Demi keluarganya dia rela menanggalkan gelar yang diraihnya hingga dia larut dalam statusnya sebagai ibu rumah tangga dengan segala kesibukan mengurus rumah dan dua anak balitanya.
Sampai pada akhirnya pengkhianatan suami dan hinaan yang tiada henti dari mertuanya menyadarkan dia untuk bangkit dan merubah dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon thatya0316, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Takdir
Selama Citra belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius, ditambah lagi dia mengalami pendarahan hebat, Apandi dan mertuanya sudah mengurus pemakaman putranya yang meninggal. Hal itu diketahui oleh Amanda sehingga dia pun datang melayat ke rumah Apandi bersama dengan kedua anaknya. Namun ternyata, niat baiknya justru disalah pahami oleh mantan mertuanya.
"Untuk apa kamu datang ke mari? Mau menertawakan anakku karena dia sudah kehilangan putranya?" Semprot Bu Sopiah saat Amanda baru datang ke rumah baru Apandi.
"Maaf, Bu! Aku ke sini hanya untuk berbelasungkawa atas kematian bayi Mas Pandi sekaligus adik anak-anakku." Ada sesak yang Amanda rasakan saat dia mengatakan 'adik anak-anakku'.
"Tidak perlu, sebaiknya kamu cepat pulang! Urus saja laki-laki yang selalu menghangatkan kamu!" usir Bu Sopiah.
"Baik, Bu terima kasih! Semoga kesehatan ibu semakin membaik dan tidak pernah merasakan sakitnya diusir orang," Amanda langsung pulang dengan mengajak kedua anaknya setelah dia mendo'akan hal yang baik untuk mantan ibu mertuanya. Meski hatinya menangis, dia berusaha tersenyum pada orang-orang yang datang melayat ke rumah Apandi.
"Bunda, kenapa tidak bertemu dengan ayah?" tanya Kia.
"Mungkin ayah sudah kembali ke rumah sakit. Kakak sabar ya! Ayah pasti datang untuk mengunjungi kakak dan Ade. Sekarang Ayah sedang repot mengurus mama Citra yang sakit," terang Amanda pada putrinya.
"Iya Bunda!" jawab Kia lesu.
...***...
Sementara itu, di sebuah lorong rumah sakit nampak seorang pria dewasa sedang termenung duduk sendiri di bangku tunggu pasien. Pasalnya, sampai saat ini pun istrinya masih belum sadarkan diri. Apandi terlihat kacau dengan kenyataan yang harus dihadapinya. Manakala dia harus kehilangan buah hatinya, istrinya pun harus masuk ruang ICU.
Setelah lebih dari dua belas jam Citra tidak sadarkan diri, akhirnya dia pun membuka matanya kembali. Namun, Apandi dibuat bingung dengan apa yang istrinya tanyakan padanya. Sampai untuk beberapa saat, dia hanya diam mematung.
"Mas, di mana anak kita?" tanya Citra dengan suara lirih.
"Mas, di mana anak kita? Aku ingin melihatnya, bukankah saat USG dia terlihat sehat dan sangat tampan sepertimu." Citra bertanya untuk yang kedua kalinya karena melihat suaminya hanya diam mematung.
"Sayang, jangan banyak bergerak dulu! Nanti jahitan kamu bisa lepas lagi," ucap Apandi berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Mas, di mana anakku? Aku ingin melihatnya!" Citra tidak peduli dengan apa yang suaminya katakan.
Dia hanya ingin melihat bayinya, karena saat bayinya sudah berhasil dikeluarkan, dia tidak mendengar suara tangisan bayi. Hingga akhirnya dia tidak sadarkan diri karena pendarahan hebat. Beruntung stok darah yang sesuai dengannya ada, sehingga dia pun cepat tertolong.
"Sayang, kamu yang sabar ya! Allah belum percaya pada kita untuk memiliki seorang anak, sehingga DIA pun mengambilnya kembali."
"Maksud kamu apa, Mas? Ngomong yang jelas!" sentak Citra.
"Anak kita ... Anak kita sudah meninggal! Dia keracunan air ketuban," lirih Apandi.
"Kamu jangan bercanda, Mas! Ini semua gara-gara kamu, Mas! Kamu yang sudah jadi penyebab kematian anakku. Kamu jahat, Mas! Kamu di mana saat aku terus menelpon kamu? Seandainya waktu itu kamu bergegas cepat datang ke rumah sakit, mungkin anakku masih hidup." Citra terus saja menyalahkan Apandi karena dia tidak langsing mengangkat teleponnya ataupun membalas pesannya.
"Citra, semuanya sudah takdir. Sekuat apapun kita berusaha, tapi kita tidak bisa menentang takdir yang sudah Allah tetapkan pada kita," sentak Apandi.
Semenjak Citra mengetahui tentang janinnya yang tidak bisa diselamatkan, dia terus menyalahkan Apandi karena dia tidak kunjung datang saat ditelpon dan dikirimi pesan olehnya. Sementara Apandi tidak terima dengan apa yang Citra katakan karena dia sudah berusaha untuk datang secepat mungkin. Hal itu membuat hubungan pernikahan mereka menjadi renggang dan sering terjadi keributan jika sudah membicarakan tentang anaknya.
...***...
Berbeda dengan Amanda yang sekarang sedang bersama kedua anaknya untuk foto prewedding sahabatnya. Sebenarnya Tania sengaja melibatkan Kia dan Azka, agar sahabatnya itu ikut berlibur bersamanya ke pantai. Tidak hanya kedua anak Amanda saja yang diajak, melainkan anaknya Gilang juga diikutsertakan sehingga acara foto prewedding menjadi acara libur bersama.
Amanda sangat kaget, saat berpapasan dengan Gilang di depan pintu kamar hotel. Sebelumnya dia tidak tahu kalau Gilang juga ikut berlibur bersama, karena Tania tidak berbicara apapun tentang Gilang. Berbeda dengan Gilang yang dari jauh-jauh hari sudah mengetahui acara libur dadakan yang direncanakan oleh Rama dan Tania.
"Loh, A Gilang ke sini dengan siapa?" tanya Amanda kaget.
"Aku bersama Langit. Hanya saja, tadi Harry mengajaknya." gilang mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar, Dia memilih untuk menghampiri Amanda yang terdiam di tempatnya.
"Kamu tidak apa-apa Manda?" tanya Gilang.
"Tidak apa-apa, A! Aku hanya kaget dengan kebetulan ini," ungkap Amanda.
"Sambil menunggu anak-anak pulang, bagaimana kalau kita minum kopi dulu di kafe?" usul Gilang.
"Boleh, A! Sebentar aku mengambil dompet dulu." Amanda kemudian langsung berlalu pergi mengambil dompet ke kamarnya.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment vote rate gift dan favorite!...
...Terima kasih!...