"Jangan deket-deket!" teriak Aleta galak saat mengetahui Elvan cowok genit yang kerap dipanggil pecinta banyak wanita itu hendak meraih tangannya.
"Hari ini lo boleh nolak gue. Tapi lihat aja cepat atau lambat lo bakalan ngejar-ngejar gue!" Elvan berkata dengan nada meremehkan lalu terkekeh pelan. "camkan itu!" lanjutnya sambil mendorong pelan kening Aleta dengan jari telunjuknya.
"Gak akan!"
"Berani apa?"
"Gue bakalan tembak lo di depan lapangan upacara kalau sampe gue suka sama lo!" kata Aleta penuh keyakinan.
"Fine. Gue bakalan putusin semua cewek gue kalau sampai gue suka sama lo!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fira Anjelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
023
023
Jadian
"Aku mau peluk kamu."
......
Tangan Aksa langsung melepas pelukan mereka. Ditatapnya Aleta dengan wajah terkejut sekaligus tidak percaya. Bagaimana mungkin Aleta menerima Elvan yang jelas playboy? Spesies makhluk yang jelas paling ia benci selain setan.
"Lo ... Serius?" tanya Aksa sedikit ragu, gemuruh di dadanya semakin terasa sakit saat Aleta menganggukkan kepalanya.
"Tapi bagaimana- lo, perjanjiannya?" tanya Aksa tak beraturan karena memang rasanya teramat sakit. Ingin sekali dia memaki, tapi tidak mungkin. Aleta itu cewek yang paling ia sayangi.
"Gue sama dia sepakat buat besok umumin di lapangan upacara. Gue gak perlu tembak dia," ucap Aleta pelan dengan air mata yang sudah mengenang dipelupuk matanya.
Aksa tersenyum tipis dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Semoga lo bahagia ya, Ta. Gue pulang dulu," kata Aksa dan tanpa menunggu respon Aleta, dia sudah melompat ke ranting pohon terdekat.
Aleta hanya mampu menatap Aksa sendu dan penuh sesal.
"Maaf, Sa."
.............
Sore harinya
"Yuk!" ajak Elvan saat Aleta baru saja keluar dari kelasnya.
"Mau kemana? Gue gak bilang iya tadi!" kata Aleta heran.
"Ikut pokoknya!" ucap Elvan final sambil menarik Aleta paksa.
"Lo jahat!" teriak Aleta sambil terus meronta saat Elvan hendak memasangkan helm.
"Lo berisik! Diam dan ikut gue. Jamin dah bakalan suka," kata Elvan masih dengan santai mencoba memasang helm di kepala Aleta dengan tangan kanan saja.
Dug
Helm itu berhasil masuk ke kepala Aleta. Ya, walaupun ada sedikit bentrok.
"Pelan dong! Nyebelin deh," tegur Aleta sambil melotot tajam.
Elvan melepas tangan kirinya. "Jangan kebanyakan tingkah!" katanya galak lalu mulai mengancingkan helmnya.
"Gue mau naik, lo jangan kabur!" ucap Elvan lagi sambil mengangkat kaki kanannya menaiki sepeda motor itu.
Aleta mendengar jengkel. "Capek gue ngeyel sama lo mulu."
Elvan yang hendak memakai helmnya tersenyum miring. "Makanya, kalau sama yang ganteng tuh nurut."
"Hueekk ... Ganteng tapi playboy buat apa?"
Elvan mengabaikan pertanyaan Aleta. Cowok itu memilih menggunakan helmnya.
"PEGANGAN, GUE MAU NGEBUT. SOALNYA KEBURU SORE DAN LO SUSAH DIATUR!" Elvan memperingati dengan sedikit berteriak, padahal mereka belum melaju.
Aleta memukul bagian belakang helm Elvan keras.
Tok
"Gak usah teriak, beg*! Kuping gue masih normal."
Elvan hanya terkekeh pelan, setelah itu motornya melesat dengan cepat membelah jalan yang cukup padat.
Setelah 20 menit di jalan karena setelah 100 meter dari sekolah, Elvan memilih jalan tikus alias jalan pintas walaupun kecil. Akhirnya mereka sampai di sebuah danau yang berada di tengah kebun mangga.
Elvan menghentikan laju motornya tepat di depan ayunan yang berada tak jauh dari danau. Belum sempat ia menyetandarkan motornya, Aleta sudah lebih dulu melompat turun dan berekspresi takjub.
"WAH! Keren banget!" teriaknya sambil merentangkan kedua tangan.
Elvan hanya tersenyum tipis, sesegera mungkin cowok itu membuka helmnya dan berjalan pelan menuju Aleta.
Cewek dengan helm yang masih ada di kepalanya itu sudah asik berlari ke sana kemari memegang bunga yang tumbuh di dekat pohon. Ekspresinya sungguh berbeda dengan saat dia di jalan tadi.
Aleta berlari melewati Elvan, segera saja cowok itu menarik bagian belakang dari tas Aleta.
"Ekh!" pekik Aleta pelan. Kepalanya menoleh ke Elvan dengan wajah kesal.
"Kenapa sih?" tanyanya dengan mata mendelik tajam.
Elvan hanya terkekeh pelan. Cowok itu menggelengkan kepala tak percaya.
Elvan mengetuk kepalanya sendiri sebanyak dua kali. Mengisyaratkan helm yang digunakan Aleta masih ada di kepala. Sayangnya, Aleta hanya mampu mengernyit bingung karena tidak sadar.
Elvan kembali menggelengkan kepala sambil tertawa geli. Dipegangnya dagu Aleta lembut dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya masih memegang bagian belakang tas Aleta.
Aksi cowok itu berhasil membuat Aleta bingung. Matanya melirik tak percaya pada tangan Elvan.
Dengan pelan, tangan kiri Elvan terangkat hendak memegang helm Aleta. Mata Aleta semakin membesar dan bergerak mengikuti tangan Elvan.
"Benerkan kata gue, lo bakalan suka tempatnya. Tapi ... helmnya tuh dilepas dulu. Kan malu kalau ada yang liat, kata Elvan lembut, namun dengan kekehan seolah mengejek. Padahal di sana juga hanya ada mereka berdua.
Aleta langsung meraba kepalanya. Pipinya seketika merona, lagi dan lagi dia malu sendiri karena ulah konyolnya di depan Elvan.
"Cantik," kata Elvan pelan masih dengan posisi yang sama.
Aleta yang mendengar langsung menghentikan gerakan tangannya. Matanya berhenti tepat pada manik yang berwarna coklat coklat susu di depannya.
"Gak usah lama-lama liatnya. Gantengnya gue gak akan ilang walaupun lo tidur," kata Elvan yang berhasil membuat rona merah pada kedua pipi Aleta semakin jelas.
Kedua tangan Elvan kini beralih pada kancing helm milik Aleta. Cowok itu melepas kancing helmnya masih dengan senyum manis yang tercetak jelas dikedua sudut bibirnya.
Kedua tangannya kini beralih menagkup tangan Aleta yang berada di sisi helmnya. "Ini diturunin dulu ya, gue mau lepas helmnya."
Seperti tersihir, Aleta menganggukkan kepala patuh.
Tok
Suasana yang tadinya romantis harus terhenti saat tangan Elvan memukul helm Aleta keras lalu melepasnya.
"Elvan!"
Elvan yang dipanggil hanya berdeham singkat, kakinya melangkah menuju motornya.
"Elvan!" teriak Aleta kesal karena cowok itu semakin menjauh.
"Apa?" sahut Elvan sambil mengancingkan helm Aleta pada motornya.
"Kok lo pukul kepala gue?" tanya Aleta kesal sambil mendekati Elvan.
"Biar impas. Lo tadi juga pukul gue," jawab Elvan cuek. Cowok itu justru kembali lagi mendekat danau dan meninggalkan Aleta yang berdiri kesal dengan makian yang keluar dari mulutnya.
"Lo mau ngapain ajak gue ke sini?" tanya Aleta sambil mengikuti Elvan.
Elvan yang berjalan di depannya, berjarak sekitar lima langkah itu tetap diam. Kaki panjang cowok itu berhenti tepat di sebelah pohon mangga yang berukuran lumayan besar, kemungkinan diameternya lebih dari 80 sentimeter.
Aleta ikut berdiri di sebelah Elvan. Tangannya merentang dengan kepala mendongak ke atas.
"Di sini seger, gue suka," katanya setelah menghirup udara sebentar.
"Gue bawa lo ke sini karena gue mau lo tau tempat ini," kata Elvan masih menatap kumpulan air di depannya .
"Memang kenapa?" tanya Aleta menatap Elvan penasaran.
Bukan menjawab, tapi Elvan justru berjalan ke balik pohon mangga itu. Aleta yang penasaran mengikuti. Ternyata, di balik pohon itu ada perahu kecil yang kemungkinan hanya mampu menampung 3 orang saja.
Dilihatnya Elvan yang sibuk menyiapkan dayung dan juga, gitar?
"Kok ada gitar?" tanya Aleta heran. Elvan mendongak sebentar lalu kembali fokus pada perahu di depannya.
"Kita duduk pada batang pohon itu" tunjuk Elvan kepada batang pohon mangga yang letaknya sekitar 2 meter dari tempat mereka. Di sekeliling batang pohon ditanami bunga berwarna-warni.
"Memangnya bisa? Nanti bunganya rusak," ucap Aleta enggan.
"Ada jarak diantara mereka. Udah sih, ayok!"
Elvan menarik Aleta dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri cowok itu membawa gitar.
"Lo duduk di sini, gue di sebelah lo."
"Terus?" tanya Aleta penasaran.
"Lo nyanyi, gue yang main gitar," kata Elvan sambil memperbaiki posisi gitarnya.
"Ha?"
Elvan terkekeh pelan, namun tangannya tak henti memetik senar gitarnya.
"Ayok, mau nyanyi apa?" tanya Elvan lagi.
"Suara gue, jelek."
"Terus? Kan cuma gue yang denger. Cepetan," kata Elvan meyakinkan.
"Oke. Benci Untuk Mencintai," usul Aleta.
Elvan langsung mendongak menatap Aleta tak percaya. "Kenapa itu lagunya?"
Aleta hanya mengangkat bahu acuh. "Udah cepet daripada gak jadi."
Akhirnya Elvan menyetujuinya. Alunan musik dari petikan senar gitar Elvan mulai terdengar. Aleta sempat dibuat kagum. Cowok itu hafal lagu yang diusulkannya?
Namun Aleta langsung tersadar, cewek itu segera ambil nafas sebelum menyanyikan lagu.
Oh, betapa ku saat ini
Ku benci untuk mencinta
Mencintaimu
Elvan menatap Aleta dalam. Kenapa rasanya dia begitu nyaman bersama cewek di sebelahnya ini? Rasanya begitu berbeda dengan saat dia bersama cewek lain. Benci untuk mencintai, apa benar Aleta sengaja memilih lagu ini?
Oh, betapa ku saat ini
Ku cinta untuk membenci
Membencimu
Karena tidak mau terlalu larut dalam hanyalahnya, Elvan memutuskan ikut menyanyikan lagunya.
Aku tak tahu apa yang terjadi
Antara aku dan kau
Yang kutahu pasti
Ku benci untuk mencintaimu
Menyadari Elvan ikut menyanyi Aleta memilih diam saat lirik selanjutnya akan dinyanyikan. Dia merasa sama. Tidak tahu apa yang terjadi hingga dia memutuskan untuk membawa Aleta kemari.
Aku tak tahu apa yang terjadi
Antara aku dan kau
Yang kutahu pasti
Ku benci untuk mencintaimu
Dan aku tak tahu apa yang terjadi
Antara aku dan aku
Yang kutahu pasti
Ku benci untuk mencintaimu
Aleta begitu menikmati suara Elvan yang serak, namun enak didengar. Ah, suaranya sangat berbeda dengan suara cowok lain. Dan Aleta kembali ikut bernyanyi.
Yang kutahu pasti
Ku benci untuk mencintaimu
Yang kutahu pasti
Ku benci untuk
Mencintaimu
Benci Untuk Mencintai-Naif
"Lo emang benci sama gue?" tanya Elvan menatap Aleta dalam. Rasanya manik mata cewek di depannya ini berhasil membuatnya semakin tenggelam dan berhasil membuat detak jantungnya menggila.
"Enggak tau. Itu kan cuma lagu," jawab Aleta cuek.
Cewek itu melangkah menjauhi Elvan. Langkah kakinya mendekat ke perahu.
"Naik ini, yuk!" ajaknya semangat.
Elvan tersenyum tipis. Salahkan dia jika ternyata dia benar-benar suka dan tertarik kepada Aleta?
Elvan mendekat masih dengan gitar ditangan kirinya. "Mau ke tengah sana? Biasanya sih ada tertai yang baru berbunga."
"Yang bener?" tanya Aleta semangat. Elvan mengangguk sebagai jawaban.
Aleta langsung menarik Elvan cepat. "Ayo cepetan!"
Akhirnya Elvan membantu Aleta menaiki perahunya. Mereka duduk saling berhadapan. Setelah itu mereka menuju ke tengah danau. Ah lebih tepatnya menuju pada sekumpulan tanaman teratai yang sedang berbunga.
Pemandangan sore itu tampak indah, air yang biasanya berwarna biru kehijauan berubah menjadi bersemu oranye karena langit senja.
Elvan menghentikan perahunya tepat di samping bunga teratai pink yang sedang mekar. Tangan cowok itu meletakkan dayung dengan pelan, setelah itu diaraihnya bunga teratai dan ia petik dengan hati-hati. Walaupun agak susah, tapi akhirnya Elvan berhasil.
"Buat elo," kata Elvan dengan senyum manis mengembang.
Aleta menyambut dengan tak kalah senang. "Makasih," katanya sambil tersenyum manis.
"Satu lagi," kata Elvan sambil membuka tas yang hanya berisi satu buku itu.
Aleta menatapnya dengan heran. "Lo ngapain?"
"Eh, bentar." Elvan kembali menutup tasnya, tidak ada apapun yang Elvan ambil. Cowok itu justru meraih gitar yang diletakkan di tengah-tengah mereka.
Tak disangka, Elvan kembali memetik gitarnya. Sepertinya ia hendak menyanyi lagi.
Dia menyanyikan lagi cukup romantis. Setelah lagunya selesai, Elvan kembali meraih tasnya. Cowok yang masih memangku gitarnya saat ini menyerahkan tujuh batang coklat kepada Aleta.
"Maksudnya apa?" tanya Aleta masih sedikit tidak percaya.
"Gue jatuh cinta sama lo, Ta. Bener kata dokter itu, detak jantung gue cuma bisa berubah jadi cepat saat dekat lo. Gue cuma bisa mules dan geli gitu saat sama lo. Dan gue yakin gue jatuh hati sama lo." Elvan mengambil nafas sejenak.
"Gue suka sama lo, Ta. Meski gue awalnya gak suka banget sama lo, alias benci banget. Dan sekarang lo liat, gue suka lo, Ta. Lo mau kan jadi pacar gue? Terima coklat gue kalau lo mau, Ta."
Aleta kaget. Ia pikir Elvan hanya main-main.
"Gue serius. Lo tau kenapa coklat ini ada tujuh?" tanya Elvan sambil terus meyakinkan. Cowok itu sedikit mendekat, membuat perahu sedikit bergerak.
"Eh, lo mau ngapain sih, Van?"
"Mau deket lo, biar lo gampang ambil coklatnya," kata Elvan menyengir lebar.
"Kasih tau gue kenapa bisa lo suka sama gue?"
Elvan menghela nafas sebentar, "Coklat ini jumlahnya tujuh. Pacar gue sebelum ini ada enam. Gue mau lo jadi yang ketujuh, eh tapi gue udah putusin pacar gue. Coklat ini simbol kalau pacar gue udah gue tuker sama coklat karena hati gue udah gue serahin buat elo. Ah, gue gak bisa romantis Ta, tapi gue beneran mau lo jadi pacar gue. Jadi, lo terima gak?" tanya Elvan setelah menjelaskan panjang lebar.
Aleta tersenyum malu, kedua sisi wajahnya kembali merona merah.
"Lo udah buktiin kalau lo udah putusin cewek lo depan gue. Dan awalnya gue ragu. Gue awalnya gak suka banget sama lo, Van. Lo tau, gue itu anti banget sama yang namanya cowok playboy. Tapi sama lo? Gue ngerasa beda. So ... Gue terima, Van. Gue mau," jawab Aleta sambil tersenyum cerah.
"Serius?" tanya Elvan tak percaya.
Aleta kembali mengangguk malu.
"Kita balik ke pinggir ya," ucap Elvan semangat, cowok itu segera mendayung perahunya ke tepi.
"Yah ... Kenapa?" tanya Aleta sedikit berat hati.
"Aku mau peluk kamu," kata Elvan sambil tersenyum manis. Ya manis, bahkan nampak begitu tulus. Dan nampak begitu meyakinkan.
Aleta kembali memerah setelah Elvan mengatakan kalimatnya. Dan akhirnya mereka sampai ke tepi. Elvan membantu Aleta turun. Coklat yang tadi Aleta letakkan di tengah-tengah mereka diraih Aleta dengan sedikit malu.
Setelah berhasil turun, Elvan langsung memeluk Aleta cepat.
"Terima kasih," bisiknya pelan namun berhasil membuat senyum Aleta mengembang.
Dan satu hal yang Elvan dan Aleta tidak tahu. Debaran jantung keduanya sama-sama menggila. Namun, ada satu yang membuat Elvan merasa sedikit nyeri.
"Maaf, Ta. Gue beneran jatuh cinta sama lo, tapi gue juga gak bisa lepas dari apa yang gue ucapkan waktu turnamen kemarin."
........
astaga thor,2X aku ngulang bc dialog ini baru ngeh maksudnya apa...
Lola banget kyknya aku😂😂😂😂
Semangatt..
Jangan lupa mampir juga dicerita ku yaa🙏😉