Demi mama, aku rela membohongi dunia dan menyembunyikan identitas asliku. Bahkan, aku juga mengorbankan rasa cinta yang aku punya pada seorang laki-laki. Semua aku lakukan demi mama yang selama ini telah berjuang demi aku. Aku yakin, doa dan restu mama, adalah hal terpenting dalam hidupku.
Apakah aku sangup, tetap menahan rasa ini. Mungkinkah, aku mampu mengubah pandagan lelaki itu padaku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Mika hanya menggelengkan kepalanya, menjawab apa yang aku katakan. Tidak ada satu jawaban pun yang Mika utarakan.
Hal itu membuat aku tidak mungkin bertanya untuk yang kedua kalinya pada gadis itu. Aku tidak mungkin mendesaknya untuk menjawab pertanyaanku ini.
Waktu makan siang, Mika bergegas meninggalkan aku. Ia bilang, ia akan makan bersama Mulya pacarnya.
Ada rasa cemburu yang terlintas dalam hatiku saat ini. Aku merasa marah saat Mika dekat-dekat dengan Mulya. Padahal, Mulya itu bukanlah siapa-siapa aku.
"Tuan muda, anda di panggil oleh bos besar untuk keruangannya," kata asisten pribadi papaku.
"Iya, aku akan kesana sebentar lagi," ucapku sambil mbereskan kertas yang berserakan di atas meja.
Aku melepaskan napas berat, saat aku sampai di depan pintu ruangan yang lumayan besar dan tertutup rapat ini.
Berat rasanya kaki ku untuk melangkah masuk kedalam sana. Karna aku tidak suka bertemu dengan papa.
Selain rasa takut akan penyamaran aku terbongkar, aku juga merasa sakit hati saat mendengar suara papa, jangankan suara, namanya saja sudah membuat aku sakit hati.
Aku ketuk pintu ruangan yang tertutup rapat itu. Dengan berat dan sangat perlahan sekali.
"Masuk!" kata seseorang dengan suara yang lumayan berat.
Aku membuka pintu dengan sangat hati-hati.
"Maaf pa, papa panggil aku kesini?" kataku saat masuk kedalam.
"Iya, silahkan duduk dulu."
"Oh iya," ucapku sambil duduk di salah satu sofa.
Papa bangun dari duduknya, ia duduk tak jauh dari aku di deretan sofa yang tersedia di ruangan ini.
"Papa ingin bicara soal perusahaan sama kamu Nino."
"Katakan saja pa, apa yang bisa aku bantu."
"Papa ...." Perkataan papa terhenti saat seseorang mengetuk pintu ruangan kerja papa.
"Mas, aku datang khusus untuk menemani kamu makan siang," kata sebuah suara yang terdengar sangat manja.
Aku sudah menebak, kalau ini akan terjadi saat papa ingin bicara soal perusahaan. Wanita ini pasti akan datang, hanya untuk mengacaukan segalanya.
Istri muda papa pun masuk dengan gaya khasnya yang sangat membuat aku jijik ketika melihatnya.
Ia jauh lebih muda dari mama. Ia memikat papa dengan cara yang menjijikkan.
"Nino, lain kali kita bicarakan lagi soal apa yang ingin papa bicarakan barusan. Mama kamu sudah datang," kata papa.
"Aku permisi dulu pa," ucapku sambil berjalan cepat keluar dari ruangan ini.
"Hei, Nino, kamu gak ikut makan siang bersama papa kamu?" kata wanita itu dengan cepat.
"Gak, aku makan di kantin saja. Aku tidak biasa makan makanan dari rumah," ucapku sambil terus melanjutkan langkah kaki.
"Mama kamu benar Nino, ayo makan bersama dengan papa," ucap papa ikut-ikutan.
"Gak usah pa, aku gak biasa makan dari rumah. Selain masakan mama, aku hak bisa makan. Karna aku punya riwayat kulit yang sangat sensetif terhadap makanan," ucapku berbohong.
Aku tahu kalau bohong itu dosa, namun aku tidak punya cara lain supaya aku bisa lepas dari suasana yang sangat menjijikkan buat aku ini.
Bagaimana mau makan bersama, melihat wajahnya saja sudah membuat aku merasa sangat jijik.
Aku bergegas kembali kemeja kerjaku. Perut ini rasanya lumayan sakit, karna aku belum sarapan tadi pagi.
"Ya ampun, tidak enak sendirian di sini. Aku sangat berharap kak Ryan bisa masuk kantor secepatnya. Jadi aku punya teman, tidak seperti saat ini. Aku sendirian, tanpa teman," ucapku dalam hati.
"Kak Nino, ini aku bawakan makanan buat kaka," kata Mika sambil menenteng satu bukusan pelastik berwarna hitam.
"Apa itu?"
"Ini adalah makanan buat kak Nino, aku tahu kalau kak Nino gak sempat pergi makan keluar, makanya aku bawakan untuk kakak."
"Makasih Mika, tapi tidak perlu. Aku sudah kenyang."
"Kak Nino makan apa sih bisa kenyang? Bukannya kaka itu gak keluar sama sekali ya?"
"Aku sudah makan di rumah sebelum berangkat, lagian kamu gak usah repot-repot perhatian sama aku."
hehhehe
saking ngebut ya maaf sampe ga sempet komen hehehe