Yang baik hati, bisa bantu Author dengan follow akun ini.
Follow IG : @KeiL.Story
Sinopsis :
Kelanjutan dari kisah Luciel Dawnbringer. Untuk mengetahui kisah selengkapnya, silahkan baca karya sebelumnya dengan judul yang sama.
Terima kasih banyak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kei L Wanderer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukannya Tidak Mau, Tetapi Tidak Bisa
Keesokan harinya.
“Sepertinya aku terlalu berlebihan.”
Melihat ke arah Elena dan Camellia yang masih terlelap sembari memeluknya, Ciel tersenyum pahit. Terbawa suasana yang diberikan oleh Elena, setelah pergi makan malam, mereka kembali ke kamar dan mulai berpesta.
Mengamati ruangan yang berantakan karena kegilaan semalam, pemuda itu menghela napas panjang.
“Sayang …”
Camellia bergumam sambil memeluk Ciel lebih erat. Sementara itu, Elena yang biasanya tampak dingin meringkuk seperti anak kucing.
Melihat keduanya, Ciel tidak tega untuk membangunkan mereka. Lagipula … tidak ada yang harus dia lakukan. Jadi lebih baik bersantai sambil sedikit bermalas-malasan.
Tanpa terasa, beberapa jam berlalu begitu saja.
Siang harinya, setelah Ciel dan kedua wanitanya mandi lalu makan siang, pemuda itu memutuskan untuk pergi menemui kakek dan neneknya.
Diantar oleh seorang pelayan, Ciel akhirnya tiba di sebuah manor yang tampak artistik. Ya, karena sudah tidak menjabat sebagai Kaisar, Kakek Claus dan Nenek Frine memutuskan untuk tinggal di kediaman mereka sendiri.
Melihat manor indah penuh ornamen di mana-mana, Ciel sama sekali tidak mengira itu adalah kediaman kakeknya. Lagipula … kakeknya adalah lelaki tua yang seperti itu. Sama sekali tidak tampak mengerti seni sama sekali!
Pada saat tiba, Ciel melihat neneknya yang sedang mengganti bunga di vas. Seharusnya itu adalah tugas yang dilakukan oleh pelayan. Namun melihatnya, pemuda itu tahu kalau kemungkinan besar itu adalah hobi sekaligus rutinitas harian yang dia lakukan.
“Eh? Kenapa kamu tidak bilang kalau ingin datang, Ciel?”
Melihat wanita cantik yang tersenyum ke arahnya itu, Ciel merasa tidak terbiasa. Meski cantik, dia tahu kalau wanita itu adalah neneknya. Seharusnya penampilan seorang nenek tidak seperti itu!
“Saya ingin menemui Kakek, Nek.”
“Apakah kamu tidak merindukan Nenek?”
Melihat Nenek Frine yang menggodanya, Ciel hanya menghela napas panjang.
“Kamu terlalu serius.” Nenek Frine menggeleng ringan. “Kakekmu ada di dalam. Ikuti aku, Ciel.”
“Baik.”
Mengikuti Nenek Frine, Ciel akhirnya sampai di bagian belakang manor. Di gazebo dekat kolam yang begitu besar dan indah, terlihat dua sosok yang duduk berhadapan sambil bermain catur. Keduanya adalah lelaki tua tetapi masih memiliki wajah yang segar.
Salah satunya adalah kakek Ciel, sementara yang lain adalah lelaki tua yang agak kurus dengan rambut panjang yang diikat kuncir kuda. Memiliki kumis dan janggut yang panjang. Tampak tenang, berbeda dengan penampilan Kakek Claus yang agak sembrono.
“Ada yang mencarimu, Sayang.”
Mendengar suara Nenek Frisa, Kakek Claus dan lelaki tua itu masih fokus ke arah papan catur. Tenggelam dalam dunia mereka sendiri, seolah dua raja yang sedang berperang, memimpin pasukan mereka untuk pertarungan hidup dan mati.
“Pak Tua Claus! Jika kamu masih tuli, aku akan menyuruh cucumu kembali!”
Dibentak oleh Nenek Frine, Kakek Claus menoleh. Melihat sosok Ciel, mata lelaki tua itu tampak menjadi lebih cerah.
“Akhirnya kamu mau datang mengunjungi kakekmu ini, Ciel! Kenapa kamu tidak bilang terlebih dahulu sehingga kakek menyiapkan sambutan?”
“...”
Ciel benar-benar terdiam. Melihat bagaimana Kakek Claus bertingkah seperti anak kecil, entah kenapa pemuda itu mengingat sosok sahabatnya. Membayangkan sosok Zack, dia berpikir.
Zack … dia tidak akan tumbuh menjadi lelaki tua menyebalkan seperti ini, kan?
Pada saat itu, Ciel melihat sosok lelaki tua kurus yang bermain catur dengan kakeknya sedang menatapnya. Pemuda itu langsung mengangguk ringan sebagai sapaan sopan. Melihat lelaki tua itu balas mengangguk, Ciel merasa lega karena pria tua itu tidak seserius kelihatannya.
“Kemarilah … kenapa kamu mencari Kakek?” tanya Kakek Claus.
“Saya di sini untuk meminta tolong kepada Kakek.”
“Kemarilah. Duduk dulu,” ucap Kakek Claus menunjuk ke tempat di dekatnya.
Menghela napas, Ciel akhirnya menuruti permintaan lelaki tua itu.
“Kalau begitu aku pergi dahulu,” ucap Nenek Frine yang ingin kembali mengganti bunga.
“Terima kasih, Sayang!” ucap Kakek Claus.
“Ternyata kamu masih tahu cara berterima kasih, Pak Tua! Aku pikir kamu sudah terlalu tua, tuli, dan tidak bisa berpikir jernih.”
Marah karena tadi diabaikan, Nenek Frisa segera berbalik pergi. Melihat bagaimana istrinya menghina, lelaki tua itu hanya bisa menghela napas panjang. Ekspresinya langsung berubah ketika melihat Ciel dan sosok lelaki tua kurus yang bermain dengannya.
“Perkenalkan, Ciel … lelaki tua ini adalah sepupuku. Kamu bisa memanggilnya Kakek Lucas.
Dan, Lucas … ini adalah cucu yang aku ceritakan sebelumnya, Luciel! Bagaimana? Dia tampan, kan?”
“Halo, Luciel.”
“Selamat siang, Kakek Lucas.”
“Kakekmu bilang, kamu sudah memiliki putri yang lucu dan manis. Namun menurut pendapatku sendiri, kamu adalah tipe yang bisa menahan diri. Apakah itu benar? Atau salah?”
Mendengar ucapan Kakek Lucas, Ciel sedikit terkejut. Dia kemudian langsung menjawab.
“Dulu saya tidak bisa menahan diri. Karena tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, saya belajar untuk menahan diri. Akhirnya menjadi seperti sekarang.”
“Belajar dari kesalahan, sangat baik!” ucap Kakek Lucas sebelum melirik ke arah sepupunya. “Berbeda dari seseorang yang selalu mengulang kesalahan yang sama dan menyuruh seseorang untuk membereskannya.”
“Hahahaha! Aku jadi malu,” ucap Kakek Claus sambil menggaruk belakang kepalanya.
“Aku tidak sedang memujimu, Bodoh!” seru Kakek Lucas.
Lelaki tua itu menghela napas panjang ketika melihat kelakuan Kakek Claus yang seenaknya. Melirik ke arah Ciel, lelaki tua itu berkata lembut.
“Untung saja ibumu dan dirimu lebih mirip Frine. Jika mirip lelaki tua ini …”
“...”
Ciel terdiam. Entah kenapa, Ciel merasakan kebencian Kakek Lucas kepada Kakek Claus. Daripada kebencian, itu lebih ke arah jengkel karena mengingat sesuatu yang menyebalkan. Hal itu membuat pemuda itu bertanya-tanya.
Sebenarnya apa yang telah dilakukan Kakek Claus?
“Ngomong-ngomong … apa yang kamu inginkan, Ciel? Selama Kakek bisa melakukannya, Kakek pasti setuju.”
Mendengarkan Kakek Claus, Ciel tersadar dari lamunannya. Pemuda itu berkata dengan nada tenang.
“Saya ingin kembali ke Kekaisaran Black Sun, Kakek.”
Mendengar itu, Kakek Claus tercengang.
“Kenapa? Apakah ada yang membuatmu tidak senang? Katakan pada Kakek!”
“Saya hanya ingin pulang. Bukankah normal, merindukan keluarga dan putri saya?”
“...”
Kakek Claus tidak bisa banyak berkomentar. Melihat ke arah cucunya, lelaki tua itu hanya bisa berkata dengan nada menyesal.
“Bukannya tidak mau, tetapi kamu belum bisa kembali, Ciel.”
“Kenapa? Saya telah membantu memenangkan turnamen di Garden of Purple Moon. Jadi, misi saya telah selesai, kan?”
“Memang sudah selesai.” Kakek Claus mengangguk ringan.
“Lalu kenapa saya tidak boleh kembali, Kakek?”
“Bukannya tidak boleh kembali, tetapi tidak bisa. Portal itu hanya bisa digunakan untuk perjalanan bolak-balik setiap 100 hari sekali. Kira-kira dua bulan lagi.”
Mendengar ucapan kakeknya, Ciel benar-benar terdiam. Ya … terdiam sampai bingung harus berkomentar bagaimana.
>> Bersambung.