NovelToon NovelToon
Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Waktu menunjukkan pukul empat pagi saat langit masih gelap dan udara terasa sangat dingin.

Arka mengayuh sepeda motor tuanya yang bersuara bising menembus jalanan kota yang masih tertidur pulas.

Tujuannya hanya satu pagi ini, yaitu Pasar Induk untuk membeli bahan-bahan segar berkualitas tinggi.

Berkat uang lima juta rupiah dari sistem, Arka tidak perlu lagi berhutang kepada tengkulak bahan makanan seperti biasanya.

Motor butut itu akhirnya berhenti di depan sebuah kios sayur yang sudah terang benderang dan ramai oleh kuli panggul.

"Pagi Bi Narti, aku mau belanja untuk warung hari ini." Sapa Arka sambil tersenyum tipis ke arah seorang wanita paruh baya yang sedang menyusun tomat.

Bi Narti menoleh dan langsung terbelalak melihat wajah Arka yang dipenuhi memar ungu di sekitar pipi dan pelipisnya.

"Astaga Tuhan, wajahmu kenapa bisa babak belur begitu Arka?" Bi Narti berseru panik sambil mengusap tangannya ke celemek.

"Biasa Bi, cuma insiden kecil tadi malam karena terpeleset di dekat gerobak." Arka berbohong dengan nada santai agar wanita baik hati itu tidak khawatir.

"Terpeleset apanya, ini pasti perbuatan preman-preman suruhan lintah darat itu kan?" Bi Narti menatap Arka dengan tatapan iba bercampur marah.

Arka hanya terdiam dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal karena tebakan Bi Narti sangat akurat.

"Sudahlah Bi, tidak usah dibahas lagi karena hari ini aku mau bangkit." Arka mencoba mengalihkan pembicaraan dengan cepat.

"Kamu ini selalu saja keras kepala persis seperti almarhum ayahmu." Bi Narti menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya pelan.

"Bantu aku siapkan beras pandan wangi kualitas super sepuluh kilo, telur ayam kampung omega tiga puluh butir, dan daun bawang segar." Ucap Arka yang membuat Bi Narti kembali terkejut.

"Tumben sekali kamu beli bahan-bahan mahal begini, biasanya juga kamu beli beras patah yang murah itu." Bi Narti menatap Arka dengan curiga.

"Hari ini aku punya resep baru Bi, jadi bahan-bahannya juga harus kelas satu." Arka menjawab dengan mata berbinar penuh semangat.

"Kamu punya uangnya tidak, jangan sampai kamu malah menambah hutang lagi di tempat lain." Bi Narti menyilangkan tangan di depan dada.

"Tenang saja Bi, hari ini aku bawa uang tunai kok." Arka mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dari saku jaketnya.

Mata Bi Narti membulat melihat uang tunai yang dipegang oleh pemuda malang di depannya itu.

"Syukurlah kalau begitu, sebentar Bibi siapkan dulu semua pesananmu dengan kualitas yang paling bagus." Bi Narti segera berbalik dan mulai membungkus barang-barang yang diminta Arka.

Sambil menunggu, Arka berjalan menuju kios daging sapi dan ayam yang berada tepat di sebelah kios Bi Narti.

"Mang Ujang, tolong potongkan daging dada ayam fillet dua kilo dan udang laut segar satu kilo." Teriak Arka kepada pria berkumis tebal yang sedang memotong tulang sapi.

"Siap laksanakan Bos Arka, tumben belanjanya banyak dan mewah hari ini." Mang Ujang tertawa kecil sambil mengasah pisau dagingnya.

"Iya Mang, warungku mau buka menu spesial mulai hari ini jadi mohon doanya saja." Balas Arka dengan nada penuh harap.

Setelah menghabiskan sekitar lima ratus ribu rupiah untuk semua bahan premium, Arka segera kembali ke warungnya sebelum matahari terbit.

Ia memarkir motornya dan melihat kondisi warung tendanya yang kini hanya menyisakan satu meja utuh dan tiga kursi plastik.

"Tidak apa-apa, tempat yang kecil tidak akan menutupi rasa makanan yang besar." Arka bergumam menyemangati dirinya sendiri sambil menurunkan karung beras.

Ia mulai mencuci beras dengan sangat teliti, memastikan tidak ada kotoran yang tersisa sebelum menanaknya.

Pengetahuan dari Resep Nasi Goreng Tingkat Dewa mengalir di kepalanya, memberitahukan rasio air dan beras yang sempurna agar tekstur nasi tidak terlalu lembek.

Sambil menunggu nasi matang, Arka mengambil pisau dapurnya yang murah dan seikat daun bawang segar.

"Mari kita lihat seberapa hebat Keterampilan Pisau Dasar tingkat menengah ini." Arka memegang gagang pisau itu dengan mantap.

Begitu ujung pisau menyentuh talenan kayu, tangan Arka tiba-tiba bergerak sendiri seolah memiliki nyawanya sendiri.

Tak tak tak tak!

Suara irisan pisau terdengar sangat cepat, konstan, dan berirama seperti mesin pemotong profesional di restoran bintang lima.

Dalam sekejap mata, seikat daun bawang itu telah berubah menjadi potongan-potongan kecil yang ukurannya sangat presisi dan seragam.

"Wah, ini gila sekali, tanganku rasanya ringan dan pisaunya seperti menari di atas talenan." Arka menatap takjub pada hasil potongannya sendiri.

Ia kemudian melanjutkan mengiris bawang putih, bawang merah, dan memotong daging ayam menjadi dadu-dadu kecil yang sempurna.

Tidak ada satu gerakan pun yang terbuang sia-sia, semuanya dilakukan dengan sangat efisien dan rapi.

Matahari mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur, memancarkan cahaya keemasan yang menerangi sisa-sisa reruntuhan warung tenda Arka.

Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi, waktu di mana banyak orang mulai berangkat kerja atau sekadar berolahraga pagi.

Jalanan di depan warungnya mulai dilewati oleh beberapa pejalan kaki dan pengendara motor.

Arka berdiri di belakang wajannya dengan celemek bersih yang baru ia temukan di dalam laci gerobak yang selamat dari amukan preman semalam.

Ia menyalakan kompor gas dengan api sedang untuk memanaskan wajan baja berukuran besar itu.

Srenggg!

Ia memasukkan sedikit minyak dan segenggam bawang putih cincang ke dalam wajan yang sudah panas.

Seketika itu juga, aroma harum bawang putih yang ditumis menyeruak dengan sangat kuat dan terbawa oleh hembusan angin pagi.

Aroma itu bukan sekadar wangi tumisan biasa, melainkan memiliki kedalaman aroma yang sangat menggugah selera.

Di trotoar seberang jalan, seorang gadis muda berambut sebahu yang diikat ekor kuda sedang berlari kecil dengan napas terengah-engah.

Gadis itu bernama Laras, seorang mahasiswi tingkat akhir yang sedang stres menyusun skripsi dan melampiaskannya dengan jogging pagi.

Langkah Laras tiba-tiba terhenti ketika hidungnya menangkap aroma gurih yang tiba-tiba melintas di udara.

"Wangi apa ini, perutku jadi berbunyi tiba-tiba." Laras memegang perutnya yang keroncongan sambil menoleh ke kiri dan ke kanan mencari sumber aroma.

Matanya tertuju pada sebuah warung tenda kaki lima yang terlihat sangat berantakan di seberang jalan.

"Masak dari tempat kumuh begitu wangi seenak ini berasal?" Laras bergumam ragu namun kakinya melangkah menyeberangi jalan tanpa bisa ditahan.

Ia berdiri di depan warung Arka sambil menatap papan nama kayu yang sudah miring bertuliskan Warung Nasi Goreng Arka.

"Permisi Mas, apakah di sini sudah buka?" Laras bertanya dengan suara lembut sambil menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil.

Arka yang sedang fokus mengaduk bumbu dasar di wajan segera menoleh dan tersenyum ramah.

"Tentu saja sudah buka Kak, silakan duduk di kursi yang tersisa itu." Arka menunjuk ke arah satu-satunya meja plastik yang masih berdiri tegak.

Laras mengangguk pelan dan duduk di kursi plastik biru itu sambil menatap sekeliling warung yang terlihat seperti habis dilanda angin topan.

"Mas, warungnya ini habis kerampokan atau bagaimana kok berantakan sekali?" Laras bertanya karena rasa penasarannya tidak bisa ditahan.

"Oh ini, semalam ada sedikit renovasi dadakan Kak, jadi harap maklum kalau tempatnya seadanya." Arka menjawab dengan candaan ringan agar pelanggannya tidak merasa tidak nyaman.

"Pesan apa Kak, kebetulan pagi ini saya cuma punya menu Nasi Goreng Spesial saja." Arka menawarkan menunya sambil memegang spatula dengan gaya meyakinkan.

"Ya sudah, saya pesan satu porsi Nasi Goreng Spesial ya Mas, pedasnya sedang saja." Laras memesan sambil memainkan ponselnya.

"Siap, satu Nasi Goreng Spesial segera datang." Arka menjawab dengan lantang dan penuh semangat.

[Misi Utama: Dapatkan 50 pelanggan pertama yang memberikan penilaian 'Sangat Puas' dalam waktu 24 jam.]

[Kemajuan saat ini: 0/50]

Melihat layar biru transparan yang kembali muncul sekilas di sudut matanya, Arka membulatkan tekadnya.

Ia harus membuat pelanggan pertamanya ini merasa sangat puas agar misinya bisa berjalan dengan lancar.

1
Ponny Sagita
serius thor? restoran mahal pake kursi plastik?
Ponny Sagita
kok masih pinggir jalan? othor niiih yaaa
Nissa Safira: mungkin iyaa outdoor kak, soalnya si Arka lagi proses membangun restoran mewahnya sendiri kak🤣
total 1 replies
Ponny Sagita
masak nasinya kan baru pagi pagi, kok bisa didinginkan semalaman?
Nissa Safira: hahaha dari semalem nasi nya belum habis kak gara2 malem nya di datengi preman🤣
total 1 replies
Wega Luna
keterlaluan udah hutang bunga tempat dagang dirusak ,itu bisa dilaporkan, loh
Nissa Safira: hahahaa namanya juga utang sama rentenir sadis kak😅
total 1 replies
Mohd Harmizi
berhasil jual 3 ribu kok poin kepuasan hanya 500?
Nissa Safira: iyaa juga iyaa.. kelupaan kak🤣
total 1 replies
m_reynaldi
mantapp.. update bab yg banyak thorr 😍
Fariq Banafsaj
lanjut🤩
Dewa Naga 🐲🐉
mantappp.. lanjut...💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!