NovelToon NovelToon
Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa

Status: tamat
Genre:Romansa-Percintaan bebas / Diam-Diam Cinta / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:295.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mirna Samsiyah

"Apa itu mahabbah?"

Ketika mendapat pertanyaan itu Khalisa tidak bisa mendapat jawabannya hanya dengan berpikir satu atau dua hari, meski telah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memahami apa itu mahabbah ia tak akan bisa betul-betul mengerti.

Namun ada satu orang yang membuat Khalisa merasa jika dekat dengannya maka ia juga dekat dengan sang pencipta—dekat pula pada arti dari mahabbah.

Suatu hari di pertengahan bulan suci ramadhan, ia mengungkapkan perasaannya berharap mereka memiliki rasa yang sama dan mau menjalani ibadah paling lama yakni pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Samsiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Hari ini Rindang diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah dirawat dua hari disana. Kondisinya sudah membaik sejak kejadian malam itu. Meskipun trauma di hatinya tidak akan bisa sembuh secepat itu karena meski fisiknya terlihat baik-baik saja, Rindang masih ingat setiap kejadian malam itu. Namun Rindang juga mengkhawatirkan Khalisa yang mengalami kejadian serupa.

"Malam itu kamu bilang tidur di apartemen ku." Kalimat Rindang menggantung, ia menatap Khalisa yang berjalan di sampingnya ketika mereka memasuki lobi apartemen. "Ada yang gedor pintu nggak?" Lanjutnya.

Khalisa terdiam sejenak, ia mempercepat langkahnya menyusul orangtua Rindang yang sudah lebih dulu masuk ke dalam lift.

"Ada." Bisik Khalisa di telinga Rindang. "Tepat seperti yang kamu bilang, jam satu lewat tiga belas."

"Bener kan!" Rindang keceplosan berbicara dengan nada tinggi, ia lupa kalau di belakang mereka ada orangtuanya.

"Kalian ngomongin apa sih?" Tanya mama Rindang keheranan melihat Rindang dan Khalisa berbisik-bisik.

"Urusan anak muda, Ma." Sahut papa Rindang.

Khalisa tersenyum pada papa Rindang karena secara tidak langsung telah menyelamatkannya dari pertanyaan tersebut.

Orangtua Rindang membereskan barang-barang bawaan mereka dari rumah sakit. Mereka akan menginap disini selama beberapa hari hingga Rindang selesai melaksanakan ujian akhir semester. Mereka mengerti bahwa Rindang tak bisa melupakan kejadian itu dengan mudah.

"Ama Renata kemana?" Tanya Rindang.

"Lagi jalan sama Ai, nyari apartemen yang pas buat Kafa karena sebentar lagi kan dia udah lulus SMA." Khalisa duduk di samping Rindang.

"Kenapa nggak disini aja, emangnya ada yang lebih bagus dari Casey Avenue, bukannya Kafa mau kuliah disini juga?"

Khalisa mengangguk, Kafa selalu bilang hendak kuliah di kampus yang sama dengan Khalisa karena ingin menjaga sang kakak sepupu. Jarak umur mereka hanya satu tahun sehingga sebagai cowok, Kafa merasa harus selalu menjaga Khalisa. Pikiran Kafa sangat dewasa meski usianya masih belia.

"Kafa pasti pengen tinggal disini juga tapi Ai bilang kalau kami tinggal di tempat yang sama, Kafa bisa gangguin aku terus padahal aku sama sekali nggak masalah soal itu."

"Ai pasti mau Kafa mandiri makanya tinggal di tempat yang beda sama kamu."

Untuk sesaat mereka terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing. Rindang menyandarkan kepalanya pada kursi dengan tatapan menerawang.

"Malam itu aku lihat monitor—" Khalisa merubah posisinya menghadap Rindang.

Rindang melirik Khalisa dan mengerti arah pembahasannya, Khalisa sedang membicarakan pelaku yang menggedor apartemennya tiap tengah malam. Rindang tak pernah berani untuk melihat pintu saat itu terjadi tapi setelah mendengar cerita Khalisa ia terkejut karena sahabatnya itu memiliki keberanian.

"Terus?" Rindang tidak sabar mendengar kalimat Khalisa selanjutnya.

"Tapi orang itu nutupin kameranya jadi aku nggak bisa lihat apa-apa."

Rindang membelalak, itu berarti pelakunya bisa saja orang di sekitar mereka yang tahu seluk-beluk setiap sudut apartemen.

"Apa kita memikirkan hal yang sama?" Tanya Khalisa memastikan bawah Rindang berpikiran sama dengannya.

Rindang mengangguk, ia jadi ingat untuk mengecek CCTV di depan pintu. Mengapa selama ini Rindang tidak memikirkan hal itu, apa gunanya ia memasang banyak CCTV jika tidak gunakan pada saat seperti ini. Rindang tidak ingin gegabah melaporkan hal ini ke polisi karena mungkin itu hanya orang iseng yang ingin berkenalan dengannya.

"Tante dan Om nginep berapa lama disini?" Khalisa merendahkan suaranya takut orangtua Rindang mendengarnya.

Rindang mengedikkan bahu, ia tahu orangtuanya sibuk tapi mereka tetap memaksakan diri datang kesini setelah tahu ia dirawat di rumah sakit. Rindang tak ingin menahan mereka lebih lama disini meski sekarang ia jadi lebih was-was setelah mengalami kejadian itu beberapa hari yang lalu.

"Ngomong-ngomong kemarin malem waktu aku beresin barang-barang kamu, aku lihat banyak hp di meja situ." Khalisa menunjuk meja yang terletak di sudut ruang tamu tempat dimana ia menata semua ponsel Rindang.

"Kenapa?" Rindang menyisir rambutnya dengan jari karena selama berada di rumah sakit ia tidak keramas sehingga rambutnya terasa kusut.

"Aku—boleh minta satu nggak, kamu nggak mungkin kan pakai semua hp itu dari pada mubadzir mending dikasih ke orang." Khalisa tersenyum lebar merayu Rindang meski ia tahu tanpa dirayu pun sahabatnya itu akan langsung memberikannya.

"Siapa orang? jaman sekarang semua orang udah punya hp canggih, kemarin launching hari ini udah punya." Rindang sendiri bingung akan menggunakan semua ponsel itu untuk apa karena ia sudah cukup dengan satu ponsel.

"Ya ada orang." Khalisa tiba-tiba gugup saat Rindang bertanya seperti itu.

"Yang jelas bukan kamu." Rindang menekankan kalimatnya karena jika dilihat dari rekening bank saja, milik Khalisa jauh lebih banyak darinya jadi tidak mungkin Khalisa ingin memiliki ponsel itu.

"Ya aku." Khalisa mengangguk.

"Buat apa?" Rindang mengerutkan kening melihat eskpresi Khalisa yang tidak biasa.

"Jadi beberapa hari yang lalu aku nggak sengaja nabrak Azfan terus hp dia jatuh sampai pecah layarnya—"

"Wah parah!" Rindang langsung menyahut sebelum Khalisa menyelesaikan kalimatnya. "Tanggungjawab kamu."

"Aku lebih mikirin perasaan Azfan, apa dia bakal tersinggung kalau aku beliin dia hp baru?"

"Ekspresi dia gimana waktu itu pas tahu layar hp nya pecah?"

"Biasa aja justru dia senyum dan bilang kalau hp nya emang udah rusak cuma masih bisa dipakai telfon."

Rindang manggut-manggut, Azfan memang tidak terlihat seperti orang yang suka menuntut sesuatu sebaliknya cowok itu mudah menerima sesuatu dengan lapang dada. Mungkin memberikan ponsel baru akan melukai perasaan Azfan.

"Ya udah ambil aja satu."

"Makasih ya." Khalisa sumringah, ia melompat ke sudut ruangan untuk memilih salah satu ponsel di meja Rindang.

Setelah memilih satu merek ponsel Indonesia, Khalisa memasukkannya ke dalam box yang berada di bawah meja. Merek smartphone Indonesia juga bisa bersaing dengan merek luar negeri sejak 5 tahun terakhir.

"Aku berangkat kuliah dulu, ada kelas jam 9." Khalisa beranjak dari duduknya, ia melangkah ke ruang tengah untuk berpamitan kepada orangtua Rindang sebelum ia berangkat ke kampus.

"Jalan kaki?" Tanya Rindang saat Khalisa melewatinya.

"Ada Huma di bawah." Khalisa membuka pintu lalu melambaikan tangan pada Rindang. "Sekali lagi terimakasih hp nya Rindang Anjana."

"Udah ah buruan berangkat." Rindang mengibaskan tangan agar Khalisa segera pergi ke kampus.

Di depan apartemen, Huma telah menunggu Khalisa dengan sepeda listrik merah miliknya. Huma tak selalu membawa sepeda tersebut karena jarak tempat kos dan kampus tidak terlalu jauh hanya saja jika melewati apartemen Khalisa lebih dulu maka jarak yang ditempuh nya menjadi sedikit lebih jauh.

"Assalamualaikum ukhti Masya Allah hari ini pakai gamis dan jilbabnya panjang." Khalisa berbinar-binar melihat Huma mengenakan gamis hijau dan jilbab dengan warna senada. Itu tidak terlihat seperti Huma biasanya yang mengenakan rok dan kemeja saat ke kampus.

"Waalaikumussalam, cocok nggak?" Huma berputar untuk memperlihatkan detail gamisnya pada Khalisa.

"Sangat cocok." Puji Khalisa, ia melihat Huma dari atas sampai bawah, "cantik sekali."

"Terinspirasi dari temen tercinta aku nih."

"Siapa?" Khalisa menahan senyum pura-pura tidak tahu.

"Kalau nggak salah namanya Khalisa ya?" Huma terlihat berpikir, "udah ah ayo naik, nggak penting."

"Ih." Khalisa menepuk punggung Huma pelan lalu duduk di atas sepeda di belakang Huma.

"Ayo besok belanja gamis bareng di Alindra Mall." Huma mulai menjalankan motornya dengan kecepatan rendah karena ia ingin menikmati udara pagi di sekitar sana.

"Enggak mau ah." Khalisa sudah memiliki cukup banyak gamis di lemarinya dan mereka masih layak pakai jadi ia belum menginginkan gamis baru.

"Kenapa kan kita lama nggak belanja bareng."

"Besok aku ada kegiatan sama hawasi."

"Kegiatan apa?"

"Mau cuci mukenah di masjid."

"Cuci mukenah doang kan, paling dua jam selesai."

Khalisa menghela napas panjang, dasar Huma memang paling tidak bisa dicegah soal belanja.

"Palingan juga kamu nggak beli gamis tapi beli novel."

Huma terdiam, ternyata Khalisa tahu persis kebiasannya. Meski sudah memiliki setumpuk novel tapi pasti ada saja setidaknya satu novel yang akan Huma beli saat pergi ke toko buku.

Dari kejauhan Azfan tidak sengaja melihat Khalisa dan Huma ketika ia hendak memarkirkan motornya. Sudut bibir Azfan terangkat otomatis kala melihat Khalisa tertawa bersama Huma, ia jadi penasaran apakah yang mereka bicarakan.

"Azfan!"

"Hm?" Azfan spontan menoleh saat ada suara perempuan yang memanggilnya. Ia melihat Syifa berdiri tak jauh darinya. "Ada apa?"

"Aku cuma mau ngasih tahu kalau nanti ada latihan qiraah bareng di masjid Ulil Albab, mahasiswa dari fakultas lain juga dateng kok."

"Oh iya." Azfan mengangguk, "makasih ya." Katanya berterimakasih karena Syifa memberitahunya mengenai latihan untuk persiapan MTQ tersebut. "Kalau gitu aku duluan ya." Pamitnya karena ia harus segera masuk kelas.

Syifa mengangguk melihat punggung Azfan semakin menjauh lalu ia berbalik karena juga ada kelas pagi ini.

1
Mirna
Luar biasa
Kamrah Azizah
kereeen bageet
Hr sasuwe
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Rochis Khikma
mksh kk akhirnya happy ending...oh ya ada kelanjutannya untuk anak2 mereka gk kk?
Mirna: Udah ga ada kayaknya, ga kepikiran bikin lagi 😁
total 1 replies
Nina
di tunggu cerita yang baru kak mirna
Marsha Andini Sasmita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Marsha Andini Sasmita
👍👍👍❤️👍👍👍
Marsha Andini Sasmita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Titin Erawati
sukses selalu Thor, ditunggu cerita yg lainya,jgn lupa jaga kesehatan ♥️♥️♥️♥️♥️
34. Tiara Atikah
bagus banget😘😘😘😍
Mirna: Wah makasih Kak Tiara Atikah, nama kamu mirip Mahira—Mahira Atiqah 😁
total 1 replies
Jauza Lesmono
sukses terus kak dan di tunggu karya karya selanjutnya,salam sehat
Mirna: Makasih Kakak 😍
total 1 replies
RINAWATI AZZA
buat crita azka dewasa donk mbk...
Mirna: Nggak bosen sama keluarga Alindra? 🤣
total 1 replies
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ
kak Mirna... sayangku..
makasih jg udah kasih kita bacaan yg positif bgt.. aku tunggu karyamu yg lain kak.. sukses terus kaka sayang...😘😘
q bakal kangen ma mereka pasti..😥
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ: insyaa Allah ka Mirna...
kpn launching karya baru nih..hehe
total 2 replies
Fat Tonah
terimakasih kasih telah update sebenarnya ndk terima cerita ni berakhir tp d tnggu novel dan cerita lain berikutnya love sekebon untuk authorx love love love
Mirna: Wah love dua kebon buat Kak Fat, makasih udah baca Mahabbah Cinta Khalisa
total 1 replies
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ
Alhamdulillah... selamat Abi n umma. ...
Bundanya Abhipraya
hemm ga rela tamat dehhh
Bundanya Abhipraya
suka bgt persahabatan mereka...
Bundanya Abhipraya
selamat ya azka punya dede bayi cantikk... yg akur2.
Lusia
jangan tamat dulu ya kk, panjangin aja gak akan bosen
Mirna
yang pada nanya Zulaikha, fotonya ada di tengah-tengah Papa dan Mama nya ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!