangan beralih ke makanan berat. Sama seperti Giselle, Kiara pun mendapatkan sup krim jagung.
Giselle dengan bangga memakan hidangan kesukaannya karena itulah salah satu yang Dave sukai darinya, menjaga keindahan tubuh, tapi Kiara justru enggan untuk menyentuh sendok miliknya.
"Dave." Kiara menatap suaminya, berharap Dave memberikannya makanan lain yang ia sukai. Lupakan, Dave masih sibuk dengan obrolan rindunya bersama sang ayah.
Reynolds terkekeh saat memotong steak sapi. Ia justru menukar piring miliknya dengan sup krim jagung milik Kiara.
"Kau tahu adik ipar, aku tidak suka wanita vegetarian. Jadi, makanlah sesuai kemauan mu. Diet hanya akan menyiksa dirimu saja." Reynolds mendekatkan wajahnya pada Kiara.
Dave meloloskan tatapan tajam pada kakak tiri terkutuknya. Tapi ini pesta ayahnya, Dave tak mau membuat kericuhan.
"Kau tahu aku vegetarian Rey!" Giselle menyeletuk protes. Tentu saja ada kecemburuan yang membumbung tinggi. Reynolds masih sah suaminya. Lalu sekarang, laki-laki itu lebih terkesan memperhatikan wanita lain.
Reynolds menyeringai samar. "Aku tahu, dan aku tidak menyukainya. Karena wanita cantik seharusnya dari alaminya. Bukan dari diet ketat seperti yang kau lakukan." Cibirnya.
"Rey!" Melotot, Giselle membentak.
Plakk...
Hal menyakitkan yang acap kali Giselle dapati saat beradu mulut dengan suaminya adalah tamparan kecil.
"Reynolds!" Tegur Gilbert.
"Bisa tidak, kita mulai makan dan cukup protesnya!" Tekan Rey pada Giselle lirih. Manusia pendendam ini memang sengaja menciptakan kekacauan untuk adik tiri dan kedua wanita di sisinya.
Benar saja, Dave mengepal kuat kedua tangannya geram. Kiara menatap wajah murka suaminya. Terlihat jelas, Dave masih kesal saat Giselle diperlakukan tidak baik.
Giselle menunduk lalu beralih meraih sendok garpu nya. Kembali Ia memulai ritual makan malam dengan makanan kebiasaannya.
Tak mau pusing dengan apa yang Dave lakukan malam ini. Kembali Kiara meraih gelas heels baru lalu meneguknya telak.
Reynolds, Gilbert, dan Dave menoleh pada wanita itu. Kiara meringis kuat, tapi jika dirasakan kembali, minuman ini cukup bisa mengalihkan perasaan kacaunya.
"Aku mau lagi." Melambai pada pelayan, Kiara meminta minuman lebih banyak lagi.
Satu pelayan mendekat dengan banyak jenis minuman keras di nampannya. Kiara mengambil satu persatu gelas berisi bir, wine, sake, wiski lalu meneguknya bergantian.
"Sayang." Dave berkerut kening manakala Kiara meringis kuat-kuat karena minuman yang ditenggak nya.
"Aku baik." Kiara menyengir pada suaminya, kepala mulai pusing hingga mata begitu berat untuk dia lebarkan. "Aku, menyukai minuman ini." Gelak nya.
Giselle kesal, tapi tidak dengan Reynolds yang senang melihat cara mabuk Kiara.
"Kamu belum cukup makan. Sekarang makan dulu." Dave meraih gelas bir dari tangan Kiara.
"Tidak. Aku mau lagi." Kiara menggeleng ala wanita mabuk.
"Biar saja Dave, aku masih punya banyak wiski untuk istrimu." Reynolds menyeletuk dengan seringai di bibir nya.
"Kiara, cukup," Sekali lagi Dave mencoba menghentikan aksi minum istrinya.
"Kasih aku lagi, Tuan." Kiara sengaja meminta minuman pada Reynolds yang selalu mendukung dirinya.
"Panggil aku Kakak ipar." Reynolds menuang minuman pada gelas milik Kiara.
"Yah, Kakak ipar." Senyum getir terbit di sudut bibir Kiara.
Sebenarnya apa yang dia lakukan di pesta ini? Kiara pilu jika mengingat kembali nasib malangnya. Suami yang mengaku mencintainya, ingin menjaganya, masih sibuk menggores luka di hatinya dengan perlakuan toxic.
"Sayang." Dave merebut paksa gelas Kiara. "Cukup kubilang!" Dengan bahasa Indonesia, Dave bicara.
"Pa, .. " Dave beralih pada Gilbert yang masih setia menyaksikan betapa peliknya hubungan permusuhan kedua putranya. "Iya Sayang."
"Aku harus bawa Kiara pulang." Dave mengecup pipi ayahnya, lalu meraih tangan mulus Kiara agar bangkit dari duduk.
"Hati-hati Dave." Kata Gilbert.
"Emmh." Kiara menggeleng. Sepertinya Kiara mulai hilang kendali. "Cium Aku Dave!"
Dave terhuyung saat melayani serangan bibir dari istrinya. Para tamu dibuat tersenyum menatap kemesraan mereka.
"Kita pulang, kamu mabuk." Dave melerai pertikaian bibirnya.
Kiara terkikik. "Belum terlalu, aku mau berdansa dulu di sini." Tangannya membuka scarf. Punggung mulus Kiara kini terekspos sempurna.
Dave membuka jas miliknya, demi menutupi punggung Kiara. "Jangan seperti ini Sayang." Lirihnya.
"Aku gerah."
"Kiar!" Sekali lagi Dave terpaksa melayani kecupan lembut istri mabuknya. "Aku seksi kan?"
"Lebih dari itu. Sekarang pulang, kamu mabuk."
Kiara menggeleng, lalu tubuhnya melayang saat Dave menggendongnya tiba-tiba. Banyak orang-orang Dave yang mengiringi langkah kakinya.
Tak pelak, Reynolds semakin yakin bahwa wanita bernama Kiara ini cukup di minati oleh adik tirinya.
Tiba di luar. Satu orang pria membuka pintu mobil milik Dave, segera Dave mendudukkan Kiara pada jok penumpang bagian belakang.
Dave menyusul masuk lalu pintu ditutup. Seorang sopir segera melajukan mobil itu. Ada beberapa mobil di belakangnya. Mereka tidak lain tidak bukan adalah Marvin dan Mora beserta rombongan.
"Dave!" Mendekati wajah suaminya, Kiara tersenyum lengar. Ketampanan Dave begitu menyihir dirinya, hingga dengan bodohnya ia mempercayai kata cinta laki-laki ini. "Aku baca semuanya Dave. Aku baca jurnal yang Giselle tuliskan."
"Sstt."
"Tidak, aku tidak mau diam Dave." Kiara menggeleng, tangannya nakal meraba bagian bawah suaminya.
"Sayang."
"Aku ingat ini, dia menuliskan juga, kau selalu tidak berdaya saat dia memanjakan mu dengan ini." Kiara menunjuk bibirnya, lalu meremas milik inti suaminya.
"Kiara, ..."
"Aku juga bisa Dave." Kiara terkikik geli. "Aku juga bisa melakukan itu, aku bisa membuat mu melayang tinggi bahkan lebih dari pada dia!" Lirihnya sendu. "Lupakan dia Dave, lalu hidup bersama ku, memulai hidup baru, aku, kamu seperti pasangan lainnya, lihat aku sebagaimana aku Dave."
"Tentu saja."
"Tidak tentu Dave! Kau masih terobsesi menjadikan Kiara seperti dia!" Kiara menurunkan tali kecil dipundaknya. "Lihat pakaian ini. Ini sama persis dengan kesukaannya, aku mau lepas."
Dave menghentikan aksi brutal istri kecilnya, dia melirik sekilas pada sang sopir, lancang sekali pria itu mengamati tubuh Kiara. "Putar spionnya!" Bentaknya.
"B-baik Tuan! Maaf."
Kiara berhasil membuka bagian atas gaunnya hingga tersuguh kedua bulatan besarnya. Dave sibuk menyelimuti Kiara dengan jas miliknya. "Tubuh mu bisa dilihat orang banyak Sayang!" Lirihnya.
"Aku tidak peduli!" Kiara kembali merenggut bibir suaminya. Dave melayani meski Kiara masih dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
"Cium aku lebih dalam." Kiara menarik kerah kemeja ketat laki-laki itu hingga Dave tersungkur pada tubuh polosnya.
Dave melayani setiap kecapan yang Kiara berikan lalu beranjak. "Cukup Sayang."
"Beri aku ini." Kiara meraba bagian bawah Dave. Amarah dan kesakitan bersatu membentuk gairah.
"Kau akan mendapatkannya, tapi tidak di sini, sebentar lagi kita sampai, bersabarlah."
"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh mendapatkannya di sini? Bukankah dulu kalian melakukan itu di depan sopir mu?"
"Kamu mabuk Kiara." Dave usap pipi lembut istrinya. Rupanya sejauh ini Kiara mengetahui semua masa lalunya.
"Kamu pandai membedakan aku dan dia Dave, tapi tidak pernah mau mengerti perasaan ku." Suara Kiara semakin lirih, air mata pilu menetes begitu saja.
semangt Thor...aku suka karya²mu - TDK ada yg terlewatkn, sehat selalu BSM klurga. aku slalu menanti karya2mu....semangt💪🏻💪🏻💪🏻💖
awal nya aq ragu utk membaca novel ini, tp karena penasaran aq lanjut sampe akhir..ternyata cerita nya g mengecewakan 👍👍👍👍