"Awas adik...." refleks aku maraih tangan gadis kecil yang melintas di depanku.
Anya adalah gadis kecil yang berumur kurang lebih 4 tahun. Putri pengusaha sukses yang bernama Zaidan. Harus mengalami peristiwa yang tragis. Ibunda meninggal saat melindungi dirinya dari serangan pembunuh yang menginginkan dirinya.
Peristiwa ini meninggalkan trauma yang mendalam pada dirinya. Sehingga menimbulkan rasa takut yang berlebihan.
Selanjutnya, silahkan membaca novel ini.
Apabila ada nama atau tempat yang sama, maka itu ketidaksengajaan, karena ini hanya fiksi belaka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 : Puzzle-puzzle Misteri
"Ya, Aldo. Masuk saja."
Zaidan berdiri sambil menutup handphone nya. Lalu duduk kembali setelah Aldo masuk dan tampak duduk di sisinya.
"Kamu tidak tidur. Al?"
"Saya tidur lebih awal. Pak Zaidan."
"Panggil nama saja, tak apa-apa."
"Baik Zai ...."
"Itu lebih baik."
"Ada apa, Al?"
"Saya tadi, mencoba memutar kembali cctv rumah ini, beberapa bulan ke belakang."
"Ya, ada yang kamu temukan?"
"Saya agak curiga, tapi belum berani menyimpulkan."
"Tidak apa-apa. Kita tak mau hanya menangkapnya saja, Kalau bisa sekalian motifnya. Agar semuanya menjadi tuntas." Zaidan mencoba menjelaskan keinginannya.
"Nanti akan saya lihat ulang. Masih perlu pendalaman."
"Bagus itu."
"Zai ... Apa kamu masih menyimpan rekaman cctv rumahmu yang lama."
"Insya Allah ada. Ayo!"
Kemudian Zaidan mengajak Aldo ke suatu ruangan yang tersembunyi. Menyatu dengan ruang kerjanya. Berpintu seperti almari, sehingga tak seorangpun yang tahu, kalau itu adalah ruang khusus. Berisikan monitor-monitor. Sebagai pusat pengontrol cctv yang dia punyai. Dari rumah hingga perusahaan terhubung ke ruang itu.
"Ruangan ini baru aku fungsikan 2 minggu yang lalu. Mengingat akhir-akhir ini aku menemui banyak kejanggalan-kejanggalan yang terjadi. Baik di rumah maupun di perusahaan."
"Apa tiap hari kamu mengontrolnya?"
"Itulah kelemahanku. Aku tidak bisa setiap hari mengontrolnya. Baru sekali aku ke sini. Dan yang ke dua, bersamamu."
Aldo menganggukkan kepalanya. Diam dan berfikir. Sambil melihat beberaapa cctv yang menyala.
Kemudian dia menuju salah satu kursi, dan dengan tenang duduk, lalu memperhatikan dengan seksama layar yang ada di depannya. Zaidan hanya mengikuti saja. Memperhatikan layar yang sedang menyala di depan Aldo. Dan mencoba memahami apa yang ingin di sampaikan oleh Aldo melalui layar itu.
Beberapa kali Aldo mengambil nafas panjang, lalu mengeluarkannya dengan pelan. Seperti berfikir dalam dan agak sedih melihatnya.
Lalu berpindah ke layar yang lain. Baik yang menyala maupun yang tidak. Zaidan masih bingung, hanya bisa diam dan memperhatikan Aldo dengan seksama. Tak berani menyela. Berlahan Zaidan meninggalkan Aldo seorang diri dalam kamar tersebut. Aldo terlihat serius menatap monitor-monitor itu, hingga tidak menyadari Zaidan sudah tidak bersamanya lagi.
"Ada apa dengan pak Aslam?" Aldo berucap lirih. Maksud hati hendak berkata pada Zaidan. Namun dilihat, tak ada orang di ruangan itu. Akhirnya dia fokus lagi dengan layar di depannya.
Cukuplah untuk hari ini. Setengah jam hendak subuh. Mengapa mata ini terasa mengantuk. Tak apalah diistirahatkan sebentar di musholla depan rumah. Agar aku bisa berjamaah dan tidak ketinggalan waktu sholat. Pikir Aldo
Tapi sebelum meninggalkan ruangan tersebut, Aldo memperhatikan sejenak cctv yang ada di depannya. Lalu meninggalkan ruangan itu. Menuju ke ruang Zaidan yang sudah remang-remang. Kerena lampu sudah dimatikan, berganti lampu ligt warna hijau saja.
Aldo berjalan diantara cahaya yang remang. Melewati kamar Zaidan. Dan satu kamar kosong. Seperti kamar yang dipersiapkan untuk nyonya Hendiyana. Ibu angkat Zaidan. Lalu menuruni tangga menuju lantai bawah. Dimana terdapat ruang tidur putrinya, kamar tamu, dan satu kamar kosong yang sekarang dia tempati. Lalu ada ruang keluarga, ruang tamu dan ruang perpustakaan.
Suasana masih sangat senyap. Penghuni rumah masih terbuai dalam selimut mimpi indah. Hanya dari dapur tampak lampu mulai menyala. Mungkin asisten rumah tangga pak Zaidan, yang bernama bik Rahma sudah memulai harinya.
Lalu pandangan Aldo beralih pada satu ruang yang berdekatan dengan ruang tamu. Yaitu ruang perpustakaan pribadi Zaidan. Yang kemarin belum sempat dia masuki.
Terlihat cahaya terang keluar dari ruang perpustakaan yang pintunya terbuka sedikit. Terdengar bunyi piano. Iramanya syahdu dan lembut. Mengalunkan lagu romantis tempo dulu. Meskipun tidak begitu jelas. Karena ruangan itu kedap suara.
Aldo menghampirinya dengan berlahan. Seolah-olah dia terpanggil untuk mendekatinya. Sejenak dia berdiri di tengah pintu ruangan tersebut. Menikmati keindahan musiknya. Yang dimainkan Zaidan dengan hampir sempurna.
Zaidan belum menyadari, kalau Aldo memperhatikan permainan pianonya. Jari-jari tangannya menyentuh lembut tuts-tuts piano yang ada di depannya. Yang telah lama tidak dimainkannya lagi. Semenjak istrinya meninggal. Baru kali ini Zaidan punya keberanian menyentuhnya kembali.
Namun dia merasakan ada satu tutsnya yang berbunyi tidak seperti biasa. Dia ulangi, namun tetap sama. Sejenak berfikir ingin membuka ruang memompa udara di piano itu. Namun terlihat bayangan seseorang yang berdiri di tengah pintu. Zaidan baru menyadari kalau ada sesrorang memperhatikannya.
"Hai Al. Sudah lama." Aldo hanya tersenyum sambil mendekati piano itu.
"Ada apa, Zai. Kok dihentikan."
"Ini lho ... kok bunyinya aneh."
"Em... coba!"
Lalu Zaidan menekan tuts yang dimaksud dengan pelan dan berulang-ulang. Lalu menekan tuts-tuts yang lain untuk mencocokkan nadanya. Aldo menggangguk. walau dia tidak mengerti tentang piano,tapi dia bisa merasakan ada yang tak sama dengan tuts ini. Seperti udara yang tertahan. Sehingga bunyinya tidak sempurna.
"Ya. Aku juga merasakannya."
Terlewat sudah rasa kantuk yang dirasakan oleh Aldo, oleh permainan piano Zaidan yang hanya sesaat. Gara-gara tuts piano yang berbunyi aneh.
Sayang, sebelum mereka membuka piano, terdengar adzan subuh dari masjid kampung sekitar. Sehingga menghentikan keinginan mereka untuk membuka bagian tekanan udara di piano tersebut.
Bersama-sama mereka menuju musholla depan. Untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah. Bersama dengan kedua satpam Zaidan. Yaitu pak Tata dan pak Aslam.
"Kita jalan-jalan sebentar, yuk!" ajak Zaidan pada Aldo.
"Boleh."
Dengan bertelanjang kaki keduanya berjalan ke luar gerbang. Menyusuri jalan setapak di tengah pematang sawah. Melatih syaraf-syaraf ditelapak kaki di jalanan yang berkerikil. Sambil menikmati udara pedesaan yang bersih, dan juga semburat warna sinar mentari yang tampak di ufuk timur. Yang mengusir dinginnya kabut malam, dalam remang pagi. Diiring kicau burung dan ayam berkokok yang semakin ramai terdengar.
Tak terasa mereka berjalan hingga tiba di pemakaman, yang ada di tengah sawah.
"Zai, kau bawa aku kemana ini?"
"Kuburan." jawabnya santai.
"Lha!"
"Aku juga baru ke sini."
"Selama ini tidur lagi gitu, habis subuh."
"Tidaklah ... malah nggak sempat."
"Makanya segera menikah, agar ada yang mengurus kamu dan putrimu."
"Doakan saja."
"Nanti temenin aku temui dia ya..."
"Masak sudah segede gini, masih minta ditemani. Nanti aku ambil lho.."
"Baru sehari di sini. Sudah lupa sama bini."
"Tolong jangan sebut dia."
"Maaf."
"Zai ... Hubungan kamu sama pak Aslam itu apa."
"Pak Aslam itu orang kampung sini. Dia itu adik iparku."
"Benar seperti itu?"
"Istrimu pernah mengenalkannya padamu?"
"Isteriku pernah cerita."
"Kamu percaya?"
"Sehari setelah isteiku meninggal. Dia datang dan membawa bukti."
"Ada apa?"
"Tidak apa-apa."
"Zai. Khusnudhon boleh tapi harus waspada."
"Kita kembali yuk. Nanti putrimu bingung mencarimu."
"Lagi lengket sama Mommy. Aku tak khawatir." kata Zaidan.
q jd kepo sama ceritanya
semangat terus berkarya 👍
Mampir ya ke karya ku "Menikah Denganmu Adalah Takdirku"
Insyaa Allah Update setiap hari
terimakasih
salam kenal dari sajak cinta sufi dan araby
dan salam kenal dari aku dia rahasia kak 👋