Nama nya Vidya, ia salah satu anak cerdas namun terasingkan oleh keluarga nya sendiri.
Dengan sikap acuh sang ibu, kakak yang selalu membully nya entah itu di rumah atau pun di sekolah.
Terlebih lagi sang ayah yang sibuk bekerja dan hanya mementingkan Lidya dan sang kakak nya saja.
Iya Vidya itu merupakan anak bungsu di dalam keluarga Luke. Tapi di keluarga tersebut bagaikan yang anak bungsu itu adalah Lidya.
Walaupun sikap keluarga nya seperti itu tapi Vidya tak pernah sekali pun membenci mereka karena bagi Vidya tanpa mereka ia tak bisa ada di dunia ini.
Vidya hanya bisa berdoa dan berusaha agar suatu saat nanti ia dapat terlihat di mata sang ayah dan ibu nya.
Di dalam rumah tersebut hanya 2 pembantu nya yang menyayangi Vidya selama ini hingga sekarang ia bertumbuh menjadi gadis cantik yang duduk di sekolah menengah atas.
Vidya hanya mempunyai 1 orang sahabat di sekolah nya yaitu Airin, orang yang selalu membela nya dikala ia di bully.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari bukti
"Sekali pun ponakan saya yang salah, tak seharus nya kalian bisa berbuat seperti itu" seketika saja Rhayi di liputi emosi.
"Lah, itu kan sebagai bentuk hukuman mereka karena sangat tidak sopan kepada orang yang lebih dewasa" Bella sangat nyolot tak mau di salahkan, sedangkan Lexa masih tetap diam tak mau ikut campur.
"Saya, sangat percaya ponakan saya kalau mereka memang tak berbohong" Rhayi langsung menyela nya ketika melihat Lidya ingin membuka suara nya.
Dan Lidya segera saja kembali menutup mulut nya lagi.
"Terserah pokoknya ponakan bapak harus minta maaf ke saya dan teman saya ini" lanjut Bella sambil menunjuk Lidya yang berada di sebelah nya.
"Sudah jelas ponakan nya yang salah, masih aja di belain" gerutu Bella.
"Mana bukti nya kalau kalian yang benar dan ponakan saya yang salah" Untung saja otak Rhayi tiba-tiba berjalan dengan cepat.
"Mmm... Di sini gak ada yang lihat lah" Lidya yang menjawab pun agak gugup.
"Nah kan, sekarang dari mana kalian bisa menuduh ponakan saya sembarangan begitu apalagi sudah menyakiti mereka" emosi Rhayi makin tak bisa di kendalikan, melihat krucil nya di sakiti orang lain. Sedangkan ketika di rumah, mereka berdua itu selalu di manjakan bagai seorang ratu.
"Ini bisa di kasus kan penganiayaan tau, apalagi kalian yang seperti nya masih pelajar" Rhayi menjeda sejenak ucapan nya.
"Mau jadi apa kalian ketika sudah lulus?" lanjut Rhayi meluapkan kekesalan emosi nya.
"Sudah lah bapak ini, gak usah terlalu banyak ceramah. Lagian kita gak butuh ceramahan dari bapak" Lidya menjadi sangat sinis kepada seorang laki-laki di depan nya ini.
"Biar cepat selesai, buruan suruh ponakan situ buat minta maaf ke kita" kini giliran Bella lagi yang berucap. Dan di sini yang sangat menentang Bella dan Lidya seakan mereka memang benar.
"Kita gak punya banyak waktu buat meladeni bapak" Lidya melanjutkan karena tak mau mengakui kesalahan nya sembari melihat jam yang bertengger di tangan nya dengan gaya sok menjadi orang sibuk.
"Oke karena kalian mau nya seperti itu, saya tak segan untuk membawa kasus ini" setelah cukup lama Rhayi mendengarkan ocehan mereka, yang menurut Rhayi seperti alay sekali.
"Sekarang juga saya akan cari bukti nya ke ruangan cctv, biar saya tahu ponakan saya atau kalian yang benar" Rhayi berucap sangat geram hingga gigi bergemelatuk.
"Ayo krucil, kalian ikut om" Rhayi mengajak si kembar untuk menuju ke ruang cctv.
"Kalian gak usah takut sama tante itu" tunjuk Rhayi ke arah Lidya cs.
"Tapi om.. " Rheana pun melihat ke arah om nya lalu mengalihkan pandangan ke arah Lidya yang memelototi nya. Dan Rheana langsung saja menundukkan kepala nya lagi.
"Sini biar om gendong kalian" ucap Rhayi meraih mereka berdua sekaligus ke dalam gendongan nya.
Sementara Lidya dan Bella muka mereka seketika saja langsung tegang begitu mendengar perkataan Rhayi. Tapi karena gengsi mereka berdua tak mau meminta maaf apalagi mengakui nya.
Sedangkan Lexa hanya bersikap acuh pada mereka berdua tak mau ambil pusing yang bukan urusan nya, ya walaupun ia juga terlibat dan di kejadian tersebut. Namun ia tak ikut andil dalam menyakiti anak kecil itu.
"Om, kita mau kemana? " Rheana bertanya kepada om nya saat ia sudah mulai tenang dan berhenti dari tangis nya, sedangkan Rhyana ia masih sesegukan hingga tersengal-sengal nafas nya.
"Tenang ya, kalian berdua sudah aman kok" Rhayi berusaha menghibur mereka berdua agar tidak meninggalkan trauma.
"Om tante tadi siapa sih, kok jahat banget sama kita?" si bungsu Rhyana bertanya dengan sangat polos nya.
"Tante yang tadi hanya orang yang lewat saja kok, mungkin sedang kesal dengan orang lain maka nya kalian yang jadi kena marah" Rhayi berusaha mencari alasan untuk menjelaskan nya.
"Owh, tapi kenapa dia sampe tarik telinga aku, tuh kan sakit om" Rhyana menggosok-gosok telinga nya yang terasa sakit.
"Tenang saja setelah ini, tante yang tadi tidak akan berani menyakiti kalian lagi. Kan ada om Ayi di sini bersama kalian"
"Dan maka nya kalian kalau di mall, jangan sekali-kali berpisah dari siapa pun yang mengajak. Kalian mengerti kan" ucap Rhayi mengultimatum agar tidak terjadi hal yang sama.
"Iya om, kita salah" ucap si kembar bersamaan.
"Minta maaf ya om" lanjut si kembar menunduk.
Akhir nya obrolan mereka bertiga harus terhenti karena Rhayi sudah sampai di tempat informasi untuk menanyakan letak di mana ruangan cctv berada sekaligus Rhayi meminta ijin untuk melihat kejadian beberapa menit yang lalu.
"Mari pak, saya tunjukkan" ucap pegawai informasi dengan sopan, Rhayi mengekori pegawai tersebut di belakang nya dan tentu si krucil berada di gendongan nya.
Nasib Lidya dan Bella masih berdiri di tempat itu. Mereka berdua mulai kebingungan kalau sampai terungkap, Di saat mereka ingin kabur pun tak bisa karena Rhayi sudah menyuruh 2 orang satpam untuk menjaga mereka sebelum ia mengikuti sang bagian informasi.
"Gimana nih Li nasib kita" Bella mulai panik. Keringat pun mengucur dari dahi nya, padahal ruangan di mall tersebut tidak panas.
"Gue juga bingung Bell, kenapa bisa jadi gini sih" Lidya sama-sama dalam mode yang tak bisa memikirkan cara untuk solusi masalah nya.
"Lex, loe bantuin kita napa. Malah diam di situ lagi" ucap Bella kesal ketika melihat reaksi Lexa yang biasa saja.
"Iya Lex, betul kata Bella kan loe juga ikut dalam kejadian ini" Lidya membetulkan ucapan Bella.
"Lah, kan loe berdua yang bikin masalah jadi begini, kenapa jadi gue ikut kebawa juga. Sedangkan gue aja cuma jadi penonton doang" sahut Lexa dengan ringan.
"Ih loe kok gitu sih" Lidya mendelikkan mata nya ke arah Lexa.
"Gitu gimana, kan emang kenyataan nya Li" jelas Lexa lagi.
"Udah deh kalian berdua jangan ribut, gue lagi coba cari cara biar kita bisa kabur dari sini. Lagian setelah ini juga gak mungkin ketemu lagi sama itu orang" ucap Bella dengan percaya diri nya.
Akhirnya perdebatan unfaedah antara Lexa dan Lidya pun berhenti dan seketika mereka bertiga terdiam tak ada yang berucap satu pun.
Setelah 5 menit kemudian, Lidya pun sudah sangat gelisah karena Bella tak kunjung mengutarakan ide nya itu.
"Gimana Bell?, udah ketemu kan ide nya" tanya Lidya tak sabaran.
"Belum Li, gue tetiba buntu nih. Mana pasti sebentar lagi mereka ke sini" Bella prustasi sendiri dengan mengacak rambut nya hingga menjadi berantakan.
"Bell, rambut loe tuh" beritahu Lidya saat melihat rambut Bella yang acak-acakan.
"Astaga" kaget Bella ketika melihat pantulan diri nya di kaca pintu sebuah toko mainan di depan nya.
semangat thor 💞
sehingga dia kayak orang hilang ingatan
sampai tidak tau orang di mimpinya
smg cepat mengingat kembali.
sepertinya Vidya bukan saudara kandung lydia, makanya si vydia, mendapatkn perlakuan yang berbeda.
gk bs dbayangkn klo aku berada di posisi vidya, smoga vidya bs menemukan kebahagiaan
Kakak nya gitu astaga pelan dikit ketuk pintunya
Entah masalalu apa yang membuatnya dikucilkan oleh keluarganya ..